
Eps. 19
å
Memasuki musim penghujan. Datangnya hujan tidak bisa diprediksi sama sekali, bisa datang kapan saja dengan derasnya. Sama seperti sore itu, menunjukkan waktu dimana para pekerja kembali ke rumahnya masing-masing setelah seharian bekerja. Beberapa diantaranya yang tidak menggunakan jas hujan memilih untuk berteduh di bawah ruko atau apapun yang bisa melindungi mereka dari derasnya air hujan.
Sangat beruntung bagi mereka yang menggunakan roda empat, setidaknya mereka tidak akan terkena air hujan. Seperti halnya Gaza yang tengah duduk di mobil audy hitamnya dengan Leon sebagai sopirnya. Memperhatikan derasnya air hujan yang mengalir dari kaca mobil, laju kendaraan yang melambat karena kondisi jalan yang licin membuat beberapa mobil mengalami kemacetan.
"Tuan, apa anda akan pulang ke rumah malam ini?" tanya Leon melirik Gaza dari kaca spion di atasnya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, Leon?"
"Nyonya Hana meminta anda untuk makan malam bersama, hari ini Tuan Muda Ricko sudah tiba di Indonesia."
"Akhirnya anak itu pulang," gumam Gaza pelan.
"Jadi apa kita langsung ke sana, Tuan?"
Gaza melirik jam di pergelangan tangannya. "Ya, langsung ke sana saja. Aku tidak ingin mendengar Mama mengomel nantinya."
Leon mengangguk. "Baik, Tuan."
Seminggu yang lalu orangtua Gaza beserta sang adik yang selama ini tinggal bersama orangtuanya di luar negeri kembali ke Indonesia entah untuk alasan apa, namun selama seminggu itu Gaza sama sekali belum bertemu dengan mereka karena tempat tinggal yang berbeda, dimana Gaza memilih untuk tinggal di penthouse dan menghabiskan waktu di perusahaan.
Masih memperhatikan derasnya air hujan di luar jendela mobilnya seraya menumpu kepalanya dengan tangan. Gaza menajamkan penglihatannya saat melihat seorang gadis tengah berlarian di tengah hujan. Itu Gisella, yang tengah berlarian menerjang derasnya hujan, Gaza terus memperhatikan gadis itu yang dengan sengaja bermain air hujan, entah akan kemana gadis itu, hingga bayangan gadis itu hilang karena mobil Gaza yang terhenti karena lampu merah.
Beberapa detik menunggu lampu berubah menjadi hijau, Gaza kembali menajamkan penglihatannya untuk mencari keberadaan Gisella. Hingga netranya menemukan gadis itu yang tengah mendorong motor seorang perempuan dilihat dari warna jas hujan yang berwarna pink, juga motif polkadot yang menggambarkan karakter wanita. Hati Gaza benar-benar tersentuh juga menghangat melihat Gisella yang begitu peduli terhadap orang lain, menghiraukan keadaannya sendiri yang tengah basah kuyup, ia masih bersedia menolong orang lain yang motornya mogok di tengah hujan. "Leon, berhenti," titahnya membuat Leon sedikit terkejut.
"Baik, Tuan," jawab Leon menepikan mobilnya.
Gaza mengambil payung dan membuka pintu mobilnya. Berjalan menyebrang jalan untuk menghampiri Gisella yang berjalan di bawah hujan.
Dari dalam mobilnya, Leon memperhatikan Gaza yang entah mau kemana, hingga ia memicing melihat Gisella disana, Leon tersenyum melihat Gaza yang perhatian dengan gadis itu.
Gisella terkejut saat tak merasakan hujan menimpa tubuhnya, hingga kepalanya mendongak dan mendapati payung di atasnya, ia membalik tubuhnya, terkesiap melihat Gaza di hadapannya. "Gaza?"
"Apa kau sengaja bermain air hujan? Hm?"
"Sedang apa kau di sini?"
"Tidak ada," jawab Gaza nampak acuh memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana.
Untuk beberapa detik Gisella memperhatikan wajah Gaza yang tengah menahan senyum, entah apa yang lucu. Tubuh Gisella berbalik untuk meneruskan langkahnya, menghiraukan Gaza di belakangnya. Namun baru beberapa langkah, Gaza menarik lengannya, membuat dirinya menoleh ke belakang.
"Gunakan ini," Gaza menyerahkan payung ke tangan Gisella, membuat tubuhnya kini hampir basah terkena hujan.
Gisella meringis, merasa aneh dengan tindakan Gaza. "Apa kau tidak melihat kalau aku sudah basah kuyup, akan percuma kalau aku memakainya. Dan juga bukankah seharusnya kau yang menggunakan ini," balas Gisella mengangkat sedikit payung di tangannya. "Karena kau menyerahkan padaku, justru kini tubuhmu menjadi basah," sambungnya memperhatikan pakaian Gaza yang kini basah.
Gaza melirik tubuhnya sendiri, kemudian ia terkekeh menggaruk belakang lehernya menyadari kebodohannya.
Apa yang Gaza lakukan membuat Gisella juga turut tersenyum kecil, hal itu semakin membuat Gaza terkesima, meskipun hanya senyuman kecil, namun cekung di sebelah pipi gadis itu nampak kentara membuat wajahnya kian manis.
"Bagaimana kalau main hujan-hujanan saja?" usul Gaza kemudian.
Kening Gisella mengerut.
Melihat Gisella yang hanya diam, Gaza meraih payung di tangan Gisella, menutupnya kembali, membuat keduanya sama-sama kehujanan. "Kau pernah melakukannya?"
Kepala Gisella menggeleng pelan.
"Ini akan seru, ayo," ujar Gaza menarik tangan Gisella, mengajaknya berlarian di bawah guyuran hujan yang deras.
Awalnya Gisella nampak canggung, namun beberapa menit kemudian ia mulai menikmatinya, menikmati guyuran hujan yang menimpa tubuhnya, memang benar apa yang ia katakan tentang belum pernah bermain hujan-hujanan. Karena kedua orangtuanya akan memarahinya jika sampai ia bermain hujan atau badannya basah kuyup. Juga Mia yang mudah sakit jika terkena air hujan, sehingga orangtua angkatnya pun tidak mengizinkannya bermain hujan.
Gisella menggeleng, namun senyuman tak luntur dari wajah cantiknya.
Beberapa menit berlalu keduanya menikmati bermain air hujan, selama itu pula Gisella terus tersenyum dan tertawa saat Gaza mulai menjahilinya. Begitu pula Gaza yang nampak terpesona berkali-kali lipat oleh wajah ceria Gisella, tidak ada wajah muram juga tatapan sendu dari netra coklat hazel indah itu. Yang Gaza lihat adalah pancaran mata berbinar dari netra indah itu, seakan netra itu memberikan kehidupan yang indah, berbeda dengan sebelumnya yang seperti tidak ada kehidupan sama sekali. Dan Gaza ingin melihat Gisella yang seperti itu, bahkan gadis itu mulai tidak canggung untuk membalas candaannya.
"Dulu setiap pulang dengan badan basah kuyup, Mama selalu memarahiku, menghukumku dengan mengambil buku ceritaku satu persatu. Itu sebabnya aku tidak berani bermain hujan, karena kalau Mama mengambil buku ceritaku, Bibi tidak bisa membacakan dongeng untukku," kenang Gisella menerawang jauh.
Hati Gaza mencelos, sebegitu buruknya-kah kisah masa kecil gadis itu.
"Mia tidak bisa terkena air hujan, dia akan sakit. Untuk itu pula Mama Dini tidak mengijinkan kami untuk terkena air hujan," sambungnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kalau begitu, mari kita lakukan lagi, aku tahu kalau kau sangat menyukainya," ucap Gaza menarik kembali tangan Gisella, tidak ingin gadis itu kembali bersedih mengenang masa lalu yang akan merusak suasana.
"Gaza, pelan-pelan," seru Gisella berusaha mengimbangi langkah kaki Gaza yang lebar.
Jderr!!!
Suara petir menyambar membuat tubuh Gisella terlonjak, dengan reflek Gaza menarik tubuh Gisella ke dalam pelukannya.
Bukankah sejak tadi tidak ada petir? Kenapa tiba-tiba sekarang ada.
Bisa Gaza rasakan degupan jantung gadis di pelukannya dengan ritme cepat, pasti gadis itu terkejut mendengar suara petir tadi. "Sebaiknya kita berteduh," usulnya menuntun tubuh Gisella untuk berteduh di sebuah halte bis.
Gisella merasakan tubuhnya yang mulai kedinginan, kedua tangannya saling memeluk tubuhnya, angin yang berhembus membuat tubuhnya semakin mengigil, bahkan bibirnya mulai memucat.
Gaza melepaskan jasnya, membungkus tubuh Gisella meskipun percuma karena jas itu sendiri sudah basah kuyup.
"Tidak perlu," tolak Gisella mengelak.
"Setidaknya tubuhmu bisa sedikit menghangat," balas Gaza asal, karena tidak mungkin Gisella merasa hangat kalau jas yang digunakan basah kuyup.
Gisella tidak mampu untuk memprotes saat hawa dingin semakin menusuk kulitnya.
"Leon, jemput aku di halte jalan A," setelah mendapatkan sahutan dari Leon, Gaza mematikan ponselnya, memasukkan ke dalam saku celananya.
"Apa masih dingin?" tanya Gaza nampak khawatir melihat bibir Gisella yang semakin memucat bahkan bergetar.
Gisella hanya bisa menjawab dengan anggukan kecil.
Gaza gelisah di tempatnya, merasa kasihan dengan Gisella yang kedinginan, namun ia juga ragu hendak mengucapkan kalimatnya. "Em.. apa kau keberatan kalau aku memelukmu?"
Gisella menoleh cepat.
"Jangan berfikiran macam-macam, aku tidak tega melihatmu yang nampak kedinginan, bibirmu sudah memucat," Gaza menunjuk bibir Gisella.
Grep!
Tanpa menunggu jawaban Gisella, Gaza segera menarik tubuh Gisella ke dalam pelukannya, menghiraukan tubuh Gisella yang nampak meronta di pelukannya. "Aku tidak akan melepaskanmu, setidaknya biarkan tubuhmu sedikit menghangat, atau setidaknya tunggu sampai Leon tiba."
Pasrah. Gisella hanya diam membiarkan tubuh Gaza membungkus tubuhnya, karena ia benar-benar kedinginan. "Seharusnya aku tidak setuju saat kau mengajakku bermain hujan," bisiknya lirih.
Gaza terkekeh. "Itu karena kita terlalu lama bermain hujan, dan juga hari sudah semakin larut, udara semakin dingin."
Gisella diam saja, tubuhnya terasa beku karena udara yang menusuk kulit hingga ke tulangnya.
Tak berapa lama Leon tiba, Gaza segera mengangkat tubuh Gisella membawanya masuk ke dalam mobil menghiraukan protesan gadis itu.
.
.
.