Beside You (End)

Beside You (End)
23. TAK KUNJUNG SADAR



Eps. 23


å


Sudah satu minggu berlalu, namun Gisella tak kunjung sadar, masih nyaman pada posisinya tertidur pulas di atas ranjang rumah sakit. Hampir setiap hari pula Gaza menjenguk gadis itu, berharap agar bisa melihat netra coklat hazel itu terbuka, berharap senyum kecil terukir lagi di bibir tipisnya.


"Hai Gisella, masih belum bangun? Hm?" Gaza menggenggam jemari Gisella yang dingin. "Lelah banget, ya, sampai  belum mau bangun. Sudah satu minggu loh, apa kamu tidak bekerja? Beberapa hari yang lalu anak-anak jalanan datang di sini." Sengaja Gaza merubah panggilannya menjadi 'kamu'. "Aku hanya bisa sesekali mengajari mereka, karena aku juga harus menjagamu di sini. Apa kamu tahu beberapa dari mereka sudah ada yang pandai berbahasa Inggris. Itu semua berkatku." Gaza terkekeh. "Tidak, itu semua berkatmu," ralatnya tersenyum kecil. Gaza menghembuskan nafas panjang. "Gisella, aku mencintaimu. Sadarlah agar aku bisa mengatakannya secara langsung."


Tidak ada respon sama sekali, hanya suara monitor yang senantiasa menyambut ucapan Gaza.


"Bagaimana, Kak? Ada kemajuan?" tanya Ricko yang baru datang bersama Brianna.


Gaza menggeleng pelan.


"Hai, Gisella, apa kabar? Sudah mengenal suaraku, kan? Aku Brianna, gadis yang kau tolong waktu itu," ujar Brianna mengambil duduk di sisi Gisella, berseberangan dengan Gaza. "Kita bisa menjadi teman baik, aku harap kau segera sadar," sambungnya menepuk pelan jemari Gisella. "Kau sangat berani waktu itu, aku sangat berterimakasih padamu karena telah menolongku. Kalau saja tidak ada kau, entah bagaimana nasibku sekarang." Ia menghembuskan nafas pelan. "Sadarlah, banyak yang menunggumu di sini."


"Mama sudah bisa menebak kalau kau ada di sini, Ricko."


Ketiganya menoleh mendengar Hana yang memasuki ruangan.


"Ada apa, Ma?"


"Kau harus mengurus perusahaan, bukan mengurus gadis itu di sini. Biarkan Gaza yang mengurus gadis pembawa sial itu," desis Hana tak suka.


"Ma, tidak bisakah Mama berhenti menyebut Gisella gadis pembawa sial dan sebagainya? Dia sedang sakit, Ma," cetus Ricko tak enak pada Gaza, biar bagaimanapun Gisella sudah menolong tunangannya.


"Apa kau juga akan membela gadis itu?"


"Ma, aku mohon, jika Mama hanya akan membuat keributan di sini, sebaiknya Mama keluar,"  ujar Gaza tanpa menoleh.


"Gaza, aku Ibumu, berani kau mengusir Mama?"


"Ya, karena kehadiran Mama hanya akan membuat keadaan Gisella semakin memburuk."


"Bahkan di saat keadaan sekarat, gadis itu masih bisa membuat hubungan keluarga kita perlahan retak. Lebih baik kau mati saja, gadis sialan," hardik Hana tersulut emosi.


Gaza beranjak. "Ma, jangan pernah memaki Gisella, bukankah sudah pernah aku katakan, apapun yang akan Mama lakukan, aku akan tetap mencintai Gisella, dan aku akan tetap melindunginya," ucapnya serius.


"Berani kau menentang Mama demi gadis pembunuh seperti dia?" Hana menunjuk pada Gisella yang terbaring di atas bed pasien.


Tanpa mereka sadari, cairan bening mengalir dari kedua sudut mata Gisella.


"Berhenti mengatakan Gisella pembunuh, Ma," hardik Gaza meninggikan suara, amarah yang ditahannya meluap.


"Gadis pembawa sial, pembunuh!" pekik Hana keras.


Tiba-tiba tubuh Gisella bergetar, Brianna yang berada di sisi brangkar berjengit kaget. "Gisella, apa ada dengannya?" ujarnya ketakutan.


Gaza berbalik, menghampiri tubuh Gisella yang bergetar hebat. "Panggil Dokter," teriaknya menyentuh lengan Gisella. "Gisella, Gisella," panggilnya untuk menyadarkan gadis yang tengah bergetar dengan mata tertutup.


"Gisella, tenang, tidak perlu takut, tenanglah tidak ada yang akan menyakitimu," bisik dokter mencoba menenangkan Gisella yang nampak ketakutan di alam bawah sadarnya, terbukti dengan keringat yang muncul di dahinya.


"Apa yang terjadi?" tanya dokter memperhatikan keseluruhan yang ada di dalam ruangan.


"Dia mengalami trauma, Dok," jawab Brianna cepat.


Dokter nampak terkesiap, menepuk-nepuk lengan Gisella. "Gisella, tenanglah, jangan pikirkan apapun lagi, tidurlah, kau akan baik-baik saja ketika tidur, lupakan kejadian itu, lupakan semuanya," dokter terus saja membisikkan kalimat positif agar Gisella bisa lebih tenang, namun tubuh Gisella masih bergetar, bahkan suhu tubuhnya mulai dingin.


Nampak sorot ketakutan terlihat di raut wajah Gaza, hingga ia teringat pernah menenangkan gadis itu ketika traumanya kambuh. Ia mendekat dan menunduk, memeluk tubuh Gisella yang masih berbaring. "Gisella, tenanglah, jangan lihat apapun, jangan dengarkan apapun. Dengarkan aku, hanya dengarkan kalimatku," bisiknya mengelus punggung Gisella pelan. "Kamu akan baik-baik saja, kamu tidak seperti apa yang mereka katakan, kamu sempurna, kamu gadis yang baik, Gisella. Lupakan semuanya, jangan diingat lagi. Dengarkan kalimatku, kamu gadis baik, kamu gadis yang sempurna, kamu sempurna, Gisella."


Perlahan Gaza tidak lagi merasakan getaran di tubuh Gisella, sepertinya gadis itu sudah lebih tenang. Gaza semakin mempererat pelukannya, juga senantiasa membisikkan kalimat-kalimat baik tentang Gisella, mengingatkan kebaikan yang gadis itu lakukan.


Dokter tersenyum melihat Gisella yang sudah lebih baik. "Ajaklah dia berbicara dengan membicarakan hal yang baik-baik. Aku rasa dia mengalami hal yang sangat buruk sebelumnya. Meskipun dia dalam keadaan tidak sadar, namun alam bawah sadarnya masih bisa merespon apa yang kalian ucapkan. Jadi saya harap kalian bisa menjaga ucapan agar tidak menyinggung traumanya," ujar sang Dokter sebelum berlalu.


"Ku mohon, kembalilah, aku mencintaimu, Gisella," bisik Gaza lagi.


*


Tak berapa lama nenek Ely datang menjenguk Gisella, ia baru mendengar kabar tentang Gisella dari Gaza tadi malam.


"Mama?" Hana nampak terkejut melihat sang ibu memasuki ruangan Gisella dirawat.


Dengan tubuh ringkihnya ia berjalan dengan tongkat menghampiri Gisella. "Bagaimana kabarmu, Sayang? Maafkan Nenek yang baru sempat menjengukmu," ujarnya mengusap kepala Gisella yang terbalut perban. "Cepat pulih, ya, Nenek sangat ingin makan malam denganmu lagi," imbuhnya mengecup kening Gisella sekilas.


"Mama mengenalnya?" selidik Hana tak percaya.


Brianna bangkit, membiarkan nenek Ely untuk duduk di tempatnya.


"Dua puluh tahun yang lalu, ada seorang wanita melahirkan anak perempuan yang sangat cantik dan manis. Anak itu begitu sempurna, tidak ada kecacatan sedikitpun di tubuhnya, namun kedua orangtuanya kecewa saat bayi itu berjenis kelamin perempuan. Karena mereka menantikan kelahiran anak laki-laki," tutur nenek Ely membuat mereka terdiam. "Dan karena bayi itu perempuan, kedua orangtuanya tidak bersedia mengurus anak tersebut, hanya memenuhi kebutuhan sang anak, selebihnya mereka akan membiarkan anak itu kesepian, hanya sang nenek yang merawatnya dengan kasih sayang.” Nenek Ely mengambil nafas. “Hingga beberapa tahun kemudian lahir anak kedua mereka berjenis kelamin laki-laki, anak yang mereka nantikan. Kelahiran anak laki-laki itu membuat sang kakak semakin tidak dipedulikan. Beranjak besar sang adik merengek ingin diajak bersepeda, karena sang kakak sangat menyayangi sang adik, dia menurutinya, mengajak sang adik bersepeda di sekitar kompleks rumah. Di tengah perjalanan sepedanya oleng, keduanya terjatuh, naas di belakang mereka ada sebuah motor melaju kencang, menabrak sang adik hingga tewas."


Nenek Ely kembali menghembuskan nafas pelan. "Gadis itu dituduh sebagai penyebab kematian sang adik, kedua orangtuanya semakin membenci gadis malang itu. Gadis itu mengalami depresi, ketakutan hebat, hingga traumatik. Beberapa tahun kemudian rumah mereka didatangi rampok, sang Ibu mencoba melindungi sang anak perempuan hingga terkena tembakan pistol, juga sang Ayah yang mengalami luka serius karena dipukuli dan tidak tertolong. Sang Nenek yang merawatnya mulai menyalahkan sang gadis karena kematian anak juga menantunya, mengusir gadis berusia dua belas tahun itu dari rumah, mencaci, memaki, mendorong tubuh gadis kecil itu.  Hingga sebuah keluarga menemukan dan mengadopsi gadis kecil itu."


Kedua jemari nenek Ely menyentuh jemari Gisella. "Beranjak dewasa, adik angkatnya mengajak sang gadis mengunjungi kantor dimana kekasih sang adik berada, hingga kejadian naas kembali terulang. Seorang pria psikopat menghampiri kedua gadis itu yang tengah bersantai di atas gedung perusahaan. Menganiaya sang adik angkat dengan besi, tentu gadis itu ingin menyelamatkan sang adik, tapi trauma masa kecilnya kembali terulang, lintasan peristiwa mengerikan masa kecilnya membuat tubuhnya bergetar ketakutan. Belum sempat dia berhasil mencari bantuan, gadis itu melihat tubuh sang adik angkat tergeletak di bawah gedung. Dia shock, dia tidak bisa menangis karena jiwanya kosong, jiwanya hampa, kesadarannya hilang entah kemana. Bahkan saat semua orang menuduhnya telah membunuh sang adik, dia hanya diam dengan tatapan kosong. Dia dituduh gila hingga beberapa hari menginap di rumah sakit jiwa." Jeda. "Dia gadis yang malang, sejak lahir ke dunia dia mengalami rentetan kejadian mengerikan yang mengguncang jiwanya, bahkan hingga saat ini orang lain masih menuduhnya sebagai pembunuh juga pembawa sial." Nenek Ely mengeratkan genggaman tangannya untuk menguatkan Gisella yang masih terlelap. "Gadis malang itu bernama Gisella, Arindiana Gisella," tutupnya.


Hana, Brianna juga Ricko nampak terkesiap, kisah yang diceritakan nenek Ely ternyata adalah kisah seorang gadis bernama Gisella, yang beberapa waktu lalu mengalami guncangan hebat.


"Menurutmu, apa dia yang harus bertanggung jawab atas semua kejadian yang menimpa orang sekitarnya, Hana?" Nenek Ely menoleh pada Hana yang membeku di tempat.


Hana terdiam, hatinya tersentuh dan terenyuh mendengar kisah hidup Gisella, sebegitu menyedihkannya kisah hidup gadis itu. "Maaf," hanya itu kalimat yang ia ucapkan, kemudian ia beranjak keluar ruangan. Menenangkan dirinya sendiri atas apa yang ia lakukan terhadap gadis malang bernama Gisella.


.


.


.