
"Jangan mendekat nduk." Ucap salah seorang ustad, Ecca tersenyum
"Ecca cuma pengen lihat pak ustad." jawab Ecca.
"Jangan nak dia bawa pasukan, mereka berbahaya sekali."
"Ecca tahu pak ustad. Ecca sudah lihat." sahut Ecca, lalu tak lama pak ustad pun menggumamkan bacaan tak lama memejam seperti membuka mata bathin.
"Subhanallah." ucap pak ustad lalu mencium kening Ecca, diusap ubun-ubun seperti kebiasaan Dion padanya.
"Jaga amanah yah nak, siapa yang membuat pelindungmu." tanya pak ustad lalu Ecca pun menunjukkan pada Askala yang tengah membantu teman-teman mengatasi korban yang lain.
Pak ustad mengangguk paham, lalu berpesan pada Ecca jika hindari sosok yang berbadan besar yang dibawa untuk pesugihan. Karena sosoknya yang paling kuat, dan senantiasa mengincar Ecca.
"Ecca bisa melawan mereka pak ustad." ucap Ecca, yakin dengan kemampuannya.
"Sepertinya kamu banyak pelengkap nak, bapak tenang." jawab pak ustad, Ecca mengangguk.
"Lalu gadis ini diapakan pak ustad tanya Nindy."
"Biar bapak yang atasi dan mengantarnya pulang, cukup berbahaya buat kalian."
Ecca dan ketiga sahabatnya mengangguk paham, seperginya pak ustad membawa gadis itu Ecca dan Nindy membantu mengatasi korban yang pingsan.
"Apa masih ada mahluk yang tertinggal Ca." tanya Keke.
Ecca tak menjawab namun dia memilih untuk melakukan meditasi.
"Ca." Askala menghampiri Ecca dan ketiga sahabatnya.
"Kenapa ini bocah." tanya Revin.
"Nin, tarik Keke, kak Aska buat shield shapire buat Keke." ucap Ecca dengan mata terpejam.
"Emang si Keysa." tanya Davina.
"Keliatan pucet sih."
"Siapa lagi Ca." tanya Nindy.
"Ra, cari korban yang auranya hitam pekat, cepet gak banyak waktu kita." teriak Ecca, Raisa pun berlarian menunjukkan murid dengan kriteria yang disebut Ecca.
Setelah mengidentifikasi Nindy dan kelima pemilik permata segera membuang energi negatif ditubuhnya.
Namun salah satu dari siswa itu terbangun, Ecca menyadari dirinya dalam posisi akan diserang menghentikan meditasi.
Seorang gadis nampak berlari hendak menyerang Ecca, Keke berteriak memanggil Nindy.
"Nindyyyy."
Nindy, Askala dan yang lain menoleh tercengang melihat Ecca akan diserang.
Ecca sigap mengelak dan menghentakkan gadis itu hingga terpental.
"Berani kau." gumam sosok yang berada ditubuh gadis itu.
"Lemahhh." jawab Ecca, dia melihat sosok perempuan berambut panjang, dengan wajah penuh sayatan.
"Miss K." gumam Nindy.
"Bahaya nggak Nin."
"Enggak kak aman." jawab Nindy.
"Jangan mendekat, kamu panas sekali." ucap sosok Miss K itu.
"Segini saja takut, berani menyerangku." jawab Ecca tak gentar.
"Keluar kamu dari tubuh itu." lanjut Ecca.
"Tidak bisaa, dia akan aku bawa untuk persembahanku."
"Tak ada nego, keluar atau kumusnahkan sekarang." ucap Ecca lantang, tangannya mengepal sambil merapal sesuatu.
"Tidak akan pernah."
Ecca berlari sekuat tenaga, dengan sekali hentakan mengusap dahi gadis yang dimasuki oleh sosok miss K itu.
"Hemm, bau gosong."
"Dibakar sama Ecca kak." jawab Nindy
"Astagga Ca, loe kalau bakar-bakar mahh wagyu atau beef gitu, bukannya bakar sethan." celetuk Revin.
"Loe kira Ecca juga mau gitu."
"Heehh, adik gue napa makanan mulu otaknya." sahut Revan.
Askala mendekap erat Ecca, meskipun dalam posisi tak jauh darinya dia masih merasa takut terjadi sesuatu pada Ecca.
Situasi terkendali, sementara kegiatan belajar diistirahatkan hingga kondisi beberapa murid itu stabil.
"Kira-kira si Keke tadi kenapa bisa kenak Ca." tanya Nindy, kini Ecca dkk berada di kantin.
"Keke banyak ngelamun Nin."
"Nggak juga kok Ca." jawab Keke.
"Iyaa tapi loe banyak melengnya." sahut Ecca.
"Whatever, everything is clear."
"Bergaya banget, tadi loe mau dibawa sama yang badan tinggi besar." jawab Ecca.
"Hhahhh seriusan Ca." tanya Anindya, Ecca pun mengangguk.
Tak lama Askala dkk pun bergabung bersama Ecca dan ketiga sahabatnya, dan Kesebelas ghost Busters berkumpul dalam 1 meja.
Selama menjadi siswa putih abu-abu, Ecca dkk belum pernah sekalipun nampak hang out bersama. Satu tempat di mall yang akan enggan mereka kunjungi adalah bioskop. Itulah alasan kenapa Dion membuat fasilitas mini bioskop dirumahnya. Yaitu jika Ecca bosan dia dan teman-temannya bisa menikmati nonton film dirumah.
Kebetulan sekali jika hari ini Askala dkk tak ada kegiatan rapat OSIS, jadilah mereka merencanakan akan hangout ke sebuah cafe.
"Nanti mau cafe yang mana." tanya Fierly.
"Mosaic ajaa, kadang ada live music." sahut Davina, sedangkan para cowok hanya memandang para gadis itu sedang diskusi.
"Ecca dan yang lain enggak ada usul nihh." tanya Fierly.
"Nin, Ecca kenapa." tanya Davina penasaran karena melihat Ecca sedang menatap dengan pandangan kosong.
"Lahh kagak kesambet kan nihh bocah." celetuk Revin.
"Aman kak."
"Dia sedang menscan tempat yang aman buat dia." jelas Anindya.
Askala yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya pun langsung menghadap Ecca.
"Stopp jangan kak." cegah Nindy kala melihat Askala hendak meraih tangan Ecca.
"Kenapa."
"Kalau kakak pegang Ecca percuma, enggak akan terlihat jika ditempat itu ada mahluk halusnya." jelas Nindy.
"Bisa gitu yahh."
"Ehh buset ngaruh ternyata."
Terdengar helaan nafas, Ecca telah kembali dari mediasi visual.
"Gimana Ca." tanya Fierly.
"Semua cafe terdekat dan terkenal banyak MH nya." jawab Ecca.
"MH apaan."
"Mahkluk halus." sela Keke.
"Ada yang pake penglaris juga, hemm ada satu yang mungkin aman buat kita, terutama aku." ucap Ecca menjeda.
"Cafe mana."
"Stars."
"Okey berangkat." jawab Askala singkat.