
Akhirnya setelah Tenda berdiri tegak Askala pun meninggalkan Ecca menuju tenda OSIS yang juga telah rampung.
"Enak banget itu si Ecca pake dibantuin kak Askala."
"Yaudah sihh orang pacarnya juga."
"Ishhh kan kita juga mau dibantuin juga."
"Hiliiihh Loe sapa kak Askala."
Seruan-seruan dari para teman netizen pun terdengar jelas oleh Ecca, kesalahan mereka menggosipkan orang yang bisa baca hati dan pikiran seperti Ecca.
"Kenapa Ca." tanya Nindy yang melihat Ecca melamun.
"Enggak cuma capek." kilah Ecca tak ingin para sahabatnya tahu jika kini ia sedang jadi bahan omongan.
"Tiduran Ca, masih ada waktu 2 jam sampai acara nya nanti sore." ucap Rara yang sepertinya sudah tau persis rundown acara.
"Iyaaahh, nin tolong Shield dulu lah." kata Ecca, Nindy pun beranjak segera memancarkan perisai untuk tenda mereka agar terjauh dari para mahkluk halus.
Singkat cerita Ecca dkk pun sudah berbaris rapi sesuai arahan dari anggota OSIS. Lagi, nampak Ecca melihat kedekatan Askala dengan gadis yang tadi disekolah.
"Sana ih Rin."
"Gamau aku gamau jauh dari kakak, kan kakak udah janji."
"Ya tapi nggak nggelayut gini juga keles." sungut Davina yang juga kesal melihat Askala seperti ditempeli jin centil.
"Husss sana Loe baris kayak temen-temen Loe tuh." sarkas Fierly, bahkan ulas kedua betina itu membuat sahabat Askala yang lain terkekeh.
"Capek gue liatnya."
"Ampun deh Loe bisa-bisanya ditempelin sama tuh demit sih Kal." celetuk Daffa, dan Askala pun menghentikan bahu.
"Ati-ati Loe, dilihat Ecca ngambek entar." sahut Revin, menggoda Askala. Askala pun menoleh kearah kanan dan matanya langsung tertuju pada sang kekasih dengan sorot mata tajamnya memandang intens dirinya kini.
Glekkk..
"Alamat ngambek dahh." kelakar Revan.
"Hoalahh."
"Emang sapa elo sih Kal astaga."
"Tauk gedek juga gue."
"Shuuuuttt diem Loe pada."
"Baiklah adik-adik mari kita mulai apel sore hari ini, sekaligus simbolis pembukaan camp kita hingga esok hari." kata Daffa memberi sambutan.
Dengan wajah masam menahan rasa mu bin enek karena Askala yang terus ditempeli oleh teman seangkatan nya.
"Ca, tetap fokus Ca." sela Cece yang sudah berada disamping Ecca. Cece merasa Ecca terhanyut dalam emosinya sehingga takut memantik para lelembut.
Tess.. Tess..
Tanpa disadari kini Ecca sudah mengeluarkan darah dari hidungnya, bahkan tak ada yang menyadari karena kini sedang berlangsung apel.
Sreeettt...
"Nindy." teriak Rara yang sudah dirasuki oleh Cece karena mereka bertiga tak ada yang menyadari kehadirannya.
"Astaga."
"Mohon jangan berisik."
"Apaan sih Ra."
Belum selesai memarahi Rara tiba-tiba Ecca ambruk, diikuti oleh Raisa yang terduduk karena terkejut oleh emosi Cece.
Bruukk, brukk
"Ecca, Rara."
"Ca."
Tanpa ba-bi-bu Nindy dan Keke pun segera menangani mereka berdua dibantu teman sekelasnya terlebih mereka sangat terkejut kala Ecca mengeluarkan darah dihidungnya.
"Astaga, heuuupp." ucap Nindy menyadari hawanya berubah menjadi panas, aura mencekam segera tangannya mengudara membentuk perisai untuk mereka terlebih untuk Ecca.
"Ada adik kelas pingsan dibelakang."
"Segera atasi." ucap Askala yang belum menyadari jika yang disebut adalah Ecca, Alvero berlari menuju kerumunan.
"My God." ucap Alvero yang terkejut karena adik kelas yang dimaksud adalah Ecca, jangan lupa dengan kondisi Rara juga disana.
"Daffa." teriak Alvero meminta bantuan sahabatnya, Daffa menggangguk dan gegas menuju tempat Alvero.
"Kak, tolong cepat ini Ecca diserang. Kita gak nyadarin kalau bukan Cece yang langsung marah masuk ke Rara." jelas Nindy, Daffa dan Alvero mengangguk. Sejenak Alvero mengusap kepala Rara, lalu bergabung dengan Daffa membuat perisai di tenda darurat medis.
"Gimana adik kel... Las.. Ecca." ucap revin yang baru saja tiba pun tak kalah terkejutnya. Daffa pun menceritakan lengkap dengan meminta Revin mempercepat acara pembukaan karena selama acara belum selesai maka Askala tak akan bisa bergabung ditenda darurat.
"Cece tolong masuk di gue aja jangan Rara." ucap Nindy.
"Nggak gitu Nin, tadi tuh si Cece seemosi itu, gue agak syok ajah " sahut Rara.
"Jangan." sela Alvero mengkhawatirkan Raisa karena bibirnya bahkan masih terlihat pucat.
"Kondisi emosional Ecca gak baik, aku udah peringati. Bahkan dia menahan tanpa melakukan perlawanan. Tolong jaga kondisi hati Ecca." ucap Cece, yang masuk kedalam badan Nindy, tak lama Cece keluar karena situasi diluar padat saat Ecca mengalami hilang kesadaran. Para lelaki itu pun paham maksud ucapan Cece karena mereka tahu jika ini berhubungan dengan Askala.
"Ca, bangun lah."