Beautiful Destiny

Beautiful Destiny
New Bie



Hai para readers minthor terluvv..


Happy reading yahh Jangan lupa pencet tombol lopenya.


Stay Reading from the ghost busters


\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=


Hari ini Ecca berangkat sekolah seorang diri, Askala ada kegiatan OSIS sedangkan Nindy dan yang lain tak menginap dirumahnya.


Sembari bersenandung mendengar music yang diputar dimobilnya, yang tengah berhenti karena traffic light.


Shreeettt set.


Ecca melihat sekelebat bayangan, cepat bahkan tak terlihat sama sekali. Ecca pun tak mengambil pusing, segera ia melajukan kendaraannya yang sudah berjarak dekat dengan sekolahnya.


"Gila banget ngeri tabrakannya."


"Bangettt bisa gak nafsu makan gue."


"Hee,emb mana meninggal seketika."


"Korbannya cewek gue denger-denger."


"Hahhh seriuss."


"iyaa masih muda pulak."


Tak sengaja Ecca mendengar obrolan murid lain yang baru saja masuk parkiran. Sedikit Ecca mendapat siluet visual nya yang muncul dari beberapa siswa itu.


Ecca masih tetap berdiri tak jauh dari mobilnya guna mengambil visual dari obrolan yang dia tangkap tadi. Hingga dia pun tak menyadari jika sedari tadi Nindy dan yang lain memandang Ecca dalam tanya.


Tak banyak yang Ecca dapat mencari visual korban yang dimaksud.


"Apa yang tadi sekelebat itu yahh." gumam Ecca.


"Caaaa." kompak Nindy dan yang lain berteriak.


Ecca menoleh mendapati ketiga sahabatnya sudah mendekat kearahnya.


"Kenapa bengong disini." tanya Nindy.


"Ahh enggak kenapa kok."


"Yukk masuk mau bel." ajak Rara, mereka pun bergegas melaju.


Sesampainya dikelas sudah banyak temannya yang datang, nampak beberapa nya sedang ngobrol.


Selama dua jam pelajaran tanpa halangan mereka pun usai, bel istirahat pun telah berdering. Ecca dan para sahabatnya sudah menuju ke kantin. Sekeluarnya Ecca dari kelas matanya menangkap sosok yang asing dimatanya.


Karena saking penasarannya dia mendekati sosok yang sedang duduk seperti sedang mengamati kedua tangannya. Ecca tak mungkin menunjukkan dirinya yang seorang indigo pada sosok itu.


Ecca pun memilih untuk diam- diam mengamati sosok itu. Seorang wanita muda dengan penampilan penuh koyak dibeberapa bagian tubuhnya. Dengan darah yang nampak masih segar dikepalanya sudah Ecca yakini dia korban kecelakaan.


Ecca berjalan sedikit pelan sembari meliat visual dari sosok didepannya itu. Karena Ecca yang semakin melambat jalannya membuat Keke terpaksa menggeretnya, itupun Ecca diam saja tak bereaksi.


Setelah masuk kedalam kantin dan mendapat tempat duduk, bergegas mereka memesan makanan.


"Ca loe mau apa." tanya Keke.


"Samain." jawab Ecca cepat, tanpa memandang Keke. Nindy merasa curiga pada Ecca.


"Ra, loe temanin Keke yah." ucap Nindy sambil mengkode Ecca yang sedang tak baik.


Raisa mengangguk dan mengikuti Keke memesan makanan. Sedangkan Askala yang baru saja keluar dari kelasnya melihat kelas Ecca yang sudah nampak tak ada sosok gadis yang dicari pun melanjutkan menuju kantin.


"Haduhh, gimana nih pasti telat. Sekali-kali ngebut deh." ucap gadis dalam visual Ecca. Dalam perjalanannya mengendarai motor dengan kecepatan cukup tinggi karena seperti sedang mengejar waktu kerjanya. Namun tak disadari gadis itu jalanan didepan sedikit merambat, dan ada mobil didepannya mulai memelankan kecepatan.


Karena kecepatan yang cukup tinggi cewek itu tak mampu menguasai motornya yang menghindari mobil didepan nya.


Akhirnya motor oleng bahkan tak sempat menghindar bersenggolan dengan body belakang mobil didepannya tadi. Motor terseret dengan tubuh gadis itu yang masih dibawah motor.


"Ahhhhh tidakkkk, tolooong." ucap gadis itu disela dia terseret kendaraannya, lalu braaaaakkkkk. Motornya terhenti setelah menabrak pembatas jalan dekat lajur sebelah.


Helmnya terlepas sebelum membentur pembatas, membuat kepalanya bertatapan langsung dengan beton pembatas. Darahnya mengalir deras meskipun kepala korban tak sampai remuk.


"Aaaahhhhhkkkk." teriak Ecca, membuat Nindy disebelahnya yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Ecca seketika terkejut.


"Caa, astaga. Kenapa loe."


Kondisi Kantin yang padat membuat Ecca menjadi sorotan karena tiba-tiba berteriak kencang. Keringat bercucuran didahinya, dan nafas cepat membuat Nindy semakin panik.


Askala dan para sahabatnya pun sudah dikantin ketika Ecca yang berteriak histeris.


"Nin, hikss.. gu - gu gue lihat visual, hu hu hu hu." ucap Ecca yang mulai terisak.


"Syuutt, udah tenang dulu." jawab Nindy sambil memeluk menenangkan nya.


"Bentar gue carikan minum, duhh si Keke mana sih lama banget." lanjut Nindy.


Ecca dan Nindy pun menoleh mendengar suara yang dikenalinya, Ecca mengusap kasat sudut air matanya.


"Kenapa heummm." tanya Askala, Ecca menggeleng pelan masih belum mau berbicara.


Nindy menyodorkan minuman kepadanya, dirasa Ecca sedikit tenang Nindy dan yang lainnya pun lega. Askala pun masih belum melepas genggaman tangannya.


"Boyy pesen dulu keburu gak sisa entar." sela Fierly.


"Yoi." jawab Revin lalu menggeret sang kembaran.


"Kenapa, pasti ngelihat yang jelek-jelek yah." tanya Askala hati-hati, Ecca pun mengangguk dan menggeleng.


"Lahhh gimana tuhh maksudnya." celetuk Daffa membuat yang lain tergelak.


"Makanan datang." teriak Keke.


"Ckk pasti gak nafsu ini." sahut Nindy.


"Lahh kenapa." tanya Keke sembari meletakkan makanan, Rara pun ikut penasaran dengan sahutan dari Nindy, setelahnya dia duduk disebelah Alvero yang sudah menantinya.


"Gelagatnya ada yang aneh yahh." tanya Rara, Keke masih memandang sahabatnya itu sambil menyeruput minumannya.


"Belum mau cerita dia."


"Yuhuuu, baksonya sampek, sesuai aplikasi." potong Revin.


"Kakak habis nge go food dimana pake aplikasi." tanya Keke santai.


"Yeee kagak, kan pesenan anak-anak bukan berarti gue gocek juga." jawab Revin.


"Ohhh." sahut Keke sambil menyuap makanan di mulutnya.


"Maem yukk." ucap Askala sambil menyodorkan makanan dekat bibir Ecca. Ecca pun menerima suapan dari Askala.


"Betewe tadi loe kenapa Ca." tanya Revin.


Buggghhh.. Daffa pun segera meninju lengan sahabatnya itu.


"Sakit anjirrr."


"Loee begok."


"Lahh napa."


"Tellmii."


"Revin P.A." celetuk Revan.


"Gue p.a loe juga dong."


"Enak ajaa."


"Loe abang gue, kita sekantung dirahim emak kalau loe lupa."


"Tsk, punya adek begok gini."


"Lahh serius gue kenapa gue ditabok." tanya Revin merasa tak bersalah.


"Loe udah kenal Ecca berapa lama sih." tanya Davina.


"Belom lama."


"harusnya loe tau kalau Ecca moody dalam hal apa." cecar Fierly.


"Yee paling urusan sethan. Tumben biasanya si Keke cari tahu." celetuk Revin sambil menyenggol Keke.


"Masih makan kak Elahh."


"Lahh kagak biasanya loe."


"Gue kenapa emang."


"Twukang kwepho." jawab Revin sambil mengunyah makanan.


"Jorok Vin, telan dulu."


"Hemmmmbbb."


"Takut visualnya burruk kak, mending makan dulu." jawab Keke. Mereka pun melanjutkan makannya tanpa ada yang bersuara.


"Ke, loe gak mau lihat tuh." kode Nindy, Keke pun menggeleng dengan cepat. Seolah dia tahu apa yang dilihat Ecca.


"Emang apaa sihh Ca."


"Iyaa Ca, kasih tau kita dong."


Sreeeeettttt.