Beside You (End)

Beside You (End)
22. POOR GISELLA



Eps. 22


å


Gaza bergegas berlari menyusuri lorong menuju ruang instalasi gawat darurat, sejenak ia terkesiap melihat orang yang tengah duduk di depan ruang IGD. "Ricko?" panggilnya.


Pria yang dipanggil Ricko mendongak. "Kak?"


"Sedang apa kau di sini?"


"Aku.. apa Kakak punya hubungan dengan gadis yang berbaring di dalam sana?" Ricko menunjuk arah pintu IGD.


"Maksudmu?"


"Apa Kak Gaza kenal dengan.. Gisella?" tanggap Brianna membaca identitas di dompet Gisella, --gadis yang menolongnya dari pencopet--.


"Apa tadi kalian yang meneleponku?"


"Iya, Kak, tadi aku yang menelepon."


"Jadi Kakak kenal dengan Gisella?" tanya Ricko memastikan.


"Apa yang terjadi dengannya?" ujar Gaza menghiraukan pertanyaan sang adik.


"Maafkan aku, Kak," kata Brianna menunduk.


"Brianna dirampok, Gisella datang menyelamatkan Brianna, dia terkena lemparan batu di kepalanya, juga menjadi tameng ketika perampok itu hendak menikam Brianna dengan pisau,” tutur Ricko menjelaskan.


Gaza terkejut mendengar penjelasan Ricko. Bagaimana mungkin Gisella mampu menolong Brianna sedang keadaannya sendiri tidak memungkinkan untuk menolong orang lain, tentu ia masih ingat bagaimana ketakutan Gisella melihat seorang pria dikeroyok saat itu. Tapi sekarang? Gaza meraup wajahnya, tampak bingung dengan apa yang dilakukan Gisella, gadis itu mengorbankan dirinya sendiri demi keselamatan orang lain. "Apa kau yakin Gisella melakukan itu semua? Dan apa kau yakin yang di dalam sana adalah Gisella?" tanyanya memastikan.


Ricko dan Brianna saling tatap.


"Ini dompet juga ponsel gadis itu, Kak," Brianna menyerahkan dompet juga ponsel pada Gaza.


Meskipun mengelak tapi kenyataan bahwa identitas di dalam dompet itu memang milik Gisella, juga ponselnya. Gaza benar-benar tidak mengerti apa yang Gisella hendak lakukan, apa gadis itu sengaja ingin memperburuk keadaannya, sengaja melakukan tindakan yang sudah jelas tidak mungkin gadis itu mampu untuk lakukan. Gaza tahu benar trauma yang diderita Gisella cukup parah, lalu apa sekarang? Membayangkan tubuh Gisella terkena tusukan pisau membuat gigi Gaza bergemeletuk karena amarah.


"Kak, sebenarnya ada apa?" Ricko cemas melihat reaksi Gaza yang tampak bingung dan khawatir.


Gaza menggeleng. "Apa mereka sudah ditemukan?"


"Sudah, Kak, polisi sudah menangkap mereka."


"Kak, apa tidak sebaiknya mengabari keluarganya?"


Gaza menoleh, kemudian mendongak menatap langit-langit, kepalanya menggeleng pelan. "Dia tidak punya siapa-siapa."


Brianna dan Ricko terkesiap.


"Jadi.. dia sebatang kara?" tanya Brianna hati-hati.


"Dia mengalami hal yang tidak pernah kalian bayangkan," jawab Gaza membuat keduanya saling tatap.


Derap langkah kaki terdengar di lorong yang sepi, seorang wanita dewasa berlari dengan menjinjing tas tangannya. "Brianna, kau baik-baik saja, Sayang? Apa mereka menyakitimu?" cecar Hana memeluk dan meneliti inci tubuh Brianna.


"Aku baik-baik saja, Tante, hanya saja gadis yang menolongku terluka."


"Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Tante hampir saja pingsan mendengar bahwa kau dirampok."


"Iya, Tante, aku sangat berterimakasih pada Gisella, sebab jika bukan karenanya mungkin sekarang aku yang ada di dalam. Atau mungkin saja terjadi hal yang lebih buruk dari ini."


"Gisella?"


"Dia gadis yang menolong Brianna, Ma, dia sedang menjalani operasi di dalam, dia terkena luka tusuk saat menolong Brianna, juga luka di kepalanya," ujar Ricko menjelaskan.


Hana tidak asing dengan nama itu. Kemudian ia terheran menyadari kehadiran anak pertamanya ada di sana. "Gaza? Kau di sini?"


"Kakak di sini karena Gisella, Ma."


Gaza memperlihatkan tatapan tak bersahabat saat ibunya menyebut Gisella sebagai pembunuh. "Dia bukan pembunuh, Ma."


"Tapi karena dia Mia meninggal."


"Mia meninggal karena dibunuh, dan pembunuh itu bukan Gisella,” bantah Gaza tak terima.


Hana terkesiap mendengar pembelaan Gaza terhadap gadis itu. "Tapi kalau saja gadis itu mau menolongnya, Mia tidak akan meninggal."


"Cukup, Ma, jangan pernah kaitkan kematian Mia dengan Gisella, dia sama sekali tidak bersalah."


"Kau ini kenapa? Bukankah kau mencintai Mia? Seharusnya kau membenci gadis yang membiarkan Mia mati, bukan malah membelanya. Apa yang telah gadis itu lakukan padamu?" hardik Hana meninggikan suara.


"Mama tidak tahu apapun tentang Gisella."


"Mama tahu, Mama tahu semua tentang gadis pembawa sial itu.."


"Ma!"


".. dia tidak mau menolong Mia karena ketakutan yang dia derita, ketakutan akan masa kecilnya yang sudah membunuh adik kandungnya sendiri, juga penyebab kematian kedua orangtuanya. Bahkan keluarganya tidak mau menganggap dia bagian dari keluarga. Kemudian keluarga Mia mengangkatnya menjadi anak. Tapi justru dia membiarkan Mia meregang nyawa," cetus Hana dengan wajah memerah karena amarah.


Kedua netra legam itu menatap tajam pada wanita yang sudah mengandungnya selama sembilan bulan, giginya bergemeletuk serta kedua tangannya terkepal. Ia mengambil nafas panjang guna meredam emosi, ia tidak ingin diklaim sebagai anak durhaka karena membentak ibu kandungnya sendiri. "Mama memberikan tuduhan atas dasar ucapan orang lain, Mama tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."


Hana nampak menggeram. "Ternyata gadis itu cukup pintar untuk mencuci otakmu. Mama tidak menyangka gadis itu sangat pintar untuk membuatmu percaya padanya.” Ia mendengus. “Ternyata ucapanku hanya dianggap gertakan saja,” imbuhnya pelan.


Gaza menoleh. "Apa yang sudah Mama lakukan padanya?" selidiknya.


"Melakukan apa yang seharusnya dari dulu Mama lakukan, sekarang Mama menyesal karena baru menemui gadis itu, bukan dulu. Dia sudah berhasil mempengaruhimu sekarang."


"Ma, Gisella bukan gadis seperti itu, Ma," bantah Gaza mulai tersulut emosi.


"Apa yang kau tahu tentangnya, Gaza. Jangan pikir karena dia menolong Brianna, Mama akan melupakan perbuatannya pada Mia. Mama akan tetap membenci gadis itu."


Brianna dan Ricko yang tidak mengerti arah pembicaraan Hana juga Gaza hanya bisa diam mendengarkan, sesekali keduanya saling tatap dan menggelengkan kepala. Tapi satu hal yang Ricko ketahui saat Hana menyebutkan nama Mia, --­­­mantan calon tunangan Gaza-- yang telah tiada karena terjatuh dari atap gedung perusahaan. Namun, ia tidak pernah tahu bahwa gadis yang sering ibunya sebut sebagai penyebab kematian Mia adalah Gisella. Ricko juga belum sepenuhnya mengerti kenapa Mia bisa terjatuh dari gedung, juga kenapa Gisella yang menjadi tersangka.


"Terserah jika Mama akan membencinya, tapi satu hal yang harus Mama ketahui, bahwa aku mencintai Gisella, apapun akan aku lakukan untuk melindunginya. Tidak akan aku biarkan orang lain menyakitinya lagi. Bahkan jika Mama menyakitinya, aku akan tetap melindunginya, aku akan buat perhitungan dengan mereka, termasuk Mama," pungkas Gaza tanpa keraguan, sudah ia sadari bahwa perasaannya terhadap Gisella sudah pada tahap mencintai, dan ia akan selalu melindungi apa yang sudah menjadi miliknya.


Hana terkesiap. "Apa kau bilang? Kau mencintai gadis pembunuh itu?!" hardiknya dengan tatapan tajam.


"Gisella, nama gadis itu Gisella. Dan dia bukan-pembunuh," tekan Gaza tegas.


Hana nampak tersulut emosi. "Apa yang kau pikirkan?! Dia sudah membunuh Mia, calon istrimu. Bukankah kau mencintai Mia? Bahkan selama bertahun-tahun kau mencari gadis itu, dan sekarang dengan mudahnya kau mengatakan mencintai gadis lain?” ucapnya tidak setuju.


"Mia hanya masa laluku, Ma, jangan ungkit dia yang sudah tenang di atas sana. Dan aku mencintai Gisella bukan karena Mia, tapi aku mencintainya karena apa adanya dia," balas Gaza tak mau kalah.


"Ga --"


Kalimat Hana terpotong saat seorang dokter keluar dari ruang operasi.


Gaza gegas menghampiri. "Bagaimana keadaannya, Dok?"


"Operasinya berjalan lancar, dan kondisinya cukup baik. Dia kehilangan darah cukup banyak, tapi kami sudah menyediakan stok darah yang cocok untuknya. Beruntung luka di perutnya tidak sampai menembus ginjalnya. Berdoa saja semoga dia segera melewati masa kritis, kami akan memindahkannya ke ruang ICU," terang sang Dokter kemudian undur diri.


Gaza mengangguk sebagai ucapan terimakasih pada dokter yang sudah menyelamatkan nyawa Gisella, akhirnya ia bisa bernafas lega mendengar kondisi Gisella yang cukup baik.


Tak berapa lama pintu ruang IGD terbuka, nampak terlihat tubuh Gisella yang terbaring di atas brangkar didorong beberapa perawat untuk dipindahkan ke ruang ICU.


Jantung Gaza serasa dipukul palu godam melihat tubuh ramping Gisella yang begitu pucat, terdapat perban melingkar di kepalanya juga beberapa selang yang menempel di tubuh gadis itu. Gadis itu memang Gisella. Rasa khawatir menyergap relung jiwa Gaza saat melihat kedua mata indah itu terpejam rapat. Gadis itu nampak rapuh dengan bantuan alat pernapasan di mulut juga hidungnya. "Gisella," gumamnya menyentuh jemari Gisella, mengikuti langkah perawat mendorong brangkar menuju ruang Intensive Care Unit.


.


.


.