Beautiful Destiny

Beautiful Destiny
Harapan



"Ecca gak mungkin bisa ditemuin kak, dia akan tertidur selama jiwanya belum tenang, Nihh." jelas Nindy lalu dia menyodorkan hapenya menunjukkan keadaan Ecca yang nampak memejam mata sambil berderai air mata.


"Yaa ampuunn sampai bagini." histeris Fierly terkejut dengan kondisi Ecca.


"iyaa kak, dia terlalu emosional di bandara, gak ada solusi lagi jadi kak Dion terpaksa. Emmmbb nanti setelah tenang dia akan bangun." jelas Nindy.


Akhirnya Fierly pun menerima dan tak memaksa untuk bertemu Ecca.


"Itulah kenapa tadi gue hibur dia, ehh Askala nyangkanya gue ndeketin dia. Mang Kambengg bengal seenak jidat banget nuduhnya." ucap Alvero, bahkan membuat Rara terhenyak baru kali ini dia dengar Alvero bicara panjang.


"Mulutnya aaaiiih, tumbenan bisa ngomong panjang biasanya seipriiit." sahut Rara sambil menyentuh pucung hidung Alvero.


Satu kesalah pahaman terselesaikan tinggal Ecca dan Askala entah bagaimana caranya untuk mengakhiri drama percekcok an mereka.


Hingga malam hari Ecca tak kunjung tersadar dari tidurnya, Dion pun setia berada disamping adik satu-satunya itu. Gerald papa angkat Alvian mengabarkan jika mereka sudah sampai dijerman dan Alvian sudah mendapatkan perawatan medis.


Keesokan paginya Ecca terbangun dari tidur untuk menenangkan bathin Ecca. Matanya bengkak, hidungnya memerah akibat terus menangis.


"Kok berat yahh mataku, Astagaaa bengkak banget." monolog Ecca sambil bercermin. Dia beranjak masuk ke kamar mandi dan memilih berendam air hangat tak lupa menyeka matanya agar bengkaknya berkurang.


Meskipun sudah tak bersedih berlebihan dan lebih tenang namun Ecca pun masih sadar dan mengingat dengan kejadian sebelum dia tertidur lama.


"Kok udah sepi, kak Dion dah berangkat kayaknya. Hemmm Biiikkk Ecca berangkat yahh. Assalamualaikum."


"Looohhh looh non Ecca kok gak sarapan, aduhhh piyee." sahut Bibi IRT dirumah Ecca.


Ecca pun berangkat kesekolah tanpa sarapan terlebih dahulu, walaupun dia merasa badannya lemas dan gemetaran.


Setibanya disekolah entah mengapa matanya selalu tertuju kearah koridor depan kelas.


"Ada apa disana." ucap lirih Ecca, lalu dia mencoba membuka mata batinnya.


"Ta-tata tante. Tante Riska."


Ecca menemukan sosok tantenya berdiri didepannya, menggunakan pakaian putih dengan luka kebiruan diberbagai tempat. Berwajah pucat tersenyum terlihat cantik sekali karena papinya memiliki blasteran Jawa manado.


"Akhirnya tante bisa bertemu dengan kamu."


Arwah sang tante mendekap Ecca, beruntung sekolah masih nampak lengang.


Sementara itu Nindy dan Keke yang baru saja sampai disekolah mendapati mobil Ecca sudah terparkir di halaman sekolah pun terkejut.


"Lahh ini Ecca udah masuk Nin."


"Lhahhiyaa."


"Guys." Sapa Rara yang baru saja sampai, sama seperti Keke dan Nindy Raisa pun terkejut kala Ecca sudah berada disekolah.


"Itu Ecca sama siapa Nin." tanya Rara.


"Hahh."


Nindy yang paham dengan maksud Rara, sepertinya Ecca bersama dengan sosok makhluk tak kasat mata pun membuka mata batinnya.


"Terima kasih yaa nak sudah menemukan Raffi sepupumu, jaga dan temani dia sampai kapan pun. Tante titip yah sayang salam ke kakakmu Dion, apapun yang terjadi pada dia itu yang terbaik, tante nggak mau dia menderita lagi."


Setelah menyampaikan pesannya, arwah tante Ecca nampak berkilau terang lalu menghilang.


"Hikssss tanteee, tanteee.. hikss.. hikkss." ucap Ecca histeris setelah arwah sang tante menghilang tak lama matanya buram lalu tubuhnya pun ambruk.


"Ecccccaaaaa.." teriak Nindy dan yang lainnya, bahkan beberapa teman sekelas Ecca pun ada disekitaran.


"Ca, sadar ca."


"Huaaa Eccaaaa bangun."


"Ke,..?" tanya Nindy melihat Keke mencoba untuk mencari visual Ecca sebelumnya.


"Dapet Nin."


"Ehhh bawa ke RS aja itu Ecca kok pucet banget." ucap salah satu teman mereka.


"Bantuin Dit." ucap Nindy.


"Biar gue gendong mana mobilnya."


"Sebaiknya loe ikut deh Dit, kasian mereka nanti gak ada yang bawa Ecca."


Benar saja melihat Rara yang panik dan menangis kejer, tak mungkin juga bisa lanjut ikut pelajaran. Akhirnya Nindy, Keke dan Rara membawa Ecca ke Rumah sakit.


Setibanya dirumah sakit Ecca pun langsung mendapatkan penanganan, dan disarankan untuk tindakan perawatan intensif. Dengan Nadi dan Tensi darah yang semakin melemah.


"Keluarga saudari Aleesha."


"Kami Sus temannya, Kakaknya masih dijalan."


"Baiklah nanti kalau kakaknya sudah sampai mohon keruangan kami."


"Tatttapi sus, gimana keadaan Ecca." tanya Nindy.


"Kondisinya melemah, dokter menyarankan untuk dirawat di ICU agar bisa dipantau dengan monitor."


"Begitu yahh Sus, jadi ini masih harus menunggu kakaknya yah baru Ecca dapat ditangani." lanjut Nindy.


"Begitulah, sesuai prosedur."


"Haduuhh, gimana yahh sus Ecca sudah tidak ada ortu, kakaknya pun saya takutnya lama, Saya mohon segera ditangani."


"Tidak bisa, minimal harus persetujuan dulu dan harus mengurus administrasi."


"Yaelahh urusan duit mahh kami bisa sus, bilang kek dari tadi." potong Keke.


"Ahh maaf yahh bukan maksud saya, baiklah mari salah satunya ikut saya." ucap suster itu, lalu Nindy pun mengikuti suster.


"Ecca gak papa kok Ra, kita berdoa saja yahh."


Sementara itu Alvero yang sedari tadi mencari-cari keberadaan Raisa dan yang lainnya tak juga nampak batang hidungnya, tengah gundah.


"Askala kemana Daf." tanya Revan pada Daffa.


"Dari semalem udah gue telp gak bisa."


"Lahhh loe kenapa Al." tanya Revin yang seperti kain kusut.


"Nyariin Raisa dia." celetuk Revan.


Tuuuttt..tuutt.


Alvero terus mencoba menghubungi Raisa berulang kali.


"Udah Ra, kamu jangan nangis terus, berdoa."


"Huhuhuhuuuhhh. iyaa."


"Nahh ini suara geter hape siapa dah, punya gue bukan." ucap Keke.


"Ahhiyaaa punyaku..hikss.. hikss."


Raisa mencari-cari ponselnya, mendapati Alvero yang menghubunginya.


"Hallo."


"Astagggaaa kamu kemana aja Ra."


"Eeemmm maaf kak."


"Ehhh kamu nangis."


Lalu tak lama Alvero meminta sambungan video.


"Kak.. Eccaa kak."


Ucap Raisa bergetar setelah mendapati wajah Alvero dilayar ponselnya.


"kamu kok nangis kenapa."


"Ecca."


"Iyaaa Ecca kenapa."


"Ecca ma-ma masuk ICU. Hu hu huhhhh."


Tangis Raisa semakin sendu dan pilu.


"Hahhhhh, sekarang dimana kamu."


"Di RS Permata."


Tuuuut..tuuttttt..


Alvero memutuskan paksa telponnya setelah mendapati dimana keberadaan Raisa dan Ecca dirawat.


Sementara itu dikelasnya Alvero nampak panik dan tergopoh-gopoh.


"Ehh Al ada apa loe."


"Hehhh, Ecca masuk ICU."


"Lahh kok bisa."


"Gue mau kesana, bye." potong Alvero lalu meninggalkan para sahabatnya yang masih cengo.


"Beibbb cubit gue dong." celetuk Fierly.


"Auuuhhhhh. kok dicubit beneran sihhh, sakit." ringis Fierly.


"Lahhh kamu yang minta cubit kok jadi marah-marah."


"Gue gak salah denger kan." tanya Davina.


"Apaa." tanya Revan pada sang pacar.


"Ecca masuk ICU." jawab Davina polos.


"Ehiyaaa lohh." sahut Revin.


"Ehhh wooooy Al, gue ikut." lanjut Revin mengejar Alvero.


"Yank.. yang kamu kenapa." tanya Daffa yang melihat Fierly kaku dan melamun.


"Huaaaaaa, Ecccaaaaaa... ayo liat Ecca yaaank.." teriak Fierly sambil mengguncangkan tangan Daffa.


"Ehhh ehh cewek loe kesambet Daf." tanya Revan.


"Auuuukkk, histeris mulu dia kalau denger nama Ecca." jawab Daffa.


"Yukk kita susulin Al." ajak Davina.


Akhirnya mereka memutuskan untuk membolos berjamaah guna melihat keadaan Ecca.


"Udahhh yah jang nangis terus, nanti gak cantik lagi." ucap Daffa menenangkan Fierly.


"Gue kabarin Askala deh Daff." sela Revan.


"Telp sampek mampuss juga gak bakalan diangkat, tuhh bocah kalau udah kumat gitu gak bakalan tuhh buka HP." sahut Daffa.