Beautiful Destiny

Beautiful Destiny
Pocong Cantik



Hai para readers minthor terluvv..


Happy reading yahh Jangan lupa pencet tombol lopenya.


Stay Reading from the ghost busters


\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=


Hari tepat Seminggu Ecca dirawat dan diperbolehkan pulang. Paginya Askala dan Nindy harus sekolah.


"Beneran jaga pola makan yah Ca." ucap Haikal.


"Iyaa kak."


"Vitaminnya dihabiskan dan ingat hindarin makanan-makanan yang dilarang." lanjut sang dokter.


"Ahssiaap boss."


Sahutan Ecca membuat sang dokter tergelak, lalu mengusap kepala adik dari temannya itu.


Sementara ditempat lain Askala tengah bersama para sahabatnya sedang berada dikantin karena sedang jam istirahat.


Ponsel Askala berdering menampilkan nama Ecca menghubungi nya.


My Aleesha calling.....


"Hallo, kenapa Ca."


"Ecca udah boleh pulang kak."


"Hahhh, beneran boleh apa kamu yang ngerengek bang Haikal."


"Kak Aska ihhh, yaudahh kalau gak percaya nihh masih ada dr. Haikalnya."


"Beneran yah, yaudah sepulang sekolah langsung kakak samperin."


"Iyaaa kak, bye."


Sementara itu para sahabatnya banyak mendengar obrolan Askala dengan Ecca ditelp.


"Ada apa Kal." tanya Daffa.


"Si Ecca Kal." sahut Fierly.


"Kenapa Ecca." tanya Davina.


"Ehhh busset satu-satu nanyanya." celetuk Revin.


"Btw Ecca kenapa Kal." lanjut Revin.


"Dasar geblek loe sama aja ternyata." ceplos Revan.


"Hemmmbb, Ecca pulang entar." jawab Askala.


"Really."


"Wahhh syukurlahh, yang entar main rumah Ecca yahh." rengek Fierly.


"Kalau jenguk jangan pake bahas cewek haram remember." peringat Askala.


"Kagak usah loe ingetin juga keles."


"Hemmmb."


Tak ingin mendengar ucapan sahabatnya, Askala memilih mengabari Nindy tentang Ecca, mengingat ponsel Nindy tertinggal di ruangan Ecca.


Ditempat lain diruang rawat Ecca.


"Jadi ini nunggu Askala apa kakakmu." tanya dr. Haikal, dia bahkan tahu jika Askala merupakan pasangan yang terkait dengan Ecca. Sudah banyak yang dia tahu tentang cerita Ecca.


"Mana aja yang datang duluan kak, jadi seluang mereka aja." sahut Ecca.


"Iyaaa takut kamu dirazia kan."


"Haaahhh."


"Dirazia hantu." jawab Haikal sontak Ecca pun terkekeh.


Setelah visite, Haikal memutuskan menemani Ecca karena dia mendapat mandat dari Dion untuk menjaganya sebentar kala Nindy dan Askala berangkat sekolah.


Tak terasa saling bertukar cerita bahkan tak sadar hingga berjam-jam, pintu ruangan Ecca terbuka beserta 2 remaja masuk kedalam.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, ahhh kalian udah datang." sahut Haikal.


"Makasih ya bang udah jagain." ucap Askala.


"Iyaa, takut Ecca diculik berabe, entar Dion ngamuk di rumah sakit." jawab Haikal, Askala pun tergelak.


Nampak Haikal memanggil suster lewat panggilan darurat ruangan.


"Sus segera urus berkas administrasi untuk Aleesha pulang yah."


"Baik dok."


Sementara Nindy dan Askala lebih memilih membereskan barang-barangnya, tak ingin melihat Ecca turun langsung.


"ini kakak tinggal yahh, masih ada yang harus visite." ucap Haikal.


"Ohh iyaa kah makasih yahh." jawab Nindy.


"Okeey, Ca ingat pesen kakak yahh, mungkin nanti Ecca pulang kakak masih ada pasien gak bisa nemuin." ujar Haikal, dan Ecca pun mengangguk tak lupa mengucapkan terima kasih padanya.


Dr. Haikal keluar tinggalah ketiga remaja, dengan aktivitas masing-masing.


"Nin, bantuin ke kamar mandi dong, mau Pip."


"Sama kakak aja biar Nindy cepet kelar beberesnya." sahut Askala lalu beranjak dari tempat duduknya.


Ecca merentangkan kedua tangannya saat Askala akan menggendongnya. Setelah sepuluh menit didalam kamar mandi Ecca keluar sengaja tak memberitahukan Askala.


Dia berjalan pelan-pelan, karena sudah seminggu dia hanya sebatas tidur seolah lupa jika dia sedang tidak lumpuh.


"Gue bantuin Nin."


"Ca, astaga kaget gue. Enggak usah duduk aja, entar kamu pusing."


"Hemmm baiklah." jawab Ecca pasrah, baru dia sadar jika Askala tak berada diruangan.


"Kak Askala lagi ngurus Admin." potong Nindy saat melihat Ecca tengah mencari keberadaan Askala. Ecca manggut-manggut, lalu membersihkan sisa-sisa bungkus makanan di meja dekat sofa.


Setelah mengurus Administrasi pulang dan selesai membereskan barang bawaan, mereka bertiga keluar dari ruangan.


Tak lupa Askala membawakan kursi roda karena jarak kamar rawat Ecca dengan tempat parkir cukup jauh. Sebelum keluar Ecca memerintahkan pasukan eyang untuk kembali ketempatnya.


Belum lama Ecca keluar dari ruangan dari sudut ekor matanya dapat ia temui sosok sis ngesot sedang menyeringai.


"Pergilah aku gak bisa bantu." gumam Ecca namun masih bisa didengar Askala.


Askala tak menyahuti namun lebih memilih diam membiarkan Ecca dengan segala pemikirannya.


Sister ngesot itu bahkan tak bisa mendekat karena keberadaan Askala.


"Sister."


"Ohhh, mau apa."


"Mintak tolong katanya, tapi nyuruh nyamperin dia, enggak gila banget gue bertahan disini lama-lama." jawab Ecca, membuat Askala terkekeh.


"Dia tergolong paling bandel sihh."


Ecca tak bergeming mendengarkannya, karena Ecca dapat merasakan jika sosok ini membawa efek negatif.


Belum jauh dari sosok sister Nindy mencium bau wangi.


"Ini kek ada bau wangi yahh."


"Hemmm, banyak Nin yang wangi ini sosok sinden tapi kasihan." ucap Ecca.


"Kenapa." tanya Askala akhirnya bersuara.


"Barusan meninggal, meninggalkan anak-anak yang masih kecil." jawab Ecca lirih karena sosok itu tengah memandangnya dengan tatapan sendu.


"Trus ada apa lagi." celetuk Askala.


"Tsk, kakak kan bisa lihat sendiri." jawab Ecca.


"Ogahhh."


"Ca, ada aura kesedihan yah." tanya Nindy.


"Iyaa dari itu.." tunjuk Ecca dengan dagunya.


"Siapa." tanya Askala.


"Si poci."


"Beneran poci Ca, tumben gak hawa tegang."


"Iyaa, pocinya bagus kok gak nyeremin." jawab Ecca.


"Bagus loe kata." sahut Nindy.


Merasa mendapat atensi dari Ecca si poci itu mendekat.


"Enggak sekarang yahh." ucap Ecca.


Askala yang penasaran pun terpaksa membuka mata bathinnya, benar saja sosok pocong ini tak seperti pocong biasanya.


Wajahnya memang rusak namun tidak nampak unsur jelek, bahkan terkesan bersih.


Pocong itu semakin mendekat namun semakin dia mendekat semakin dia merasa kesakitan.


"Dia kasih visual." ucap Ecca.


"Apa aja." tanya Nindy.


"Nanti kalau ada Rara, takut dia ngelabuin." jawab Ecca.


Tak terasa juga sudah sejauh itu Askala mendorong Ecca menuju parkiran, segera dia memindahkan Ecca ke dalam mobil.


"Biar Nindy kak yang balikin, bisa berabe kalau kak Askala ninggalin Ecca." ucap Nindy, dan Askala pun paham dengan pengertian dari Nindy.


Sembari menunggu Nindy, Ecca memutar musik dimobil Askala. Saat menoleh betapa kagetnya dia.


"Astagaaaa."


Askala mendengar Ecca berteriak cukup nyaring pun tak kalah terkejut.


"Tolong akuu."


Ecca yang masih menormalkan detak jantungnya pun menggeleng, namun tak dapat dia pungkiri ia merasa kasihan pada sosok yang ingin dilepaskan ini.


"Ca." ucap Askala sambil menarik badan Ecca agar menghadap padanya.


"Kaget aja kak." sahut Ecca.


"Ehh maaf lama." ucap Nindy yang baru masuk mobil.


"Kenapa kak, Ca."


"Si poci ngikutin nihh." jawab Ecca, Askala pun memilih melajukan mobilnya.


"Panggil Cece aja biar tahu dia jahat apa enggak." ucap Nindy.


Ecca terdiam berusaha memanggil Cece, namun Cece mengkode jika dia tak dapat masuk. Tentu saja karena ada keberadaan mahkluk kuat pemilik permata biru disisinya.


"Gak bisa Nin, ada kak Askala." jawab Ecca.


"Trus gimana dong."


"Biar Cece yang urus."


Suara Cece menggema dalam mobil, bahkan Askala pun dapat mendengarnya.


Setibanya dirumah Ecca, sudah dapat ia lihat mobil berjejer diplataran.


"Yang sakit belum nyampek yang jenguk udah datang aja." gumam Ecca.


"Gak sabar mereka liat Ecca." jawab Nindy.


"Eccccaaaaaaa." teriak Keke membahana.


"Hehh kira-kira kalau teriak, mana pas telinga lagi."celetuk Revin.


"Yaa lord si Keke sama Revin enggak ada akurnya."


"Yuuk masuk yuk, ada yang ngikutin." ucap Raisa sontak membuat Keke bergidik.


"Hahhh, yang bener loe Ra, sosok apa." tanya Keke


"Poci Ke." sahut Nindy.


"Poci Ca, hiiiii."


"He, embb, tapi pocinya cantik kok." jawab Ecca.


"Segala poci cantiknya dari mana Ca."


"Kala cewek loe sehat kan." tanya Revan.


"Hemmmb, kenapa."


"masak Pocong katanya cantik." jawabnya.


Tukkkk.. jitakan keras didahi Revan mendarat sempurna.


"Auuuuhhh sakit Kal."


"Loe kira cewek gue Halu, loe lihat sendiri noh tuhh poci." ucap Askala.


"Lahiyaaa Revan begok, bisa lihat sendiri juga manja." sahut Revin.


"Berani loe yah begok-begok in gue." ucap Revan pada sang adik kembar sambil mengamit lehernya.