
Eps. 30
å
Leon melirik gelisah melalui spion pada Gaza dan Gisella yang duduk di kursi penumpang. Ragu untuk mengatakan.
"Ada apa, Leon?" tanya Gaza yang menyadari gelagat asistennya itu.
"Tuan, pihak Trigie membatalkan kontrak," ucap Leon hati-hati.
Gaza terkejut, mendesah berat serta memijit pangkal hidungnya. "Aku akan mengurusnya nanti," ucapnya kemudian.
"Perwakilan dari Jepang memundurkan jadwal temu dengan perusahaan."
"Bukankah dia masih di Indonesia?"
Leon menggeleng pelan. "Maaf, Tuan, saya tidak bisa menahan mereka lebih lama lagi," sesalnya.
Gaza menyenderkan kepalanya, memejamkan mata sejenak untuk sekedar melepaskan penat.
"Biar saya yang mewakili anda ke Jepang, Tuan," tawar Leon hati-hati, ia tahu bosnya mempunyai banyak hal yang tengah dipikirkan, terlebih sejak Gisella yang terbaring di rumah sakit.
"Tidak perlu. Aku akan mengurus semuanya," tolak Gaza masih pada posisi semula.
Gisella yang sejak tadi hanya menjadi pendengar menatap iba pada pria di sampingnya yang terlilit masalah pekerjaan. Jelas terlihat bagaimana lelahnya raut wajah Gaza saat itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan, dan ia tidak ingin semakin menambah beban pria di sampingnya. Memilih mengalihkan tatapannya ke luar jendela. "Leon berhenti," pintanya melihat siluet seseorang yang ia kenali.
"Ada apa?"
"Aku turun di sini saja. Aku ada perlu dengan seseorang, kau pulanglah," Gisella menjawab.
"Siapa?" tanya Gaza lebih mirip sebuah penyelidikan.
Gisella mengerjap. "Paman Surya," jawabnya menunjuk ke luar jendela.
Gaza mengangguk. "Hati-hati, jangan tolak dan jangan abaikan telepon dariku," peringatnya.
Kening Gisella mengerut, tapi tak urung ia mengangguk.
Leon melajukan kendaraannya saat Gisella terlihat tengah berbicara dengan orangtua itu. "Bukankah dia pemilik kost tempat tinggal Nona Gisella, Tuan?"
"Siapa?"
"Paman Surya."
Gaza terdiam tengah berfikir. "Berhenti," perintahnya kemudian.
*
"Gisella?" ucap Surya melihat kedatangan Gisella.
Gisella tersenyum.
"Bagaimana kabarmu? Maaf Paman belum sempat menjengukmu."
"Sudah lebih baik, Paman. Aku ingin jualan koran hari ini."
Surya nampak terkejut. "Tidak, kau tidak boleh bekerja dulu. Kesembuhanmu lebih penting."
Gisella terenyuh mendengar Surya khawatir terhadap kesehatannya, hal yang jarang orang lain tunjukkan padanya.
"Em, Paman sudah mendengar gosip hari ini dari beberapa orang," ujar Surya hati-hati.
Gisella mendongak terkejut.
"Paman percaya padamu, kau tenang saja," Surya tersenyum menepuk lengan Gisella pelan.
"Bolehkah.." kalimat Gisella tergantung.
Surya mendesah pelan. "Maaf, Paman tidak bisa membantu. Mereka mengancam akan pergi dari kontrakan kalau aku membiarkanmu berada di sana. Sekali lagi Paman minta maaf tidak bisa membantumu," sesalnya tak enak. Beberapa orang pagi tadi mendatangi rumahnya untuk laporan perihal Gisella yang membawa seorang pria menginap di dalam rumah. Mereka juga mengucapkan desas desus mengenai pembunuhan pada istrinya, yang membuatnya tidak bisa menolak saat harus mengusir gadis malang itu pergi dari kostnya.
Gisella mengangguk paham. "Apa Bibi Marini juga benci padaku, Paman?" tanyanya hati-hati.
"Dia tidak membencimu. Bibimu hanya belum tahu yang sebenarnya, Paman akan menjelaskan padanya nanti," ujar Surya menenangkan.
Gisella mengangguk, mengerti jika ia tidak bisa lagi bekerja menjadi tukang gosok di rumah Marini. "Terimakasih atas bantuan Paman selama ini. Aku sangat beruntung bertemu Paman," ungkapnya jujur.
Surya tersenyum, tercetak guratan disekitar matanya. "Paman yang harus berterimakasih padamu. Kau gadis yang baik dan gigih. Jangan sungkan minta bantuan Paman. Meskipun Paman sudah tua, tapi tenaga Paman masih kuat," kekehnya.
Gisella tersenyum dan mengangguk. "Aku pergi dulu, Paman," pamitnya kemudian.
"Hati-hati, Nak," balas Surya.
*
Gisella tersenyum kecut menyadari kisah pilu yang terus ia alami, entah sampai kapan Tuhan akan berhenti memberikan kepahitan itu padanya, seakan Tuhan telah menghukumnya dengan bertubi-tubi kepedihan yang tiada pernah habis. Ia mendongak, menatap cahaya mentari yang kian terang. "Bolehkah aku meminta kau hentikan semua ini?" ucapnya pelan.
Gisella menatap ponselnya yang berdering, tertulis nama Gaza sebagai identitas penelepon. Mengingat kebaikan pria itu padanya membuatnya kian segan dan tidak ingin membebani pria itu lebih banyak akan masalahnya. Bagaimana kacau dan lelahnya wajah Gaza yang nyatanya mempunyai banyak masalah juga. Tidak ingin semakin membuat Gaza khawatir dan lelah. Gisella memilih mengabaikan panggilan itu.
"Bukankah sudah aku katakan jangan tolak dan abaikan telepon dariku?"
Tubuh Gisella berbalik mendengar suara yang ia kenal. "Gaza?" ucapnya terkejut. "Bukankah.."
"Aku berubah pikiran. Aku merasa kejadian hari ini karena diriku. Itu sebabnya aku ingin menjelaskan pada pemilik kost bahwa kamu tidak bersalah," ungkap Gaza menatap lekat wajah ayu di hadapannya.
Gisella bergeming.
Gaza menarik jemari Gisella guna mengikuti langkah kakinya.
"Tunggu, tidak perlu," tolak Gisella, namun Gaza tak menyahut. "Gaza, ku mohon," ucapnya menahan lengan Gaza yang seketika membuat Gaza menghentikan langkah.
Gisella menggeleng. "Jangan, aku tidak ingin kembali ke tempat itu. Aku tidak ingin membersihkan namaku," akunya sungguh-sungguh. Ya, Gisella sudah lelah, benar apa yang Gaza ucapkan, tidak perlu pembelaan, karena orang yang tidak menyukaimu tidak akan percaya dengan apa yang kau jelaskan. Semua itu percuma dan sia-sia.
Gisella mengangguk, lagipula Gaza mempunyai pekerjaan yang harus dilakukan, Gisella tidak ingin bertindak kurang ajar dengan memprioritaskan masalahnya sendiri.
"Ikut denganku," Gaza kembali menarik jemari Gisella menuju mobilnya terparkir.
"Kemana?"
"Ke kantor."
"Ha?"
Gaza tertawa kecil melihat respon Gisella yang terkejut. "Aku bercanda. Aku akan membawamu, tapi bukan ke kantor, dan kamu tidak boleh menolak," peringatnya.
...***
...
Gisella terdiam memperhatikan tata letak ruangan, mulai kursi, hiasan dinding, kamar, juga jendela yang memperlihatkan bangunan gedung juga hamparan awan biru yang cerah.
"Kamu akan tinggal di sini, setiap harinya akan ada orang yang membersihkan tempat ini," terang Gaza menjelaskan.
"Tapi —"
"Gisella, please," Gaza menggenggam jemari Gisella. "Jangan tolak dan jangan kabur, aku hanya ingin memberikanmu tempat yang layak, kamu segalanya bagiku. Aku tidak ingin terjadi hal buruk yang akan menimpamu lagi," akunya jujur.
Tubuh Gisella mematung, seberapa sering ia menepis perasaan itu, tapi tetap saja getaran itu masih ada di setiap perilaku dan juga ucapan manis Gaza padanya.
"Aku sudah lama membeli apartemen ini, hanya sesekali aku tidur di sini, karena lokasinya yang lumayan jauh dari kantor baru. Tidak ada yang tahu aku membelinya," terang Gaza melihat keraguan Gisella.
"Bukan seperti itu, tapi, aku tidak enak terus menerus merepotkanmu, Ga. Kau banyak membantuku selama ini, kau sudah terlibat masalah karena terus membantuku," ungkap Gisella jujur.
"Kamu mau membalas kebaikanku?"
Meskipun tak mengerti tapi Gisella tetap mengangguk.
"Terima cintaku dan balas perasaanku."
Tubuh Gisella seakan beku, manik matanya bergerak gelisah menatap manik legam yang menatapnya teduh. Lagi-lagi ia menyentuh dada kirinya karena dengan tidak tahu malunya berdetak cepat.
"Kamu kenapa? Apa itu sakit?" tanya Gaza khawatir.
Gisella menggeleng.
Gaza menghembuskan nafas lega. "Nanti akan ada orang yang mengantarkan obat dan makanan untukmu. Mungkin aku akan pulang larut malam. Istirahatlah, kamu masih dalam masa pemulihan," tuturnya kemudian.
Gisella bergeming, pikirannya tengah melanglang buana menyadari bagaimana khawatir dan perhatiannya seorang Gaza padanya.
"Gisella?" panggil Gaza menyadari keterdiaman gadis di hadapannya.
"Ya?"
"Boleh aku meminta satu hal padamu?"
"A-pa?"
"Aku ingin memelukmu, sebentar saja."
Dalam waktu kurang dari setengah hari, sepertinya tubuh Gisella benar-benar akan membeku mendengar ucapan Gaza yang mampu menghentikan dan juga mengalirkan aliran darah dengan tidak normal. Terlebih detakan jantungnya yang tidak normal, seakan ingin lepas dari tempatnya.
Gisella mengangguk ragu sebagai jawaban.
Gaza tersenyum kecil, membawa tubuh mungil Gisella ke dalam pelukannya, menghirup dalam aroma khas yang mampu menenangkan perasaannya. "Terimakasih," bisiknya di cerukan leher Gisella.
Ragu, Gisella membalas pelukan Gaza, melingkarkan tangannya di punggung lebar Gaza. Pelukan Gaza terasa hangat hingga menembus hatinya. "Jaga kesehatanmu juga," balasnya.
Mendapat perhatian dari gadisnya membuat perasaan bahagia Gaza kian membuncah, ia menarik lebih dalam tubuh Gisella. "Pasti."
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
"Em, Gaza?" panggil Gisella.
"Hm?"
"Kau tidak bekerja?"
"Sebentar lagi," jawab Gaza masih betah memeluk tubuh Gisella, semakin dalam menghirup aroma tubuh Gisella.
"Kau bisa terlambat."
"Tidak masalah. Tidak akan ada yang memarahiku atau memecatku," jawab Gaza asal.
Gisella mengulum senyum. "Kau bukan tipe pemimpin yang baik," kekehnya tanpa sadar.
Gaza menarik diri, terkesiap melihat Gisella yang tertawa. "Aku akan berangkat bekerja, akan aku selesaikan secepatnya, dan akan pulang secepat mungkin."
Kening Gisella mengerut.
"Aku pergi dulu," pamit Gaza tersenyum mengusap puncak kepala Gisella.
Gisella mengangguk. "Hati-hati."
Gaza mengangguk, tidak pernah ia merasa sesemangat itu ketika pergi ke kantor. Pelukan dan senyuman Gisella benar-benar mampu membuat moodnya naik drastis. Ia menggeleng heran melihat tingkahnya sendiri yang seperti remaja kasmaran.
.
.