Beautiful Destiny

Beautiful Destiny
Rencana Kemah



Hello teman-teman the ghost Buster mee meen sekalian yang terLuv, Jang lupa Tab ❤️ Jempol👍 Gift 🎁 dan Vote 🎫 sekalian yahh,.


Giftnya dikasih kembang🌷 atau Ads free juga kagak masalah kok, mee meen tetep sueeneng kok.. Makasih yahh, pantengin Teruss...


••••••••••••••••••••••ו••••••••••••••••••••••×


Pagi ini sangat cerah ceria bagi banyak orang namun tidak dengan Ecca, kondisi menyiksa kebanyakan para remaja dimana merasakan tak nyamannya hari pertama haid.


"Uhhhh." desis Ecca, namun sangat lirih hingga sang kakak Dionel tak menaruh curiga.


"Pagi, kesayangan kak." ucap Dion sembari mengecek ponsel nya.


"Eummm." gumam Ecca, dan mereka berdua pun segera melahap sarapan tanpa bersuara.


Setelahnya Ecca pun gegas berangkat sekolah yang kebetulan hari ini dia membawa mobil sendiri dikarenakan Askala sedang ada rapat OSIS.


Rasa mulas diperutnya semakin melilit namun dia hiraukan, jangan lupakan Cece yang sudah nangkring duduk manis disebelahnya.


"Jang lupa kasih tau yayang nya buat jagain." pesan Cece karena dia paling tau jika Ecca suka menggampangkan hal sepele.


"Euhhmm."


"Astaga gue udah gak ngerasain pms berapa tahun yah Ca."


"Hitung sendiri Ce, gue lagi gak konsen nih."


"Yaelahhh, Napa tadi gak minta antar Abang Loe."


"Ogahh, bang Dion entar lebay."


"Dikata lebay entar kalau kenapa-kenapa juga dia juga yang hebohh."


"Huhhh, itu tau kalau bang Dion suka lebay."


Sampai tiba dipelataran sekolah Cece masih setia menemani Ecca karena kondisi tak suci sangat disukai oleh makhluk halus, terlebih yang sedang mengincar Ecca.


"Ohhh God demi apa Ecca sampai bawa pengawal Cece." celetuk Keke yang juga baru datang bersama Rara. Sedangkan Nindy sudah mendarat di dalam kelas.


"Wahh ada yang gak beres nih." sahut Rara yang melihat aura Ecca sangat lemah.


"Apa Ecca mens yah, buru kita samperin."


"Yukk."


"Hei Ca."


"Ca..."


"Lohh Ca kok pucet."


Sapaan dari teman sekelasnya hanya ia balas dengan senyuman karena dijelaskan pun mereka tak akan tau.


"Ca, palang merah." tanya Nindy yang mendapati raut wajah Ecca sangat berbeda dengan hari biasanya terlebih ada Cece mendampingi nya, Ecca mengangguk.


"Bawa daun Bidara." tanya Nindy lagi, Ecca pun menggeleng.


"Morning guys." sapa Keke menggelegar.


"Ca, kok Cece ikut." tanya Rara.


"Haid yah." celetuk Keke.


"Heummm."


"Siaga nihh."


Selama pelajaran Ecca tak konsentrasi bahkan kini bulir keringat sudah mengucur deras karena Ecca yang menahan rasa nyeri.


"Aleesha kenapa." tanya seorang guru yang sedang mengajar didepan karena melihat Ecca yang tengah menelungkupkan kepala dibangku.


"Ehhm sedang sakit perut pak." jawab Rara yang sebangku dengan Ecca.


"Yaudah bawa ke UKS aja."


Mendengar perintah dari sang guru Ecca menggeleng pelan, sudah pasti di UKS justru sangat berbahaya untuknya.


"Udah gak apa kan bentar lagi juga udah bel istirahat." ucap Raisa lirih, Ecca pun pasrah akhirnya Rara membopong nya.


"Ce." panggil Ecca pada sosok Cece yang entah berada dimana.


"Yuhuuu." jawab Cece yang langsung nongol depan pintu.


Langsung saja mereka menuju kantin, Ecca sudah mendaratkan kepalanya dibahu Rara.


"ayang Ecca kemana kok gak ada rimbanya." tanya Cece.


"Huhhh, mereka lagi sibuk. Hemmm mana pas lagi kek gini juga."


"Loe mending pulang deh Ca, aura Loe kuat banget gue gak sanggup bentengin kalau Loe tambah lemes." titah Cece, Rara pun membenarkan ucapannya.


"Hallo kak Dion." ternyata Raisa lebih memilih menghubungi Dionel daripada menunggu Askala.


"Lohh Rara ada apa tumben telp kakak."


"Ecca kak, dia lagi haid ini udah mau pingsan." jelas Rara, sontak Dion pun panik.


"Ehh yaudah tunggu kakak yah, pas kakak lagi diluar juga. Jagain yah Ra." jawab Dion panik bahkan ia seolah lupa dengan Askala dan yang lain.


"Ca jaga kesadaran Loe." ucap Rara, yang melihat Ecca hanya memejam.


"Tarik nafas dalam trus buang Ca. Bablas kentut juga gak apa yang penting Loe tetep sadar." celetuk Cece, akhirnya Ecca pun bisa tersenyum dengan ucapan somplak Cece.


"Loe yah Ce bisa aja."


Tak berapa lama Dion datang dan langsung menuju sang adik.


"Astaga, tau gini kan gak usah masuk bahaya." ucap Dion sedangkan melihat Dion ngomel membuat Rara terhibur.


"Hahahah, kak Dion bisa juga yah ngomel-ngomel."


"Hushhh, udah Rara mau ikut kakak atau balik kelas."


"Ikut aja kak, muales pelajaran sumpah."


"Heummm." Dion pun tak marah dengan prinsip sahabat sang adik, karena dasarnya mereka cerdas jadi tak perlu dikhawatirkan.


Setelah meminta ijin dan mengambil tas Ecca, Dion bersama Raisa memboyong Ecca pulang kerumah karena Dion sudah menebak jika sebentar lagi Ecca sudah tak sadarkan diri.


"Ra, perisai kamu bagus." celetuk Dion pada Rara.


"Dikasih kak Alvero kak." gumam Raisa lirih, Dion pun tersenyum mendengarnya.


"Mereka lagi sibuk yah." tanya Dion dan diangguki Rara.


Setibanya dirumah Raisa segera berlari menuju halaman belakang rumah Ecca yang berisi kan tanaman herbal untuk nya. Setelah memetik daun Bidara di wadah Rara membawakan untuk Ecca. Barulah Dion lega bisa meninggalkan Ecca kembali ke kantor.


Sementara itu kini disekolah sudah jam istirahat Askala pun tengah mencari sang kekasih namun nyatanya tak mendapatinya di kelas.


"Lohh sejak kapan." tanya Askala pada Nindy yang sedang menikmati makanan di kantin.


"Sejak pagi, nah kata Rara udah gak boleh sama Cece bertahan disekolah, makanya Rara langsung telp Kak Dion." jelas Nindy Askala mengangguk memang dia masih jam rapat tadi.


Akhir cerita Askala pun segera melaju menuju ruang BEM karena tak bisa menemui sang kekasih.


"Hufftt."


"Napa Loe Kal." Tanya Revin yang sedang mengerjakan sesuatu dilaptop. Disana pun ada yang lain nya.


"Nggak ada."


"Lahh terus kok udah balik, kagak berantem sama Ecca kan." tanya Davina sontak mata Askala melotot namun tak menanggapi.


"Napa sihhh, kok bad mood Loe." celetuk Daffa tak mau kalah.


"Ecca pulang." jawab Askala lalu menceritakan apa yang terjadi.


"Lahh pantes si Al udah gak balik dari keluar tadi."


"Nyamperin tuh anak."


"Hehhh."


"Ehh btw lokasi kemah enggak kek hutan kan Kal." tanya Fierly, Askala mengernyit tumbenan Fierly tanya detail padahal sudah tahu jika lokasi merupakan sebuah lokasi perkemahan terbuka, bukan kemah langsung dipegunungan.


"Ahh elo mang Napa kalau dihutan juga." celetuk Davina.


"aahhh guwe mau tanya Ecca kira-kira disana ada penunggunya apa kaga."


"Jelas ada ogeb, dimana-mana juga pasti ada."


"Nahh makanya itu gue pengen tau penunggunya kek gimana."


"Hadehhh."


Lelah Askala mendengar obrolan unfaedah dari para sahabatnya, telinga nya segera dibungkam dengan headset.