
Setelah menemukan Ecca dalam kondisi yang tidak baik Askala mendekap erat, dalam kondisi lemah seperti ini berbahaya untuk Ecca ditempat seperti Sekolah, Rumah sakit atau tempat-tempat yang banyak didapati mahkluk halus.
Bukan tanpa alasan, dengan kondisi Ecca yang lemah mereka yang tak kasat mata justru berebut mengambil jiwa Ecca.
"Kak, kayaknya Nindy gantiin baju Ecca aja dulu kak dimobil banyak baju Ecca." ucap Nindy pada Askala saat membawanya dari gudang belakang.
Askala hanya bisa menggangguk pada semua keputusan Anindya.
"Tolong semua pemilik permata mengelilingi mobil Ecca selagi kita mengganti baju Ecca." tambah Nindy.
"Emang kenapa Nin." tanya Davina.
"Nanti aku jelaskan dirumah kak, kita berburu waktu, gak baik untuk Ecca." jawab Nindy.
Askala meletakkan Ecca dengan penuh kelembutan, melihat tubuh Ecca semakin memucat membuat jantung Askala memacu dengan cepat.
"God please save her." ucap Askala lirih.
Rara dan Keke sudah menyiapkan baju ganti serta selimut untuk menghangatkan Ecca.
"Kak sudah." Ucap Nindy pada Askala, tak menunggu waktu lama Askala segera meraih tubuh kekasihnya dipeluk erat. Badan Ecca yang tadinya bergetar hebat karena menggigil kedinginan seketika tubuhnya melemah, tak bergetar lagi. Anindya dan yang lainnya menghela lega, Rara pun sudah tak merasakan kecemasan berlebih.
"Biar Nindy yang nyetir kak." ucap Nindy, Askala selalu menyetujui semua kata yang keluar dari mulut nindy.
Otaknya tak mampu berfikir lagi, dia hanya fokus untuk Ecca.
"Rara sama kakak aja." sahut Alvero lalu menarik tangan Rara, Nindy mengedipkan matanya dan Rara hanya pasrah.
Sebelumnya Nindy sudah mewanti pada Rara jika mungkin saja Alvero menaruh hati padanya, namun Raisa hanya menjawab jika ia tak ingin rasa berlebih.
Raisa tak ingin berekspektasi takut kala realitanya tidak seperti yang dibayangkan.
Intinya Raisa dan Ecca sama, sebelumnya Ecca juga tak berharap lebih pada Askala.
"Ke, tolong kabari kak Dion." ucap Nindy pada Keke.
Keke segera meraih ponselnya, menghubungi Dionel.
"Halo kak."
"Yaa Ke kenapa."
"Ehhmm, Ecca kak." ucap Keke terbata bingung bagaimana caranya mengatakan tentang Ecca.
"She's got attacked. Kondisinya buruk kak."
"Hahhh, okey kakak pulang, ada Askala kan please sampe kakak tiba jangan tinggal Ecca sendiri."
"Okeyy kak."
Tuuut..tuttt
"Perintah kak Dion, sampai kak Dion datang tolong kak Askala jangan ninggalin Ecca dulu." jelas Keke pada Askala.
Askala mendengkus bagaimana bisa dia melepaskan Ecca barang sejengkal. Ia bahkan tak mampu melihat Ecca dalam kondisi seperti ini.
"Maksudnya kalau misal kakak mau ke toilet tunda dulu." sahut Nindy menjelaskan maksud dari Dion.
"Kakak bahkan gak mau ninggalin dia semenit pun Nin." jawab Askala.
Hemmm okay Nindy paham dengan situasi hati Askala saat ini, tak mudah bagi Askala melihat Ecca lemah tak berdaya.
Setibanya di rumah Ecca, Askala membawa Ecca kedalam kamarnya, tubuhnya yang sudah tak bergetar menandakan tubuh Ecca sudah menghangat.
Setelah merebahkan badan Ecca di kasur Askala pun memasangkan selimut tebal padanya. Namun tiba-tiba badan Ecca bergetar hebat kembali, Askala dan Nindy panik.
"Nin gak mungkin kakak harus naik juga dikasur." ucap Askala sambil menggosokkan tangannya pada tangan Ecca menyalurkan kehangatan.
"Duhh, gimana yah kak, cuma sama kakak Ecca gak menggigil lagi." sahut Nindy.
"Nin." panggil seseorang.
Nindy dan Askala menoleh mendapati Dion memasuki kamar Ecca.
"Kaaaak."
"Ada ap... Kenapa bisa sampai begini." tanya Dion, namun setelah melihat Ecca pucat pasi membuatnya histeris.
Dion segera berhambur pada adik satu-satunya itu.
"Nanti Nindy jelasin kak, sekarang fokus Ecca dulu yuk." jawab Nindy, Dion tak menjawab Nindy tahu pasti Dion sangat kacau jika berhubungan dengan adiknya.
Dionel mendekap erat tubuh Ecca, menenggelamkan seluruh badan Ecca dalam selimut tebal.
Bahkan dia masih bisa merasakan badan mungil itu bergetar namun tak seperti saat dia datang.
Ecca hanya tenang saat didekap Askala, namun kini ada Dion yang sudah bersamanya.
"Kak Askala ganti baju dulu gihh, selagi kak Dion jagain Ecca." ucap Nindy.
Askala dan Nindy meninggalkan kamar Ecca menuju tempat dimana teman-teman nya berada.
"Nin, Rara ngerasain hawanya mulai panas Nin." celetuk Rara, seketika Nindy menoleh.
Akan ada banyak mahkluk yang menginginkan jiwa Ecca, itu tandanya kini mereka sedang berkumpul mendekat kerumah Ecca.
"Kak Davina sama kak Fierly bantuin Nindy bikin ramuan." ucap Nindy.
"Hahh, ramuan untuk apa Nin." tanya Fierly.
"Jadi gini kak, dengan kondisi Ecca yang lemah, akan banyak mahkluk halus yang berebut untuk menarik jiwa Ecca. Jika satu aja dari mereka berhasil masuk maka Ecca bisa tak akan kembali." jelas Nindy.
Jantung Askala seketika berdebumm.
"Hahhh, yaudah yuk kita harus cepet." jawab Fierly.
"Ke, tolong ambilkan daun Bidara dihalaman belakang trus ditumbuk, kak Fierly bikin jus bawang putih, kak Davina haluskan beras dengan biji merica dan garam dicampur. Rara jaga aja bilang kalau sosok terkuat datang kak Askala, dan pemilik permata segera membuat pagar gaib." jelas Nindy, lalu mereka semua segera melaksanakan tugasnya.
Askala dan keempat sahabatnya sudah diajari oleh Nindy cara membuat pagar gaib, jika kelimanya secara bersama maka pagar yang dibuat mereka akan menjadi perisai hampir sama seperti yang Ecca buat.
"Panggil Cece Ra, minta bantuan." ucap Keke saat ia akan berlalu menuju kebun belakang rumah Ecca. Dion sudah mempersiapkan segala hal untuk Ecca, sejak ia tahu Ecca mempunyai kemampuan lebih.
Dion menanami tumbuhan yang digunakan untuk tolak bala. Salah satunya pohon bidara, daun bidara ampuh mengusir mahkluk halus.
Karena tak banyak orang menanam pohon bidara, Dion berinisiatif untuk menyediakan alat perang untuk dunia gaib.
"Cece..." panggil Rara pada Cece, karena disekitar mereka ada Askala dan pemilik permata lainnya dengan susah payah Cece masuk kerumah Ecca. Satu-satunya cara agar Cece bisa masuk yaitu dengan masuk kedalam tubuh host.
"Ini, Cece." jawab Cece yang sudah masuk kedalam tubuh Rara, diam-diam Alvero memperhatikan Rara, tak ada yang tahu apa yang ada di otak Alvero sekarang.
"Nindy, didepan ada sosok tinggi besar bertaring, Miss K dan cukup banyak teh pocinya." jelas Cece.
"Hahhh, teh poci." ceplos Revin.
"Ahh astaga disini juga banyak mahkluk tampan." celetuk Rara yang dirasuki Cece.
"Hussh, kerja dulu Ce ya ampunn." sahut Nindy dari dapur yang mendengar Cece kecentilan pada kakak kelasnya.
"Kamuu mah pelit Nin,."
"Jadi teh poci Apaan." tanya Revan.
"Teh poci itu Pocong, ehh btw yang ini kok mukanya sama yahh jadi mau pilih yang mana." sahut Cece sambil menunjuk Revan dan Revin
"Hehh, gue bacain ayat kursi mau Ce." jawab Keke.
"Hahah hantunya lucu yahh, masih doyan sama cowok ganteng." ucap Fierly.
"Lahh iyaa lah, Cowok ganteng mahh obat Cece biar bisa semangat kerja, ehh buru Nin, tambah rame nihh Cece keluar dulu si Rara udah gak kuat." jelas Cece.
Wussshhhhh..
Cece pergi, Nindy segera berlari kearah Rara, namun ternyata ia mendapati Alvero yang sudah berlari menangkap tubuh Raisa yang hendak ambruk dan membawanya ke sofa.
"Gak kira-kira nihh si Cece kalau keluar." celetuk Nindy sebal.
"Ra, gak papa kan." lanjut Nindy.
"Rame banget Nin didepan."
"Lahhh loe liat dong Ra." tanya Keke, Rara mengangguk, dia masih belum sadar jika kini dia masih dalam pelukan Alvero.
"Hemmm, nyaman banget yahh." ceplos Revin, Rara yang tak paham pun bingung. Dia menoleh dan terkejut mendapatinya sedang duduk dalam pangkuan Alvero.
"Lhoo kak, kenapa Rara disini." tanya Rara, Alvero tak menjawab namun dia hanya tersenyum tipis.
"Dahh lahh tadi gara-gara si Cece tiba-tiba keluar, trus ditangkap kak Al pas mau jatuh." jawab Keke.
Rara bergeser, dia cukup malu mendapatinya dengan Alvero didepan teman-temannya.
"Pasti kerjaan Cece, Mintak dikasih pelajaran nih si Cece." gumam Rara, namun masih bisa didengar Alvero.
Nindy tengah sibuk meracik ramuan untuk membentengi rumah Ecca, dibantu Keke dan Rara, mereka menebarkan ramuan mengitari rumah Ecca.
Hampir 20 menit lamanya mereka menghabiskan ramuan untuk benteng gaib.
Sementara itu didalam kamar Ecca Dion merasakan ada yang aneh dari Ecca, tubuhnya dingin walau sudah tak sepucat tadi.
"Ada yang gak beres ini." gumam Dion lalu dia memejamkan mata berniat untuk membuka portal gaib.
Setelah masuk ke portal gaib Dion terkejut melihat tubuh Ecca tak bersinar pertanda tidak didapati jiwa Ecca dalam raganya.
"Shitt, kecolongan gue." monolog Dion.
Dion bermeditasi dan tak lupa dia meminta bantuan sang eyang mencari dimana jiwa Ecca berada. Karena jika dalam 30 menit dia tak menemukan keberadaan jiwa Ecca, maka jiwanya akan tersesat dan susah kembali.
Jika dalam 12 jam jiwa Ecca pergi maka Nyawanya terancam.
"Kembalilah, eyang akan mengerahkan pasukan untuk mencarinya."
"Baik eyang."
Dion berjalan kembali menuju raganya.
"Kak, kamu kemana aja dipanggil gak nyaut." tanya Nindy, Dion yang terkejut mendapati Nindy dihadapannya saat dia membuka mata pun menjelaskan.
"Panggil Askala dan yang lainnya."
"Ehh kenapa kak, Ecca udah gak menggigil." jawab Nindy.
"Justru itu ini tinggal raganya, jiwanya sedang traveling." sahut Dion.
"Bercandanya suka kelewatan yah."
"Aku gak bercanda Beibh, kakak barusan buka portal nyariin dia."
"Haaahhh apa kak,. Hemm pantesan aja rumah ini jadi rame." sahut Nindy, lalu dia segera berlari menuju kebawah.
Dugghh,,duggh.. Brakkkk