Beautiful Destiny

Beautiful Destiny
Terjadi Lagi



Hai para readers minthor terluvv..


Happy reading yahh Jangan lupa pencet tombol lopenya.


Stay Reading from the ghost busters


\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=


Pagi hari telah menyingsing, Ecca berangkat bersama dengan Askala. Sesuai permintaan Ecca jika hari ini ia ingin naik motor, maka Askala pun mengabulkannya.


Setibanya di sekolah Ecca ngedumel karena tak bisa membuka pengait helm yang ia gunakan.


Sreett.


Sitttts..


"Ihh kok yah susah sihh."


"ckkk hadehhh susah amat."


Askala yang jengah pun akhirnya buka suara.


"Bisa nggak." tanya Askala singkat, sejenak Ecca melirik.


"Heuuuhh, kalau gak bisa minta tolong, kenapa pake emosi segala."


Ceklikk..


Benar saja begitunya Askala yang turun tangan pengait helm terbuka seketika.


"Makasih yahh. Kak aku duluan yah." ucap Ecca lalu menggeloyor pergi karena kini mereka jadi bahan tontonan. Perdana Ecca datang berboncengan sehingga membuat mata netizen melotot dibuatnya.


"Hadehhh."


Ecca cukup risih dengan tatapan banyak mata padanya, rasanya Ecca memilih berurusan dengan makhluk halus daripada dengan manusia bersifat jahat dan iri dengki.


"Kenapa tuh bibir manyun."


"Asoy lah pagi-pagi bikin heboh."


"Diaaamm." sergah Ecca sarkas dengan sahutan dari sahabatnya.


"Uhhh Jang marah-marah dong." ucap Raisa karena takut Ecca jika emosi maka akan mengundang MH.


Setelah beberapa jam mengikuti pelajaran akhirnya mereka tiba di jam istirahat pertama, Ecca dkk pun gegas menuju kantin.


Rara mengalungkan tangannya dipundak Ecca, entah kenapa hari ini hawa sekolah sungguh tak bersahabat dengan Ecca.


Keke dan Nindy bertugas memesan makanan, sedang Ecca dan Rara duduk cantik dimeja mereka.


"Huft, pada kenapa sihh liatin gue." gumam Ecca, namun Rara masih bisa mendengar jelas.


"Gak usah di urusin ca."


"Iyaa pusing sendiri kalau mikirin yang kek gituan."


Ecca menetralkan emosinya, kali ini dia cukup terpancing. Namun tak sampai membuatnya resah, sedang asyik melamun tiba-tiba datang sekawanan melabraknya.


Brakkkk..


"Hehhh, kamu jadi cewek batu banget yah."


"Kegenitan."


"Sok kecakepan banget."


Ucapan-ucapan dari cewek-cewek didepannya tak membuat Ecca gentar, Ecca pun menyikapinya dengan santai.


"Ada apa kak." jawab Ecca santai.


"Loe udah gue bilangin jangan deket-deket sama Askala berani Loe terang-terangan, udah bosen hidup Loe." teriak Mutiara lantang.


"Weits biasa aja dong kak." sela Raisa yang tak terima Ecca terus dihujat mereka dengan kata-kata kasar.


"Gak usah ikut CAMPUR Loe." teriak Mutiara tak terima saat Rara menyela nya.


Ecca masih diam, dia fokus pada mata bathinnya mencoba membaca apa yang akan Mutiara lakukan padanya.


"Ohh jadi kakak mau seret Ecca ke gudang lagi, trus mau bikin cacat muka Ecca juga. Trus apa lagi." jawab Ecca santai, membuat Mutiara the Genk terkejut karena Ecca bisa tau rencana mereka.


"Wwwuaaahh nih anak songong Mut." ucap teman Mutiara.


"Hehh gak usah main fisik." Sergah Rara ketika melihat bahu Ecca didorong oleh kakak kelasnya itu.


"Btw Loe dibayar berapa semalam sama Askala." ucap Mutiara tajam mengena ulu hati Ecca.


"Apa kak, Ecca gak salah dengar. Bukankah kakak yang berencana membuka lebar paha kakak buat menarik kak Askala." ucap Ecca tak gentar, kondisi kantin yang begitu banyak siswa pun semakin ribut.


"Brengsek."


"Berhenti."


Plakkk..


Bughhh


"Beraninya." teriak Askala lantang ketika melihat tangan Mutiara mendarat di pipi Ecca, Raisa yang tak terima perlakuan kakak kelasnya mendorong perempuan itu dengan sekuat tenaganya.


"Caaa." ucap Nindy yang baru datang dan melihat keributan yang melibatkan calon adik iparnya.


"Askala." gumam Mutiara yang baru menyadari kedatangan Askala.


"Ternyata skorsing dua Minggu gak buat Loe jera hahh. Apa urusan mu ngatur-ngatur hidupku, APA HAK LOE."


"Ka-aaak." sergah Ecca lalu menggenggam tangan Askala, karena melihat Askala yang telah dibakar emosi.


"Kal."


"Cabut kalian."


Perintah para sahabat Askala karena tak ingin Askala murka pada sosok perempuan.


"Huffft."


"Mana yang sakit." tanya Askala pada gadisnya, pipinya tercetak jemari perempuan iblis tadi.


"Bawa ke UKS." bisik Alvero karena kini di kantin tengah ramai murid.


Askala menautkan jemarinya menggeret Ecca, Nindy akhirnya membawakan makanan untuk Ecca nanti.


"Kakkkk." ucap Ecca namun tak ada jawaban dari sang Askala, melihat keterdiaman Askala membuat Ecca semakin yakin jika sangat marah.


Laju Askala tak berhenti di UKS, dia justru membawa Ecca ke rooftop baru pertama kali ini Ecca datang kemari.


"Ka-aaak, kalau kesini jangan lepasin tangan Ecca yah." ucap Ecca, seketika Askala menghentikan langkahnya ketika masih menapaki tangga menuju rooftop. Ada makna dibalik ucapan Ecca, Askala memandang lekat lalu mempererat tautan jemarinya.


Askala mendudukkan Ecca disebuah kursi, lalu dia jongkok didepan Ecca menggenggam kedua tangannya. Segera Ecca menggumamkan doa penenang dan ditiupkan diubun-ubun nya guna mengusir hawa emosi Askala.


"Gak papa yah, jangan marah lagi." ucap Ecca lalu tersenyum lebar pada Askala, goyah sudah pertahanan Askala lumer seketika hanya dengan senyuman Ecca.


"Ohhh Aleesha Quenara." desis Askala, gemas dengan kekasihnya.