Beside You (End)

Beside You (End)
BONUS LAGI



Eps. Bonus lagi


å


Gisella menghampiri Gaza yang pagi itu masih terlelap di balik selimut. Mengambil duduk di sisi tempat tidur, untuk sejenak ia memperhatikan wajah suaminya yang terlelap damai. Tidak pernah terlewatkan seharipun untuk Gisella berucap syukur kepada Tuhan atas segala yang ia dapatkan hingga detik ini. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya ia akan bersanding dengan pria sempurna seperti Gaza, hidupnya benar-benar berwarna abu bahkan cenderung menghitam sejak awal. Namun kini seluruh hidupnya berubah pelangi dengan hadirnya Gaza dalam hidupnya. Pria itu tiada henti memberikan dukungan akan penyakitnya juga limpahan kasih sayang tak terbatas padanya.


“Ga,” Gisella mengusap lengan Gaza pelan.


Gaza menggeliat dalam tidurnya, kedua netranya mengintip sedikit dan tersenyum menyaksikan wajah cantik istrinya. “Pagi, Sayang,” balasnya membawa jemari Gisella di depan bibirnya serta mengecupnya.


“Aku akan menyiapkan pakaian untukmu,” ucap Gisella hendak beranjak, namun Gaza menahannya.


“Berbaringlah sebentar, aku ingin memelukmu.”


Gisella geleng-geleng menyadari ulah manja suaminya. “Hari sudah siang,” tolaknya.


“Sebentar saja,” paksa Gaza memohon.


Gisella patuh, ia merebahkan diri saat Gaza bergeser memberi tempat untuknya, ia turut tersenyum saat Gaza tersenyum seakan berucap berhasil membuatnya menuruti perintah.


“Apa anak kita rewel pagi ini?” tanya Gaza mengusap perut Gisella.


Gisella tersenyum, kalimat itu layaknya pertanyaan wajib yang Gaza ucapkan sejak Gisella mengandung. Ia menggeleng sebagai jawaban. “Ayahnya yang lebih manja padaku,” balasnya mengulum senyum.


Senyum Gaza merekah, ia mengusap sebelah pipi Gisella. “Terima kasih sudah mengizinkan aku tetap berada di sampingmu. Terimakasih sudah menerimaku,” tuturnya.


Gisella meraih jemari Gaza serta mengecupnya. “Terimakasih sudah hadir di hidupku,” balasnya.


“Banyak hal yang sudah aku lalui untuk mendapatkanmu, sampai kapanpun jangan pernah mempunyai fikiran untuk meninggalkanku,” ancam Gaza merajuk, ia tidak akan bosan untuk mengatakan Gisella berharga baginya, semua itu ia lakukan agar Gisella segera pulih dari traumanya, walaupun sebenarnya Gisella tidak lagi mengalami hal itu sejak menikah dengannya, Gaza juga tidak berharap hal itu terjadi, dan memastikan hal itu tidak akan terjadi.


Gisella tersenyum. “Aku berjanji,” jawaban yang Gisella ucapkan sungguh dari hatinya, ia senantiasa berdoa agar Tuhan tidak akan merampas kebahagiannya lagi, ia ingin terus bersama Gaza, selamanya.


Keduanya terdiam dengan saling menatap dan tersenyum.


“Ga, sudah hampir siang, kamu harus bekerja,” ujar Gisella mengingatkan.


Gaza menghembuskan nafas panjang. “Aku sudah merasa nyaman dalam pelukanmu, tidak bisakah aku libur hari ini?” pintanya merajuk.


Gisella tersenyum, menyugar rambut Gaza. “Kamu harus rajin bekerja untuk calon anak kita.”


“Uangku masih cukup untuk membiayai hidupnya hingga dewasa.”


Gisella menatap protes. “Kamu tidak memberi contoh yang baik.”


Gaza mengecup bibir Gisella. “One kiss,” pintanya tersenyum jahil.


Gisella mengecup bibir Gaza yang seketika disambut dengan ciuman panjang.


...***...


Gisella menoleh pada berkas yang tergeletak di atas meja. Saat dihampiri, itu adalah berkas kerja milik Gaza yang tertinggal, ia memperhatikan jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan lebih dan Gaza sudah pergi setengah jam yang lalu. “Bukankah ini berkas untuk meeting pagi ini?” gumamnya.


Gisella memperhatikan jam dinding sekali lagi, semalam Gaza lembur mengerjakan berkas tersebut, pria itu berujar itu berkas penting yang harus dikerjakan untuk meeting esok harinya. Tengah menimang harus menelepon Gaza memintanya berbalik arah atau mengantarkannya, pada akhirnya Gisella memilih opsi kedua.


Tiba di gedung yang masih sama beberapa tahun yang lalu, Gisella memilih menunggu di depan kantor alih-alih masuk ke dalam, sejujurnya ia masih belum bersahabat dengan gedung tersebut sebab mempunyai kenangan yang buruk. Ia telah menghubungi Gaza, dan pria itu mengatakan akan menghampirinya bahkan sebelum Gisella memintanya turun.


Gisella memperhatikan beberapa anak jalanan yang tengah berjalan di trotoar, ia teringat dengan pekerjaannya menjual koran, teringat dengan anak-anak jalanan teman seprofesinya dulu, sudah lama ia tidak mengunjungi mereka di tempat biasa. Siapa yang tahu jika dulu ia yang pernah pesimis akan nasibnya menjadi seorang tukang koran dan akan terus berlanjut seperti itu namun nyatanya sekarang ia menjadi seorang istri dari pengusaha kaya, ia yang dulu harus bersabar dan berhemat hanya untuk makan sebungkus nasi, ia yang pernah mengalami masa-masa sulit hidup di jalanan dan diasingkan, kini takdir baik dari Tuhan sangat nyata di hadapannya.


“Sayang.”


Panggilan dari suara yang ia hafal membuatnya menoleh. Pernahkan ia katakan jika suaminya sangatlah tampan dan berwibawa, Gisella sungguh merasa beruntung dan bersyukur atas nikmat Tuhan dalam bentuk Gaza. “Kamu meninggalkannya,” ujarnya menyerahkan beberapa map.


Gaza menerimanya. “Seharusnya kamu meneleponku, Leon akan mengambilnya di rumah.”


“Kebetulan aku sedang tidak repot, lagipula jalanan sedang macet. Bukankah itu berkas penting untuk meeting pagi ini? Aku tidak ingin Leon terkena macet dan menyebabkan pekerjaanmu terbengkalai.”


Gaza tersenyum, mengusap surai panjang istrinya. “Terimakasih, Sayang.”


Gisella mengangguk. “Ga,” panggilnya kemudian.


“Em?”


“Em.. itu, aku ingin mengunjungi Paman Surya, bolehkah?” tanya Gisella hati-hati.


Gaza menilik jam di pergelangan tangannya. “Harus sekarang?” tanyanya.


Gisella mengangguk. “Tidak perlu mengantarku, aku bisa sendiri,” ujarnya mengerti akan kekhawatiran suaminya.


Gaza terlihat tengah menimang. “Baiklah, satu jam lagi aku akan menjemputmu di sana.”


Gisella terkejut. “Untuk apa?”


“Untuk bertemu mereka,” balas Gaza tersenyum penuh arti.


Gisella mengerutkan kening.


“Hati-hati,” putus Gaza mengecup kening Gisella, kemudian meminta Gisella masuk ke dalam mobil.


...***...


Senyum bahagia terpancar dari wajah para anak jalanan saat Gaza datang dengan membawakan bingkisan untuk mereka.


“Wahh..”


“Terimakasih, Kak Gaza, Kak Gisell.”


“Kau tidak perlu repot-repot membawa bingkisan untuk mereka, mereka akan terbiasa nanti,” ujar Surya, ada yang berbeda darinya, kini keseluruhan rambutnya berwarna putih.


“Saya tidak merasa direpotkan,” balas Gaza sekenanya.


Sedangkan Gisella mendongak menatap sang suami yang memberikan senyum padanya. Ia tidak tahu perihal Gaza membawa bingkisan untuk anak-anak jalanan seprofesinya dulu yang kini bertambah anggota, ia hanya tahu jika salah seorang karyawan milik Gaza sudah pulang dari perjalanan bisnis ke Bali dan ia juga tahu jika Gaza menitip banyak sekali oleh-oleh pada karyawannya itu, dan nyatanya oleh-oleh tersebut untuk anak-anak jalanan. “Terimakasih,” ucapnya tanpa suara.


“Paman tinggal sebentar ya, Nak,” pamit Surya meninggalkan Gisella dan Gaza yang duduk di sebuah ruko kecil.


“Hati-hati, Paman.”


“Jadi, untuk ini kamu menitipkan banyak oleh-oleh pada karyawanmu?” Gisella membuka suara.


Gaza mengangguk. “Tidak seberapa.”


“Rapatmu sudah selesai?”


Gisella memicing curiga. “Ga?” panggilnya.


Gaza membasahi bibirnya kemudian tersenyum menatap Gisella. “Leon bisa mengatasi semuanya,” jawabnya.


Gisella mendesah. “Kamu bukan pemimpin yang baik,” ujarnya mengerucut sebal, akhir-akhir ini Gaza memang sering melimpahkan pekerjaan pada asisten pribadinya itu, apalagi ketika Gisella berpamit hendak ke suatu tempat, pasti pria itu akan mengantar atau bahkan menyusulnya meskipun Gisella sudah menolak dan mengancam agar pria itu tidak mangkir dari pekerjaannya.


“Hanya pekerjaan kecil, Sayang. Leon saja sudah lebih dari cukup,” jawaban yang sama yang Gaza berikan saat Gisella merajuk padanya. Ia sendiri juga heran kenapa sering malas ke kantor akhir-akhir ini, atau sepertinya hal itu terjadi sejak kehamilan Gisella memasuki usia empat bulan. Hal yang ia sukai adalah terus bersama Gisella.


Menyadari keterdiaman sang istri, Gaza meraih jemari Gisella serta menggenggamnya erat, menumpuk dengan jarinya kemudian mengusapnya pelan. “Ini terjadi begitu saja, aku rasa aku tidak bisa berjauhan denganmu,” tuturnya dengan mata yang berbinar.


Gisella mengulum senyum, raut wajah suaminya layaknya seorang anak yang tengah meminta maaf pada orangtuanya karena berbuat salah.


Suara gaduh terkesan saling adu otot terdengar nyaring seiring dengan sebuah suara benda keras yang saling beradu. Hanya berjarak beberapa meter dari tempat Gaza dan Gisella duduk terjadi sebuah kecelakaan beserta para pemuda berseragam sekolah yang saling baku hantam. Beberapa orang yang menjadi mengguna jalan berusaha membantu korban kecelakaan juga memisah aksi baku hantam anak sekolah tersebut.


Tubuh Gisella membeku, seketika bayangan serta kenangan buruk masa lalu seakan silih berganti berputar di kepalanya, suara mengerikan memenuhi gendang telinganya membuatnya seketika menutup telinga. Ia merapatkan kedua matanya berharap bayangan-bayangan itu segera hilang dari ingatannya. Tidak, ia tidak ingin penyakitnya kambuh lagi, tidak untuk saat ini dan selamanya. 'Ku mohon, Tuhan.'


"Tenang, Sayang. Everything gonna be okay," Gaza menarik Gisella ke dalam pelukannya menyadari trauma Gisella akan kekerasan kembali menghantui istrinya. "Kamu masih ingat bahwa aku mencintaimu, bukan? Itu akan berlaku detik ini hingga seribu tahun ke depan."


Gisella tersenyum dalam pelukan Gaza, kalimat Gaza sukses menghapus memori mengerikan dalam kepalanya, kalimat Gaza sukses membuatnya tertarik dari bayangan hitam.


Gaza menghembuskan nafas lega menyadari Gisella tersenyum dalam pelukannya, itu menunjukkan bahwa trauma istrinya bisa dikendalikan. Ia menumpukan dagu di atas kepala Gisella. "Sebenarnya Leon sudah memperingatiku dan mengancamku akan mengadu padamu ketika aku kabur dari rapat. Tapi aku mengatakan tidak akan memberinya hadiah liburan ke Maldives jika seandainya ia memprotesku," Gaza terkekeh.


Gisella menarik diri, raut wajahnya nampak terkejut. "Kamu melakukannya?" tanyanya tak percaya.


Gaza tersenyum tanpa dosa. "Sudah aku katakan, aku tidak bisa berjauhan denganmu, bahkan setiap hari aku akan pulang lebih awal agar bisa melihat wajahmu lebih lama," jawabnya jujur.


"Dan kamu meminta Leon melanjutkan pekerjaanmu?" tebak Gisella.


Gaza mengalihkan tatapannya dari intimidasi Gisella. Ia sangat menyukai Gisella yang penuh ekspresi, tatapan intimidasi istrinya berhasil meluluhkannya.


Trangg!!


Sebuah besi yang terlempar mengenai tiang listrik terdengar sangat nyaring. Gaza dan Gisella hingga terlonjak kaget.


"Nak, ayo menyingkir, ada tawuran," Surya berseru.


"Tawuran?" Gaza membeo.


"Benar, Nak. Ayo cepat ikuti Paman."


Gaza memperhatikan Gisella yang kembali membeku menyaksikan perkelahian di depan sana. "Sayang, sebaiknya kita pergi," ucapnya menyadarkan.


Gisella terdiam, bahkan saat Gaza menuntun langkahnya ia tetap diam membisu, pikirannya tengah melayang jauh entah dimana.


"Aunty!"


Sebuah suara yang familiar membuat Gisella tersadar, ia tersenyum menyambut dua keponakannya yang berlari ke arahnya serta memeluk kakinya. "Hei, kalian di sini?" Gisella mensejajarkan tubuhnya dengan Alice juga Brandon.


"Kami habis bermain di Time Zone, aku berhasil mengalahkan Alice di permainan basket," ungkap Brandon bangga.


"Kakak bermain curang," si kecil tak mau kalah.


"Kamu saja yang tidak bisa, kamu terlalu pendek, Alice."


"Kakak yang curang."


Gisella tersenyum memperhatikan kedua keponakannya. "Lain kali Aunty boleh ikut, ya? Adik bayi juga mau bermain bersama kalian," ujarnya mengalihkan perebutan juara dari dua keponakannya.


"Tentu saja, Aunty."


"Mama, besok Alice mau ke Time Zone sama Aunty Gisell."


"Brandon juga."


Brianna dan berdiri di samping Ricko tersenyum saja. "Syaratnya?"


"Jangan membuat Aunty Gisell kelelahan, ada adik bayi di dalam perutnya," ucap dua balita itu bersamaan.


Brianna tersenyum bangga. "Good job," ia memberikan dua jempol kepada anak-anaknya. "Bagaimana kabarmu dan bayimu?" ia menghampiri Gisella serta mengusap perutnya yang buncit.


Gisella tersenyum, ia memperhatikan Brianna, Ricko, dua keponakannya, Surya, beberapa anak jalanan lainnya, juga Gaza yang berada di sampingnya, mereka berusaha melindunginya juga selalu ada untuknya. Kehadiran mereka membuat warna baru dalam hidupnya.


Sejujurnya peran lingkungan sangat amat dahsyat efeknya bagi penderita penyakit seperti Gisella ataupun penyakit yang lain yang lebih parah sekalipun, jika lingkungan menerima kehadiranmu, mendukung semangatmu, mendorong tekadmu, semua akan terasa ringan, semua akan membaik seiring berjalannya waktu. Untuk itu sesekali menolehlah ke samping, lihatlah beberapa orang di sekitarmu, tunjukkan dukunganmu pada mereka khususnya penderita penyakit yang haus akan kepedulian, setidaknya lakukan hal kecil dengan menyapanya untuk sekedar membuatnya yakin masih ada seseorang yang menyadari kehadirannya, menyambut kedatangannya. Warnai hidupnya dengan setitik kecil warna cerah untuk ia kenang sebagai salah satu kenangan indah, kau akan mendapatkan balasan yang lebih baik di kemudian hari.


........


..."Jangan takut apapun, aku akan selalu di sini, menjaga dan melindungimu, menggenggam erat tanganmu, di tempat yang tidak pernah berubah....


...Di sampingmu."...


...~Beside you by Saskavirby~...


...^^^..^^^...



...Terimakasih....


...Kita bertemu di karyaku yang lain....


...Jangan lupa mampir di lapak-lapak haluku yang lain ya. 😚...


...Salam sayang,...


...Author...


...Saskavirby...


Ups, numpang promosi hihi


Mampir di karya aku sebelahnya


"Dialanta"


Thanks 😚