
Ecca, Nindy Rara dan Keke pun terkejut melihat seorang lelaki sedang berjongkok didepan kelas.
"Allll.."
"Alviaaan."
"Astagaa, dia gak lagi kesurupan kan Ca." tanya Keke.
"Ehmmm." gumam Ecca sambil menggeleng.
Alvian Geraldhi yang dimaksud mereka adalah teman sekelas Ecca kini yang nampak seperti kesakitan. Dia mendongak setelah menyadari ada yang memanggilnya.
"Ccccaa..Akhhh." ucap Alvian sambil berdiri, berjalan menuju kearah Ecca sambil memegang kepalanya.
"Caa, gue lihat sesuatu." ucapnya.
"Apa Al."
"Apa kita ada hubungan daaa...akhhhh.. darah." jawab Alvian terbata lalu tak lama dia ambruk jatuh menimpa Ecca.
"Ehhh ya ampuun." teriak Ecca, bahkan Nindy dan yang lainnya pun ikut panik.
Didepan kelas Ecca Askala yang baru datang melihat sosok yang dicarinya nampak sedang memeluk pria lain menggeram dan mengepalkan tangannya bahkan para sahabatnya pun bergidik ngeri.
"Jangan pikiran negatif dulu Kal." ucap Revin sambil menepuk pundak Askala
Askala tak menggubrisnya dia memilih meninggalkan kelas Ecca.
"Aduhh gaess bantuin dong jangan liatin doang, astaga." teriak Keke heboh melihat Ecca menahan beban tubuh Alvian.
Setelah mendapat bantuan, Ecca memutuskan untuk membawa Alvian kerumah sakit. Nindy bahkan sudah menghubungi keluarganya melalui ponsel Alvian yang untungnya tidak dikunci.
Ecca masih bergelut dalam pikirannya, dia duduk termenung didepan UGD bersama ketiga sahabatnya. Dokter menjelaskan jika Alvian harus segera mendapat perawatan intensif, kini mereka sedang menunggu kedatangan keluarga Alvian.
"Permisi, Sus saya orang tua pasien atas nama Alvian Geraldi." ucap seorang pria paruh baya menghadap ruang perawat.
"Silahkan ada di dalam dokter sedang menunggu bapak." jawab suster lalu menunjukkan tempat Alvian berada.
Dari tempatnya Ecca melihat dan merasakan orang tua Alvian mengkhawatirkannya.
"Kita pulang aja yuk kan sudah ada keluarga Al." ucap Nindy menyadarkan lamunan Ecca.
"Iyaa Ca, yuk." ajak Raisa.
"Ehmm permisi apa benar kalian teman Alvian yang membawanya kesini." sergah seseorang saat mereka berempat hendak beranjak.
"Iyaa om." sahut mereka kompak.
"Hemm, terima kasih yahh sudah bawa Al kesini."
"Ahh iyaa om sama-sama."
"Ehhm, Om saya Aleesha, apa boleh Ecca tanya sesuatu." potong Ecca.
"Bolehh silahkan, mari." jawab papa Alvian lalu mengajak Ecca duduk.
"Kalau boleh tanya Al sakit apa."
"Hemmm, sebenarnya Alvian tidak sakit. Jadi Alvian pernah kecelakaan saat kecil yang menyebabkan dia trauma kepala. Dan dokter menyarankan untuk dia selalu konsumsi obat disaat dia sedang kesakitan saat mencoba memutar memori." jelas papa Alvian.
"Yaa ampunnn." sahut Keke."
"Jadi Alvian sejenis Amnesia gitu yahh om." tanya Nindy dan papa Alvian pun mengangguk.
"Dia seperti sedang mencoba mencari jati diri."
"Tunggu mencari jati diri om, maksudnya." tanya Ecca.
"Hemmmb, Alvian bukan anak om. Om menemukannya saat kejadian dia mengalami kecelakaan, hemm usianya sekitar 5-6 tahun. Lalu om bawa dia berobat di Jerman karena kondisinya yang semakin memburuk agar mendapatkan perawatan yang lebih baik, sekitar 3 tahun perawatan akhirnya dia bisa berangsur pulih." lanjut papa Alvian.
"Trus orang tua kandung Al kemana." ceplos Keke.
"Hemmb om sudah mengorek informasi di pihak kepolisian namun tidak ada hasil, karena dia kondisi yang masih kecil om tidak bisa bertanya detail tentang asal usulnya, bahkan identitas Alvian tidak ada yang menempel satupun ditubuhnya." jelasnya.
Ecca mencari visual dari dalam manik mata papa Alvian, dan dengan berani dia mencoba bertanya.
"Dimana om menemukan Alvian saat kecelakaan." tanya Ecca.
"Disendang sebuah Villa kebetulan saya sedang berlibur dengan keluarga saya." jawab papa Alvian, Ecca lalu mengambil ponselnya.
"Kak, jemput Ecca di RS Permata sekarang."
"Ada apa Ca." tanya Nindy, Ecca pun menceritakan dugaan sementara nya. Dari situ, papa Alvian pun mengetahui jika Ecca memiliki keistimewaan.
"Nak apapun hasilnya kedepannya om akan membawa Alvian berobat lagi. Dan om harus memberitahukan jika." ucap Papa Alvian.
"Jika apa om." tanya Ecca, namun tak lama Dion datang dengan tergesa-gesa.
"Ecca gak papa kak, Ehhm ini papa Alvian."
"Hahhh, Alvian." teriak Dion terkejut lalu menoleh kearah papa Alvian dan menjabat tangan.
"Dion om, kakak Ecca."
"Gerald, papa Alvian."
Setelah berkenalan Ecca pun menceritakan semuanya kepada sang kakak. Sama halnya yang Dion pun tak kalah terkejut jika Ecca sempat mencurigai Alvian sebelumnya.
"Dion, Ecca om sangat senang sekali bisa bertemu dengan kalian apalagi kalian kemungkinan keluarga asli dari Alvian tapi dengan berat hati om harus memberitahukan kepada kalian. Om harus menghapus memory Alvian karena kalau tidak diambil tindakan dia akan merasakan kesakitan secara terus menerus seperti sebelumnya." jelas papa Alvian sambil menarik nafas.
"Dengan terpaksa om harus jauhkan dia dari kalian, mungkin nanti setelah dia kembali dia akan menjadi Alvian yang baru, entah dengan dia yang sudah tahu kalian saudara atau dengan Alvian yang masih menyukai Ecca. Om berusaha menjelaskan jika dia bersaudara dengan kalian karena jika dia meneruskan perasaannya om takut dia berniat menikahi sepupunya sendiri." lanjut papa Alvian sambil menggoda Ecca.
Papa Alvian memeluk kedua kakak beradik itu. Hingga malam saat Alvian dipindahkan menuju ICU dan prosedur test DNA selesai para sahabat Ecca setia menemainya.
"Ca makan dulu, kan sedari tadi Ecca belum makan." ucap Nindy, namun Ecca hanya meraih cup yang berisi hot chocolate bukan makanan yamg disodorkan Nindy.
Para sahabatnya paham betul kondisi Ecca, hingga dia pun sampai lupa jika dia sedang ditempat yang paling dia takuti.
"tolong para hantu jangan ganggu dulu yahh, kalian cuti dulu dehh." gumam Keke.
"Ngomongnya yahh kek berani aja." sahut Nindy.
"Dion om minta bantuan sebentar, tolong tungguin Alvian dulu. Om mempersiapkan keberangkatan kami ke Jerman." ucap papa Alvian.
"Baik om."
"Besok jam 9 pagi pesawat take." lanjut papa Alvian.
"Biar kakak yang jaga Alvian disini kalian pulanglah." ucap Dion pada keempat gadis itu.
"Ecca mau disini kak, seenggaknya terakhir kali kita bisa sama anak tante." jawab Ecca.
"Aduuhh mana ini udah malam Nin, gue takut mau kedepannya." ucap Keke.
"Kak Al mau jemput Rara nanti bareng aja." ucap lirih Rara.
"Nin, pulang kerumah aja yah ajak Keke bawa mobil Ecca atau mau pake punya kakak." ucap Dion.
"Pake mobil Ecca aja kak." jawab Nindy.
*••*
Keesokan harinya
Ecca tak masuk sekolah, namun dia berangakt kesekolah setelah visite dari dokter, hendak memberikan surat keterangan dokter kepada wali kelasnya. Setelah menjelaskan kejadian sebenarnya pada wali kelasnya Ecca kembali ke rumah sakit untuk mengantarkan keberangkatan Alvian menuju Jerman.
Wajahnya nampak sembab karena terus menangis. Dari kejauhan Alvero menyadari keberadaan Ecca, saat pelajaran olah raga.
"Ca, kamu gak sekolah."
Ecca menoleh mendapati Alvero kakak kelas yang notabene sahabat kekasihnya. Dan sejak kejadian dikantin kemarin Ecca sudah tak mengingat lagi masalahnya dengan Askala.
"Enggak kak, ini habis kasih surat."
"Ehhmm, yang sabar yahh Ca." ucap Alvero, Ecca mengernyit bingung.
"Kakak udah denger dari Rara, Semoga hasilnya cocok yahh." lanjutnya yang membuat senyum Ecca mengembang, mungkin Ecca mengira Alvero akan membahas masalahnya dengan Askala namun ternyata tentang Alvian.
Sementara itu dari kejauhan Askala melihat Ecca sedang tersenyum pada Alvero menggeram.
"Bangshat."
Saat Alvero sudah berbalik, dia mendekat kearahnya lalu.
Buggghhh,.
"Siaalan ngapain loe deketin cewek gue."
Buggghhhh..bughhh.
"Apaan sih Kal."
"Loe yang apaan, ngapain loe deketin Ecca, loe suka sama cewek gue Hahhh."
"Weee..weeei easy guysss." lerai Daffa pada kedua sahabatnya yang sedang adu jotos.
"Akhhh minggir Daff,."
Bugghhhh.. Alvero membalas pukulan Askala.
"Ahhh elahh bocahh, kagak bantuin malah diliat doang." teriak Daffa pada si kembar.
Mereka pun dengan susah payah memisahkan keduanya. Alvero yang berjanji pada Raisa untuk tidak mengatakan cerita Alvian dulu pada yang lain memilih bungkam.