
Yukk..yang belum tap like 👍 lopenya❤️ Gift🎁 Vote🎫 komentar ⌨️ buruan dipencet.. pencet..
Happy Reading guyss..
Stay read from ghost busters
\=\=\=°°\=\=°°\=\=°°\=\=°°\=\=°°\=\=°°\=\=°°\=\=\=
Setibanya Ecca didalam rumah, dan semua tamunya ikut masuk. Sedangkan Keke yang masih penasaran dengan sang pocong terus mengganggu Ecca. Karena adanya keberadaan semua pemilik permata didalam rumahnya bukan hal mudah untuk sang pocong dapat berkeliaran dirumah Ecca.
Ecca pun meminta Cece untuk menjaga pocong itu agar tidak lepas kemana-mana.
" Ca, seriusan mau bantuin si poci." tanya Nindy.
"Hemm, gue lihat dia sengsara banget Nin." jawab Ecca, kini mereka tengah berada di ruang tamu setelah Askala menurunkan single bed dibawah agar Ecca tak naik turun dulu.
"Trus gimana caranya Ca, emang dia bisa ndeket." tanya Keke.
"Ya enggak bisa juga."
"gara-gara kita yahh." celetuk Revin.
"Nyadar loe Vin."
"Trus gimana solusinya Ca, kita kan juga pengen tahu ceritanya." sahut Fierly.
Ecca dan Nindy saling berpandang, tandanya tidak mungkin selesai jika ada keberadaan pemilik permata.
"Kalau pakai mediator gimana, kan si Cece pernah tuh masuk di Rara, padahal ada kak Al." sahut Nindy.
"jangan masuk di Ecca aja." potong Askala, membuat Ecca mendengkus.
Setidaknya jika sosok itu masuk ke Ecca maka secara otomatis Ecca dapat melihat masa lalu si poci.
"Trus tadi loe bilang dia kasih gambaran Ca." tanya Nindy.
"Hemmb dikit, hanya saat dia sebelum meninggal."
"Emang matinya kenapa." tanya Keke.
Tuuuk.. sebuah sentilan mendarat didahi cantik Keke, pelakunya tidak lain tidak bukan Revin.
"Loe kira ayam.. mati, Meninggal."
"Ahhh iya kak, ya ampun dahi gueee." jawab Keke.
"Sakit, sini abang elusin." ucap Revin membuat Keke sontak salting.
"ciyeee salting."
"Malu-malu meong."
"Uhuuuyyyy."
Mendapat godaan dari yang lainnya semakin membuat Keke menenggelamkan kepalanya dipunggung Nindy.
"Ehhh ya ampuuunnn." teriak Keke karena dia tak sengaja menyentuh tangan Ecca, secara tidak langsung melihat visual Ecca.
"Kenapa Ke..?" tanya Davina yang melihat Keke mendadak pucat, dan sedikit bengong.
"Ehhh nih anak kesambet Ca." tanya Fierly, dan Ecca pun menggelengkan kepalanya.
"Keke gak sengaja pegang tangan Ecca kak mungkin dia sedang lihat visual Ecca." jelas Ecca.
Keke tengah melanjutkan melihat visual Ecca, sambil memandang dengan tatapan kosong.
"Ca... gue gak sanggup."
"Lepasin Ke." ucap Ecca.
"Kenapa emangnya gak sanggup Key." tanya Revin, melihat keringat dingin Keke bermunculan.
"Dia meninggal diusia muda sekitar 14-16 tahun. Yang dia ingat dia mendapat perlakuan buruk dari dua orang, sosoknya laki-laki dan perempuan. Dari kelihatannya sepertinya bukan ortunya." jelas Ecca
"Kalau gue lihat kayanya seumuran kita Ca." potong Keke.
"Yapp, but this is maybe at 1970 an, kelihatan dari gaya pakaiannya." jawab Ecca.
"trus kenapa sampek loe gak sanggup lihatnya Ke." tanya Revin.
Raisa yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Ecca pun akhirnya buka suara.
"Ada adegan dewasa ya Ca." ucap Raisa karena yang dia lihat Ecca seolah tidak ingin menyampaikan.
Ecca hanya mengangguki ucapan dari Rara, seolah paham dengan kondisi Ecca Askala pun mendekat.
"Ya ampunn cewek loe ternoda penglihatannya." sahut Revin.
"Kalau nggak mau cerita jangan." ucap Askala pada Ecca.
"Si Keke aja sampek gak snggup lohh." celetuk Daffa.
"Yess, padahal tuh anak yang paling gamblang masalah visual Ecca." sela Revin.
"Gak usah diceritakan pas kejadian nananina nya Ca." sahut Davina.
Ecca mengangguk, namun sebelum bercerita dia menoleh kearah Askala untuk meminta persetujuannya.
"Cerita aja kalau kamu sanggup."
"Dua hari sebelum dia meninggal, cewek ini mengalami pelecehan dari sosok pria yang tadi, dan keesokan harinya ternyata diketahui oleh yang perempuan. Entah bagaimana ceritanya akhirnya si perempuan ini menyuruh si poci ini pergi. Cewek ini gak terima kalau dia yang harus pergi karena selama ini dia yang menderita. Dia akhirnya bilang kalau dia pernah hamil dan digugurkan saat dia mengatakan pada pria itu, dan sekian lama itu dia mengalami kekerasan seksual. Jika dia menolak maka dia akan mendapatkan kekerasan fisik bahkan tak akan memberinya makan." Ecca menarik nafas sejenak.
"Saat meninggal, perempuan ini merasa tak terima selama ini dibohongi menampar, memukul bahkan mencekiknya. Sedangkan si pria tak bisa mencegahnya, saat mendapati si poci lemas membuat kedua orang ini panik. Dan mereka membuang mayatnya dijurang yang jauh dari pemukiman. Mungkin sampai sekarang mayatnya masih ditempat itu." Jelas Ecca.
"Gue lihat dianya meninggalnya dalam kondisi melek dong.. Ihhhhh." sahut Keke.
"Udah jangan diinget-inget." ucap Revin sambil mengusap wajah Keke.
"Gue lihat_lihat loe perhatian sama si Keysa Vin." Ceplos Revan sang kakak Kembar Revin.
"Gue godain Rara ntar Al ngamuk, godain Davina loe protes sisa Keke doang yang masih single."
"Bisaa aja loe ngeles marmut."
"Yeee, daripada gue godain Fierly mau Loe." jawab Revin.
"Jijhik gue Vin, kalok loe suka Keke bilang daripada keburu diembat orang." Balas Fierly, Keke yang merasa dibahas pun melihat kearah Nindy.
"Gosh tenggelamin gue dirawa-rawa deh sumpah." gumam Keke, namun masih bisa didengar Nindy dan Rara.
"trus loe nasibnya sama kek si poci gentayangan." potong Rara.
"Trus jadinya gimana inihh Ca." tanya Nindy.
"Kamu tanya gue trus gue tanya siapa." jawab Ecca, namun sedetik kemudian Ecca seperti tengah dirasuki sososk yang dikenal.
"Ca." panggil Nindy karena melihat Ecca yang berubah seketika.
"Ini Cece Nin, Si Meira mendadak emosional, bisa ngundang makhluk lainnya."
"Siapa Meira."
"Trus gimana Ce."
"Meira itu si poci, Bawa pemilik permata menjauh sekitar 50 m, disini gue kesakitan gilak apalagi si Meira."
"Namanya bagus yah, pantesan cantik."
"kalau pemilik permata sudah menjauh aku sama Meira akan mendekat, dia cuma ingin bebas, jasadnya pun sudah musnah karena alam."