
Hai para readers minthor terluvv..
Happy reading yahh Jangan lupa pencet tombol lopenya.
Stay Reading from the ghost busters
\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=
Setelah kejadian Ecca jatuh pingsan, kini Askala memandang lekat gadisnya itu yang masih betah memejamkan matanya.
"Ca, bangun lah. Kakak tau kamu bisa dengar kakak." ucap Askala yang panik mendengar berita jika Ecca tengah pingsan.
Mata Ecca berkedut, benar saja memang sedari tadi ia bahkan sudah sadar, namun karena adanya Askala membuatnya enggan membuka mata.
Demi kelancaran kegiatan akhirnya semua meninggalkan Ecca dan Askala di ruang darurat medis memberikan ruang privasi untuk mereka berdua.
"Aleesha Quenara, Kamu mau buka mata mu atau kakak cium."
Blushhhh..
Ucapan Askala telak membuat pipi Ecca terasa panas, dan kelopak mata lentik Ecca pun perlahan terbuka.
"Mana yang sakit heum." tanya Askala.
"Dihh ini orang emang gak tau apa sok gak tau." gumam Ecca dalam hati, matanya menyorot Askala tajam.
"God kalau kamu diam, mana kakak tau ada salah apa ke kamu sayang." ucap Askala sembari meraih jemari Ecca untuk digenggamnya.
"Masih mau gak ngomong, okey kita bubarkan acara ini sekarang."
"Ehh jangannn."
"Lalu."
"Habisnya kakak nyebelin."
"Hahhhh."
"Genit banget sih."
"Huhhh, masalah Rinai ini pastiiii."
"Heumm."
Askala paham dengan situasi hati Ecca, Askala mau tak mau menjelaskan sedetail-detailnya perihal Rinai yang meminta mamanya minta tolong pada sang mami agar menjaga Rinai selama kegiatan.
"Dikira tas, main titip-menitip." gumam Ecca, lirih, namun membuat Askala tersenyum menang. Melihat ada rasa cemburu di sorot mata Ecca membuat hatinya berbunga-bunga.
"Segitu cemburunya sampai diserang para kera kamu gak lawan heum." kelakar Askala sembari mencubit hidung Ecca. Suasana hati keduanya sudah membaik kini.
"Aku hanya melamun kak bukan gak lawan."
"Alasan klise."
"Sampai kakak kegatelan lagi awas yahh." ancam Ecca membuat Askala mendelik lalu.
Cuppp..
Askala mencium pipi kanan Ecca dengan tiba-tiba, membuat Ecca terkejut dibuatnya.
"Askala Samudra Biru."
"Sama calon suami gak boleh panggil sompral."
"Hufft, benar-benar yahh." ucap Ecca sebal.
Insiden perngambekan selesai kini mereka pun melanjutkan aktivitas kembali, Ecca pun sudah bergabung di acara malam api unggun tak lupa dia melakukan segel portal. Agar para lelembut tak ada yang mengetahui keberadaan sebagai pembuka pintu portal.
"Didepan api unggun yang berkobar kita para anggota OSIS berbaur sama rata dengan adik kelas, semoga kedepan kita selalu tertanam rasa semangat yang membara dalam menuntut ilmu." ucap Askala dalam pidato pembukaan acara api unggun, dilanjutkan dengan doa bersama dan acara inaugurasi yang akan menampilkan bakat dadakan bagi anggota OSIS atau dari kelas junior yang ingin menyumbangkan bakatnya.
"Setidaknya satu grup harus menampilkan skill nya." sahut Davina menimpali ketua panitia Revin saat menjelaskan rundown inaugurasi.
"Hiliiihh, paling juga kita pasrah sama Ecca."
"Hehhh."
"Ckkk, selalu."
"Loe oke kan Ca."
"pikir Loe." sungut Ecca sebal selalu dia yang ditumbalkan untuk penampilan bakat.
"Habisnya Loe multitalenta banget."
Ecca sunggu enggan menggubris seruan dari teman segrupnya termasuk ketiga sahabatnya itu.
"Trus mau nampilin apa." tanya Ecca pasrah.
"Apa gitu Ca."
"Sulap kek."
"Kenapa gak sekalian Hadroh hahhh." sungut Ecca, mulai tak bersahabat.
"Yaudah serah Ecca pokoknya kita manuut."
"Iyaa asal gak Bebani Ecca aja deh."
Akhirnya Ecca memilih bertualang menjadi penyair.
Saat hendak menampilkan bakatnya Ecca melihat jika si Rinai tengah menempel terus Askala, meskipun Askala sungguh merasa risih.
"Minggir, kembali ke grup kamu SEKARANG." ucap Askala tegas meskipun tak banyak orang tua namun beberapa diantaranya mendengar nada meninggi Askala.
"Saya peringatkan kamu bertingkah sewajarnya atau saya melarang kamu untuk ikut semua kegiatan sampai akhir." lanjut Askala tegas, Ecca tersenyum miring seharusnya Askala bersikap tegas agar tak dimanfaatkan si ulet bulu itu semenjak keberangkatan tadi pagi.
"Jangan paksakan hati untuk mencari
Menyelam kedasar samudra perasaan
Bercampur aduk dengan emosi
Ego menjadi sebuah Tujuan."
Dringg..
Dawai gitar yang dipetik Ecca mengiringi alunan merdu suaranya mengucap syair.
"Merubah tatanan semesta, itu omong kosong belaka.
Jangan biarkan dirimu terjebak dalam opini dan keadaan."
Hingga akhir nya Ecca menutup syair puisi yang penuh makna jika mendengar dengan seksama, syair yang penuh sindiran untuk sang Askala.
"Muke gila langsung di ulti dong sama Ecca."
"Muampuss gak Loe Kal."
"Yasalaaam ya Rohman ya Rohim langsung kenak ulu hati." sahut Davina. Justru para sahabat Askala langsung berkomentar pedas akan sindiran dari Ecca.
Ecca tak ingin berlama mendayu gawai gitar nya karena dilihatnya sosok yang menganggu sedang mendekat. Segera ia memanggil Cece agar ikut menetralisir dampak kedatangan makhluk yang tengah datang.
"Gak apa ca dia hanya lewat, kalau ganggu gue kasih dia pelajaran." ucap Cece, Ecca hanya mengangguk. Sebenarnya Raisa dan Nindy pun merasa hawa sekitar sedikit hangat setelah Ecca jelaskan ia paham lalu segera meminta Askala dan pemilik permata lain membuat perisai untuk semua siswa.
"Kak Askala kan janji mau jagain Rinai."
"Hehh merek kompor Loe bisa dibilangin kagak." seru Davina mulai jengah.
"Ihh kok kak Davina gitu."
"Habisnya Loe itu udah gede bisa jaga diri Loe sendiri, kenapa semua urusan Loe jadi Askala semua."
"Ganjen." desis Fierly tak kalah ketus.
"Itu tugas kak Askala dari maminya kenapa kakak yang sewot."
"Hehh, karena tingkah Loe yang childish ini bikin Askala gak nyaman tau nggak." sahut Daffa, semua sahabat Askala bahkan sudah menampakkan wajah tak bersahabat pada Rinai.
"masuk tenda dan gue larang Loe ikut kegiatan sampai pulang." ucap Askala tegas lalu meninggalkan tempat, yang membuatnya malu.