Beside You (End)

Beside You (End)
15. PONSEL BARU. LAGI?



Eps. 15


å


Entah harus kemana ia mendapatkan alamat rumah pria itu. Kenapa ia tidak pernah menanyakan dimana pria itu tinggal, atau setidaknya ia membuat janji dengan pria itu sebelum menjual ponselnya.


Pada akhirnya Gisella memutuskan untuk menjual ponsel dari Gaza untuk membayar biaya ganti rawat inap di rumah sakit waktu itu. Awalnya ia sudah menolak pemberian Gaza namun pada akhirnya ia menyimpan benda berotak itu sebab Gaza menolak menerima kembali barang yang sudah diberikan. Dan Karena saat itu ia juga masih berperan sebagai kekasih pura-pura Gaza yang masih harus berurusan dengan nenek Ely yang beberapa kali menghubunginya.


Sekarang ia kebingungan mencari dimana Gaza untuk membayar hutang. Sebenarnya bisa saja ia menemui Gaza di tempat kerjanya. Gisella masih ingat tempat itu, tempat dimana Mia meregang nyawa, hanya saja ia tidak ingin orang lain mengenalinya dan terulang kembali traumanya. Ia masih belum bisa berdamai dengan penyakit itu.


Gisella hanya bisa berharap bisa menemui Gaza di jalanan tempatnya mencari recehan. Sudah hampir setengah jam ia mengamati kendaraan berwarna hitam berharap bahwa ada Gaza di dalamnya, namun belum juga ia temukan.


"Mbak, saya mau beli koran," panggil salah seorang sopir pengemudi mobil box.


Gisella yang tengah fokus mencari mobil hitam terkesiap dan gegas menghampiri. "Iya, Pak, mau berapa, Pak?"


"Satu saja."


"Silahkan, Pak."


"Lain kali jangan melamun, pembeli bisa lari loh," ucap sang sopir menasehati.


Gisella mengangguk. "Iya, Pak, terimakasih sudah diingatkan," balasnya ramah.


"Eh, Mbak, Mbak," panggil sopir itu lagi saat Gisella hendak beranjak.


"Iya, Pak, ada apa?"


"Mbaknya itu cantik, kenapa mau berjualan koran? Mau kerja sama saya enggak?" tawar sang sopir memperhatikan wajah Gisella yang ayu.


"Maaf, Pak, bekerja sebagai apa, ya?"


"Saya buka toko roti, kalau Mbaknya mau bisa jadi karyawan saya."


Gisella berbinar. "Benarkah, Pak? Dimana toko Bapak?"


"Itu, ada di Bekasi. Kalau Mbak mau, mari ikut saya," ajak sang sopir.


Gisella tampak ragu, khawatir kalau ia dibohongi, tapi sebenarnya ia juga ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari berjualan koran dan tukang gosok. Tapi bagaimana dengan anak-anak yang sudah diajarinya?


"Bagaimana, Mbak? Gajinya lebih banyak dari berjualan koran."


Gisella masih menimang tawaran sang sopir.


"Dia tidak akan bekerja dengan anda," tiba-tiba sebuah suara menyela.


Gisella berbalik, tersentak melihat Gaza yang berdiri di belakangnya.


Gaza menarik tangan Gisella untuk menepi saat rambu lalu lintas berwarna hijau. Sebelumnya ia telah memperhatikan Gisella sejak menghampiri mobil box, ia penasaran dengan apa yang Gisella bicarakan, hingga ia turun dari mobil dan menghampiri keduanya yang nyatanya pria itu tengah menawari pekerjaan untuk Gisella. Gaza merasa tak yakin dengan pria itu, ia khawatir Gisella hanya dibohongi dengan iming-iming gaji tinggi.


Gaza memperhatikan gadis di hadapannya yang seakan terkejut dengan apa yang ia lakukan. "Jangan percaya padanya," ujarnya menatap lekat.


"Siapa?"


"Pria tadi."


"Kau mendengarnya?"


"Tidak sengaja."


Gisella terdiam, masih menjadi pertanyaan di kepalanya kenapa seorang Gaza menghampiri dan membawanya ke tepi jalan, bahkan pria itu juga menolak tawaran pekerjaan sopir mobil box untuknya.


Gaza memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. "Ada yang ingin kau katakan padaku?"


Gisella bergeming, hingga kemudian ia teringat dengan hutangnya, ia merogoh saku celana dan menyerahkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu pada Gaza. "Ini untuk biaya pengobatanku di rumah sakit. Aku tahu kalau jumlahnya kurang, tapi aku akan mencicilnya."


Gaza menatap datar gadis di hadapannya, ia sama sekali tidak berniat untuk menerima uang pemberian Gisella. "Jadi, kau menjual ponsel untuk membayar hutang padaku?" selidiknya.


Gisella tercekat. ‘Bagaimana dia tahu?' bathinnya. Kepalanya mengangguk pelan. "Aku tidak ingin mempunyai hutang budi padamu,” jawabnya. “Maafkan aku karena menjual ponsel darimu," sesalnya menunduk. Lagipula tidak ada gunanya ia mempunyai ponsel, siapa yang akan menghubunginya, bahkan dalam kontaknya hanya ada dua nomor, nomor Gaza dan nenek Ely saja. Dan juga setelah tidak menjadi kekasih pura-pura Gaza, nenek Ely tidak akan menghubunginya lagi bukan.


"Aku tidak merasa kau berhutang budi padaku," balas Gaza masih menatap Gisella.


Gisella memalingkan wajah menghindari intimidasi lawan bicaranya, ia juga mengigit bibir bawahnya karena gugup.


Pupil mata Gisella membulat. "Apa?"


"Apa kau setuju?" tanya Gaza mengabaikan keterkejutan Gisella.


"Hah?"


"Diammu aku anggap iya. Aku akan menjemputmu nanti malam," putus Gaza berlalu meninggalkan Gisella yang masih mematung di tempatnya. Ia tersenyum kecil melihat respon terkejut gadis itu.


...***...


Karena hampir dua minggu tidak bekerja di laundry menyebabkan Gisella memilih untuk lembur, kebetulan juga baju yang disetrika cukup banyak. Ia juga memberikan alasan ketidakhadirannya selama beberapa hari pada Marini juga Darmi dengan alasan pulang kampung. Ia cukup beruntung Marini masih memberikan kepercayaan padanya untuk tetap bekerja di sana.


Hari sudah malam saat Gisella pulang dari tempat laundry, jam sembilan lewat lima menit ia tiba di kost. Keningnya mengerut menyadari paper bag kecil tergantung di gagang pintunya. Bola matanya membulat melihat isi dalam paper bag tersebuat adalah sebuah ponsel pintar dengan merk terkenal. Sudah bisa dipastikan identitas pengirimnya, siapa lagi kalau bukan Gaza. Gisella terkesiap menyadari janjinya dengan Gaza untuk makan sate, tapi bukankah waktu itu ia belum menyetujuinya. Lalu, apakah Gaza datang kemari dan menunggunya?


Gisella memasukkan box ponsel ke dalam paper bag, ada kertas kecil berisi note di dalamnya.


Aku harap kau tidak akan mengembalikannya lagi. Akan aku anggap lunas hutangmu yang sebenarnya akupun tidak merasa memberikanmu pinjaman jika kau mau menggunakan ponsel ini.


Ps: Nenek mencarimu, ingin menghubungimu.


Gisella menghembuskan nafas pelan, bukankah seharusnya kontrak kekasih pura-puranya sudah berakhir. Tapi kenapa nenek Ely ingin menghubunginya?


*


Ke esokan harinya selepas berjualan koran dan mengajar anak-anak, Gisella mampir ke sebuah konter penjual pulsa juga handphone. Ia memutuskan untuk membeli ponsel dengan uangnya sendiri meskipun yang mampu ia beli hanya ponsel bekas, setidaknya ia tidak kembali merepotkan orang lain. Gisella berniat mengembalikan ponsel Gaza jika bertemu kembali dengan pria itu.


Gisella melewati gang-gang kecil yang sepi hendak menuju tempat laundry, namun saat tiba di sebuah persimpangan gang tiba-tiba tubuhnya menegang, tatapannya terpaku pada beberapa meter di hadapannya. Tubuh Gisella bergetar menyaksikan seorang pria tengah dikeroyok beberapa orang, kedua tangannya gemetaran dan mengepal.


‘Tidak, jangan lagi, jangan kambuh lagi.’


Gisella merasakan debaran jantungnya yang mulai berdetak tak normal. Semua bayangan masa lalunya melintas bagai kaset rusak. Kematian sang adik, kematian kedua orangtuanya, kematian Mia, cacian, makian, tuduhan, pukulan, tendangan yang ditujukan padanya, semua seakan melintas di depan matanya. Gisella menutup telinganya dengan kedua tangan. "Tidak. Aku bukan pembunuh,” gumamnya dengan tubuh bergetar. "Aku bukan. Tidak. Jangan," ujarnya histeris, seluruh tubuhnya berkeringat. Hampir saja tubuhnya ambruk di tanah, namun tidak, ada sebuah tangan yang menarik tubuhnya ke dalam pelukan.


"Jangan dilihat," sebuah suara terdengar berbisik di telinganya, Gisella merasakan tubuhnya dikungkung dalam pelukan hangat yang membuatnya perlahan merasa nyaman.


Gaza memeluk tubuh Gisella yang bergetar, mengelus punggung gadis itu dengan lembut, memberikan ketenangan untuknya. Awalnya ia ingin mengunjungi Gisella di tempat laundry, namun justru yang ia lihat adalah Gisella yang mematung di sebuah persimpangan gang. Saat dihampiri nyatanya gadis itu tengah ketakutan melihat pengeroyokan tak jauh darinya, reflek Gaza menarik tubuh Gisella yang hampir terjatuh ke dalam pelukannya. Berharap bahwa pelukannya akan menenangkan perasaan gadis itu. "Tenanglah kau akan baik-baik saja. Jangan diingat lagi," bisiknya menenangkan.


Gisella melesakkan kepalanya mencari kenyamanan dalam pelukan Gaza, tubuhnya masih bergetar dan berkeringat, namun detakan jantungnya perlahan kembali normal.


Bisa Gaza simpulkan bahwa Gisella tidak bisa menyaksikan kekerasan di depan mata, hal itu bisa memicu kambuhnya trauma gadis itu, entah semengerikan apa kejadian yang menimpa Gisella selama ini hingga membuat gadis malang itu tertekan, meninggalkan bekas luka yang teramat perih untuk Gisella.


Gaza merasakan degupan jantung Gisella  yang berdetak dua kali lebih cepat dengan detakan jantungnya sendiri. Tapi sepertinya ia juga merasakan detakan jantungnya yang perlahan berubah tempo. Apa ia berdebar saat berpelukan dengan Gisella?


Butuh waktu untuk Gisella menenangkan diri, ia menarik diri saat sudah merasa lebih tenang, kepalanya menunduk tak berani menatap Gaza. Ia tahu pria yang telah memeluk dan menenangkannya adalah Gaza, ia masih hafal aroma parfum pria itu. "Maaf," ucapnya lirih.


"Sudah lebih baik?" tanya Gaza memastikan.


Gisella mengangguk.


"Kau mau ke tempat laundry?"


Gisella kembali mengangguk.


Gaza memperhatikan gadis di hadapannya yang menunduk. "Mau ku antar?" tawarnya.


Gisella menggeleng. "Tidak perlu, terimakasih," tolaknya tak enak.


Gaza merendahkan kepalanya sedikit mengintip. "Kau yakin?" tanyanya memastikan, ia khawatir kalau Gisella akan mengalami hal seperti tadi.


Gisella mengangguk. "Iya."


Gaza mengembuskan nafas panjang, ia tahu kalau Gisella tidak akan mau merepotkan orang lain. "Baiklah, sebaiknya kau segera berbalik dan menghindar jika melihat hal seperti itu lagi," peringatnya.


Kepala Gisella kembali mengangguk. "Terimakasih,” jawabnya meninggalkan Gaza, namun baru beberapa langkah ia berhenti dan berbalik. "Ada yang ingin aku berikan padamu, tapi barangnya masih ada di kost,” ujarnya. “Bisa kau berikan alamatmu, aku akan mengantarkannya besok,” imbuhnya.


Kening Gaza mengerut, nampak memikirkan barang apa yang akan gadis itu berikan untuknya, kemudian ia tersenyum. "Tidak perlu, kau masih berhutang makan sate denganku, aku akan menjemputmu malam ini,” tanggapnya.


Gisella mengangguk. "Baiklah," balasnya kemudian berlalu.


.


.