
Hai para readers minthor terluvv..
Happy reading yahh Jangan lupa pencet tombol lopenya.
Mana nihh komenannya ditunggu terus yah sama Author.
Gimana nih seneng nggak sama part yang kemarin, nih author kasih lebih panjang lagi.
Stay Reading from the ghost busters
\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=
Beberapa Hari berlalu..
Semenjak Bersatunya kisah asmara Ecca dan Askala, mereka berdua nampak lengket seperti gulali. Dion pun merasa senang akhirnya Ecca dan pelindungnya bisa bersama.
Hari ini Ecca berangkat ke sekolah sendiri karena Nindy tak menginap dirumahnya. Beruntung mobilnya sudah selesai, dan kebetulan Askala sedang ada rapat OSIS.
Semenjak menginjakan kakinya di area parkir sekolah Ecca sudah merasakan kalungnya terasa hangat namun tak dihiraukan.
"Hai Ca, tumben sendiri biasanya sama Nindy." sapa seseorang yang menyusul dari belakang.
"Ohh iyaa Al soalnya anak- anak gak nginep rumah jadi sendiri deh." jawab Ecca pada Alvian.
Berbicara tentang Alvian entah beberapa waktu yang lalu dia entah pergi kemana rimbanya. Bak ditelan bumi.
"Ini kenapa kalungku semakin terasa panas yahh." bathin Ecca.
Tandanya jika ada sosok yang begitu kuat.
"Dendam, amarah." gumam Ecca saat mencoba membaca pikiran sosok itu.
"Kenapa Ca, kok loe diem aja." tanya Alvian.
"Ahh enggak cuma lagi mikirin anak- anak pada kemana." jawab Ecca agar tak membuat Alvian curiga.
"Ohhh, yaudah gue ke kursi gue Ca." sahut Alvian.
"Hemmb iyaa." jawab Ecca.
Ecca duduk di mejanya sambil menunggu para sahabatnya.
"Hai Ca sendiri aja." sapa salah satu teman Ecca, dia pun hanya tersenyum dan mengangguk.
Tak lama ketiga sahabatnya datang bersamaan.
"Ca, pantesan gue tungguin di depan udah disini aja." ucap Nindy.
"Baru aja kok." jawab Ecca.
"Ra kok pucet." tanya Ecca pada Raisa.
"Lagi dapet dia, hari pertama." sahut Keke.
"Kalau sakit banget ke UKS gihh." ucap Ecca.
"Nggak usah, masih belum sakit kok." jawab Rara.
"Gue carikan teh anget dulu yah." potong Keke.
"Nggak usah bentar lagi masuk juga." jawab Rara.
Akhirnya Ecca dan yang lainnya pun diam karena Rara melarang. Benar saja tak lama bel masuk dan disusul dengan masuknya guru tanda pelajaran dimulai.
Dua jam pelajaran berakhir kini Ecca dan ketiga gadis istimewa beranjak menuju kantin.
"Ca, tumben kak Askala gak nyamperin." tanya Nindy.
"Tadi pagi Rapat, nggak tau udah kelar apa belum." jawab Ecca.
"Rapat apaan Ca." tanya Keke penasaran, Ecca tak menjawab hanya menghendikan bahunya.
Saat sedang menikmati makannya, Ecca dikagetkan dengan kakinya terasa berat dan tidak bisa digerakkan seolah ada yang memegangnya.
Ecca memejamkan matanya guna melihat ada apa dengan kakinya.
"Pergi, atau aku musnahkan." gumam Ecca namun masih bisa didengar ketiga sahabatnya.
"Apaa Ca." tanya Nindy, sedangkan Keke sudah meraih tangan Ecca.
"Berani banget muncul didepan tuan putri menyingkir." Ucap Keke saat membuka mata batinnya dan mendapati Sosok manusia setengah ular.
"Lepaskan dia, pergi dari sini." ucap Nindy sambil tersungut.
Sementara Ecca sudah membuat pagar gaib untuk Rara, bahaya baginya dengan kondisi yang tak suci.
Ecca geram dia merasakan kakinya semakin sakit, karena tak kuasa menahan rasanya lagi Ecca spontan berteriak.
"Ahhhhkk."
"Siyalan, berani kau rupanya." teriak Nindy beruntung kondisi kantin yang tengah ramai sehingga interaksi mereka tak disadari murid.
Nindy berdiri lalu menarik mahkluk itu, berniat menjauhkannya dari Ecca.
"Ey....." ucap Ecca hendak memanggil sang eyang karena mahkluk ini sangat bandel berniat meminta pertolongan, namun terpotong karena dia merasakan kakinya sudah mulai lemas tak seberat tadi.
"Ca.." panggil seseorang, Ecca dan Nindy menoleh mendapati Askala dan para sahabatnya mendekat.
"Ada apa kenapa kalian terlihat tegang." ucap Revin lalu menarik Keke yang sedang berdiri untuk duduk disebelahnya.
"Ehh nggak papa kak, ada yang iseng." jawab Keke, Askala mengernyit dahinya.
"Siapa.." tanya Askala, lalu menfokuskan matanya memandangi Ecca seperti ada yang ganjal namun Ecca hanya membalas senyuman.
Yang pasti istilah iseng yang dimaksud mereka adalah bukan sejenis manusia, Askala sudah yakin itu.
Nindy memberikan kode pada Ecca untuk mengatakan namun Ecca menggeleng. Terdengar helaan nafas dari Nindy.
"Kakak udah maem." tanya Ecca guna mengalihkan pembicaraan.
"Belum."
Tak lama Ecca menyodorkan sendoknya hendak menyuapi Askala, dia pun menerima dengan senang hati melihat Ecca yang mulai tak jaim.
"Ra, kok diem aja mana pucet lagi." tanya Alvero pada Rara.
"Lagi PMS dia kak jangan digangguin." jawab Keke, kemudian Alvero bangkit lalu entah kemana tak lama dia kembali dengan membawa hot cocholate.
"Minum gihh selagi hangat." ucap Alvero, Rara menoleh kearah para sahabatnya mendapat respon dari mereka Rara pun meminum pemberian dari Alvero.
"Ver, tumbenan loe baik sama cewek, gue kira loe gak demen cewek." ucap Revin.
"Huss sembarangan." jawab Daffa sambil menyentil bibir Revin.
"Sakit begok."
"Makanya jangan usil."
"Dahh sana pesen makan." perintah Daffa pada Revin.
"Yank aku mau dong jus alpukat." ucap Fierly pada Daffa.
"Iyaa, jus doang makannya apa."
"Siomay aja dehh kayaknya enak."
"Sekalian yah Daff, gue juga." sahut Revan.
"Trus gue sama siapa bawanya begok." sahut Daffa.
Askala berdiri untuk menemani Daffa memesan makanan. Karena Ecca sedikit diujung, tanpa dia sangka mahkluk setengah ular itu kembali. Kini dia justru melilit tangannya.
"Astaga ya ampun." ucap Ecca sontak membuat orang disekitarnya menoleh.
Ecca membuka mata bathin melihat siluman ular itu kembali bahkan kini dia tengah membawa pasukan.
"Ca, kenapa." Tanya Nindy melihat Ecca gelisah dan nampak berdiri.
"Kalungnya nyala Nindy." ucap Fierly membuat mereka baru tersadar.
"Dia balik dengan pasukannya." jawab Ecca santai.
"Mau mu apa." tanya Ecca pada sosok itu.
"Mau ku membawa kamu pada Ratuku karena dia sedang butuh jiwamu." jawab siluman ular itu.
"Kurang ajhar kamu berani sekali, sebelum kalian membawa dia aku pastikan kalian lenyap." teriak Nindy emosi.
Ecca bergerak karena lilitan ditangannya semakin erat, dia hentakan kakinya memanggil pasukan sang eyang.
Dukk..dukk.. Graummmm