
Eps. 36
å
Gisella terdiam kaku di dalam mobil menyadari kemana Gaza akan membawanya siang itu, seketika jantungnya berdebar hebat dengan kedua jemari yang saling memilin, sedang ekor matanya bergerak gelisah.
Gaza meraih jemari Gisella guna memenuhi kekosongan sela jarinya, menggenggamnya erat. "Semua akan baik-baik saja," ujarnya menenangkan.
Gisella menelan saliva. "Untuk apa kau membawaku ke sini, Ga?" tanyanya ragu.
Gaza menatap lekat netra bening di hadapannya. "Aku ingin meminta restu dari satu-satunya keluarga yang kamu miliki, aku tidak tahu apakah dia akan menerima kehadiran kita atau tidak. Tapi setidaknya aku sudah meminta izin untuk menikahimu pada keluargamu, Gisella. Aku tidak ingin di kemudian hari akan ada orang yang datang dan mengatakan hal buruk padamu," ucapnya sungguh-sungguh.
Gisella benar-benar tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan seorang Gaza, seakan mencintai pria itu saja tidak akan cukup, entah terbuat dari apa hati pria itu, kesungguhan ucapan Gaza yang ingin menikahinya membuat kelopak matanya memanas.
"Kamu siap?" tanya Gaza menyadari keterdiaman gadis di sampingnya.
Gisella mengangguk ragu.
Masih terekam jelas bagaimana dulu ia diusir dari rumah itu, diseret dan dimaki di halaman rumah, tidak pernah terbayangkan ia akan menginjakkan kaki di rumah itu lagi. Bayangan buruk tentang perlakuan pemilik rumah membuat tubuh Gisella benar-benar bergetar hebat, tanpa sadar ia meremas kuat genggaman tangannya pada jemari Gaza.
Gaza menoleh merasakan genggaman di tangannya mengeras, ia membingkai wajah Gisella dengan sebelah tangan. "Jangan lepaskan tanganku, semua akan baik-baik saja," ujarnya mengecup kening Gisella, berharap ucapan serta kecupannya mampu menenangkan gadis itu.
Gisella memejamkan mata merasakan kecupan hangat di dahinya yang menembus hingga ke jantungnya, ia percaya pada Gaza, pria itu pasti akan melindungi dan membuat semuanya baik-baik saja. Hanya saja ia tidak percaya pada dirinya sendiri, Gisella takut, takut pada ketakutannya sendiri.
Setelah menekan bel beberapa kali, akhirnya pintu itu terbuka, seorang wanita berdiri memperhatikan tamunya. "Cari siapa, ya?" tanyanya.
Nenek ada?" Gaza yang menjawab, sedangkan Gisella bersembunyi di belakang tubuhnya.
Wanita itu menyernyit.
"Siapa itu, Is?"
Seorang wanita tua yang tengah duduk di kursi roda dengan didorong seorang wanita berseragam suster menghampiri.
"Perkenalkan saya Gaza," Gaza berujar, menarik Gisella untuk mendekat.
Wanita tua itu menyernyit, memperhatikan lekat rupa laki-laki yang tak dikenalinya, kemudian ia menyadari siluet seorang perempuan di belakang tubuh laki-laki itu. "Untuk apa kau ke sini?!" hentaknya lantang.
Tubuh Gisella sudah membeku di tempat, tak berani mengangkat kepalanya.
"Mohon tenang, saya yang membawanya ke sini, jangan katakan hal buruk padanya," Gaza menyela saat menyadari gelagat nenek tua di hadapannya hendak menghardik calon istrinya. "Saya ke sini ingin meminta restu pada anda untuk menikahi Gisella, saya mencintainya. Dan kalaupun anda tidak memberikan restu itu saya akan tetap menikahinya. Setidaknya saya masih mempunyai rasa kemanusiaan dengan menganggap anda sebagai bagian dari keluarga Gisella," tuturnya menyindir.
Tatapan nenek itu tak kunjung meredup. "Terserah, aku tidak peduli, sejak hari dimana dia keluar dari rumah ini, dia bukan lagi bagian dari keluarga ini. Terserah jika kau ingin menikahinya. Tapi aku peringatkan padamu. Jika suatu hari terjadi hal buruk padamu atau padanya, jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini untuk meminta belas kasihan, karena aku tidak akan sudi!" ujarnya sarkas.
Airmata Gisella sudah tumpah mendengar kalimat menyakitkan dari seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, ia tidak mengharapkan bahwa neneknya akan menerimanya kembali, namun mendengar kalimat tajamnya membuatnya kian ciut.
Gaza mengangguk-angguk. "Itu lebih dari cukup. Sejak hari dimana anda menendang Gisella keluar dari rumah ini, dia bukan lagi bagian dari keluarga anda, dan mulai detik ini hingga seterusnya dia akan menjadi tanggungjawab saya, saya yang akan mengurus dan memenuhi kebutuhannya, saya yang akan mencintai dan memberikan limpahan kasih padanya. Jika suatu saat terjadi hal buruk dengan anda, anda tidak berhak untuk meminta belas kasih dia lagi, karena dia adalah milikku, karena dia adalah keluargaku," balasnya tak kalah pedas.
Gisella terkejut, ia tidak pernah menyangka Gaza akan mengatakan hal itu tentang dirinya di depan neneknya.
"Permisi," ucap Gaza gegas berbalik tak lupa membawa tubuh Gisella dalam pelukannya, ia menyadari reaksi tubuh gadis di sampingnya yang membeku karena ucapan tajam nenek tua itu. "Kau bukan pembunuh, Gisella, kau berharga bagiku," bisiknya menenangkan. Ia menyadari Gisella yang menatap kosong, ia khawatir jika trauma gadis itu kambuh. "Apa sebaiknya aku menggendongmu?" ujarnya menyadari keterdiaman gadis di pelukannya.
Gisella tersadar, kepalanya menggeleng. "Tidak perlu," jawabnya.
Gaza tersenyum, mengecup sisi kepala Gisella dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Gisella termenung memperhatikan luar jendela, ia mempunyai harapan bahwa neneknya akan sedikit lunak padanya setelah bertahun-tahun perseteruan itu terjadi, ia mempunyai sedikit harapan neneknya akan menerimanya dan mereka berdua akan hidup bahagia, ia akan merawat neneknya yang sudah lanjut usia, ia ingin memperbaiki semuanya dan tak ingin menyesal di kemudian hari karena mengabaikan neneknya. Namun nyatanya kebencian neneknya telah mengeras dan membatu, neneknya masih membencinya sama seperti dulu, kebencian itu masih tertanam, entah kapan ia kembali bisa merasakan sentuhan dan pelukan hangat dari sang nenek. Jujur saja ia menginginkan masa kecilnya dulu yang masih bisa mendapatkan pelukan hangat dari seseorang yang amat berarti dalam hidupnya. Tanpa sadar Gisella telah terisak.
Gaza membawa tubuh Gisella dalam pelukannya, yang seketika tangisan gadis itu pecah. "Keluarkan semuanya," ujarnya mengelusi punggung Gisella yang bergetar, ia mengerti perasaan gadis itu, ia juga tidak menyangka bahwa nenek dari Gisella akan mengatakan hal buruk pada cucunya sendiri. Ia sebagai orang luar yang mendengar cacian itu juga amat marah, apalagi Gisella. Entah bagaimana gadis kecil yang dulu ditendang keluar bisa sekuat itu menjalani hidup. Gaza memejamkan mata merasakan perih di dadanya menyadari kepahitan hidup seorang Gisella. Ia berjanji akan menjaga dan membahagiakan Gisella. Tidak. Ia bersumpah.
Gisella mendongak. "Ga," panggilnya dengan wajah yang basah.
Gaza mengecup singkat bibir Gisella, kepalanya menggeleng pelan seraya jemarinya mengusapi kedua pipi Gisella. "Jangan dipikirkan, kamu sangat berharga di hidupku, kamu mempunyai arti lebih di kehidupanku yang awalnya abu-abu. Aku tidak peduli dengan mereka yang tak menyukai kita. Aku tidak ingin kamu pergi dari hidupku lagi, Gisella. Aku sangat mencintaimu, sungguh, maka dari itu jangan pernah mempunyai sedikitpun pemikiran untuk menjauh dariku, aku tidak akan baik-baik saja jika tak ada dirimu," ungkapnya sungguh-sungguh.
"Aku takut.."
"Ketakutanmu tidak lebih besar dibanding ketakutanku akan kehilanganmu," tanggap Gaza.
"Bagaimana jika aku mengecewakanmu, Ga?" Setetes air mata kembali membasahi pipinya yang putih.
"Aku akan menjadi sepertimu jika kamu meninggalkanku, apa kamu berharap aku akan menjadi seperti itu?"
Gisella menggeleng kuat, ia tidak akan membiarkan Gaza mengalami trauma seperti dirinya, Gaza sempurna dan juga berharga baginya.
Gaza tersenyum. "Untuk itu jangan pikirkan hal-hal selain bukan aku, kamu memiliki aku, Gisella. Kamu harus mengingatku di setiap waktu yang kamu miliki," godanya menahan bibirnya yang berkedut.
Gisella sadar tengah digombali, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman indah.
Tak bisa Gaza tak menarik kedua sudut bibirnya. Ia kembali membawa tubuh Gisella dalam pelukannya. "Kamu mencintaiku?" bisiknya.
Gisella mengangguk dalam pelukan hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya. "Aku mencintaimu," balasnya berbisik.
*
Gaza melirik sisi kirinya saat tak menyadari pergerakan gadis di sebelahnya. Kendaraan berhenti ketika rambu lalu lintas berubah merah, ia melongok gadis di sampingnya yang terlelap. Gaza mendekat menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Gisella. Raut wajahnya sangat tenang dan nampak teduh, Gaza telah menjanjikan dirinya sendiri untuk membuat wajah cantik itu senantiasa tersenyum, tak membiarkan orang lain melukai hatinya, tak membiarkan oranglain membuat raut wajah teduh itu kembali mendung. Gaza mendekat, memberikan kecupan hangat di dahi Gisella.
Merasakan sentuhan di wajahnya netra coklat hazel itu terbuka, pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah wajah tampan seorang Gaza yang tengah tersenyum padanya. "Aku ketiduran?" ucapnya memperbaiki posisi duduknya.
Gaza mengusap puncak kepala Gisella. "Mau makan dulu?" tanyanya.
Gisella mengangguk saja.
.
.
.