Beautiful Destiny

Beautiful Destiny
Pergerakan



Braaakkkkk..


Terdengar kegaduhan seperti pintu terbanting, membuat Askala dan Nindy berjengit.


"Masih jam enam sore juga udah hebohh." ucap Nindy.


Askala memejamkan mata berniat melihat sosok apa yang tengah ngerusuh itu.


"Tuhh suster paling bandel." sahut Nindy, benar saja Askala melihat sosok suster ngesot tak jauh dari ruang Ecca namun masih diluar penjagaan pasukan Eyang.


"Gimana cara musnahinnya." tanya Askala.


"Enggak tau kak, nanti coba tanya kak Dion. Tapi dengan keberadaan kakak disini otomatis dia akan musnah jika nekat mendekat.


Sebelumnya Askala sudah mengetahui cerita tentang Alvian, hingga kejadian sebelum Ecca tak sadar. Namun hingga saat ini Askala belum pernah sekalipun mengungkapkan sosok perempuan yang memeluknya didepan mata Ecca. Anindya hanya tahu sekilas cerita dari para sahabat Askala.


Setelah menuntaskan makan siang sekaligus malamnya Askala merebahkan sedikit tubuhnya. Namun belum benar-benar terlelap Askala merasakan ada pergerakan kecil dari Ecca. Dia mendekat lalu menarik tangan Ecca, dan mencium punggung tangannya.


"Ca, buka matamu. Kakak disini." ucap Askala, Nindy yang tadi fokus dilaptop karena sedang mengerjakan tugasnya pun sontak meletakkannya.


Askala mengusap pipi Ecca, Nindy sudah memanggil perawat untuk memeriksanya.


"Kak tolong dipagari, takut ada yang nyusup lewat tubuh susternya." ucap Nindy.


Askala mengangguk lalu merapalkan doa, sambil meletakkan kedua tangannya menempel ke dinding ruangan.


Benar saja Nindy melihat sosok yang menempel dibelakang suster jaga, karena dia merasakan dua aura berbeda pada suster itu. Saat suster masuk aura merah kehitaman itu langsung pudar.


"Bisa dibantu."


"Ini tadi dia gerakkan jarinya sus." jawab Nindy.


"Ini bagus mbak Nadi dan tensinya sudah naik, sebentar lagi mungkin Aleesha sadar."


"Begitu yahh sus, baik terima kasih." ucap Nindy sumringah.


Setelah kepergian petugas dari ruang Ecca, nampak senyum dari Nindy tak pernah hilang. Sebahagia itu Nindy mendengar Ecca akan segera sadar.


"Astagaa Caa, gue seneng banget dengarnya. Yuukk bangun yuk enggak capek apa bobok terus." ucap Nindy sambil mengusap kepalanya.


"Kak Dion kok belum kok belum pulang yah." gumam Nindy.


"Kamu telp aja."


Nindy mengangguk lalu menghubungi Dion, hanya ingin mengabarkan ada pergerakan dari Ecca.


"Hallo Nin."


"Kakak dimana."


"Masih dikantor nanti jam delapan kakak balik, kenapa mau dibawakan apa."


"Ehhh enggak usah, Nindy mau kabarin. barusan tangan Ecca gerak."


"Syukurlah sudah lapor perawat."


"Hemmm, sudah katanya mungkin sebentar lagi sadar karena tensinya dah naik."


"yasudahh, benar gak mau dibawain apa-apa..?"


"Masih banyak kak takut Mubadzir."


"Okeyy see hon."


"Byee."


Setelah mengabari Dion, Nindy melanjutkan mengerjakan tugasnya, Askala bahkan sudah merebahkan kepalanya di brankar Ecca.


Tak berselang lama mata Ecca mengerjap, dapat dia temukan sosok yang dia sayangi dalam ruangan, Nindy terlelap di sofa sambil menghadap laptop. Disisinya pria yang sangat dia rindukan, Ecca mengusap rambutnya pelan berusaha untuk tak membangunkannya. Melihat keberadaan Askala membuatnya tersenyum dan merasa lega.


Tepat pukul sembilan malam Dion memasuki ruang perawatan Ecca, sudut matanya langsung menyorot ke bed yang ditiduri oleh adiknya. Mendapati sang adik membuka matanya pun sedang menatapnya. Sedangkan Nindy dan Askala yang menjaganya sudah terlelap ditempatnya.


"Sejak kapan adik kakak sudah bangun."


"Baru aja." jawab Ecca lirih.


"Laper nggak." tanya Dion Ecca menggeleng, Dion mengangguk lalu menuju sofa berniat membetulkan posisi Nindy, setelahnya dia menuju kamar mandi guna menyegarkan badannya.


Ecca merasa matanya seolah memberat pun memilih untuk memejamkan matanya, tanpa sadar tangannya diletakkan dikepalanya Askala.


Braaakkkkk... Suara dentuman keras dari luar kamar membuat Ecca berjengit, lalu membuka matanya.


Kreettt.. Askala merasakan bed brankar Ecca bergerak pun terbangun.


"Caaa,." ucap Askala menyadari Ecca membuka matanya.


Ecca tersenyum sambil mengelus dadahnya akibat terkejut dengan suara kegaduhan.


"Ada yang sakit." tanyanya yang menyadari Ecca tengah memegang dadahnya.


"Cuma kaget ada suara berisik."


"Sejak kapan bangun."


"Tadi waktu kakak bobok." jawab Ecca lalu menangkupkan sebelah tangannya dipipi Ecca.


"Ada apa." sahut Dion dari belakang.


"Kakak ada barang jatuh." ucap Ecca.


"Dimana." tanya Dion.


"Gangguan kak."jawab Askala


Dion berdecak kemarin-kemarin bahkan lebih gaduh kenapa Ecca tak terusik.


"Udah dari kemarin dik."


"Perisainya biru." ucap Ecca, Dion menatap Askala, dan dianggukinya.


"Cewek loe bang yang nyuruh." jawab Askala membuat Dion menyungging kan senyum.


"Kapan Ecca pulang." tanya Ecca.


"Baru juga bangun."


Sedangkan Dion yang memahami perasaan Ecca pun tak bergeming, itupun demi kebaikan Ecca.


Ecca tak bertanya bagaimana bisa Askala berada disini mengingat sebelumnya mereka tengah bertengkar.


"Yang barusan suara apa Ca sampai kamu kebangun." tanya Dion, Ecca menoleh kearah sang kakak.


"Entah, Ecca buka mata udah gak ada sosoknya."


"Yasudah emang iseng kok." ucap Askala.


"Iseng gimana." tanya Dion penasaran.


"Dari tadi siang udah resek emang si ngesot tambeng." jawab Askala.


"Gak akan bisa lewat pagarnya eyang juga dia."


"Kata Nindy takutnya dia nempel ke petugas makanya dia nyuruh gue bikin Shield pake permata." ujar Askala.


"Tepaat, emang cewek gue tiada duanya." ucap Dion sambil mendekat kearah Nindy yang sedang tertidur.


"Kak, Ecca pengen sate." ucap Ecca pada Askala.


"Kakak carikan di depan." sahut Askala.


"Pesen ojekfood aja Kal." potong Dion, Askala pun mengangguk lalu membuka gawainya.


Sekitar 45 menit pesanan Askala pun sampai, Ecca yang melihatnya pun berbinar. Askala sudah menyiapkan sendok agar Ecca segera menikmati makanan yang dimintanya.


"Pelan-pelan enggak ada yang mintak kok." ucap lirih Askala.


"Laper kak."


"Yaiyalahh kamu hampir seminggu enggaj makan." potong Dion.


Ecca tak menggubris bahkan dia sungguh menikmati makannya, beruntung Askala memesankan 2 porsi seolah tahu jika Ecca akan menghabiskan makanannya.


Melihat sudut bibir Ecca terkena bumbu sate, Askala reflek membersihkan dengan jarinya. Setelah 2 porsi makanan tandas Askala dan Dion yang melihatnya merasa lega.


"Jangan kau bandel lagi, sampek lupa makan." celetuk Dion.


"Siyaappp." sahut Ecca.


*


*


Keesokan harinya.


Anindya tak menyadari jika Ecca telah sadar semalam. Bahkan siap dia terjaga untuk minum dini hari dia melihat posisi Ecca masih tetap sama.


"Nin kakak berangkat dulu, nanti kalau misal Ecca minta pulang jangan diturutin tunggu kakak dulu." ucap Dion.


"Emang gimana caranya Ecca bisa minta pulang, sadar aja belum." sahut Nindy.


"Ahiyaaaa kamu belum tahu kalau Ecca sudah sadar."


"Kapan.." cecar Nindy.


"Pas kakak datang dia udah melek, Askala aja gak tau kapan bangunnya." jawab Dion.


"Masak sihh." sahut Nindy tak percaya.


"Gihh coba bangunin."


Nindy mendekati bed Ecca.


"Ca, Caaaa.. ini Nindy."


"Euuuunnngghhh." lenguh Ecca namun matanya masih terpejam enggan membuka matanya.


"Astaggaaaa Eccaa." teriak Nindy lalu menghambur memeluk Ecca.


"Kenapa gue enggak tahu kalau kamu sudah sadar." ucap Nindy sambil mendekapnya.


"Aduuhh ya ampunn, Ecca ngantuk lepasin.."


"Enggak belum puas peluknya."


"Nindy Ihhhh aku sesek nihh."


Benar saja saking eratnya Nindy mendekap Ecca membuatnya sesak.


Sedangkan Askala masih bergelung diatas kasur, setelah semalah dia memilih menemai Ecca hingga dia tertidur.