
Eps. 17
å
Hari itu tanpa sepengetahuan Gisella, Gaza menemui anak jalanan dan bermaksud mengajak mereka ke pasar malam yang ada di lapangan luas di pinggir kota. Gaza juga meminta anak-anak untuk mengajak Gisella turut serta. Atau mungkin lebih tepatnya ia ingin mengajak Gisella pergi dengan anak jalanan sebagai alibinya. Karena jika ia yang mengajak, Gisella tidak akan mau.
Kedua sudut bibir Gaza terangkat ketika menyadari Gisella ada di depan sana tengah berbicara dengan anak-anak jalanan, hal itu membuktikan bahwa anak-anak berhasil mengajak Gisella untuk menikmati pasar malam. Ia turun dari mobilnya, netra legamnya menyorot pada gadis manis berkemeja putih serta celana garis-garis, rambutnya yang diikat menjadi satu seperti ekor kuda. Penampilan sederhana namun mampu membuat seorang Gaza kerkesima dengan gadis itu.
"Kak Gaza."
Seruan dari seorang anak mengembalikan kesadaran Gaza, ia tersenyum dan menghampiri, mengabaikan raut keterkejutan dari Gisella.
Sedangkan Gisella terperanjat akan kehadiran Gaza di tempat yang tidak pernah ia pikirkan akan disinggahi seorang Gaza.
"Kak Gaza, kita mau ke pasar malam. Ayo gabung dengan kami."
Gisella menatap protes pada gadis kecil yang tingginya hanya sebatas pinggangnya saat mengajak Gaza turut serta, karena jujur saja ia merasa tidak nyaman berada satu tempat dengan Gaza.
"Apa aku tidak akan menggangu kalian?" tanya Gaza mencuri tatap pada Gisella.
Mereka kompak menggeleng. "Tidak kak,” jawab mereka bersamaan.
Gaza menoleh pada Gisella. "Tapi sepertinya ada yang tidak ingin aku bergabung dengan kalian,” tanggapnya.
Gisella nampak terkejut dan sadar yang Gaza maksud adalah dirinya, hingga seorang gadis kecil menarik ujung bajunya.
"Kak, bolehkan kalau Kak Gaza bergabung dengan kita?"
Gisella menatap kelima anak jalanan itu bergantian, kemudian beralih pada Gaza dan kembali lagi pada kelima anak jalanan, ia tengah menimang, hingga kemudian ia mengangguk. "Y-a, tentu," balasnya.
"Yeee!!” sorak mereka girang.
“Ayo kita masuk, Kak."
Kelima anak jalanan itu sudah berlarian memasuki lokasi pasar malam dengan menaiki beberapa wanaha, sedangkan Gaza dan Gisella berjalan beriringan, keduanya seperti orangtua yang mengawasi anak-anaknya bermain.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Gisella menoleh sekilas.
"Aku tidak sengaja lewat."
Gisella menoleh cepat, jawaban yang Gaza berikan tak membuatnya puas, ia merasa aneh jika Gaza mengatakan tidak sengaja lewat di tempat yang tidak seharusnya pria itu lewati.
"Mau mencoba permainan?" tawar Gaza kemudian.
Gisella menggeleng pelan. "Tidak usah, aku hanya ingin menemani anak-anak bermain."
"Bukankah lebih baik kalau kau juga menikmati permainan?"
Gisella hanya diam, tidak berniat menjawab pertanyaan Gaza, langkah kakinya terus berjalan menyusuri beberapa arena yang banyak dikunjungi anak-anak muda. Tiba-tiba langkah kakinya terhenti saat melihat boneka panda kecil berada di antara rak, ia teringat dengan boneka pandanya masa kecil yang ia beli dengan uangnya sendiri. Orangtuanya sibuk mengurus sang adik laki-laki dan tidak mengindahkan keinginannya untuk membeli boneka yang ia lihat di salah satu toko.
Pada akhirnya Gisella mengumpulkan uang sakunya dan membeli boneka itu sendiri dengan mengayuh sepeda kecilnya menuju toko boneka. Gisella kecil sangat senang karena bisa mempunyai boneka panda yang cukup untuk ukuran tubuhnya saat itu, sepanjang jalan ia mengajak bicara boneka panda yang diletakkan di keranjang sepedanya.
Namun sesampainya di rumah sang ibu menjewer telinganya karena pergi tanpa pamit membuat sang adik menangis karena mencarinya. Saat Gisella kecil mengatakan ia hanya membeli boneka justru boneka itu berakhir dengan diinjak dan dirobek sang ibu. Ibunya mengatakan bahwa Gisella kecil sudah mempunyai banyak boneka kenapa harus membeli lagi, terlebih telah membuat sang adik menangis.
Gaza memperhatikan gadis di sampingnya yang terdiam menatap ke arah boneka panda, mungkin gadis itu menginginkan boneka itu. Pikirnya.
Tepat saat Gaza melangkah menghampiri area permainan, airmata Gisella menetes mengingat kenangan buruk itu, mengenang usaha kerasnya yang pada akhirnya sia-sia.
Gaza memberikan beberapa lembar uang pada penjaga permainan dan mulai melempar bola pada susunan kaleng yang tertata di sebuah rak. Berulang kali mencoba namun belum berhasil, dan ia mulai kesal. Ia menghampiri pemilik permainan. “Boleh saya membeli boneka itu?” tunjuknya pada boneka panda berwarna coklat.
Pemilik permainan menggeleng. “Maaf, tapi itu tidak dijual.”
Gaza mendesah berat. “Saya akan berikan berapapun yang anda minta, asal berikan boneka itu padaku,” pintanya.
Pria itu tampak menimang tawaran menggiurkan dari Gaza, hingga kemudian ia mengangguk setuju.
Gaza menghampiri Gisella yang masih termenung di tempatnya. “Untukmu,” ujarnya menyerahkan boneka pada Gisella.
Gisella terkesiap, memperhatikan Gaza dan boneka panda itu bergantian. "Untukku?"
Gaza mengangguk. "Aku tidak suka boneka."
Kening Gisella mengerut. "Lalu kenapa kau memilih hadiah boneka kalau kau tidak menyukainya?"
Gisella tercekat, ia memperhatikan Gaza yang juga tengah menatapnya. Hingga kemudian Gaza meraih tangannya dan menyerahkan boneka panda itu padanya.
"Ayo kita coba permainan yang lain," ajak Gaza menarik tangan Gisella.
Gisella nampak terkejut saat Gaza menarik tangannya. Tapi ia cukup senang bisa memiliki boneka panda lagi, karena setelah kejadian itu ia tidak lagi ingin membeli boneka, apapun itu.
Beberapa menit berlalu, dan Gaza sibuk mencoba berbagai permainan yang menurutnya menarik, sedangkan Gisella nampak hanya sebagai penonton, gadis itu sepertinya tak memiliki minat pada permainan atau mungkin merasa tak nyaman mencoba permainan karena ada dirinya. Sesekali Gaza melirik pada Gisella yang tersenyum saat ia tak berhasil menaklukkan permainan, hingga ia mempunyai ide untuk tidak bermain serius sehingga ia bisa melihat senyum itu kembali terbit, dan itu berhasil, bahkan Gisella hingga tertawa berderai-derai saat ia kalah dalam permainan kartu.
Merasa cukup puas menikmati permainan yang hanya Gaza sendiri yang menikmati keduanya memutuskan untuk pulang. Bahkan anak-anak yang sebelumnya datang bersamanya sudah pamit lebih dulu untuk pulang.
"Aku akan mengantarmu pulang," Gaza berujar.
Gisella menggeleng. "Tidak perlu, terimakasih," tolaknya tidak ingin merepotkan Gaza, lagi. Ia mengembuskan nafas panjang saat lagi-lagi Gaza mengabaikan protesnya, mau tidak mau akhirnya Gisella mengikuti Gaza yang berjalan di depannya.
Suasana hening, hingga Gisella mulai berujar setelah melihat ke belakang. "Gaza," panggilnya.
"Hm?"
"Kau meninggalkan mobilmu."
Gaza menoleh. "Tidak apa, Leon akan mengambilnya."
"Kau bisa naik mobil tanpa harus lelah berjalan, kenapa memilih berjalan kaki?"
"Karena kau tidak mau aku antar menggunakan mobil,” balas Gaza menatap Gisella yang juga tengah menatapnya.
Gisella memutus kontak mata. "Kau tidak perlu mengantarkanku."
"Kenapa?"
Gisella menunduk. "Aku tidak ingin merepotkanmu lagi," cicitnya pelan.
Kemudian keduanya sama-sama diam, Gaza melirik gadis di sebelahnya yang nampak kedinginan dengan memeluk boneka panda pemberiannya. Ia melepaskan jaket yang digunakannya kemudian memakaikan di tubuh Gisella.
Gisella terkejut. "Eh?"
"Aku tidak ingin kau sakit karena aku membiarkanmu kedinginan," tutur Gaza seakan tahu bahwa Gisella akan menolak tindakannya.
Gisella tertegun, apa itu mempunyai arti bahwa Gaza khawatir dengannya? "Terimakasih," hanya itu kata yang dapat Gisella ucapkan.
"Gisella.”
"Ya?”
"Apa kau menyukai boneka panda itu?" tanya Gaza melirik boneka panda dipelukan Gisella, andai saja ia yang menjadi boneka panda itu. 'Oh, astaga. Apa yang aku pikirkan,' bathin Gaza merutuk pikiran bodohnya.
"Kenapa kau bertanya begitu?"
"Aku tidak sengaja melihatmu tengah memperhatikan boneka itu tadi," jawab Gaza menatap lurus ke depan.
Kepala Gisella menoleh cepat. 'Apa itu artinya dia sengaja memberikan boneka ini untukku?'
Gaza memperhatikan gadis di sampingnya yang terdiam. "Kenapa?" tanyanya.
Gisella menggeleng. "Aku hanya teringat sesuatu tentang boneka ini."
Sebelah alis Gaza terangkat. "Sesuatu?"
"Oh, tidak, bukan apa-apa,” sanggah Gisella enggan menceritakan kisah hidupnya yang pilu.
Gaza masih memperhatikan gadis di sampingnya. 'Entah mengapa aku merasa kau banyak menyimpan duka dan tidak ingin berbagi dengan siapapun,' gumamnya dalam hati.
"Gisella, aku berharap kau bersedia sedikit menceritakan bebanmu pada orang lain. Mungkin dengan begitu kau mampu melaluinya dengan baik dan mampu melupakan bagian buruknya," ujar Gaza ketika sudah sampai di depan kost Gisella. 'Dan aku berharap, akulah seseorang yang akan kau bagi cerita burukmu itu. Sehingga aku bisa menghapus dan membuatmu melupakannya,' sambungnya dalam hati, kemudian berlalu meninggalkan Gisella yang mematung di tempatnya.
.
.
.