
Hai para readers minthor terluvv..
Happy reading yahh Jangan lupa pencet tombol lopenya.
Mana nihh komenannya ditunggu terus yah sama Author.
Gimana nih seneng nggak sama part yang kemarin, part panjang lagi mau...???
Stay Reading from the ghost busters
\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=
Perasaan Askala gundah dia takut terjadi sesuatu pada Ecca, namun juga bingung jika tak diselesaikan masalah ini akan berlarut.
Dengan segala keyakinan dari sahabat bahkan Ecca sendiri pun yakin jika dia akan baik- baik saja.
"Ingat jika lihat Ecca sudah lemah Askala sigap yah." ucap Dion.
"Cuusss Kal, bawa langsung KUA.." ceplos Revin, Askala pun sontak melontot.
"Becandanya juga jangan depan abangnya keless." sahut Daffa sambil menoyor kepala Revin.
"Suka kelewatan emang anak kambing nihh." jawab Revan.
"Ohh jadi loe juga abangnya kambing dong, hahha." balas Revin.
"Dahhh lahh fokus yahh." potong Dion pada perbincangan remaja yang terus ngoceh sedari tadi.
"Pantau dari jauh aja, Ecca juga akan sering membuka mata bathin jadi walaupun yang dipancing adalah arwah Rudiyal tapi gak menutup kemungkinan penunggu sekitar pasti mengincarnya.
Terdengar hela nafas Askala, dia hanya bisa menerima ide dari calon kakak iparnya itu.
"Gue pinjem Ecca dong kak bentar." ucap Askala, Dion mengangguk dia pun paham dengan kegelisahan Askala.
"Nin kasih Rara perisai." ucap Dion.
Nindy pun melaksanakan perintah Dion karena memang kondisi Rara sedang berhalangan bisa menarik mahkluk tak kasat mata.
Kini Ecca sedang bersama Askala ditaman belakang rumah Ecca.
"Bener- bener jaga dan ingat apa yang kakak bilang Ca, jangan nekat ingat jangan nekat." ucap Askala sambil mengelus lembut pipi Ecca.
"Kak Aska udah berapa kali ngomong kayak gitu, iyaa Ecca selalu ingat kakak." jawab Ecca.
"Ingat apa."
"Ingat kakak lah, semua yang dibilang dan selalu ingat wajah tampan takdirku." ujar Ecca, senyum Askala pun terbit mendengar Ecca menyebutnya sebagai takdir Ecca.
Entah darimana keberanian Ecca, dia sudah merengkuh tubuh Askala memeluknya erat berniat memberikan ketenangan padanya.
"Apapun yang terjadi jangan bertindak sendiri, masih ada kakak disini. Kakak yang akan selalu menjadi pelindungmu sampai kapan pun." ucap Askala, lalu mengecup puncak kepala Ecca.
Ecca pun mendongak melihat pujaan hatinya itu dari dekat.
"Iyaa kak."
Sedangkan diluar mereka yang tengah melihat Askala mendekap erat Ecca, sebegitu takutnya terjadi sesuatu pada Ecca dengan strategi yang akan dilaksanakan nanti.
Keesokan harinya..
Ecca berangkat sendiri sesuai rencana yang dibuat oleh kakaknya. Sebenarnya Askala berada tak jauh dari mobil yang Ecca tumpangi.
Setibanya di parkiran sekolah, Askala melambat karena dia ingin menjaga jarak dari Ecca, sesuai dugaannya memang banyak penghuni sekolah yang mendekat karena kini Askala tengah membuka mata bathinnya.
Perintah Dion jika salah satu dari mereka sudah melihat Arwah Rudi tugas Askala adalah segera memberitahukan kepada team terutama Dion.
Semua team sudah stand by menggunakan earphone agar mudah dalam komunikasi.
"Aman Kal." tanya Dion yang tersambung dalam ponsel Askala.
"Aman kak, cuma penghuni sekolah yang mengincar." jawab Askala.
"Tenang aja kalau mereka masih bisa Ecca atasi." ucap Dion.
Kondisi terkini aman sampai Ecca memasuki kelasnya. Ecca sempat melapor jika dia risih karena begitu banyak mahkluk yang datang.
Askala menahan dirinya untuk tak mendekat ke arah Ecca, terasa sulit baginya.
"Semoga segera selesai." bathin Askala terus dalam hatinya.
Jam istirahat tiba, Ecca pamit pada Nindy ke toilet sebentar lalu dia akan menyusul ke kantin.
Saat berada di toilet, Ecca merasa kalungnya terasa panas. Dia bergegas keluar dari bilik toilet dan segera menyambungkan telpon ke sang kakak.
"Bagaimana tidurmu sudah nyenyak."
Deg... Ecca mencari sumber suara, belum bisa dia temukan.
"Siapa kamu." sahut Ecca, tak lama sosok itu menampakkan dirinya tak jauh dari posisi Ecca dengan tubuh penuh sayatan dan perut yang terburai membuat Ecca mual.
"Setelah ini kamu tak akan bisa tidur nyenyak, aku akan mengambil semua milikmu."
"Akhhhhhh, kakak." teriak Ecca saat tersambung dengan Dion otomatis semua team pun dapat mendengarnya.
"Nin dimana Ecca sekarang." tanya Askala dalam sambungan satu team, dia dan keempat sahabatnya sudah beranjak begitu mendengar teriakan Ecca.
"Tadi ijin toilet kak, ini Nindy meluncur sama Keke." jawab Nindy.
Sementara itu di toilet arwah Rudi melayangkan semua benda ke arah Ecca, pelipis Ecca dan lengannya nampak tergores benda tajam.
"Ca, keluar dari toilet." ucap Dion.
Ecca berdoa dan saat merasa kakinya sudah bisa dikontrol diberlari sekuat tenaga mencari pertolongan. Banyak para murid melihat Ecca dengan kondisi terluka.
"KAMU TAK AKAN BISA BERLARI DARIKU KETURUNAN HASTO."
"Askala tahan, jangan mendekat." cegah Dion,
"kakak sudah dekat dengan sekolah kalian." lanjutnya, Dia bersama Rendy sudah menyiapkan semuanya.
"Nin.." ucap Ecca saat melihat keberadaan Nindy.
Namun gagal saat sudah dekat Ecca merasa badannya tiba-tiba terpental, lalu terbentur tembok sekolah cukup kuat.
"Allohu ak-barr."
brakkk..
"Eccaaaa.." teriak Nindy dan Keke bersamaan, melihat Ecca terkapar tak sadarkan diri.
Nindy mendekat segera membuat pagar gaib dan perisai sementara karena perisai Nindy tak cukup kuat.
"Kak, cepat Ecca tak sadarkan diri, tenaga iblis itu kuat sekali." ucap Nindy.
"Kakak sudah mengira Nin karena mungkin dia punya ilmu hitam, kakak sudah diparkiran." jawab Dion dengan sekuat tenaga dia berlari menujunya.
Nampak Askala dan keempat pemilik permata sudah tak jauh, Dion memberi isyarat agar mereka tak mendekat.
"Hentikan..Kau dasar iblis." teriak Dion lantang.
"Dendamku pada keluarga mu yang membuat ku terlahir menjadi seorang iblis." ucap Rudi.
"Grauuuummm." eyang datang.
"Memang keturunan Budiman tak tau diuntung, kalian sendiri yang berkhianat dan berdusta kalian juga yang dendam. Akan kumusnahkah keturunan Budiman sampai akarnya." ucap Eyang.
"Kalian lah yang berdusta." ucap Rudi.
"Cukup hanya karena sakit hatimu kamu membunuh keturunanmu, itu yang akan aku lakukan dengan melenyapkan keturunan keluargamu juga."
Saat hendak menghilang Dion dan Rendi sigap bertindak dengan menangkap arwah Rudi tanpa susah payah karena bantuan eyangnya dan memasukan kedalam kendi yang sudah disiapkan Rendy.
"Kamu harus merasakan tersiksa baru akan ku lenyapkan." Ucap Dion yang sudah membawa roh Rudi didalam kendi dan ditutup dengan kain putih bertuliskan bacaan ayat suci agar dia tak bisa terlepas dari dalam kendi.
"Lepaskan aku kumohon aku tak akan melawan."
"Diam kamu Iblis pendusta." teriak Dion tersungut.
"Bawa Ecca pulang segera, dia harus mendapatkan pertolongan." ucap Rendy, Askala pun membawa Ecca kedalam mobilnya.
Sudah tiga jam Ecca tertidur belum ada tanda akan sadar lukanya pun sudah diobati oleh Nindy. Kini Askala masih setia menggenggam erat tangan mungil itu.
"Kak makan dulu, biar Nindy yang temenin Ecca." ucap Nindy saat menghampiri Askala.
"Enggak sebelum Ecca sadar Nindy." jawab Askala tanpa mengalihkan pandangan pada wajah yang nampak pucat.
"Sudah mencoba membangunkannya." sahut Nindy, karena Askala adalah ibarat penarik jiwa Ecca kala tersesat.
Askala pun tersadar, dia sama sekali belum mengajak Ecca kembali.
"Ca, bangun ini kakak kembalilah." bisik Askala, Ecca masih tak merespon Askala menoleh kearah Nindy.
"Sepertinya memang dia sedang tertidur kak, kalau tersesat dia pasti sudah kembali." jawab Nindy lalu meninggalkan mereka berdua.
"Sayang bangun lah kakak kangen." ucap Askala lalu mengecup kening Ecca, sambil menggenggam tangannya.
"Pa-dahal baru berapa jam ga-k kete-mu kok kang-en." sahut Ecca lirih, Askala menyadari Ecca bersuara pun menegakkan tubuhnya dan mendapati wajah cantik itu membuka matanya.
"Mana yang sakit." tanya Askala sambil mengusap kepala Ecca, Ecca pun menggeleng.
"Anterin ke kakak." ucap Ecca, Askala pun segera menggendong nya dan membawa turun dimana keberadaan Dion sekarang.