
Sesampainya mereka dirumah Askala dan para sahabatnya bahkan tak sabar dengan cerita dari Ecca.
"Aduhh Jang kentara banget lah." celetuk Davina menasehati Daffa dan yang lainnya takut Ecca merasa tak nyaman.
"Hehh, iyaa nih kalian."
"Habisnya udah gak sabar banget cerita nya kek gimana."
"Hiiii, tunggu gue mau makan dulu ogeb." sahut Fierly.
"Lohh kenapa."
"Gilak banget gue entar enek." jawab Fierly lalu menuju dapur dimana Ecca dan Nindy berada.
Akhirnya mereka pun memilih untuk makan siang terlebih dahulu sebelum mengupas tuntas Maslah teman seangkatan mereka itu.
Beberapa saat kemudian kini mereka tengah duduk melingkar saling berhadapan dimana moment ini sangat ditunggu oleh kakak kelas Ecca.
"Jadi tadi siapa saja yang lihat."
"Semuanya Ca."
"Apalagi pas kalian bilang si Sonya bawa perewangan."
"Duhh mana keinget lagi sosok nya."
"Iyuuuuhh."
"Gimana mau lanjut gak." sela Daffa mendengar keributan kedua gadis itu, sedang Ecca, Nindy dan kedua sahabat lainnya masih memandang kedua Kakak kelasnya itu.
"Hahhhh baiklah kak, ehhm Ecca mulai." jawab Ecca menghela nafas sebentar.
"Maaf kak Sonya adalah umpan tumbal. Maksudnya dia sudah ditumbalkan untuk pesugihan." jelas Ecca namun raut muka sang kakak kelas masih pada kebingungan.
"Kedua orang tuanya menjalani ritual pesugihan, dan kak Sonya sudah dijadikan tumbal terakhir jika ortunya sudah tak ada penjamin korban tumbalnya."
"Jadi dia masih korban selanjutnya gitu." tanya Davina Ecca pun mengangguk namun kemudian matanya memejam.
"Tapi..." ucap Ecca kemudian terpotong.
"Sepertinya Ecca sedang meyakinkan sesuatu kak." Sahut Nindy, Askala tetap memantau Ecca dalam diam. Askala harus berjauhan dengan Ecca agar Ecca leluasa bermeditasi.
"apa itu."
"Tunggu kak."
"Maaf."
"Hahhh, kenapa Loe minta maaf Ca." sahut Fierly, bahkan kini keringat di dahi Ecca sudah mulai bercucuran.
"Ecca udah lihat masa depan seperti nya kak." sela Nindy, dan Ecca pun mengangguk.
"Kak Sonya sudah menjadi korban terakhir. Dan makhluk yang nampak tadi bukan kah sudah jelas jika kini dia sudah mulai menggerogoti jiwanya."
"Hahhh, ma-maksud kamuu dengan cara diji.... Ihhhh." ucap Fierly namun tak mampu ia lanjutkan.
...Sosok disamping Sonya...
"Lantas apa tidak ada cara untuk menyelamatkan dia." sela Davina.
"Maksud Loe apa Vin." potong Askala tak terima, dan dia sudah tau arah pikiran Davina.
"Yaa enggak mungkin aja Ecca bisa nyelametin Sonya."
"Dengan merelakan dia buat celaka gitu." kelakar Askala, auranya menjadi mencekam Askala sangat emosi mendengar temannya justru ingin menjerumuskan Ecca kedalam bahaya.
"Bukan gitu Kal mungkin aja..."
"Nggak ada mungkin-mungkin, Loe tau penderitaan Ecca kemarin-kemarin kan." sungut Askala.
"Kakkk." panggil Ecca pada Askala karena emosinya bisa meledak saat ini.
"Maaf kak Vina, itu semua sudah perjanjian dari orang tuanya kak Sonya. Masalah membantunya bukan kapasitas Ecca kak, karena apa. Penumbalan akan berhenti jika host nya selesai, jadi meskipun Ecca bantu gak akan merubah perjanjian itu. Yang intinya kalau mau menyelamatkan kak Sonya maka harus ada gantinya sekarang, esok dan seterusnya." jelas Ecca, Nindy sebenarnya juga berang dengan Kakak kelasnya itu namun dia, Keke dan Rara masih bisa menahan dengan saling menggenggam tangannya masing-masing.
"Jika Ecca ingin menghentikan perjanjian itu, Ecca harus menyiapkan korban lain atau bahkan bisa saja mereka meminta Ecca yang jadi korban." lanjut Ecca, namun dari penjelasan nya sampai kesini Davina masih belum merespon.
Ecca curiga dengan Davina, seperti bukan Davina biasanya.
"Astaga."
"Ehhh kenapa ca."
"Ca, ada apa."
Sementara Ecca dan Nindy saling membantu membersihkan sihir dalam tubuh Davina, Keke cekatan menangkap tangan Davina melihat kejadian sebelumnya.
"Ya Tuhan."
"Kenapa ke."
"Ada apa sih bingung gue." ucap Revan plonga-plongo.
"Nohh cewek Loe kesurupan." kelakar Revin membuat sang kakak tak terima karena Davina dari tadi baik-baik saja.
"Kak Aska sama yang lain bantu bikin perisai." titah Ecca, Davina sudah terkulai lemas.
"Ca, jangan ikut campur." ucap Rara yang sedang dirasuki oleh Cece, Ecca pun mengangguk setelah menyadari kedatangan Cece.
"Sangat berbahaya kalau Loe terjun." lanjut Cece.
"Iyaaa boskuhhh." sela Nindy.
Setelah pembersihan Ecca segera memanjatkan lantunan doa pada Davina yang sedang ditopang oleh Fierly.
"Davina kenapa Ca."
"Hemmm, kak Davina kena sihir hasutan kak."
"Siapa."
"Yahh perewangan kak Sonya supaya Ecca kenak juga." jawab Ecca tegas, Askala pun sudah menduganya.
"Gue udah curiga pas dia nya nyolot." ucap revin.
"Iyaa kek bukan Davina banget." sahut Daffa.
"Trus ini gimana Ca." tanya Alvero karena bagaimana pun Davina juga tetap sahabatnya.
"Gak apa kak, saran Ecca besok jangan boleh masuk dulu."
"Gue bilang apa sama nyokapnya." sela Revan.
"Yaudah bilang aja habis kesurupan di sekolah ribet banget dahh." kelakar Revin menjahili abangnya.
"Trus si Keke kenapa itu Ca." tanya Fierly.
"Biar dia kerja cari info kak, aman kok." sahut Nindy.
"Ra." panggil Alvero pada Raisa karena takut ditubuh Raisa masih ada Cece.
"Pegang aja si Rara nya entar juga kabur kak." ucap Ecca pada Alvero tentu saja langsung dipraktek kan.
"Kenapa melamun." tanya Alvero Raisa menggeleng pelan, dia masih terbayang apa yang Cece katakan jika Ecca ikut campur masalah Sonya.
"Hikss, udah kita harus jauh-jauh dari dia yah Ca, Kak Ecca nya harus dijagain terus." ucap Raisa yang sudah mewek.
"Lohh kenapa."
"Karena mereka bakal bawa Ecca sebagai ganti kalau sampai mereka lihat Ecca."
"Siapa Sonya." Rara menggeleng setelah dirasuki Cece Raisa bisa melihat dengan gamblang visual dari Cece.
"Orang tua Sonya kak, dia bakal seneng banget gantiin Ecca sama anaknya."
"Gak akan ku biarkan itu terjadi." ucap Askala tegas.
"Gimana Ke."
"Hehhh, capek Ca."
"Masakk."
"Iyaahh, lahh yang masuk bukan hanya satu, banyak yang mempengaruhi. Trus ritual sudah berlangsung juga ortunya gak bisa apa-apa."
"Ecca besok juga Jang masuk dulu yah." titah Askala final, dan Ecca hanya Pasrah.