Beside You (End)

Beside You (End)
8. MENJEMPUT



Eps. 8


å


Gaza benar-benar menepati janjinya, setelah pulang dari rumah sang nenek ia memberikan sebuah amplop berisi uang tunai pada Gisella.


Karena Gisella memang membutuhkan uang itu akhirnya ia menerimanya. Memberikan beberapa lembar uang pada pemilik kost untuk membayar uang sewa selama tiga bulan ke depan. Sebagian ia gunakan untuk berdonasi kepada anak yatim, tak lupa ia mentraktir anak-anak sesama profesinya di jalanan untuk sekedar makan di sebuah warung makan sederhana tepi trotoar.


"Sepertinya kau sedang banyak uang, Nak?" tanya Pak Joko yang juga ikut mendapatkan jatah traktiran dari Gisella.


Gisella tersenyum. "Iya, Paman, alhamdulillah ada rejeki lebih, tidak baik kalau di nikmati sendiri."


Pak Joko mengangguk. "Semoga berkah untukmu."


"Amin.. terimakasih, Paman."


Beruntung uang yang diberikan Gaza sebagai upah cukup banyak, jadi Gisella masih ada lebihan untuk digunakan nanti jika ada kebutuhan mendesak.


Beberapa tetangga kostnya mulai penasaran dengan sosok pria yang mengunjungi kostnya beberapa kali.


"Mbak Gisell."


Gisella yang baru saja tiba dari laundry menghentikan langkahnya saat beberapa tetangga memanggilnya. "Iya, Bu?"


"Beberapa hari yang lalu aku melihatmu kedatangan tamu, siapa mereka?" tanya seorang ibu berdaster panjang serta menyanggul rambutnya.


"Dia teman lamaku, Bu, kebetulan sedang mampir," jawab Gisella sekenanya.


"Benarkah? Mereka sangat tampan," timpal ibu yang lainnya.


"Apa mereka bukan kekasihmu?"


Gisella menggeleng. "Bukan, Bu, kami hanya berteman, kebetulan dia sedang membutuhkan bantuanku."


Beberapa dari mereka mengangguk-angguk.


"Selama tinggal di sini, tidak ada penampilan seorang pria seperti itu yang datang ke tempat ini. Tapi semenjak kau tinggal di sini, tempat ini jadi sering di kunjungi pria tampan," komentar seorang ibu yang memakai hijab panjang, ia terkekeh.


"Benar itu, Bu, sejak Mbak Gisell tinggal di sini tempat ini jadi terkenal," sahut yang lain tertawa.


"Bukan begitu, Bu," bantah Gisella sungkan.


"Heh.. nggak apa-apa, Mbak Gisell. Kami semua justru senang, ya, kan, Ibu-Ibu?"


Beberapa dari mereka mengangguk membenarkan perkataan dari ibu yang memakai hijab itu.


"Benar, Mbak, bisa cuci mata."


"Kalau mereka bukan pacar Mbak Gisell, kira-kira mau enggak, ya, sama anak aku, si Lila." Seorang ibu terkikik geli mempromosikan anak gadisnya.


"Ah, jangan ngaco, Bu Mar. Mana mau pria setampan itu dengan anak-anak kita, beda kasta istilah kerennya."


Gisella mengembuskan nafas pelan. "Saya permisi, Ibu-Ibu," pamitnya undur diri. Ia ingin segera terbebas dari pembicaraan un-faedah para ibu penggosip yang sayangnya adalah tetangga kostnya itu. Sesekali ia menoleh ke belakang, masih terlihat gerombolan ibu-ibu itu masih sibuk berceloteh di tempatnya. Ia tersenyum, menggelengkan kepalanya pelan.


...***...


Gaza mengendarai mobilnya hendak menuju tempat kost Gisella, padahal belum ada seminggu yang lalu ia mengajak gadis itu bertemu dengan neneknya. Kini sang nenek kembali memintanya agar membawa Gisella untuk menemani sang nenek makan siang.


Berulangkali Gaza mencoba mencari alasan agar neneknya tidak jadi mengajak Gisella, tapi kini seakan nenek Ely tidak bisa menerima alasan apapun darinya. Akhirnya, mau tidak mau, ia harus menjemput Gisella untuk makan siang bersama neneknya.


Setelah memarkir mobilnya di tepi gang, Gaza melangkah memasuki gang sempit itu, beberapa tatapan kagum dan heran menyertai langkahnya. Sepertinya ia harus mulai terbiasa akan hal itu, karena kemungkinan besar ia akan sering mengunjungi Gisella untuk beberapa waktu ke depan.


Sesampainya di depan kost Gisella, Gaza mengetuk pintunya berulang kali, namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam. Huh, andai saja ia mempunyai nomor ponsel gadis itu, atau mungkin andai gadis itu mempunyai ponsel. Karena seperti saat terakhir kali bertemu, Gisella mengatakan kalau tidak mempunyai ponsel. Tapi dengan uang yang diberikan, seharusnya gadis itu sudah bisa membeli ponsel sekarang.


"Maaf, Mas, Mbak Gisell sedang tidak ada di rumah." Seorang ibu mendatangi Gaza.


Gaza berbalik. "Kalau boleh tahu, dia dimana, ya, Bu?"


"Biasanya jam segini Mbak Gisell sedang bekerja di laundry, Mas."


Gaza menaikkan kedua alisnya. Kenapa ia lupa kalau gadis itu bekerja di tempat lain setelah berjualan koran. "Ibu tahu dimana tempat laundry-nya?"


Sang ibu mengangguk. "Ada di komplek sebelah, Mas, jalan M, nanti Mas-nya nanya aja Laundry Pak Surya," terangnya.


Gaza mengangguk. "Terimakasih, Bu."


*


Cukup jauh tempat laundry yang dimaksud sang ibu tadi, setelah memarkir mobil di depan gang. Lagi. Gaza kembali berjalan kaki menyusuri gang sempit itu, karena ukuran gang tersebut hanya mampu dilewati satu mobil, ia khawatir jika dari sisi berlawanan ada motor yang melintas, lalu harus kemana ia memutar. Belum tentu juga gang itu ada pintu keluarnya.


Keringat mulai merembes di dahinya, cuaca hari itu benar-benar panas, Gaza membayangkan Gisella yang harus menempuh perjalanan sejauh itu. Mulai dari tempat kost menuju persimpangan guna menjual koran yang jarak tempuhnya juga lumayan jauh, ditambah lagi berjalan menuju tempat laundry ini, benar-benar wanita hebat, pikir Gaza.


Beberapa menit setelah bertanya pada orang sekitar akhirnya Gaza sampai di depan rumah depan papan nama kayu bertulis "Menerima Laundry". "Permisi," ucapnya mengetuk pintu yang terbuka.


Tak berapa lama seorang ibu keluar, nampak terkejut melihat kedatangan Gaza. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Bu Marini.


"Apa benar Gisella bekerja di sini?"


Bu Marini masih terdiam memperhatikan pria tampan di hadapannya. "Gisella? Oh, iya, benar, dia bekerja di sini, ada di belakang."


"Ibu pemilik Laundry ini?"


Bu Marini mengangguk. "Iya, benar."


"Bisakah Gisella libur hari ini? Saya ada perlu dengannya."


"Oh, begitu. Iya, tidak apa-apa, tapi besok harus kembali bekerja, ya, karena setrikaan hari ini cukup banyak."


Gaza mengangguk.


*


"Sella, ada tamu yang mencarimu," ujar Bu Marini menghampiri Gisella.


Gisella mendongak. "Siapa, Bibi?"


"Ah, Bibi lupa nanya siapa namanya, tapi dia ganteng," jawab Bu Marini tersenyum genit.


Kening Gisella mengerut. 'Ganteng?'


"Sudah, kau temui sana. Oh, kau boleh libur hari ini. Tapi besok kau harus kembali bekerja," tutur Bu Marini.


Gisella terkesiap. "Ha? Apa, Bi?"


"Pria ganteng itu mengajakmu keluar."


"Ha?"


"Sudah sana, jangan buat dia menunggu terlalu lama," Bu Marini mengibaskan tangannya.


Gisella segera merapikan barang-barangnya dan bergegas keluar setelah berpamitan dengan Bu Marini dan Bi Darmi. Ia terkejut saat melihat Gaza berdiri di depan rumah Bu Marini. "Gaza?"


Gaza berbalik dan tersenyum pada Gisella.


"Ada apa, Ga?"


"Maaf sebelumnya, aku sudah mengganggu pekerjaanmu. Ini tentang Nenek."


"Kenapa dengan Nenek?"


"Beberapa hari yang lalu beliau mengajakmu untuk makan siang bersama, beberapa hari juga aku sudah memberikan alasan agar kau tidak bertemu dengannya. Tapi sepertinya dia mulai bosan mendengar alasanku," terang Gaza terkekeh mengusap tengkuknya. "Jadi, apa kau bersedia menerima undangannya? Percayalah, aku sudah lelah mendapatkan teror setiap hari," imbuhnya tersenyum samar.


Gisella ikut tersenyum. "Baiklah, aku mengerti."


Gaza mengangguk. "Ayo."


Keduanya berjalan beriringan menuju tempat parkir kendaraan Gaza.


"Ternyata jarak tempatmu bekerja lumayan jauh dari kostmu," ujar Gaza memecah keheningan.


"Iya, begitulah."


"Em, apa kau tidak lelah?" tanya Gaza menoleh pada Gisella.


Gisella menoleh sekilas, kepalanya menggeleng. "Jangankan bekerja, seharian tidur di kasur juga lelah," tanggapnya bergurau.


Gaza tersenyum. "Kau benar."


"Gisella."


"Ya?"


"Kenapa kau bekerja di sini? Em, maksudku kenapa kau tidak bekerja di tempat yang lebih baik dari ini? Aku tahu dari Mia kalau kau anak yang cerdas, bahkan nilai sekolahmu tinggi," tanya Gaza memperhatikan gadis di sampingnya, sejujurnya ia amat penasaran.


"Andai aku punya ijazah," gumam Gisella tersenyum masam.


"Maksudmu?"


Gisella menoleh. "Bukan apa-apa," balasnya tersenyum tipis.


Gaza mengangguk, merasa bahwa Gisella tidak ingin memberitahukan alasan sebenarnya.


"Gisella."


"Ya?"


"Boleh aku meminta nomor ponselmu?" Gaza meminta. "Agar aku mudah menghubungimu jika Nenek meminta bertemu denganmu," imbuhnya.


"Maafkan aku, tapi aku tidak punya ponsel," balas Gisella tidak enak.


Gaza terkesiap, mengerutkan dahinya membentuk beberapa lipatan. Benarkah gadis itu tidak mempunyai ponsel? Bukankah uang yang ia berikan lebih dari cukup untuk membeli sebuah ponsel? Meskipun bukan merk terkenal dengan kwalitas terbaik. "Baiklah, tidak apa-apa, biar aku saja yang mengunjungimu kalau ada perlu."


Gisella menoleh. "Apa aku merepotkanmu?" tanyanya hati-hati. Ia menyadari pria di sampingnya  terlihat lelah saat berjalan dari tempat kerjanya menuju tempat parkir mobilnya. Terlihat dari dahinya yang berkeringat dan sesekali pria itu mengipasi wajahnya karena terkena panas sinar matahari.


Gaza menoleh cepat. "Tidak, bukan begitu maksudku, kau jangan tersinggung."


Gisella tersenyum. "Aku tidak tersinggung, justru aku merasa tidak enak padamu."


Gaza menepuk pundak Gisella. "Jangan dipikirkan," ujarnya menenangkan. "Ayo, Nenek pasti sudah menunggumu," tambahnya membukakan pintu mobil untuk Gisella.


.


.


Tbc


...¶¶...


...Terimakasih banyak bagi yang berkenan meninggalkan jejak berupa klik bintang di pojok kiri....


...Hanya dengan mengklik gambar bintang itu sudah sangat membuat author senang dan semangat....


........


...By : Saskavirby...