
"Emang beneran gak ada disana Ca." tanya Daffa, pada cafe yang disarankan Ecca.
"Ehhhm ada sihh kak tapi sosoknya ini baik, dan bukan penjaga hanya kebetulan disitu sejak belum ada cafe itu." jawab Ecca.
"Sosoknya apa." tanya Nindy.
"Lihat aja sendiri nanti, tapi jangan mencolok yahh. Karena sekitar situ padat." jawab Ecca.
"Kalau padat kenapa pilih disitu." potong Askala.
"Karena ini sosok paling baik kak." jawab Ecca, Askala tak bergeming dia hanya diam memandang sang gadis.
Jika Ecca sudha memutuskan maka Askala tak akan mendebatnya. Karena akibatnya juga akan fatal untuk Ecca meskipun pergi bersamanya.
"Jam 6 dilokasi yah." ucap Fierly.
"Enggak perlu booking kan." tanya Davina.
"Amannya booked dulu deh." sahut Revan, lalu dia mengambil ponselnya untuk melakukan reservasi tempat.
Setelah mendapat tempat, sepulang sekolah mereka langsung pulang kerumah masing-masing. Bedanya hanya Askala dan Nindy yang memilih rumah Ecca untuk mengistirahatkan diri.
Tak lupa Ecca izin kepada sang kakak untuk pergi bersama Nindy dan Askala pun dengan lokasinya sudah pasti Dion ketahui.
"Nanti kalau kak Dion pulang awal bisa nyamperin kita Ca." uca Nindy yang sedang berbalas pesan padanya.
"Iyaa. Biar ramai."
"Ini enggak ada yang mau dibeli Ca." tanya Askala.
"Nggak kak langsung pulang aja."
Askala tancap gas menuju rumah Ecca, sesampainya di traffic lamp, mobil berhenti karena lampu nyala merah.
Ecca merasakan gejolak dalam tubuhnya, atau biasanya yang dikatakan adanya perbedaan dimensi.
Ecca mengarahkan tangan diudara untuk menetralkan debaran didada dengan menghilangkan aura negatif. Nindy hanya memperhatikan Ecca sedari tadi termasuk Askala.
"Ya Alloh." teriak Ecca.
"Kenapa Ca." tanya Nindy panik.
"Ini habis kecelakaan, korbannya masih pada disini." ucap Ecca, sontak membuat Nindy dan Askala membola.
"Enggak ada kejadian Ca." potong Askala, Ecca terkejut sepertinya dia sedang terbawa ke timing saat kejadian.
"Kayak barusan kak. Tapi kenapa Ecca dibawa pas kejadian. Ohh astagaaa." Ucap Ecca lalu kembali histeris. Karena lampu sudah menyala hijau, Askala melajukan mobilnya. Sekaligus mengalihkan agar Ecca tak terbawa situasi ditempat ini.
"Emang kenapa Ca." tanya Nindy.
"Hemm, korban hanya bilang minta didoakan agar bisa tenang. Udah aku rapal juga, ada tiga korban meninggal satu tertinggal disini karena ada organ tak lengkap." jelas Ecca.
"Organ Apa." tanya Nindy sedangkan Askala hanya mendengar keduanya.
"Lengan kanannya, tapi udah gak bisa disatukan juga." jawab Ecca.
"Kenapa." sahut Askala.
"Udah rusak kak terlindas banyak kendaraan." jawab Ecca.
"Yasudah yang penting udah nemu jalan kan sekarang." ucap Nindy, dan Ecca pun mengangguk. Setelah mendoakan sosok itu, semoga perbedaan dimensi ditempat tadi tak menyolok.
Sesampainya di pekarangan rumah Ecca, sebelum turun dari mobil milik Askala, Ecca mengendarkan pandangan sekelilingnya. Takut kalau sosok tadi mengikutinya. Nihil. Setelah dirasa aman Ecca turun.
Semoga saja arwah yang didoakan Ecca telah tenang disana. Sebelum masuk rumah Ecca melihat Cece di balkon kamar dan melambai kearahnya.
"Tumben banget bocah nakal main kesini." guman Ecca.
"Siapa."
"Cece kak, tuh diatas."
"Lahh tumben."
"Nggak tau, coba Nin tanya. Gue mau ke mbok dulu minta siapin maksi." ucap Ecca lalu mencari keberadaan art paruh baya yang sudah bertahun-tahun bersamanya.
"Okayy."
"Kakak rebahan dulu gihh, jangan kemana-mana." ucap Ecca.
"Kenapa."
"Entar si Cece kebakar kak." jawab Ecca, Askala pun manggut-manggut.
Setelah menginterogasi Cece sekaligus berganti pakaian, Ecca dan Nindy turun untuk maksi bersama. Setibanya dibawah Ecca melihat Askala tengah tertidur namun sudah mengganti baju seragam dengan kaos.
"Kapan gantinya dah ni orang." gumam Ecca.
"Kita makan aja dulu, kasihan kalau dibangunin." ucap Nindy, Ecca pun mengangguk.
Belum lama Ecca menikmati makan siangnya, ponsel Askala berdering cukup nyaring membuat sang empunya terbangun.
"Gihh samperin ajak makan sekalian." ucap Nindy, Ecca berdiri sambil membawa piring makannya.
"Iyaa." ucap Askala lalu menutup panggilan.
"Ini aja berdua." jawab Askala sambil menunjuk piring Ecca, dengan sigap Ecca menyuapinya.
"Siapa yang telp." tanya Ecca.
"Alvero."
"Kenapa." tanya Ecca sambil menyendokkan makanan kemulut Askala.
"Datang telat, nganterin mamanya dulu bentar." jawab Askala.
Ketiganya pun bersantai hingga sore menjelang. Setelah bersiap mereka bertiga berangkat menuju tempat yang telah disepakati.
Kakak kelas Ecca pun nampak sudah ada yang datang, mereka menemukan mobil salah satunya terparkir rapi.
"Keke berangkat sama Rara kan Nin." tanya Ecca.
"Gak tau gue."
Dari parkiran Ecca sudah menemukan sosok yang ia lihat dalam mediasi tadi. Perempuan berbaju kebaya lama lengkap dengan sanggul. Tak lupa roncean melati menjuntai khas adat jawa.
Semakin dekat pintu masuk Ecca mencium semerbak bau melati, tak lama sosok itu menghilang karena keberadaan Askala disisi Ecca.
"Loe lihat Nin."
"Gak buka gue."
Sedangkan Askala diam-diam telah membuka mata batinnya dan menemukan sosok penunggu lingkungan sini. Askala menarik pinggang Ecca agar tetap berjalan, karena tengah mengobrol dengan Nindy.
"Maaf telat." ucap Ecca kepada Fierly dan yang lainnya.
"Gak papa kita baru sampe juga." jawab Fierly.
"Ca, aman kan." tanya Daffa.
"Udah pada ketemu sama sosok nya."
"Enggak niat nyari gue."
"Al telp katanya agak telat." potong Askala, dan diangguki oleh para sahabatnya.
"Auranya adem kok." celetuk Nindy.
"Kalau nggak enak, kak Dion bakalan ngelarang kita kesini." sahut Ecca.
"Yukk pesan aja sekalian sama buat yang lain entar." sela Daffa.
Mereka pun melanjutkan dengan mengobrol tentang banyak hal.
"Ca, gue penasaran kalok di mosaic ada apanya." tanya Davina.
Ecca memejamkan mata, beberapa saat lalu nampak sedikit mual.
"Kenapa Ca." tanya Nindy, sedangkan Askala lebih memilih menyodorkan minumannya.
"Pusing."
"Kal, kenapa ni bocah." celetuk Revin panik, melihat Ecca tiba-tiba pucat dan mau muntah.
"Burukk ini."
Askala dengan sigap menghadapkan Ecca padanya untuk mengheal Ecca, Nindy pun segera menarik Aura negatif dalam Ecca.
"Udahh." tanya Askala.
"Enakan kak."
"Berat banget yah Ca." tanya Fierly.
"Jadi cafe it-tu, diserang orang iseng. Kayaknya kalah saing. Trus." ucapan Ecca terpotong kala melihat waitress datang membawa pesanan.
"Banyaaak banget kirimannya, sampai bangkai berceceran, tiap sudut dijaga poci." lanjut Ecca sambil bergidik karena banyaknya kiriman ilmu hitam.
"Gilaaakk."
"Pantesan sekarang sepi."
"Kira-kira siapa yang jahatin."
"Entahlahh kak, kayaknya enggak satu orang. Jadi kirimannya macem-macem." jawab Ecca.
"Sudahh yahh entar Ecca nya nggak nafsu makan lohh." potong Revan.
"Tumbenan loe bang." sahut Revin.
"Gilakk aja dari cerita gue udah bayangin anjir." jawab Revan.
"Kasihaan yah."
"Hemmb."
Tak lama Alvero datang bersama Raisa dan Keke. Setelah bergabung mereka bergegas menikmati makan malam bersama. Sedangkan Dionel tak jadi datang karena pukul delapan malam dia baru saja meninggalkan kantor. Ecca dan Askala meninggalkan cafe sebelum jam delapan malam. Sesuai perintah Dion agar mereka tak pulang terlalu larut.