Beautiful Destiny

Beautiful Destiny
Masih Bersamanya



Sedangkan dua sahabat Ecca masih sibuk dengan urusannya masing-.masing.


"Ini kakak gak laper, Rara haus ke kantin Yuk." ucap Raisa, Alvero pun bergegas beranjak dari pangkuan Rara.


"Yuk Ke, jangan berduaan entar adaaa." ucap Rara terpotong sengaja menggoda Keke.


Lalu Rara keluar menghindari amukan singa betina Keisha.


"Iseng banget yah." celetuk Alvero pada Rara yang masih terbahak.


"Habisnya si Keke gitu, sedih gak kelar-kelar." jawab Rara, mereka berdua bergerak menuju kantin.


"Si Keke kemana kok gak ngikutin juga." tanya Nindy pada Rara.


"Hemmm, masih meweks." sahut Rara lalu mengisyaratkan pada Ecca yang masih termenung.


"Biarin nanti urusan kakak." potong Askala melihat sahabat Ecca saling mengkode.


Akhirnya mereka pun melanjutkan makan, Askala yang melihat Ecca nampak tak nafsu hanya mengaduk - aduk makanan meraih piring Ecca.


"Buka mulut aak." ucap Askala, Ecca menoleh mendapati dia sedang jadi sorotan para teman- teman Askala dia pun seketika tersadar.


Ecca menerima suapan dari Askala lalu meraih sendoknya dan melanjutkan makannya.


Triiiing... Suara ponsel berdering..


Ecca meletakkan sendoknya.


Kak YoneL calling....


"Hallo."


"Om Rudiyal meninggal Ca."


"Ecca sudah tahu."


Namun belum ada sahutan dari kakaknya Nindy sudah meraih hapenya.


"Nanti Nindy jelaskan yah sayank Bye."


Potong Nindy, jika tak diputus sepihak mood Ecca akan semakin burruk.


"Yukk makan lagi biar diurus sama kak Yonel mu itu." ucap Nindy pada Ecca.


Melihat Ecca semakin down Nindy pun tak tahan, Dia berdiri lalu memegang ubun- ubun Ecca, membaca doa penenang jiwa ditarik kebawah hingga tulang ekornya seketika Ecca lunglai dan ditangkap Nindy.


"Ra, bantuin."


"Ehh biar kakak Nin." potong Askala.


"Sebentar kak ini masih menenangkan jiwa Ecca." jawab Nindy.


"Healing kah, emang Ecca habis kenapa." tanya Fierly penasaran.


"Kan tadi meditasi, trus hasilnya mungkin buruk jadi dia gitu yank." jawab Daffa sementara Askala dan kedua sahabat Ecca tak menggubris mereka, kini ketiganya tengah fokus dengan Ecca yang terpejam.


Tak lama kedua mata Ecca terbuka, tanpa ada raut kesedihan.


"Ini hanya bertahan beberapa jam, jika efeknya hilang maka bisa jadi Ecca akan histeris Nin." gumam Rara.


"Kita butuh kak Dion, tapi kayaknya dia masih sibuk sama urusan om nya."


"Kita ajak jalan aja biar mengalihkan suasana hatinya." celetuk Askala, Nindy dan Rara menoleh.


"Kita kalau membuang energi negatif suka jalan jauh kak." jawab Nindy.


"Ikut dong kalau jalan -jalan." sahut Davina.


"Aku juga mau." potong Fierly membuat kedua pacarnya menghela nafas.


"Loe urus pacar loe masing- masing." ucap Askala pada sahabatnya itu.


"Ca, You okay." tanya Nindy.


"Hemmmb."


"Trus kenapa diam." tanya Rara.


"Ecca ngantuk mau bobok." jawab Ecca.


"Gawaat." ceplos Nindy


"Kenapa Nin." tanya Askala tak paham.


"Ini pertanda Ecca akan terbawa ke Portal mediasi tadi kak, kalau kayak gini dia bisa lama sadarnya." jelas Nindy.


"Hahhh gimana dong." celetuk Davina.


"Lahh tuh Keke." sahut Davina.


"Cuma Keke yang bisa lihat Ecca sekarang kenapa." jawab Nindy.


"Keke lihat Ecca kenapa." ujar Nindy, Keke yang melihat Ecca dengan pandangan kosong meraih tangan Ecca.


"Gilaa aja baru tenang jangan sampe dikasih lihat visual jelek." celetuk Revin.


"Hahh gimana - gimana." tanya Daffa.


"Gila penglihatan Ecca bikin syok anak orang. Ya masak dia lihat langsung dimana Om nya di eksekusi para iblis tanpa ampun." jelas Revin.


"Hahh, serius loe." tanya Daffa.


"Katanya awalnya itu om nya Ecca ditusuk trisula, trus habis itu perutnya dikoyak sama pasukan iblis, gimana gak sawan tuh dua anak gadis." lanjut Revin.


" Ihh, gue geli dengernya." ceplos Revan.


"Pantesan Ecca sampai gak nafsu makan jadinya." celetuk Fierly.


"Sejahat - jahatnya itu si Om, tapi kan masih ada kerabat sama Ecca." sahut Devina.


"Sebelumnya dia lihat kematian tantenya juga dimasa lalu." potong Askala.


"Nahh itu gue belum denger ceritanya, kan cuma elo sama Ecca yang tau." sahut Daffa, akhirnya Askala pun menceritakan moment saat dimasa lampau bersama Ecca.


Selesai menceritakan semua sahabat Askala hanya bisa menggelengkan kepala.


"Berat nak beban mu." ceplos Revin sambil meraih kepala Ecca hendak mengusap nya.


"Tangannya jangan kelewatan." ucap Askala.


"Astaga Kal, belum kenak juga, dah cemburu ." sahut Revin.


"Emang Ecca sapa elo Kal kok loe yang sewot." goda Daffa.


Pertanyaan dari Daffa membuat Askala seolah kicep, tak mampu menjawab. Alvero yang melihat raut muka Askala seolah ingin menertawakan namun ditahannya, bahaya kalau Askala murka.


Meditasi ketiga sahabat Ecca telah berakhir, membawa kembali jiwa Ecca yang sempat tersesat.


Dan kini Askala tengah mengantarkan Ecca dan Anindya pulang. Meskipun masih sedikit pucat, Namun Ecca sudah bisa berinteraksi.


"Kak pinjam mobil dong, Nindy mau pulang dulu ambil pakaian." ucap Nindy.


Askala pun memberikan kunci mobilnya pada Nindy. Sedangkan Askala akan menjaga Ecca selama ditinggal Nindy. Rumah Ecca seolah menjadi rumah kedua bagi Nindy dan Askala sekarang. Walaupun hubungan Askala dan Ecca belum jelas namun Askala seolah sudah nyaman dengan rumah Ecca.


"Nihh kak minumnya, sebentar lagi maem yah, mbok masih masak." kata Ecca sehabis dari dapur.


"Hemmm." jawab Askala bergumam.


"Nindy kemana kok sepi." tanya Ecca.


"Pulang ambil baju katanya." jawab Askala.


"Sudah yahh, jangan nekat menjelajah lagi. Ikhlas kan saja semua sudah takdirnya." ucap Askala.


"Iyaa kak." jawab Ecca.


"Begitupun juga dengan Kita." lanjut Askala.


"Kita kenapa." tanya Ecca grogi.


"Takdir kita untuk bersama." jawab Askala sambil tersenyum, baru kali ini Ecca melihatnya membuat dia terpesona sepersekian menit.


"Hemmmb, semua hanya ramalan kak, kakak jangan anggap serius." ujar Ecca.


"Kakak anggap serius Ca, karena kakak juga serius sayang Ecca." jelas Askala, sambil memainkan rambut Ecca yang menutupi matanya.


"Sejak kapan kakak sayang Ecca." tanya Ecca.


"Entahh, emangnya Ecca gak sayang sama kakak." tanya Askala.


"Hemmmb gimana yahh, sempat sayang sihh tapi karena kak Aska pernah nyuekin Ecca jadi sebel." jawab Ecca.


"Kapan." Askala bertanya lalu berfikir keras,.


"Ohh yang waktu kamu walk out itu. Hahahha, itu kan gara- gara kamu bikin kakak cemburu jadi bete deh." jelas Askala sambil mengacak rambut Ecca.


"Owwwhh lagi cemburu tohh." sahut Ecca lalu menertawakan Askala.


"Soooo, Aleesha Queenara mau kan jadi takdir dan jodoh kakak." tanya Askala lirih.


"Tentu saja mau, siapa yang menolak takdir." jawab Ecca lalu memeluk Askala.


"Tetap disisi kakak selalu yah, jangan bandel, jangan bahayain diri sendiri ." ucap Askala, dan Ecca pun mengangguk.