Beautiful Destiny

Beautiful Destiny
Selalu disisi Ku



Hai para readers minthor terluvv..


Happy reading yahh Jangan lupa pencet tombol lopenya.


Mana nihh komenannya ditunggu terus yah sama Author.


Stay Reading from the ghost busters


\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=


Dalam Perjalanan meditasinya Ecca terlihat tenang, tidak pada Askala. Dia selalu menampakkan raut gelisah, bagaimana tidak belum sejam bertarung dia tengah melakukan meditasi.


"Ini gak apa-apa kan Nin." tanya Askala.


"Gak papa kak, tetap jaga aja." jawab Nindy.


"Ehh ini pada gak laper apa." tanya Fierly.


"Sana gih yang laper ke kantin dulu." jawab Daffa.


"Temenin yank, masak kamu disini." ujar Fierly.


"Masih main nih entar nyusul." jawab Daffa.


"Beneran yahh, yuk Vin."


"Iyaaa, dikit lagi."


Sementara itu Daffa, Alvero dan si kembar masih tengah asyik bermain game, Nindy, Rara dan Keke masih fokus memandangi Ecca yang masih dalam dekapan Askala.


"Ada yang gue gak tau kah ini Nin." bisik Keke, Rara sebenarnya tak mendengar tapi dilihat dari gelagat Keke sepertinya dia bertanya perihal dua pasangan didepannya itu.


Nindy tak mau menjawab namun segera dia menyerahkan tangan kanannya, Keke meraih lalu segera terjun ke dalam masa lalu Nindy.


Askala hanya memperhatikan adik kelasnya itu tak bergeming, sama halnya Rara, dia tak mau kepo dulu seperti Keke.


"Woeyy Daff maju loe serang turet samping gih gue pancing tengah, itu Revan diatas." teriak Revin seketika memecah suasana.


"Cepetan anjink..nyawa gue tipis nih." sahut Revan.


"Bisa jadi kambing congek gue sama kelakuan loe berdua." jawab Daffa.


"VICTORY."


"Lhaa victory ajah." celetuk Revin.


"Nohh di Al diem-diem nyerang hahahha." jawab Daffa.


"Dahh sana samperin para ratu loe." celetuk Revin.


"Lahh ini si Keke ngapain pake pegangan tangan segala." lanjutnya ketika sadar dengan kedua adik kelasnya.


"Bacot amat si, diem jangan brisik." potong Alvero.


"Gila lu Al sekali ngomong pedes ampun." sahut Revin.


"Ra sini." panggil Alvero pada Raisa.


"Kenapa kak." tanya Rara, tanpa berkata apa-apa Alvero merebahkan kepalanya kepangkuan Rara.


Raisa sedikit terkejut karena masih banyak orang tapi Alvero seolah ingin orang tahu pada perasaannya.


"Dahh lahh anggap kita nihh tembok aja Dek, emang gitu kelakuan Al." sahut Revin.


"Tapi enggak suka menclok sana sini kayak elo." balas Alvero, kini diruangan menyisakan 7 orang, Daffa dan Revan sudah keluar menyusul para gadisnya.


"Hahhh, akhirnyaaa." celetuk Keke setelah menyudahi aktivitasnya.


"lama amat sih." jawab Nindy.


"Iyaa biar tuntaas.. Ehh ehh ini." ceplos Keke terkejut saat melihat Alvero tengah merebahkan kepalanya dipangkuan Rara.


"Kenapa pengen sini abang pangku." sahut Revin.


"Ehh enggak kak, apaan main pangku-pangkuan." jawab Keke.


"Kak bangunin." teriak Raisa saat menyadari Ecca mengeluarkan aura ketakutan.


"Ca, ini kakak kembali lah." bisik Askala sambil menggenggam tangan Ecca."


Tak lama mata cantik Ecca terbuka disusul dengan melelehnya bulir air mata Ecca.


"Kenapa nangis." tanya Askala, Ecca tersadar kini dalam dekapan sang kakak kelasnya itu.


Ecca bangkit, duduk tegap lalu memeluk Nindy didepannya, pecahlah tangisan Ecca.


"Ini tugas Keke, kalau Ecca sudah diam seribu bahasa gini." ucap Keke lalu meraih tangan Ecca.


"Ini gilakkk, pasukan iblis pantesan si Ecca keder." celetuk Keke.


"Demi Tuhan gak sanggup gue, Omai gattt.." teriak Keke.


"Apaan sih Ke loe gak jelas." sahut Rara, sementara para lelaki hanya menerka-nerka apa yang ada dipikiran Keke. Alvero bahkan sudah terbangun mendengar teriakan dari Keke.


"Ke, bangun." panggil Revin pada Keke yang semakin meracau tak jelas.


"Ishhh kak, belum sele-sai." jawab Keke yang sudah tersadar.


"Huhuhuhuhhhh, pantesan aja Ecca syok." jawab Keke yang sudah menangis tersedu-sedu. Dipeluk lah Keke oleh Revin yang tak tega melihat Keke nampak syok juga.


"Om Rudi dikepung sama puluhan the demons truuuus, dibikin mati." ucap polos Keke yang masih melanjutkan tangisnya.


"Meninggal." ralat Revin membenarkan ucapan gadis yang didekapnya itu.


"Iyaaa, meninggalnya tragis banget. Maasakk om Rudi ditusuk pake trisula trus sama pasukan iblis yang tadi kesini langsung di..di..di." jelas Keke sambil terbata.


"sudah- sudah yang penting tumbalnya bukan Ecca kan jadinya." sahut Revin.


"Tumbenan loe waras Vin." potong Askala.


"Waras udah ketemu pawang." gumam Alvero yang masih bisa didengar Askala, tentunya Askala pun sadar kini dia pun sudah yakin dengan Ecca.


"Sudah yahh ikhlaskan." ucap Nindy menenangkan Ecca.


"Bukankah Ecca ingin, Om Rudi kena pembalasanya." sahut Askala.


"Setidaknya Ecca gak perlu mengotori tanganmu untuk membalaskan sakitnya papi mami kan." lanjut Askala, dan Ecca pun mengangguk paham.


"Gadis pintar kemari kita makan dulu." ajak Askala lalu menngandeng tangan Ecca keluar diikuti oleh Nindy.