Beautiful Destiny

Beautiful Destiny
Bye Meira



Sretttttt... Cece keluar dengan paksa karena Ecca sudah merasa lelah.


"Ca, loe okey." tanya Nindy, yang melihat Ecca sedang menetralkan nafasnya.


"Dapat lagi gambarannya Ca." tanya Keke, dan Ecca pun mengangguk.


"Kita harus ngapain." tanya Askala.


"Kakak keluar dulu." jawab Ecca.


"Enggak yah Ca, tubuh loe masih lemah, bisa bahaya kalau gak ada kakak."


"Gini aja Kelima permata naik kelantai dua, dari sana kak Askala masih bisa mantau Ecca." sahut Nindy, walaupun dengan berat hati Askala pun menerima usulan Nindy.


"Ayoo semakin cepat semakin baik, kasihan ini dia bisa berubah jadi jahat." ucap Ecca.


"Kenapa begitu."


"Karena kalau dia terbawa situasi saat meninggal dia berubah jadi jahat, karena termakan emosinya." jawab Nindy.


"Okey rencananya gimana." tanya Davina.


"Dia hanya ingin dilepaskan dari jerat duniawi kak."


"Caranya."


"Cukup mengantarnya kak." jawab Ecca.


"Nganternya gimana, apa kudu datengin tempat dia meninggal." potong daffa.


"Enggak gitu juga kak." jawab Nindy.


"Lahhh trus gimana dong kita-kita kan gak tau."


"Cuma Ecca yang bisa ngantarnya kak." jawab Ecca.


"Jangan bercanda Ca, kamu baru sembuh." potong Askala.


"Kan ngantarnya gak pake tenaga kak." jawab Ecca.


Membuat Askala dan para sahabatnya terbengong kebingungan.


"ini begimana sihh."


"Taukk puyeng gueh."


"Kita nganternya juga disini kak, gimana yah Ecca jelasinnya." ucap Ecca.


"Gini aja kalau kakak penasaran kek gimana Ecca nganterin si poci, entar kakak juga tahu dan bisa lihat sendiri." jelas NIndy.


"Karena semuanya gak bisa dijelaskan dengan teori kak, intinya nanti Ecca buka portal dunia nyata dan ghaib." jelas Ecca.


"Jadi kayak perjalan lewat dimensi lain." tanya Davina.


"Bukan perjalanan kak, hanya membuka nanti Ecca yang bisa kontrol pintu portal." jawab Nindy.


"Loe paham Kal." tanya Revin.


"dikit.'


"gue gak paham sama sekali, anjir." jawab Revin.


"Itu karena otak loe sebiji jagung." sahut Daffa sarkas.


"Cihhh kayak situ paham ajahh."


"Actually not, but 65% paham." jawab Daffa.


Dan setelah perdebatan panjang Askala dkk pun mau bergeser kelantai dua. Darisini Askala pun masih bisa melihat Ecca, meskipun dalam jarak cukup jauh.


"Gimana siap."


"ready."


Setelah keempat gadis itu bersiap, datanglah Cece bersama sosok yang bernama Meira namun tidak berpenampilan seperti pocong.


Pakaiannya compang -camping dengan beberapa luka diwajahnya bahkan sangat menyedihkan dengan kepala nyaris pecah.


"Tolong ubah penampilanmu lebih bagus lagi." ucap Ecca.


"God, gilak kayak gimana dia dilemparnya."


"Hampir remuk itu kepala."


"Meira, apa kamu memiliki pesan." tanya Ecca setelah Meira merubah penampilan seperti saat sebelum meninggal.


"Enggak ada, aku hanya ingin segera tenang, biarlah penderitaanku cukup sampai disini."


"Baiklah Meira." jawab Ecca lalu dia mendekat kearah Meira.


"Ce loe njauh gihh, mau pergi juga loe." celetuk Keke.


"Gue masih pengen nikmatin cogan didunia, bye." sahut Cece, membuat Ecca dan yang lain terkekeh.


"Dasar Hantu centil."


Ecca meraih tangan Meira, walaupun seharusnya tangannya menembus namun karena Ecca merapalkan doa pembuka portal, Ecca pun dengan mudah memegang tangan Meira.


"Pergilah dengan tenang dan dalam damai temanku." ucap Ecca, lalu tubuh Meira pun terlihat berkilauan dan terang.


Setelah bercahaya, Ecca melepaskan tangan Meira membiarkan dia terus berjalan menuju jalan terangnya.


Saat menutup pintu portal, seketika tubuh Meira lenyap tak terlihat lagi.


"Yang tadi dunia ghaib, mereka bilangnya portal gaib, makanya makhluk kasat mata akan bersinar, kembali ke jiwanya yang tenang." jelas Askala karena dia pun pernah memasuki portal ghaib.


"Jadi cuma dengan pegangan tangan gitu aja."


"Enggak sembarangan juga, takut kalau sosoknya justru manfaatin Ecca dengan mengambil jiwa Ecca." jawab Askala.


"Ya tapi kan kayak gini bisa habis syetan kalau dianterin Ecca." sahut Revin.


"Enggak gitu juga konsepnya begok.. dengan buka portal 1 hantu aja bisa bikin Ecca lemes kayak gitu." jawab Daffa sambil menunjukkan Ecca tengah terduduk, dan dibantu Nindy dan yang lainnya.


"Kalau lebih dari 10 bisa nyawa taruhannya." jawab Alvero, sedikitnya Alvero tahu tentang Ecca selama dekat dengan Raisa.


Setelah beristirahat sekitar tiga puluh menit, dan ditemani Askala nampak wajah Ecca sudah tak sepucat setelah membuka portal.


"Emang sekuat itu yahh portal gaib." tanya Fierly.


"Ecca bilang karena si Meira sosok yang cukup lama menunggu kebebasannya." jawab Nindy.


"Kalau Rara bilang Ecca sedang nahan ada yang coba mau narik si Meira, Nindy percaya." sahut Raisa.


"Hahhh, beneran Ca." tanya Nindy dan Ecca pun mengangguk.


"Ada banyak penyusup, kebanyakan mereka yang lama sama-sama Meira." lanjut Rara.


"sosok yang paling kuat, sister ngesot." jawab Ecca.


"Hahhhh kenapa bisa gitu."


"Apa dia iri, atau gak mau ditinggal si Meira."


"Enggak,. karena dia marah Ecca gak mau bantu dia." jelas Ecca.


"Kenapa gak dibantu aja sih Ca." celetuk Revin sontak membuat Askala melotot.


"loe kira aja Meira yang enggak jahat aja Ecca kayak gini, gimana dengan sister yang dengan amarah menggebunya." Sahut Daffa, seolah paham dengan arti sorot mata Askala.


"Ecca bilang terlalu berat dan kuat energinya, sister itu bahkan tiap hari neror kita selama dirumah sakit." jawab Nindy.


"Mereka yang ingin lepas dari duniawi harus benar-benar mengiklhaskan hatinya kak, jika dirinya masih dilingkari amarah akan susah." jelas Ecca.


"Emangnya si sister gimana sih ceritanya sampai loe gak bisa bantu dia." tanya Davina.


"Dia mau lepas kalau Ecca bisa bantu menyelesaikan penyebab kematiannya kak. Dan Ecca lihat terlalu rumit masalahnya, enggak kayak Meira yang benar-benar ikhlasin masa lampaunya." jawab Ecca.


Dan dari semua penjelasan Ecca, sedikit demi sedikit mereka pun paham maksud Ecca. Yang bisa lepas dari duniawi adalah mereka yang benar-benar bisa mengikhlaskan kejadian dimasa lampau.