
"Kak Askala tolong jangan sampai lengah mereka punya niatan jahat, yang Keke tahu mereka punya rencana, tapi Keke gak bisa lihat masa depan seperti Ecca." jelas Keke.
"Apa motivasi mereka punya niatan jahat ke Ecca." tanya Fierly.
"Loe begok apa emang gak tau Fier." sahut Revin, Daffa tak terima kekasihnya dihina pun melayangkan serangan pada Revin.
"Loe bilang apa, sini gue tabok tuh mulut."
"Jiaaahh pawangnya marah."
"Lhaa kan bener, Vin kenapa sampai mereka jahat sama E-Ccaaaa." sahut Fierly terbata seolah akhirnya tahu jawabannya.
"Makanya sebelum ngomong mikir Fir." potong Davina, Fierly hanya tersenyum kikuk.
Askala, yaa semua karena Ecca dekat dengan Askala sang ketua OSIS primadona sekolah.
"Ngomong Ca, apa yang kamu lihat dan kamu dengar." gumam Askala.
"Bilang Ca, sebelum gue lapor ke bang Dion nihh." sungut Keke.
Ecca semakin terpojok melihat kearah Nindy, dia pun tak menginginkan keterdiamannya.
Keke sebal, ia ingin menarik tangan Ecca untuk mencari tahu namun Ecca menolak.
"Mereka berencana menyakitiku, karena sudah mengambil miliknya, aku tahu kalau kak Friska hanya disuruh makanya aku diam, aku dengar semua ucapan mereka sebelum kejadian, mereka mencari moment untuk itu." jawab Ecca yang masih menyisakan ambigu.
"Nanti pulang sama kakak, gak ada bantahan." sahut Askala tegas.
Mereka pun melanjutkan makannya dan setelahnya Askala mengantarkan Ecca hingga pintu kelasnya.
Setelah selesai jam pelajaran Ecca dan para sahabat bergegas menuju tempat parkiran.
Namun saat baru berjalan keluar dari pintu kelasnya Ecca ditarik paksa eh seseorang lalu membungkamnya dengan sapu tangan, tak lama Ecca tak sadarkan diri.
Nindy, Rara dan Keke yang tak jauh didepan Ecca tak curiga sama sekali karena mereka merasa keluar bersamaan.
Setibanya diparkiran Askala mengernyit bingung, melihat sahabat Ecca namun tak melihat keberadaan kekasihnya itu.
"Nin, Ecca mana."
"Ituu, di bela...kang. Lho Ke Ecca mana."
"Hahhh." Keke yang ditanya pun tak paham menoleh dibelakang tak melihat keberadaan Ecca.
"Tadi keluar bareng kok." ucap Rara.
"Tapi gue gak lihat aura dan suara dari Ecca disini." lanjutnya.
Askala geram, kenapa sampai teman- teman Ecca sampai tak tahu kejadiannya.
"Ayo mencar kita cari." celetuk Daffa.
Alvero menarik tangan Rara, berniat untuk mengajaknya bersama, Keke dan Nindy bersama Revin, sedangkan Askala bersama Revan mencari disudut2 kelas.
Fierly dan Davina bergegas menuju ruang CCTV sekolah.
Daffa menuju keruang perpustakaan.
"Guys CCTV diretas gak bisa, dihapus dijam tertentu." ucap Fierly.
"Bangshat, terniat mereka." gumam Askala.
Sudah 30 menit mereka mencari namun nihil tak ada tanda keberadaan Ecca.
"Apa mungkin sudah dibawa keluar sekolah." ucap Daffa.
"Belum kak, feeling Nindy masih didalam sekolah." jawab Nindy
Sementara itu ditempat Ecca disekap, dia masih belum sadarkan diri.
Byuuurrrss.
"Bangun loe cewek aneh, sok cantik."
Byursss
Tak cukup sekali dua kali mereka mengguyur tubuh Ecca dengan Air Es, Ecca sebenarnya merasakan tubuhnya menggigil namun karena masih dibawah pengaruh bius matanya terasa berat.
Dipaksakan membuka matanya agar tak semakin basah kuyup.
"Bangun loe cewek Aneh." ucap cewek yang menyekap Ecca.
Plaaakk, plakkkk..
"Ahhhhkk." ucap lirih Ecca merasakan pipinya panas.
"Apaaa masih kurang hahh, ini akibat loe berani ambil milik gue."
Tak cukup menampar pipi kanan kiri Ecca cewek itu pun memerintahkan temannya untuk menyiram Ecca kesekian kalinya.
"Si-siapa yang kakak maksud." jawab lirih Ecca.
"Sok gak tau lagi, Askala miliku. Hanya milikku, loe jangan dekat-dekat dia lagi. Siram lagi."
Ecca sudah merasakan tubuhnya menggigil bahkan bibirnya hampir membiru, memanggil Cece dalam Hati.
"Gila Mut, Lo mau bunuh dia hahh." teriak Friska.
Dan yahh yang menyuruh Friska adalah Mutiara, orang yang mengklaim Askala miliknya.
"Halahhhh, persetan." jawab Mutiara, lalu tak lama Cece datang melihat keadaan Ecca, memberikan kode kepada Nindy melalu teleportasi.
Nindy yang merasa mendapat visual pun terkejut.
"Belakang gudang kak." teriak Nindy panik, karena dalam visualnya kondisi Ecca sedang tak baik-baik saja.
Mereka berlari menuju gudang belakang.
Sementara itu Cece mencoba mengganggu Mutiara dan para anteknya dengan membuat kacau gudang seolah mendapat serangan dari hantu.
Braakkkk, bruuukk
Pyarrrrrr..
Blammmmm
"Akkkkkhhhh takut."
"Lariiiiii."
"aihhhh Sereeeem."
Mutiara dan para anteknya pun lari terbirit-birit.
Sesampainya di belakang gudang Askala membelalakan matanya melihat Ecca dengan kondisi yang menggigil bibirnya sudah membiru, namun masih bisa melihat kedatangan Askala bersama yang lainnya.
Para sahabat Ecca melepas Jaketnya untuk menutupi tubuh Ecca yang sudah basah kuyup dan menggigil kedinginan.
"Ca, Astagaaaa." Ucap Askala lalu membawa Ecca kedalam pelukannya.
"Ayukkk kak bawa pulang." ucap Nindy, Askala pun membopong Ecca. Tak lupa Nindy mengucapkan terima kasih pada Cece yang sudah membantunya.