Beautiful Destiny

Beautiful Destiny
Marahnya Dion



Bahkan kedatangan pasukan eyang membuat suasana jadi temaran. Salah satu pasukan membantu Ecca melepaskan dari jerat siluman itu dan yang lainnya menyerang pasukannya. Dalam sekejap pasukan eyang berhasil melenyapkan para siluman ular.


"Ca, tangannya diobatin dulu." ucap Nindy membuat Ecca tersadar jika tangannya berbekas belitan.


"Lahh kaki mu kok biru-biru gitu Ca." tanya Davina.


"Itu serangan pertama kak." jawab Keke.


"Kenapa kalian gak ada yang tau bakal ada serangan, biasanya kan ada warning." tanya Revin.


"Biasanya yang bisa merasakan kedatangan hawa jahat Raisa kak, tapi dia kan sedang halangan dia akan berkurang tenaganya." jelas Nindy


Tak lama terlihat Daffa dan Askala kembali membawa pesanan. Kedatangan Askala membuat mereka senyap bingung hendak berkata apa, yang jelas jika dia tahu Ecca ada serangan dia akan merasa menyesal sempat meninggalkan Ecca.


"Lahh kenapa pada diem bae." celetuk Daffa, Askala melirik satu persatu dari mereka terakhir dilihatnya intens Ecca.


"Makan dulu yank." sahut Fierly mengalihkan pembicaraan.


"Ada kejadian apa yang gue gak tau." tanya Askala pada para sahabatnya, dia menyorot tajam ke arah Fierly dan Davina. Bertanya pada Ecca seolah tak mungkin pasti dia akan memilih diam.


Fierly tak menjawab namun mengarahkan dagunya pada kaki Ecca, Askala mengikuti arah yang ditunjukan.


Askala menghela nafas meletakkan makanan lalu berdiri dan menarik tangan Ecca.


"Ikut kakak Ca." Ecca hanya pasrah dibawa Askala.


"Kenapa diam aja nggak bilang kakak." tanya Askala sambil menuju UKS.


"Luka ringan kak bisa kakak sembuhin kok." jawab Ecca, Askala pun menoleh mencerna ucapan Ecca, detik berikutnya dia paham jika ini luka karena makhluk halus.


"Padahal baru ditinggal sebentar aja udah gini." gumam Askala.


"So, gak perlu ke UKS kan." celetuk Ecca.


"Iyaa, nanti pulang kakak anter yah." jawab Askala, Ecca pun mengangguk.


Banyak pasang mata melihat kebersamaan Askala dan Ecca apalagi nampak Askala menggandeng erat tangan sang gadis.


"Kak Askala pacaran sama Ecca."


"Lho itu kok anak kelas satu sama Askala."


"Paling pake pelet tuh cewek."


"Ihh kenapa harus dia yang sama Askala sih."


Bisikan itu membuat Ecca tak nyaman, Askala pun menyadari perubahan pada Ecca yang ingin melepaskan tangan Askala.


"Gak usah dengerin." ucap Askala lalu mengeratkan tangannya.


"Hemmmb." gumam Ecca.


Askala mengantar Ecca ke kelasnya, Ecca tau Askala bahkan tak sempat memakan makanannya.


Sepulang sekolah Ecca bersama Askala sedangkan mobilnya dibawa Nindy.


"Besok berangkat sama kakak aja Ca."


"Kak Aska nggak rapat." tanya Ecca.


"Enggak."


"Hembb baiklah."


Saat berhenti di lampu merah sekelebat Ecca melihat sosok yang dikenalinya.


Ecca terdiam, cukup terkejut dan sedikit syok. Tak lama mobil Askala memasuki kompleks rumah Ecca, menyadari keterdiaman Ecca, Askala hanya menoleh melihat dia seperti memikirkan sesuatu.


Sesampainya di rumah Ecca, nampak mobil Ecca dan para sahabatnya sudah berbaris.


Saat masuk kerumah Ecca, Askala mencari keberadaan Nindy karena dia curiga dengan Ecca.


"Sini biar kakak obatin dulu." Ucap Askala lalu mendudukan Ecca di sofa lalu memberikan energi nya. Dengan sekali sentuh kebiruan pada kaki dan tangan Ecca berangsur pudar.


"Ca, sejak kapan sampai." sapa Nindy.


"Nin, pada kemana semua." tanya Askala.


"Dikamar kak pada ngedrakor."


"Rara udah baikan kan." tanya Ecca


"Lagi rebahan kok, nanti katanya kak Al kesini sama yang lain." jawab Nindy.


"Coba Nin interogasi temannya, kakak yakin Ecca lagi main rahasiaan sama kakak." ucap Askala.


"Ada apa, kamu nggak mau gue telponin kak Dion kan, ahh ini tugas Keke." sahut Nindy lalu memanggil Keke.


Kini Keke dan Rara sudah bergabung setelah Nindy mengobrak abrik kamar Ecca dan mematikan laptop. Para sahabat Askala pun sudah datang dan langsung sibuk dengan Hapenya masing- masing.


"Ini sih kalau Keke bilang harus bilang kak Dion." jawab Keke setelah melihat masa lalu Ecca.


"Ada apa emangnya coba sambil gue VC." sahut Nindy dan menghubungkan pada Dion.


Ecca menoleh berharap Askala mencegahnya.


"Kakak yakin ini berat Ca, kakak gak tau ada apa kalau Ecca nggak pernah mau jujur sama kakak." jawab Askala lalu memejamkan matanya.


"Kenapa Nin, Lhoo kok rame." tanya Dion menyelidik.


"Kak Ecca didatengin Arwah om Rudi dengan bentuk terakhir meninggalnya." potong Keke, nampak Dion terkejut lalu tak lama dia berespon.


"Kakak pulang Nin, tolong Askala pepet terus Ecca jangan ditinggal." jawab Dion mematikan sambungan sepihak.


"Lahhh berarti gawat dong, sampek kak Dion aja balik." celetuk Revin.


"Coba aja Rara pas gak berhalangan udah bisa bantu Ecca." sahut Rara sendu.


"Gak apa-apa kan masih ada yang lain." jawab Ecca.


Lalu Keke pun bercerita apa saja yang dia lihat, bahkan Fierly dan Davina bergidik ngeri memeluk pacar masing- masing yang sedang sibuk dengan gamenya.


Askala pun mengelus pucuk kepala Ecca mengetahui jika hari ini gadis cantiknya itu penuh dengan serangan.


Tak berselang lama Dion datang dan segera menginterogasi sang adik.


"Om Rudi tau jika Ecca punya keistimewaan, jadi dia berniat mengambil itu semua dari Ecca dengan me..." ujar Dion terpotong, Nindy menyadari jika Dion tak sanggup melanjutkan perkataannya.


"Kenapa harus dengan melenyapkan Ecca kak, sebenarnya apa sih yang membuat dia sangat jahat." potong Askala.


"Ada dendam pribadi dengan papi, dan entahlah kakak gak paham juga." jawab Dion.


"Dia harus dilenyapkan kak." sahut Nindy, Dion menoleh dan tersenyum mendengar celetukan dari Nindy.


"Itu lah yang sekarang ingin kakak diskusikan dengan kalian, Kakak mohon sama Askala untuk selalu berada bersama Ecca, sambil kakak mencari solusi." jelas Dion.


"Sekalian aja dinikahin kak mereka, biar 24 jam non stop samaan terus." celetuk Revin, karena merasa malu dengan ceplas ceplosnya sang adik kembar Revan pun spontan melempar bantal ke muka adiknya itu.


"Kalo ngomong sembarangan." sembur Revan.


"Ahhw.. ihh kan bener biar mereka.. Awchhh sakit bang." ucap Revin terpotong karena dicubit Revan, Dion pun merasa terhibur dengan keberadaan si kembar itu.


"Kita lenyapkan dulu si berengsek Rudi, baru kita cari keberadaan anak tante Riska." jawab Dion.


"Trus gimana rencananya kak." tanya Daffa, lalu Dion menjelaskan rencana sementaranya. Dia butuh Rendy namun kini Rendy sedang banyak urusan akhirnya dia mencoba untuk melibatkan Askala dan keempat pemilik permata juga atas saran Rendy.


Mengingat nyawa adiknya terancam Dion tak akan menunggu lama lagi, dan segera bertindak.


Askala terus menghela nafas panjang, bagaimana tidak rencana Dion cukup beresiko pada Ecca.


Namun memang tak ada solusi lagi jika tak di pancing maka arwah Rudi tak akan keluar.


"Saat kita mulai rencana kita Askala mau nggak mau harus menjauh dari Ecca agar arwahnya bisa masuk perangkap. Begitupun dengan permata lainnya." lanjut Dion, dan mereka pun mengangguk paham.


"Pesan buat Ecca jangan memulai sebelum ada instruksi." potong Nindy, karena dia sangat tahu kelakuan Ecca, bertindak diluar rencana.


Askala pun terus mewanti- wanti Ecca agar gadis itu menurut. Tak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan.