Beside You (End)

Beside You (End)
27. STEP BY STEP



Eps. 27


å


"Pelan-pelan, Mbak, jangan dipaksakan. Kalau dirasa nyeri bisa istirahat dulu," tutur seorang suster yang membantu Gisella untuk duduk.


Sudah lewat satu minggu sejak Gisella siuman, tapi ia belum juga bergerak dari posisinya berbaring di atas bed, luka tusuk pada perutnya yang membuatnya tak leluasa bergerak. Ia menggigit bibir bawahnya kuat guna mengalihkan rasa sakit yang mendera di seluruh tubuhnya terutama di bagian perut saat ia berusaha untuk hanya sekedar duduk.


"Ayo, Mbak, sedikit lagi, pelan-pelan saja," sang suster setia memberikan semangat.


"Sak...kit, sus," ringis Gisella terbata. Ia mengatur nafasnya yang terengah ketika pada akhirnya berhasil duduk.


"Mau belajar berdiri dan jalan?" tawar sang suster lagi.


Gisella mengangguk. "Iya, Sus."


Perlahan kaki Gisella turun dari dua undakan guna menyentuh lantai. Mencoba berjalan beberapa langkah, tubuhnya benar-benar kaku karena hampir dua bulan ia koma dan terus berbaring. Sesekali Gisella harus membungkuk menahan nyeri di perutnya, beberapa kali pula ia menggigit bibir bawahnya guna mengalihkan rasa sakit, bahkan hingga membuat benda kenyal nan lembut itu berubah memerah keunguan.


Gaza yang sudah selesai meeting dengan klien bermaksud menjenguk Gisella di rumah sakit, sebenarnya saat itu belum waktunya jam pulang kerja, hanya saja lokasi yang ia kunjungi melewati rumah sakit tempat Gisella dirawat. Ia hanya ingin memastikan keadaan gadis itu. Memasuki ruangan, Gaza terkejut menyaksikan Gisella yang tengah belajar berjalan dibantu seorang suster. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya menghampiri.


Gisella menoleh. "Lebih baik," jawabnya.


Kening Gaza mengkerut menyadari warna keunguan pada bibir Gisella. "Ada apa dengan bibirmu, Gisella? Kamu terluka?" tanyanya khawatir.


Gisella merasa bingung dengan pertanyaan Gaza, ia menatap sang suster yang juga tengah melihat ke arahnya. "Ke-napa?" tanyanya heran.


"Mungkin karena Mbak Gisella menahan sakit dengan menggigit bibirnya, Tuan, sehingga warnanya menjadi seperti itu," jawab sang suster kemudian.


Gaza nenghembuskan nafas lega, ia khawatir kalau Gisella alergi sesuatu atau terjadi sesuatu pada gadis itu. "Biar aku yang membantunya berlatih," tuturnya mengambil alih tangan Gisella.


"Eh?"


"Kalau begitu saya permisi. Semangat, ya, Mbak Gisell. Kalau lelah, sebaiknya istirahat, jangan terlalu dipaksakan," tutur sang suster sebelum berlalu.


Gaza mulai menuntun Gisella untuk melangkah perlahan. "Sudah berapa langkah?" tanyanya.


Gisella menjawab dengan gelengan kepala, sebenarnya ia masih malu karena ucapan Gaza beberapa hari yang lalu, saat mengatakan mencintainya. Saat itu ia hanya diam dan tidak memberikan balasan apapun. Dan Gaza pun tidak memintanya untuk membalas ucapannya kala itu. Jadi beginilah akhirnya, suasana menjadi akward, Gisella tidak tahu maksud kalimat Gaza waktu itu apa, entah serius, atau hanya kalimat kosong. "Sshhh.." ia meringis dan seketika membungkuk menyentuh perutnya saat rasa nyeri itu kembali muncul.


Gaza turut membungkuk. "Kenapa?" tanyanya khawatir.


"Sakit," cicit Gisella pelan.


"Kita kembali ke tempat tidur, istirahat dulu," usul Gaza diangguki Gisella.


"Aduh, duh, kepala aku pusing, aduh," ringis Gisella menyentuh kepalanya yang terasa berputar. "Aku ingin berbaring," pintanya hendak berjalan cepat. Namun hal itu justru membuat nyeri di perutnya semakin kuat. "Aduhh.." keluhnya lagi menyentuh perutnya.


Gaza kebingungan melihat tingkah Gisella, ia khawatir melihat Gisella mengaduh berulang kali. Tanpa pikir panjang, Gaza membopong tubuh Gisella dan membawanya ke bed pasien. "Kamu harus pelan-pelan, Gisella, apa kamu lupa kalau sedang sakit?" protesnya.


Gisella bergeming, posisinya saat ini tengah duduk di bed, dan ia membiarkan kepalanya menyender di dada Gaza, ia benar-benar pusing.


Gaza mengintip pada Gisella yang menutup mata, deru nafas gadis itu terdengar tak teratur, jemarinya terulur mengusapi surai panjang Gisella. "Tidak apa-apa, kita bisa latihan lagi nanti," ucapnya menenangkan gadis di pelukannya. Sesekali ia mengusap peluh di kening Gisella yang masih terdapat perban melingkar.


"Kepalaku pusing," gumam Gisella dengan mata terpejam.


Gaza memijit pelan pelipis Gisella. "Lebih baik?" tanyanya mengintip wajah Gisella.


"Jangan, jangan disentuh," cegah Gisella menyentuh tangan Gaza yang memijit pelipisnya. Seakan tersadar, Gisella segera menarik diri dengan cepat. Lagi-lagi ia meringis merasakan nyeri di perutnya. "Maaf, aku tidak sengaja," sesalnya merasa tak sepatutnya ia membiarkan kepalanya menyandar di dada bidang pria di hadapannya.


Gaza tersenyum maklum. "Berbaringlah," ujarnya membantu Gisella untuk berbaring. Sengaja Gaza menaikan kepala ranjang agar Gisella bisa menyandar dengan posisi setengah duduk.


Beberapa menit setelahnya keduanya saling diam, sesekali Gisella melirik ke arah Gaza yang melipat kakinya seraya menatap layar ponselnya. Sebenarnya Gisella ingin mengatakan sesuatu pada Gaza, tapi melihat pria itu yang sibuk dengan ponselnya membuatnya ragu untuk berucap.


Sedangkan Gaza sendiri menyadari bahwa Gisella memperhatikannya, sengaja ia tidak menanggapi, masih terus berkutat dengan ponselnya. Hingga beberapa menit ia rasa sudah cukup untuk menggoda gadis itu, kepalanya menoleh pada Gisella, bertepatan dengan gadis itu yang juga tengah menatap ke arahnya. Melihat gelagat Gisella yang malu dan bingung membuat Gaza terkekeh kecil, bahkan gadis itu mengalihkan tatapannya. "Apa yang ingin kamu katakan, hm?"


Gisella melipat bibirnya. "Aku mau jalan-jalan di luar," cicitnya menunduk.


"Bisa katakan lebih jelas."


"Aku mau jalan-jalan di luar," ulang Gisella sedikit meninggikan suaranya.


"Gisella, kenapa kamu berbisik? Aku tidak mendengarmu," Gaza semakin gencar menggoda.


Gisella mendesah berat. "Ga..?" protesnya menekuk wajahnya sebal.


Gaza terkekeh mendengar suara manja Gisella. "Baiklah, aku ambilkan kursi roda dulu," ujarnya beranjak ke luar ruangan.


Di taman rumah sakit, tak sedikit yang berada di sana, ada orang dewasa juga anak-anak yang tengah bermain atau sekedar jalan-jalan menghirup udara segar. Tatapan Gisella terfokus pada anak kecil yang tengah berada di kursi roda, didampingi kedua orangtuanya yang tengah memperagakan gerakan, sepertinya gadis kecil itu tengah diceritakan sebuah dongeng. Gisella tersenyum tipis melihat respon sang gadis yang tertawa karena ulah lucu kedua orangtuanya. Bolehkah ia merasa iri dengan gadis itu? Karena sejak kecil ia belum pernah diajarkan hal menyenangkan oleh kedua orangtuanya. Jangankan mendongeng, menemaninya mengerjakan PR saja bisa dihitung dengan hitungan jari.


"Apa kamu merindukan orangtuamu?" tanya Gaza yang sedari tadi memperhatikan apa yang Gisella tatap.


Gisella menggeleng pelan. "Aku tahu, Mama, Papa, Ibay sudah tenang di atas sana. Aku juga sudah pernah bertemu dengan mereka di mimpiku."


"Apa yang mereka katakan?"


"Mereka menyesal."


Kening Gaza mengerut. "Kamu memaafkan mereka?"


Gisella menoleh menatap Gaza. "Sebenarnya aku tidak pernah membenci mereka, dulu aku selalu berharap bahwa mereka akan berubah untuk lebih menyayangiku, menemaniku membacakan dongeng sebelum tidur, melakukan hal-hal yang seharusnya anak kecil lakukan bersama orangtuanya. Tapi aku tahu, aku tidak pernah mendapatkan itu, dan untuk sekarangpun aku tidak berhak untuk mengulang kembali. Karena pada kenyataannya Mama meninggal karena menolongku, dan juga, Papa meninggal karena menyelamatkan keluarganya. Aku sama sekali tidak berhak untuk meminta permohonan maaf mereka," tuturnya menerawang.


Gaza memperhatikan raut wajah Gisella yang nampak berkabut. "Tapi pada kenyataannya, jika dari awal mereka memperlakukanmu dengan baik, kamu tidak akan mengalami hal buruk seperti sekarang."


"Mungkin itu sudah bagian dari jalan hidupku, aku harus bisa melaluinya, menjalani semuanya, melangkah perlahan untuk sebuah harapan yang belum aku ketahui ujungnya."


"Tapi —"


"Aku tidak ingin membahasnya, biarkan mereka tenang di sana, aku tidak mau mengungkit masa lalu yang buruk," potong Gisella. "Biar bagaimanapun, kami adalah keluarga, meskipun tidak berawal dengan baik, tapi setidaknya untuk sekarang dan seterusnya aku merasa beruntung mempunyai keluarga seperti mereka," kenangnya mengingat pelukan sang ayah dan ibu dalam mimpinya. "Walaupun pada kenyataannya mereka tidak mengizinkan aku untuk bersama saat ini," imbuhnya pelan, wajahnya menunduk muram.


"Apa maksudmu, Gisella?"


Gisella menggeleng. "Tidak ada."


Gaza menghembuskan nafas panjang. "Baiklah, jangan diungkit lagi. Berjalan sesuai keinginanmu, aku akan berusaha untuk menemani setiap langkahmu."


Gisella menoleh, terkejut dengan kalimat Gaza. "A-pa maksudmu?"


Menatap netra coklat hazel yang nampak bersinar Gaza menjadi gugup. "Bolehkah aku menanyakan satu hal padamu?"


Gisella mengangguk ragu.


"Apakah kamu mencintaiku?"


Kedua netra coklat hazel itu melebar sempurna.


"Setidaknya apa kamu pernah menyukaiku?" tatapan Gaza menghunus tepat pada manik coklat berkilau itu.


Sedangkan Gisella tampak sangat terkejut, entah apa maksud pertanyaan Gaza, juga apa jawaban yang harus ia berikan, ia tidak tahu. Sehingga untuk beberapa saat ia hanya bungkam.


Duk!!


Keduanya menoleh saat sebuah bola mengenai kursi roda Gisella. Seorang anak perempuan berlari ke arahnya.


"Maaf, Om, Tante, adikku tidak sengaja melemparnya," ucap seorang gadis kecil.


"Tidak apa-apa, lain kali hati-hati, ya," tanggap Gaza menyerahkan bola pada sang gadis kecil.


Anak itu mengangguk. "Mama melarang Arr bermain bola, karena dia masih sakit, tapi Arr menangis, aku tidak tega. Jadi diam-diam aku membelikan bola untuknya," adunya menatap Gaza.


Gaza tersenyum mengelus kepala sang anak. "Kamu Kakak yang baik, Arr pasti senang mempunyai Kakak sepertimu."


"Aku juga senang mempunyai adik seperti Arr, aku sangat menyayanginya," sang gadis kecil nampak tersenyum lebar memperlihatkan gigi susunya yang keropos.


Gaza ikut tersenyum.


"Terimakasih, Om, Tante. Aku pergi dulu," pamit gadis kecil itu melambaikan tangan.


Sejak kehadiran sang gadis kecil, Gisella sama sekali tidak membuka suara, tatapannya lekat terarah pada sang gadis, mendengarkan cerita sang gadis yang amat sangat menyayangi sang adik. Juga mengikuti langkah kaki sang gadis yang berlari menghampiri sang adik yang tersenyum di atas kursi roda. Semua hal itu mengingatkannya pada masa kecilnya bersama mendiang sang adik, sama persis saat ia tidak tega melihat sang adik menangis karena ingin dibonceng naik sepeda, dan akhirnya membawanya keliling komplek, hingga kejadian buruk menimpanya. Satu bulir air mata jatuh dari mata indahnya menyaksikan kedua kakak beradik itu nampak tertawa bahagia di ujung sana.


Tangan Gaza terulur untuk menghapus airmata yang jatuh di pipi gadis di hadapannya. Membuat Gisella tersentak menjauhkan wajahnya.


"Sudah hampir petang, sebaiknya kita kembali ke kamar," ujar Gaza memperhatikan wajah ayu gadis di hadapannya yang nampak murung. Ia tahu, pasti Gisella teringat masa kecilnya bersama sang adik, Gaza sudah mengetahui semua tentang Gisella, dan ia tidak ingin melihat wajah gadis di hadapannya kembali muram mengingat masa lalunya.


Gisella mengangguk setuju. Sesekali ia menoleh ke belakang melihat kakak beradik itu bersama orangtuanya, terlihat sang ibu mendorong kursi roda sang adik, serta sang gadis kecil yang berada di gendongan sang ayah. Sungguh keluarga yang harmonis, pikirnya tersenyum samar.


.


.


.