Beautiful Destiny

Beautiful Destiny
Masih bahas Kemah



"Nahh makanya itu gue pengen tau penunggunya kek gimana."


"Hadehhh."


Lelah Askala mendengar obrolan unfaedah dari para sahabatnya, telinga nya segera dibungkam dengan headset.


Tanpa mereka sadari jika didalam ruangan OSIS jumlah anggota berkurang.


"Hehh, kok gue gak lihat si Al." celetuk Revin, sontak para sahabat Askala pun menyadari tak ada keberadaan Alvero.


"Hehh, paling nyusulin si Raisa." jawab Daffa, yang menduganya.


"Kemana lagi coba." sahut Revan, sedang Askala pun diam-diam juga ingin meninggalkan ruang OSIS namun tak bisa karena sebagai ketua OSIS dia masih ada jadwal rapat nanti siang mengingat kemah hanya menghitung hari.


Siang harinya mereka pun segera berbondong menuju rumah Ecca, benar sesuai dugaan Daffa kini mereka melihat Alvero yang sedang bermanja dengan Raisa sahabat dari Ecca.


"Assalamualaikum."


"Nuwun, Nona Aleesha Sepadaa."


"Masuk aja woyy Jang brisik." teriak Alvero mendengar kerusuhan dari sahabatnya.


"Taukk nih bocah mulutnya toa banget." celetuk Revan yang ditujukan pada adik kembarnya Revin.


Sementara itu Askala sudah menggeloyor saja masuk ke dalam rumah Ecca yang sudah ia anggap seperti rumah sendiri.


"Ca, gimana masih pusing." tanya Askala yang sudah berada di kamar Ecca melihat gadisnya tengah tertidur.


"Eummm, kak Aska kapan datang."


"Barusan kok." jawab Askala Ecca segera menegakkan badannya melihat jam dinding memang sudah siang menjelang sore hari yang itu artinya dia sudah tidur hampir 4 jam lamanya.


"Turun yuk teman kakak dibawah semua."


"aiyaahh."


Ecca dan Askala turun karena memang selain ingin segera melihat sang kekasih namun benar kata Revin jika mereka penasaran dengan penghuni tak kasat mata tempat mereka kemah nanti.


"Aduhh adek kak Revin, gimana udah mendingan." ucap revin, dan hanya dibalas senyuman oleh Ecca.


"gimana ceritanya Ca tadi." tanya Fierly penasaran.


"Ohh, si Cece gak kuat kak dampingi Ecca, karena Ecca udah mau pingsan makanya Rara telp kak Dion." jelas Ecca mereka mengangguk.


"Oiyaa Ca, sekalian kita tuh mau minta bantuan Loe." sela Davina.


"Apa kak."


"Eumm kita kan jadi kemah, tapi di bumi perkemahan kok bukan dihutan juga." jelas Davina, lalu Fierly menimpalinya.


"Iyaa Loe tau kan cowok Loe gak mungkin bawa Loe kemah dihutan secara hutan gudang nya para lelembut." lanjut Fierly, bukannya menjawab Ecca hanya diam.


"Maaf kak." jawab Ecca lirih, karena tak mengerti maksud Ecca membuat Fierly dan Davina bingung.


"Gini kak, Ecca kan sedang menstruasi jadi ilmu kebatinan nya lemah, dan kalau dipaksa justru yang kelihatan kabur gitu kurang jelas." sahut Nindy, dan mereka pung manggut-manggut.


"Coba deh kak mana foto lokasi biar Rara yang lihat auranya." sahut Rara.



"Ini."


"aura nya bersih kak nggak ada segi bahaya nya sih."


"Itu ada sosok perempuan." sela Ecca.


"Hahh beneran Ca."


"Ihhhh kok ada Kal."


"Mana kok gue gabisa lihat."


"Sama gue juga."


Sementara Ecca tak menjelaskan justru sahabat Askala yang heboh sendiri karena tak juga dapati sosok yang dimaksud Ecca.


"Gabisa kak yang bisa nerawang cuma Ecca, sedang kita-kita hanya bisa lihat dengan mata batin dilokasi."


"Iyaa kak kita ini gabisa kayak Ecca yang penglihatannya istimewa."


"Trus posisinya dimana Ca."


"Ehhm pas difoto dia sedang duduk dijembatan."


"Kalau difoto ini ada nggak."



"Dari sisi sini belum kelihatan apalagi pas Ecca lemah kak."


"Serem nggak ca tuh cewek."


"Nggak kok, baik kayaknya."



"Dia arwah penasaran kak, jadi cuma nongkrong gitu nggak lebih, nggak ganggu." jelas Ecca, sedari tadi Askala terus memperhatikan penjelasan dari Ecca namun belum juga komentar.


"Trus gimana Kal."


"Apaa."


"Yaa si Ecca ini maksudnya."


"Ohh kalau Ecca gak masalah kak, kalau kata Rara auranya baik, mungkin aman buat Ecca." potong Ecca, karena Askala pun sibuk dengan pemikiran nya.


"Huftt."


"Gimana kalau nunggu kak Dion aja, biar diterawang kak Dion apalagi ada kak Rendy jadi komplit dah penerawangan nya sejelas-jelasnya." sahut Nindy.


"Kemarin kenapa gak tanya Ecca dulu sih Kal." kelakar Revin, sontak Askala mendelik.


"Sialan, memang ulah siapa sampai gak ada waktu buat nyelidiki." sahut Askala, dan Revin pun hanya menyengir karena semuanya serba darurat akibat ulah Revin yang tak segera menyelesaikan proposal untuk diajukan ke kepala sekolah.


"Sudah Jang ribut."


Mau tak mau Askala pun menuruti saran Nindy dengan meminta pertolongan Dion agar menerawang lokasi kemah mereka.


"Kenapa nggak telpon aja sih, daripada nungguin kakak gini." ucap Dion pada Nindy ketika tahu kediamannya banyak tamu yaitu Askala dan para sahabatnya hanya untuk meminta penerawangannya.


"Iyaa gimana takut kak Dion sibuk juga." sahut Daffa, Dion memencet hidungnya pening.


"Ehh kenapa bang." tanya Revin melihat Dion yang gelisah setelah memejam matanya melihat penerawangan tempat kemah mereka.


"Sebenarnya aman, dan emang banyak sihh tapi ada satu yang suka ganggu."


"Hahh."


"Trus bang."


"Buat Ecca gimana bang." sela Askala.


"Ecca masih bisa ngatasin mereka asal mata portal Ecca disegel sementara biar mereka gak tau kalau Ecca bisa buka portal." jelas Dion akhirnya Askala merasa lega.


"Tapi ini yang resek takut ganggu Ecca."


"Makhluk apa kak tanya Nindy."


"Monyet jadi-jadian."


"Hahhh emang ada kayak gitu."


"Ada itu sekumpulan, disana banyak apalagi Deket sungai. Jauhkan tenda Ecca dari sungai Kal." titah Dion, Askala mengangguk apa yang dikatakan Kakak iparnya.


"Bentuk nya kek gimana bang setannya."


"Kayak monyet tapi dia gak real."


"Entar Loe bisa liat sendiri begok." celetuk Revan yang jengah dengan ulah Revin.


"Pesen kakak tenda Ecca Jang jauh-jauh dari tenda kamu Kal." titah Dion, Askala mengangguk paham, tak perlu diminta bahkan dia sudah mengakali seperti itu.