Beautiful Destiny

Beautiful Destiny
Semakin Memburuk



Setelah beradu jongos dengan Alvero, Askala yang masih dilanda emosi pun pergi entah kemana.


Sementara itu Alvero yang ditinggalkan bersama para sahabatnya itu memilih bungkam belum ada niatan sedikitpun memberitahukan kepada para sahabatnya.


Sementara itu Ecca dan Dion kini berada di Bandara mengantarkan kepergian Alvian untuk berobat ke Jerman.


"Om pamit yah nak, doakan semoga Alvian segera pulih." ucap Papa Alvian.


"Hati-hati yahh Om." ucap Ecca lalu berhambur memeluk Gerald.


"Bo-bolehhh kan Ecc-caa peluk om..hiks.. hiks." Lanjut Ecca sambil berurai air mata.


"Tentu dong, Om seneng banget apalagi om tidak punya anak gadis, Om lebih seneng lagi kalau Ecca sama Dion panggil om dengan Papa." jawab Gerald.


Dion pun tak kuasa menahan haru, kesedihan sang adik karena haus kasih sayang orang tua, kini dia bisa menemukan sosok yang mampu membuatnya mengingatkan pada papinya.


"Boo bolehh om, ehhh pa-paa." sahut Ecca.


Gerald pun merasakan kenyamanan pada sosok Ecca, mungkin Ecca merasakan kerinduan pada orang tuanya sehingga sangat emosional saat bersamanya.


Pesawat Jet milik Gerald siap take off, derai air mata Ecca semakin deras. Dion pun tak bisa menenangkan adiknya itu, dengan terpaksa dia membacakan doa penenang jiwa. Tak lama tubuh Ecca terkulai lemas, Dion pun bergegas membawa Ecca pulang.


Sementara itu Askala yang kini berada di apartemennya masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Akkkkkkkhhh siyalan, enggak Nadine enggak Alvero sama aja." teriak frustasi Askala. Bahkan putung rokok sudah bertebaran dimana-mana.


Begitulah Askala dikala dia sedang dalam mood buruk, jatuhnya akan merokok hingga dia merasa tenang.


Bayangan Ecca tersenyum pada Alvero membuat hatinya panas.


Sedangkan Alvero yang kini di UKS sedang diobati oleh Rara. Setelah dibawa ke UKS oleh sahabatnya Revin memanggil Rara atas permintaan Alvero agar mengobatinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi." tanya Raisa.


"Hemmmm." gumam Alvero.


"Kalok gak jawab Rara balik kelas aja." ancam Raisa.


"Ehhh jangan."


"Yahh terusss." ucap Raisa yang mulai gedek karena Alvero bersikap dingin padanya.


Alvero memberikan kode jika kini mereka sedang tidak berdua, ada Revin, Daffa dan Fierly.


"Kenapa emangnya." ucap Rara yang semakin tak paham maksud Alvero.


"Haaahhh, jadi tadi aku sempat ketemu Ecca baru keluar dari ruang guru."


Raisa dan para sahabat Alvero masih setia menunggu penjelasan dari Alvero.


"Mungkin itu yang membuat Askala marah, ohiyaaa Dimana Ecca sekarang." ucap Alvero, kemudian bertanya pada Rara.


"Nindy barusan dapat kabar Ecca pingsan di bandara, dia terlalu histeris dengan kepergian Alvian." jelas Rara.


"Hahhh, kenapa Ecca sampek sedih berlebihan ditinggal Alvian." potong Fierly.


Bahkan Daffa dan Revin pun seolah tak terima jika Ecca justru bersedih dikala hubungannya dengan Askala masih belum berbaikan.


"Jangan suudzon dulu." sahut Alvero karena dia satu-satunya orang yang tahu kebenarannya.


"Maksud loe apa Al jelas-jelas Ecca pacar Askala bukannya memperbaiki hubungannya malah dia sibuk sedih ditinggal laki-laki lain." sungut Daffa.


"Loe kalau gak tau ceritanya jangan nyolot anjirr." jawab Alvero.


Raisa yang merasakan aura mereka sudah berubah menjadi penuh dengan amarah pun ikut terpancing.


"Cukuppp."


"Tutup mulutmu Fier, Astagaaa." ucap Alvero meninggi tak terima mendengar Fierly membentak Raisa.


Sementara itu Raisa yang terus dipojokkan memilih untuk menutup mata dan telinga.


"Cukupp kak." teriak Nindy yang baru saja datang.


"Ninnnn." jawab Rara lalu dia berlari memeluk Nindy.


"Ini dia sekumpulan teman pengkhianat, gue gak terima yahh Askala diduain sama temen loe itu." sungut Fierly.


"Hentikaaaann." teriak Alvero.


"Kenapa loe belain mereka Al yang temen loe siapa hahh, Brengseek." Sahut Daffa yang ikut tersulit emosinya.


"Yaa Tuhan hamba mohon berikan mereka ketenangan jiwa." ucap Nindy sambil mengarahkan kedua tangannya kearah mereka yang sedang diselimuti kabut emosi.


Setelah mereka tenang Nindy buka suara.


"Kakak tau kejadian dua hari yang lalu saat kami menemukan Alvian pingsan."


"Hahh pingsan bukannya dia sedang berpelukan dengan teman mu itu." jawab Fierly sinis.


"Please jangan dipotong dulu Fier." sela Alvero.


"Ihhh loe lebih mereka orang baru sihh Al."


"Yaa karena kalian belum tahu kebenaran anjingg." Jawab Alvero yang semakin emosi.


"Ya tuhann." ucap Raisa tak kalah terkejut melihat mereka justru berdebat.


Nindy menyenggol Raisa mengkode agar menenangkan Alvero, Rara mengangguk lalu mendekati Alvero.


Alvero menyambut kedatangan Rara dengan menarik Raisa kedalam pelukannya, dia membutuhkan aura Raisa yang membawa ketenangan untuknya.


"God's, I'm so angry." ucapnya lirih hanya Rara yang bisa mendengar nya, dia lalu mengusap pelan punggung Alvero.


"Nindy jelaskan please jangan di potong, semakin kakak potong akan enggak selesai ini pembicaraan kita." ucap Nindy, setelah melihat mereka mengangguk Nindy menghela nafas sejenak.


"Alvian mengalami amnesia sejak kecil, dan dua hari lalu dia baru saja mendapat serangan setelah menemukan sekilat memori, kami bawa dia ke rumah sakit dan ternyata dia harus mendapatkan perawatan intensif. Lalu kami bertemu dengan ortu Alvian, daann." ucapan Nindy terpotong hanya untuk menghela nafas sejenak.


"Dari situlah Ecca mendapat visual jika Alvian adalah saudaranya yang tidak lain anak dari tantenya Ecca adik papinya."


"Astagaaaaaaa." gumam Fierly.


Nindy pun menceritakan semua fakta tanpa tertinggal sedikitpun, bahkan mereka pun akhirnya tahu jika selama ini Ecca sudah curiga karena mendapati visual Alvian saat kecil hampir mirip dengan anak sang tante.


"Kondisi mental Ecca kacau, setelah kejadian dikantin berlanjut dengan kenyataan yang dia terima tentang Alvian bagi Ecca sangat berat. Kak Dion bahkan harus membuatnya tak sadar diri dengan ajian penenang jiwa." lanjut Nindy.


"Huu. hu.. huuuu maafin kakak yah Nin udah em- mossii duluan. Hikss gak nyang ka banget Eccc ca menderita. Ini juga gara-gara si cabe Nadine, kenapa harus kembali sihhh." ujar Fierly meracau.


"Yangg.. yangg husshh sudah yahh." sahut Daffa menenangkan Fierly.


"Itulahh kenapa sedari tadi gue diem, gak bela Al gak bela elo, gue nunggu cerita sesungguhnya. karena gue yakin Ecca gak mungkin banget kek gitu." potong Revin. Dan yahh memang sikap tengil Revin seolah tak muncul saat sahabatnya saling beradu mulut.


"Yyyaangg nanti kerumah Ecca yahh." ucap Fierly, Daffa pun hanya mengangguk menyetujuinya.


"Hemmb, kak kalau saran Nindy jangan dehh."


"Hahh, kenapa."


Sruuut...


Tanya Fierly sambil membersihkan sisa-sisa lendir di hidungnya akibat menangis.


"Ecca gak mungkin bisa ditemuin kak."