
Askala menggeser kursi Ecca mendekat kesebelahnya. Bahkan Ecca sedikit berjengit.
"Newbie." jawab Ecca singkat.
"Hahhh."
"Apaaan newbie."
"Iyee gak tau kita."
"Diem dulu begok."
"Hemmmb, newbie itu istilah sosok yang baru meninggal kak." jelas Nindy.
"Hahh, serius."
"Truss kapan dan kenapa meninggalnya Ca, serem gak sosoknya." cecar Keke.
"Loe kalau senapsaran lihat ndiri, jang banyak tanya." sela Nindy.
"Lahh kamu teriak tadi ada adegan apanya Ca." tanya Revin.
"Loe kira film, pake adegan segala."
"Yaa enggak, kan Ecca sempat lihat tuhh. Sapa tau adaaaa." ucapan Revin terpotong kala melihat sahabatnya Askala melotot padanya, tahu apa yang dipikirkan Revin.
"Gak jelas loe Vin sumpah."
"Gak guna banget punya Adek."
"Dia korban kecelakaan tadi pagi, dan aku lihat kejadian persis dia kecelakaan hingga meninggal." jawab Ecca lirih.
"Trus maksud loe menggeleng dan mengangguk tadi apaan." sela Daffa membuat Ecca tersenyum.
"Visual jeleknya tuhh pas kejadian kecelakaannya, penampilan sosoknya enggak jelek hanya menandakan saat dia meninggal tadi hanya penuh luka dan darah." jelas Ecca, mereka pun mengangguk paham.
"Sekarang masih ada orangnya." tanya Keke.
"Yeee, udah bukan orang keles." potong Revin.
"Ahiyaaa. Heheheh."
"Ada masih berkeliaran, kayaknya dia masih belum percaya kalau udah meninggal." jawab Ecca.
"Kenapa bisa gitu." tanya Askala.
"Heeemb, dari gesturnya. Dia masih kayak syok melihat tubuhnya invisible." jawab Ecca.
"Hahhh, masak Ca. Astaga." sahut Davina sambil menutup mulutnya tak percaya.
"Ya udahh jangan dipikirin lagi." ucap Askala sambil meraih kepala Ecca dibenamkan dalam pelukannya.
"Iyaa Ca, udah takdirnya."
Ecca mengangguk dia pun tahu, ada batasannya dalam menjalani hidupnya. Menjalani sesuai dengan takdir dan garis hidup yang Tuhan tentukan.
Setelah menceritakan tentang sosok yang baru saja mengganggu pemandangannya karena sedang meratapi kepergian nya, kini Ecca dan yang lain masih bercengkerama.
Askala memastikan jika Ecca kembali nyaman tanpa ada beban pikiran, terutama pada sosok yang baru saja meninggal tadi.
"Sebenernya gak tega juga sih." celetuk Keke, sontak membuat semua menoleh kearahnya.
"Apa loe kata."
"Yaudah gihh gantiin."
"Lahhh kan udah takdirnya dia, gimana sihh."
"Maksud loe apa."
"Yaa bukan gitu juga, kalau menurut gue sih embaknya itu kek ada beban pikiran gitu, yang mungkin dia masih belum percaya kepergian nya." jelas Keke.
"Iyaa juga sih."
"Tumbenan encer." ceplos Revin sambil menyentil dahi Keke.
"Ishh kak." keluh Keke sambil mengusap dahinya.
Sedangkan Ecca pun setuju dengan Pemikiran Keke, namun dia belum bisa berbuat banyak.
"Mintol si Cece aja Ca." sahut Nindy, dan Ecca pun mengangguk setuju.
"Ceee.." panggil Ecca dalam hati tak lama Ecca berdiri menjauh dari Askala karena Cece tak akan bisa mendekat.
"Akuu tau Ca, ini tugas Cece. Sana belajar yang pinter." usir Cece ketika Ecca hendak meminta bantuan, seketika Ecca manyun lalu kembali pada Askala dan sahabatnya.
"Kenapa tuh bibir maju."
"manyunn aja neng."
"Kenapa." tanya Askala pada Ecca.
"Dikerjain Cece keknya. Wkwkwk."
"Bener Ca."
"Tskkk, belum juga ngomong udah diusir. Emang dasar, kalau udah tau napa harus pake dipanggil dulu sihh. Gak asik banget Cece." jawab Ecca.
"Astagaaa ngambek sama sethan loe Ca."
"Mang dasar si Cece, bikin anak orang badmood. Awas aja sampek gak dapet info."
Dan ketika mereka pulang sekolah setuju untuk berkumpul dirumah Ecca, untuk memecahkan masalah sang Newbie. Ada apa denganya dan kenapa dia seolah meratapi kematiannya.
"Ayookk pada mam dulu, sambil nunggu Cece pulang." ajak Nindy.
"Taukk anak gadis ngayap lama banget." celetuk Keke.
"Emang loe tau di Cece masih gadis." tanya Davina.
"Ehhh Hahhh."
"Iyaa ni loe Ke, dia sethan bukan anak." sahut Revin.
"Ishhh kamu nih kak. Cece tuh meninggoy nya usia 16 tahun." jawab Keke.
"Hahhh benerann."
"Astagaa kasihann."
"Jang pada kasihan sama aku." sela Cece yang sudah masuk ke tubuh Raisa. Alvero menyadari jika Rara berbeda pun terkejut dengan Rara yang mendadak bersuara centil.
"Gue kasih ayat pemusnah loe Ce, bikin jantungan orang." sungut Nindy.
"Taukk, datang tuh salam kek, apa kek."
"Tsskk, banyak aturan biasanya gue langsung nggeloyor.. ini mah kagak bisa. Salah siapa tuh." jawab Raisa yang dirasuki Cece.
"Iyeee gadis bulee." jawab Keke, membuat Cece tersenyum manis.
"Panggil Ecca sama Askala gihh. Keburu ngambek nihh bule." lanjut Keke, belum Nindy bergerak nampak Ecca dan Askala datang dari arah dapur.
"Kak, pada maem dulu gihh." ucap Ecca.
"Loohh, Cece dah sampek, kok gak ngabarin sihh." lanjut Ecca menyadari kedatangan Cece.
"Taukk, mana gak telpon dulu kesihan nihh Rara." sahut Keke.
"Bentar nihh Rara udah gak kuat, Nin gantiin yahh." potong Ecca, Nindy mengangguk.
Setelah Cece berpindah ke badan Nindy, benar saja Rara langsung lemas, beruntung Alvero segera menangkapnya dan segera menyalurkan energi positif pada Raisa.
"Ca, gue langsung aja yahh."
"Lebih bagusnya gitu Ce, kasihan Nindy juga mana kak Dion masih diluar kota." jawab Ecca.
"Gadis itu namanya Reina, dia sebatang kara tinggal bersama neneknya dikampung. Dia mencari nafkah disini untuk melanjutkan hidupnya bersama sang nenek. Ehhhm dia gak banyak cerita, yang jelas dia hanya bingung gimana neneknya tanpa dia. Selebihnya dia sudah pasrah dengan takdirnya."
"Dia dimana sekarang."
"Trus apa yang bisa kita bantu."
"Gimana Ca."
"Ehhhm, Ce loe balik deh kasih visual ke Nindy yahh. Serahkan sama Ecca, tolong jaga dia dulu ok, temenin." ucap Ecca.
"Siappp bos."
"Nin." panggil Ecca dan Keke.
"Yess."
Ecca pun segera mencari visual dengan memandang mata Nindy.
"Kak please jangan sentuh Ecca." Kelakar Ecca ketika Askala hendak menyentuh nya.
"Emang kenapa."
"Bisa hilang konsentrasi nya Kal." sahut Daffa.
"Bukan gitu juga konsepnya kak, Ecca takut visual Ecca tertutup kalau bersentuhan dengan kakak." jelas Keke, sedangkan Ecca dan Nindy sedang melakukan mediasi.
"Kenapa Ke." tanya Askala.
"Kakak auranya kuat menutup mediasi visual Ecca. Ehmm jelasnya ntar sama yayang kakak aja takut Keke salah." jawab Keke.
"Caaa." panggil Raisa khawatir dengan Ecca yang mendadak sendu, sontak membuat semua memandang Ecca.
"Hikkkss."
"Kenapa Ca."
"Ca, you okey."
"Caaa."
"Kaaakk, a-aa yok kita bantu kak Reina yahh." ucap Ecca terbata.
"Ada apa Ca." tanya Nindy, lalu menoleh kearah Keke yang sudah memegang tangan Ecca.
"Sudah biar Keke yang cerita." potong Keke, dan semua pun mengangguk.
"Jadi Ecca tembus ke visual masa depan kak Reina. Dann..."
"Apaaa."
"Trusss."
"Loe Ke, napa diem."
"Huaaaaaaaaaaa." teriak Keke menangis histeris.