
Hai para readers minthor terluvv..
Happy reading yahh Jangan lupa pencet tombol lopenya.
Stay Reading from the ghost busters
\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=
"Hehh, mulutnya kagak pernah disekolahin napa, Ecca sakit asal loe tau."
"Hahhhh kok bisaaa."
"Dieeem kenapa brisikkkk mulu." potong Nindy dan mereka pun melanjutkan menuju ruangan Ecca.
Setelah dekat dengan ruangan Ecca dapat Nindy dan Keke rasakan sekitar 2 meter sebelumnya terasa hawa panas, namun semakin mendekat hawanya berubah seketika, terlihat ruangan Ecca berselubung perisai dan dijaga oleh puluhan pasukan eyang.
"Ce makasih yah, udah ditemenin." ucap Nindy.
"Ahhhsiappp bosskuhh." Jawab Cece lalu pergi melayang, Nindy dan Keke pun masuk keruangan rawat Ecca.
*
Keesokan harinya, Keke dan Nindy tidak masuk sekolah karena harus menjaga Ecca, hari ini Dion ada meeting dengan klien yang mengharuskannya untuk ke kantor.
Sementara Raisa demam, ini terjadi karena dia terlalu banyak menangis.
Ditempat lain dimana Alvero, Daffa dan yang lainnya minus Askala sedang berada didalam kelas.
"Gimana Ecca Al." tanya Daffa.
"Belum ada perubahan."
"Temen loe udah ada kabarnya." tanya Revin, Alevero dan Daffa pun hanya mendengkus.
Tak lama Askala datang dengan kondisi yang sangat kacau.
Braaakkk.. Dughhh..
Askala membanting tasnya, setelahnya dia duduk seolah tak menggubris para sahabatnya.
"Kemana aja loe Kal." tanya Fierly yang mulai jengah dengan sikap Askala dan dengan beraninya dia membuka heatset ditelinganya.
"Apaan sih loe Fier." bentak Askala.
"Bangshaaat.. Bisa-bisanya loe Kal." sungut Daffa tak terima namun dicegah Alvero.
"Hehhh, loe tau nggak kita cariin loe."
"Gak perlu repot." sahut Askala santai.
"Hahh, apa loe bilang." teriak Davina.
Braakkk... Davina menggebrak meja Askala lalu bersendekap dadah.
"Loe tau nggak kabar Ecca." lanjut Davina.
"Nggak tau dan gak peduli gue."
"Ohhh, bahkan sekaligus Ecca masuk ICU pun loe gak peduli. HEBAAT." ucap Davina penuh penekanan.
"Apaaa, kenapa bisa masuk ICU." tanya Askala mulai merespon.
"Gak usah sok peduli." potong Alvero, sontak membuat Askala emosi.
"Begook."
"Kalau loe peduli seenggaknya lo datang pas Ecca dirumah sakit Anjenng." ucap Daffa sarkas.
"Kita udah chat bahkan telpon puluhan kali asal loe tau."
"Gue gedor pintu apartemen loe, juga kagak loe gubris." sahut Revin.
"Kenapa gak loe hancurin aja sih pintunya Vin, biar bisa liat nie bocah siyaaan." celetuk Fierly.
Askala yang merasa dihakimi oleh para sahabatnya pun menggeram kesal.
"Brengsekkk, Hahhhh." teriak Askala frustasi.
"Kalau loe masih peduli sama Ecca samperin Kal, masalah yang kemarin-kemarin murni kesalah pahaman. Ada waktunya nanti akan kita jelasin." ucap Revan menenangkan sahabatnya itu.
Tanpa berkata sepatah katapun Askala beranjak dari kursinya.
"Dirumah sakit mana dia sekarang." tanya Askala, Revan pun menjawabnya setelahnya Askala menuju kerumah sakit dimana Ecca dirawat.
Sementara itu dirumah sakit, dokter sedang visite dan memeriksa kondisi Ecca. Nindy keluar dari ruang rawat Ecca gun menebus obat sekaligus membeli makan ringan menyisakan Keke.
Setibanya dirumah sakit dan langsung menuju keruang perawatan Ecca, Askala yang tak sabar ingin segera melihat Ecca pun berlari dan mengetuk pintu ruangan.
Keke yang melihat keberadaan Askala didepan pintu ruangan itu pun sejenak membeku.
"Kak Askalaaa. Ehhm ma masuk kak." ucap Keke, Askala pun membelah Keke tak sabaran.
Melihat Ecca tertidur dengan bantuan oksigen dan beberapa selang terpasang dibadannya membuat hati Askala terasa dikoyak.
Satu bulir airmata menetes, Askala pun segera menghampiri dimana gadisnya itu tengah memejam.
"Cccaa, kakak sudah datang." ucap Askala sambil menggenggam tangan Ecca, Keke yang melihatnya pun matanya mulai berkabut.
"Maafin kakak yahh, kamu jangan bobo lama-lama." lanjut Askala, berikutnya suara pintu ruangan menginterupsi, Nindy datang membawa beberapa kresek makanan dan obat-obatan yang ditebus
Sadar dengan kedatangan Askala, Nindy merasa lega, akhirnya bisa melihat Askala peduli dengan sahabatnya.
*
*
*
Tuhan tak pernah Janji langit selalu biru, mungkin itulah yang sekarang Askala rasakan. Meskipun dia berjanji akan selalu menjaga Ecca nyatanya, tak semudah janji yang dia ucap. Meskipun sebelumnya dia bisa membawa kembali Ecca kedunianya, tidak dengan saat ini.
Matanya masih memejam, seolah enggan melihat indahnya dunia.
Tiga hari Ecca terhitung berada di ruangan laknat ini, belum ada perubahan yang berarti.
"Kakak makan dulu, sini gantian sama Nindy." ucap Nindy kepada Askala yang masih duduk menatap Ecca.
"Nanti Nin."
"Kak please, Ecca seperti ini karena dia lalai dengan tubuhnya. Ecca terlalu stres dan mengindahkan makan. Kalau sekiranya nanti Ecca bangun, tapi giliran kakak yang tumbang gimana." jelas Nindy, sejenak Askala menoleh padanya.
"Baiklah." akhirnya Askala menurunkan kadar kebebalannya.
Selama dirumah sakit tak sedikit gangguan yang mereka dapatkan, Dion memerintahkan Keke untuk pulang setelah mendapati Askala ditempat ini.
Dalam diam Askala menikmati makan didalam ruangan Ecca, matanya tak luput dari brankar Ecca sedikitpun.