
Askala datang dengan tergesa-gesa.
"Kak, gimana." tanya Askala.
"Hemm, mendekatlah." perintah Dion, lalu dia menjelaskan kronologis saat dia menyadari Ecca sedang tak baik saja.
"Tapi Ecca bakal selamat kan kak." tanya Rara, yang sudah menitikkan air matanya.
"Coba Keke liat, gimana bisa jiwa Ecca keluar." ucap Dion, Keke pun mengangguk lalu meraih jemari sahabatnya.
"Dia keluar tak lama setelah kak Askala keluar dari kamar kak, Hemm seperti ada yang narik tapi kayaknya enggak sihh,. ehh tapi itu Ecca kayak ngikutin sesuatu, Ehh tapi bukan. Hemmm." ucap Keke yang masih memejamkan matanya.
Ucapan Keke membuat mereka yang mendengarkan bingung.
"Jadinya dia dibawa apa jalan sendiri Ke yang jelas dong." tanya Revin.
Keke membuka matanya saat pertanyaan dari Revin muncul.
"Jadi pas kak Askala keluar, Ecca tuhh kayak gini nih." jawab Keke sambil memperagakan gerakan Ecca, seperti hendak mengejar.
"Lahh, trus Ecca kek gasadar gitu kalau dia lepas dari raganya."
Degg..mendengar penuturan Keke, Nindy tersadar, lalu dia berlari kearah Ecca seperti memeriksa tanda kehidupan.
"Syukurlah..." hela Nindy.
"Kenapa Nin." tanya Davina.
"Hemm, Nindy cuma takut yang enggak-enggak aja kak." jawab Nindy, yang tak luput dari perhatian Dion.
"Kakak tahu Nin, mungkin jika tak kembali dalam beberapa jam dia benar-benar tak akan kembali." jelas Dion dengan suara sedikit bergetar.
"Hahhhhh. Trus gimana kak, Askala harus gimana buat Ecca balik." sahut Askala.
"Hemm, tunggu dulu sebentar Eyang masih nyari dimana dia tersesatnya baru kita terjun." jawab Dion.
"Kalau menurut Nindy, kayaknya Ecca tadi mau ngejar kak Askala nggak sihh kak." tanya Nindy, Dion menggeleng karena dia pun tak tahu apa yang terjadi.
Tak lama mereka saling sibuk dengan pemikiran masing-masing, terdengar grauman pertanda eyang datang.
"Dion, Ecca berada diruang Hampa. segera jemput sebelum terlambat."
"Baik eyang."
Sang harimau putih pun berlalu meninggalkan ruangan itu.
"Gimana caranya kita jemput kak." tanya Nindy.
"Apa kita buka portal." lanjut Keke.
"jangann, Ruang hampa gak bisa ditembus dengan portal berbahaya buat kita yang gak sedang tersesat." sela Raisa.
"Trus gimana."
"Kakak tanya Rendi dulu." jawab Dion sambil menekan kepalanya pening.
"Hallo Yon, kenapa."
"Ckk, loe yah to the point banget sihh."
"Buruan kenapa, jelasin detail."
Dion pun bercerita pada Rendi, termasuk menanyakan solusi apa yang harus dilakukan.
"Gue meditasi dulu panggil dia, kalau gak bisa, nanti kita pake second opinion."
Setelah menunggu beberapa menit, Rendi mengabari jika dia tak bisa menemukan Ecca.
Banyak opsi yang mereka pikirkan, salah satunya manusia tidak bisa menemukan Ecca dalam artian hanya mereka yang sudah meninggal, karena ruang hampa tempat jiwa yang hilang dan pergi. Selain itu mereka juga memikirkan jika jiwa Ecca sedang dilindungi Eyang sehingga tak terlihat, atau ada sosok lain yang menyembunyikan dengan tujuan jahat.
"Aaarhhhhhhhkkk." teriak Dion frustasi.
Nindy dan yang lainnya hanya memandang sendu, mereka pun tak mampu berbuat apa-apa.
"kak, boleh Askala minta waktu berdua dengan Ecca." ucap Askala meminta persetujuan pada Dion. Entah apa yang ada dipikiran Askala, namun memang Askala terpaut dengan Ecca bisa jadi dia jalan Ecca pulang seperti sebelumnya.
Namun Dion tak Yakin dengan solusi itu karena Ecca berada di ruang hampa, bahkan Rendi tak bisa menembus.
"Kasih kak, mungkin kak Askala bisa narik Ecca pulang." sahut Nindy meyakinkan kekasihnya itu.
"Kalau Askala gak berhasil, aku sanggup untuk jemput langsung lewat portal. Gak perduli itu bahaya buat aku kak." lanjut Askala yang masih melihat keraguan di mata Dion.
"Hemm, baiklah." jawab Dion lalu mereka semua pergi meninggalkan Askala berdua dengan Ecca.
Disinilah sekarang dua orang remaja bersama, Askala dan Ecca yang masih tetap dengan tidur cantiknya.
Askala duduk disamping Ecca yang masih memejamkan matanya, lalu membawanya dalam pelukannya.
"Sudah lama kakak menunggumu bangun Ca, kalau saja kakak tau kamu masih pengen sama kakak, gak akan kakak tinggalin.
Your my part of my soul, get back to me.
So, Aleesha Quenara my love, my soul and my heart and be my wife soon, here i gonna still waiting to you."
Ucap Askala bergetar menahan agar tidak menitikan air matanya yang sudah menggenang di sudut mata.
"Akan aku lenyapkan mereka yang sudah berani menyentuhmu, cegah aku sayang kalau kamu mau. Kamu tahu kan betapa marahnya aku saat marah. Bangun lah cegah aku." lanjut Askala lalu mendaratkan sebuah kecupan di dahi Ecca bertubi-tubi, memeluknya semakin erat.
Sementara itu Ecca yang berada di ruang hampa, mendengar suara yang selalu dicari dan dinantinya sedari tadi.
Ecca, menangis merindukan suara yang baru beberapa jam ia tak mendengarkannya. Dia berjalan menuju arah suara kekasihnya itu, hingga menemukan cahaya terang. Dalam hati Ecca berharap Askala tetap berbicara agar dia tidak kehilangan petunjuk menuju pulang.
Sampai dipintu yang bercahaya terang Ecca masih mendengar suara Askala, bahkan semakin jelas. Ecca membuka pintu itu, dan dia mendapati tempat dimana dia terakhir meninggalkan raganya.
Ecca berhasil menemukan jalan kembali menuju raganya melihat tubuhnya yang sedang dipeluk erat oleh Askala, dia berlari kembali ke raganya.
Saat ingin membuka matanya, dia merasakan detak jantung Askala berdegub kencang. Detak jantung yang selalu dia dengar saat didekapan Askala.
Ecca mengurungkan niatnya untuk membuka mata, Ecca ingin seperti ini sebentar saja.
Setidaknya dia bisa keluar dari ruang penuh kesesatan. Ecca membalas pelukan Askala.
Askala yang merasakan Ecca bergerak, melihat kearah gadisnya itu, rona wajah nya itu sudah kembali lagi tak sepucat sebelumnya tadi.
"God, thanks." ucap Askala lalu mencium puncak kepala Ecca. Ecca yang mendapat perlakuan dari Askala menggeliat mencari kehangatan dalam pelukan kekasihnya.
"Makasih ya, udah mau kembali." ucap Askala.
Ecca tak bergeming dia masih enggan membuka mata, dia masih tetap bergelung manja. Biarlah dia nikmati moment ini.
Hai para readers minthor terluvv..
Happy reading yahh Jangan lupa pencet tombol lopenya.
Stay Reading from the ghost busters
\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=