
Eps. 10
å
Tinggal satu minggu lagi kontrak kerja sama alias tugas dan kewajiban Gisella menjadi kekasih pura-pura Gaza berakhir. Senang dan juga tidak yang dirasakan Gisella saat ini, entah mengapa kedekatan antara dirinya dan Gaza begitu membekas di hatinya. Seakan ia enggan untuk melepas kedekatan itu.
Tak berbeda jauh dengan Gaza, pria yang kini tengah duduk di balik kursi kepemimpinannya dengan memainkan bolpoin di tangannya pun tampak begitu memikirkan sisa satu minggu waktu yang dimiliki bersama Gisella. Meskipun hanya sebatas kekasih pura-pura, tapi entah mengapa ia merasa bahwa itu sungguhan, ia menginginkan kedekatan dengan gadis itu. Hanya dengan melihat senyuman Gisella mampu membuat hatinya tenteram, melihat wajah ayunya membuat dadanya berdesir. Entah perasaan apa yang hinggap dan mengusik hatinya, berat rasanya membayangkan ia akan berjauhan dengan Gisella dan tak bisa menikmati wajah cantik gadis itu lagi.
Bahkan ia pernah melakukan hal konyol di hari libur kerja yang biasanya ia gunakan untuk bekerja dari rumah namun beberapa minggu kebelakang yang ia lakukan adalah pergi pagi-pagi sekali hanya untuk melihat Gisella yang tengah berjualan koran di jalanan, ia akan menepikan mobilnya di pinggir jalan untuk sekedar menatap senyum renyah Gisella bersama teman seprofesinya, senyuman yang benar-benar tulus dan tak pernah ia lihat sebelumnya, Gaza akui senyuman itu mempunyai magnet tersendiri untuk dirinya. Senyuman yang bisa mengobrak-abrik hati dan pikirannya.
Gaza membuka galeri ponsel dan memperhatikan foto Gisella, ia teringat tentang buruknya kehidupan yang gadis itu jalani selama ini, andai saja ia tidak bertemu Mia, mungkin sekarang ini ia juga tidak bisa bertemu dengan Gisella. Mengingat Mia, hanya beberapa kali Gaza bertemu dengan gadis itu, ia menyayangi gadis itu, bahkan sejak lama ia berharap menemukannya. Hingga orangtuanya menjodohkan dirinya dengan seorang gadis, dan ternyata gadis itulah yang ia cari selama ini. Tapi ternyata semua tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan, Mia lebih dulu pergi meninggalkannya. Belum sempat Gaza membalas budi kebaikan Mia, kini justru dirinya terlibat hubungan dengan saudara angkatnya yaitu Gisella. "Mia, apa kau keberatan jika orang lain menempati tempatmu di sini?" gumamnya menyentuh dada kirinya.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu mengalihkan perhatian Gaza, ia melihat asisten pribadinya di sana. Ada apa, Leon?
"Meeting akan segera di mulai, Tuan," Leon menjawab.
Gaza mengangguk dan beranjak dari kursinya, merapikan jasnya kemudian berjalan meninggalkan ruangan.
...***...
Gisella memulai harinya untuk kembali berjualan koran di lampu merah, beruntung hari itu cuaca sedikit cerah karena sinar matahari yang terkesan malu-malu untuk menampakkan diri. Senyumnya mengembang saat menawarkan koran pada setiap pengendara yang melintas. "Pak, mau beli koran?"
"Saya tidak suka koran, Neng, tapi saya suka yang jual," goda salah seorang pengemudi truk.
Gisella tersenyum saja, sudah mulai terbiasa dengan hal seperti itu. "Ya, sudah, Pak, terimakasih."
"Koran, koran."
"Mas, korannya, Mas?"
"Mbak namanya siapa, ya, kalau boleh tahu?"
"Kenapa nanya nama saya, Mas?"
"Dari pada koran, saya lebih tertarik berkenalan sama Mbaknya," jawab pemuda itu terkekeh.
"Beli korannya aja dulu, nanti saya kasih tahu nama saya," tawar Gisella tersenyum.
"Wah.. Mbaknya bisa ngerayu juga, ya?" balas pria itu tertawa.
"Jadi, mau beli korannya nggak, Mas?"
"Ya, ya, boleh deh. Satu."
Gisella tersenyum lebar, menyerahkan koran pada pemuda pengemudi pick up pengangkut sayuran tersebut.
"Jadi, nama Mbak siapa?"
"Sella, Mas, Gisella menjawab. Terimakasih," imbuhnya.
"Sama-sama, Mbak Sella, kalau ketemu di jalan jangan lupa panggil aku Mas Ucup, ya?" goda pemuda itu mengedipkan sebelah matanya.
Gisella mengangguk saja.
Di sisi lain jalan yang juga masih berada di jalur kemacetan, nenek Ely tengah berada di dalam mobilnya hendak menuju ke suatu tempat. "Sepertinya kalau tidak macet bukan Jakarta namanya," komentarnya memperhatikan deretan panjang kendaraan yang hanya berjalan seperti siput. Netranya dengan awas memperhatikan seorang anak-anak yang tengah berjualan jajanan di sekitar deretan mobil. Namun tak berapa lama tatapannya terfokus pada satu titik, pada seorang gadis berkaos biru dan celana panjang dengan rambut yang di ikat menjadi satu seperti ekor kuda, gadis itu tengah membawa tumpukan koran di tangannya. Gisella? gumamnya pelan. "Ton, apa itu benar Gisella?" tanyanya pada Toni, —sopir pribadinya. memastikan penglihatannya.
"Untuk apa dia di sini? Apa dia bekerja sebagai penjual koran?" ujar Nenek Ely tak paham. "Ton."
"Iya, Nyonya."
"Cari semua informasi tentang gadis itu, jangan sampai ada yang terlewatkan."
Toni mengangguk. "Baik, Nyonya."
Nenek Ely lekat memperhatikan Gisella yang tengah berbicara dengan seorang pengemudi menawarkan korannya. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah dia anak kuliahan? Lalu? Apa selama ini dia di bohongi? "Ben, aku ingin laporan tentang gadis itu bisa aku terima besok," perintahnya lagi.
"Baik, Nyonya."
...***...
Keesokan harinya nenek Ely benar-benar terkejut dengan apa yang dibacanya dalam sebuah map berwarna biru itu. Kisah hidup seorang gadis manis bernama lengkap Arindiana Gisella, respon yang sama seperti yang Gaza tunjukkan ketika membaca deretan huruf berbentuk paragraf tersebut, nenek Ely juga terkejut akan kisah hidup gadis itu yang mana seperti tidak pernah merasakan hangatnya sinar mentari dalam hidupnya, kelam dan pedih yang melingkupi kehidupan gadis manis itu. Hingga bagian akhir yang menyatakan bahwa Gaza dan Gisella terikat kontrak sebagai pacar pura-pura selama satu bulan, sudah bisa ditebak bahwa itu berhubungan dengan dirinya. Ia kesal dengan pernyataan itu, dan sepertinya ia harus melakukan sesuatu untuk mereka berdua yang telah berani membohonginya. "Ton, antar aku ke tempat Gisella," titahnya beranjak dari duduknya.
"Baik, Nyonya."
Mentari berada di peraduan ketika nenek Ely beserta dua bodyguard tiba di tempat tinggal Gisella. Masih menjadi pemandangan yang sulit dialihkan bagi tetangga kost Gisella ketika melihat tamu tak biasa yang hadir di tempat kumuh mereka, mereka berbisik-bisik siapa sebenarnya seorang Gisella.
Gisella yang baru pulang dari tempat laundry terkejut saat melihat nenek Ely berada di depan kostnya, tubuhnya seketika mematung di tempat.
"Kamu baru pulang, Nak?" sapa nenek Ely melihat kehadira Gisella.
Gisella mendadak panik dan gusar. "I-iya, Nek, apa Nenek sudah menunggu lama?"
Nenek Ely tersenyum. "Tidak."
Gisella tersenyum tipis, mempersilahkan nenek Ely untuk masuk ke dalam kamar kostnya yang kecil, kedua tangannya saling meremas. "Maafkan aku, Nenek," lirihnya menunduk. Mengalihkan tatapan nenek Ely yang tengah memperhatikan isi kamarnya. "Maaf sudah membohongi, Nenek, sebenarnya aku tidak tinggal di —"
"Jangan bicara seperti itu, kurasa di sini sedikit nyaman," potong nenek Ely mengabaikan kegugupan gadis di hadapannya.
Gisella menelan saliva, ia benar-benar gugup. "Nek, sebenarnya aku dan Gaza —"
"Ah, iya, Nenek lupa. Aku ke sini menjemputmu untuk bertemu Gaza," potong nenek Ely lagi mengerti arah kalimat Gisella.
Kening Gisella mengerut. "Bertemu Gaza? Untuk apa, Nek?"
"Memberikan selamat untuk hari bertambah umurnya."
Gisella menegang.
"Jangan bilang kamu tidak ingat hari ini ulangtahunnya Gaza?" tebak nenek Ely.
Gisella menggigit bibir bawahnya dan menunduk.
Nenek Ely tersenyum, mengelus lengan Gisella pelan. "Sudah, ayo, kamu siap-siap, kita berangkat sebentar lagi."
Mau tidak mau Gisella menurut. Jujur saja ia tidak tahu jika hari itu adalah ulangtahun Gaza. Lalu, apa yang harus ia katakan nanti? Ia hanya kekasih pura-pura dari Gaza yang sebentar lagi masa kontraknya akan segera berakhir. Bahkan ia tidak membawa kado untuk pria itu. Apa nenek Ely akan curiga kalau ia tidak memberikan kado untuk Gaza? Gisella benar-benar merasa gusar, kenapa semakin rumit, padahal tinggal beberapa hari lagi ia bisa terbebas dari perannya. Tapi kini justru semakin sulit untuk berhenti karena kedatangan nenek Ely yang tiba-tiba.
Oh. Darimana nenek Ely tahu tempat tinggalnya?
.
.