Beautiful Destiny

Beautiful Destiny
Titik Cerah



Hai para readers minthor terluvv..


Happy reading yahh Jangan lupa pencet tombol lopenya.


Stay Reading from the ghost busters


\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=


Setelah mengakhiri Meeting dengan karyawan, Dion segera meninggalkan kantornya bersama Rendy menuju Rumah Sakit. Saat mendapat kabar dari Anindya Dion sempat terkejut karena Ecca masuk ICU.


Rendy pun tak menyangka jika kondisi Ecca hingga terpuruk seperti ini. Situasi dan suasana rumah sakit berbahaya untuk Ecca, sangat besar kemungkinan jika sudah banyak makhluk halus berjejer antri menunggu jiwa Ecca lepas.


Dion memerintahkan Nindy untuk membuat pagar gaib sampai dia datang.


"Nin, gimana Ecca." tanya Dion setibanya di RS.


"Udah masuk Kak."


Dapat Dion lihat sahabat Ecca dan Askala berkumpul namun tak mrnjumpai keberadaan Askala.


"Gimana ceritanya Nin bisa gini."


Nindy hanya menggeleng, dia pun tak berani beransumsi lebih.


"Dahh Yon, mending kita tanya petugas aja." sela Rendy.


Dion mengangguk lalu bersama Rendy dia meninggalkan tempat dimana Nindy dan yang lainnya menunggu.


"Siyaalan banget Askala, lagi kek gini gak ada kabar." gumam Daffa.


"Gue coba datengin Apartemen nya aja nanti." sahut Revin.


"Ra, siniin kepalanya." ucap Alvero yang melihat Raisa tengah menahan kantuk, mungkin dia lelah menangis.


Rara menjatuhkan kepalanya di pundak Alvero.


"Kak anterin pulang aja Rara, kayaknya capek banget dia, loe juga Ke." ucap Nindy pada Alvero dan Keysa.


"Ogaah gue disini aja, gak tenang gue selagi Ecca di ICU." Jawab Keke, sementara Rara tak bergeming, dia sudah jatuh terlelap.


Sementara itu ditempat lain Dion sedang menemui petugas ICU guna menanyakan kondisi Ecca.


"Permisi sus, saya keluarga Aleesha bisa minta keterangan kondisi adik saya."


"Ohh silahkan, mas nya tunggu sebentar saya telponkan dokter yang menangani." jawab susternya.


"Baik Sus."


Setelah menunggu beberapa menit tak lama datang seorang pria berjas putih masuk keruangan perawat.


"Permisi. Lohhh kami Dionel kan." ucap seorang dokter yang datang.


"Sebentar, loe Haikal, wahhh apa kabar bro." sahut Dion.


"Wahhh, baik jadi bener Aleesha ini adik loe."


"Yapp, betul. Ehh Ren kenalin nihh temen SMA gue, Haikal. Dia Rendy temen sekaligus rekan kerja gue." ujar Dion memperkenalkan kepada dokter yang merawat Ecca.


"Salam kenal bro. Ahiyaa jadi gimana Yon."


"Lahh gue juga mau tanya gimana kondisi adik gue."


"Jadi gini, tanda-tanda vital adik loe menurun. Indikasi pertama karena defisiensi intake, atau kekurangan asupan ketubuhnya yang menyebabkan peradangan di lambung dan Asam lambung juga tinggi menyebabkan gangguan sirkulasi dalam tubuhnya. Kalau dibiarkan bisa mengalami gagal nafas itulah kenapa aku langsung masuk kan ke ICU supaya dia bisa dipantau." jelas dr. Haikal.


"Penyebabnya apa Kal."


"Mungkin saja dia sedang diet atau sering telat makan."


"Hahhh, gue baru ingat dia gak makan sejak 3hari yang lalu."


"Kenapa bisa." dr. Haikal terkejut dengan ucapan Dion, tapi tidak dengan Rendy yang sedari tadi memperhatikan obrolan keduanya.


"Kami ada permasalahan sebelumnya, gue juga lalai jaga dia. Gak nyangka sampek begini adik gue."


"Nahh, itu dia Kal. Dia sama kayak gue bahkan dia tergolong anak istimewa karena dia ini mampu membuka portal gaib, dan jujur gue takut keberadaan dia disini enggak aman." jelas Dion.


"Lahh baru tahu gue itu portal-portal."


"Hemm, intinya dia sangat istimewa bahkan bisa dimanfaatkan oleh aura jahat, nah RS ini tempat yang wajib dihindari untuk dia." lanjut Dion.


"Yaa trus gimana Yon, tekanan darah dan Nadinya masih lemah, setidaknya dia butuh monitor terlebih oksigenasi."


"Gue coba untuk kasih pagar gaib, tapi itupun gak bisa maksimal Kal, karena loe tau sendiri rumah sakit gudangnya makhluk halus."


"Gue, coba lakukan yang terbaik biar kondisi adik loe cepet pulih Yon."


"Okeey thanks yah Kal, untung banget yang ngerawat Ecca loe, dan satu hal lagi kalau bisa Ecca dipisahkan dengan pasien lainnya, biar gue bisa pasang pagar gaib." ucap Dion.


"Ohh bisa, ditaruh di ICU VIP, jadi ada ruang khusus untuk penunggu juga."


"Okeyy Kal, berapa pun biayanya lakukan yang terbaik untuk adik gue."


"Sure."


Akhirnya Dion dan Rendy merasa lega, mendapat kepastian kondisi Ecca, dan setelahnya Ecca pun dipindahkan keruang VIP. Pasukan Eyang Hasto pun nampak berjaga, tak lupa dengan pagar gaib.


"Nin, kamu pulang dulu ambilkan baju kakak, dan keperluan Ecca sekalian baju-baju kamu juga." titah Dion.


Sementara Teman-teman Askala sudah tak terlihat, hanya tersisa Nindy dan Keke.


"Keke bisa ikut jagain Ecca kan kak." tanya Keke.


"Boleh ijin mama kamu dulu, ruangan Ecca cukup kok buat banyak penunggu. Kalian jangan lupa makan juga yah, jangan sampai kayak Ecca juga." sahut Dion.


"Iyaa kak."


Nindy san Keke pulang, menyisakan Rendy dan Dion yang tengah ritual membuat pagar gaib ruangan Ecca.


Sreeekk.. Sreekkk.. Braaakk..


Terdengar dari luar ruangan, namun tak membuat Dion dan Rendy terpecah konsentrasi. Semetara itu Pasukan eyang yang berjaga mulai mengeliminasi mereka yang berani mendekat.


Setelah selesai membuat pagar gaib dan perisai, Dion terkejut mendapati kegaduhan didepan ruangan.


"Biarin aja sudah diberesin sama pasukan eyang." ucap Rendy.


"Banyak, yah."


"Hemm yang paling bandel si ngesot, sama sundel." ucap Rendy.


"Ganti yang buntung tuhh."


"Nanti kalau Nindy sama Keke datang jangan boleh keluar-keluar, gue balik dulu yah." pesan Rendy, Dion mengangguk.


Nindy dan Keke datang menjelang magrib, dari masuk pintu parkir Nindy sudah merasakan aura mencekam. Beruntung Art Ecca membawakan makanan untuk makan malam.


"Ini cuma perasaan gue apa emang suasananya yah Nin."


"Apaa..?" tanya Nindy seolah tak merasakan hal yang sama.


"Merinding gue."


"Syuuuuut, diem aja. Kalau loe takut banget panggil Cece, jangan sampe loe buka mata bathin. Ramee kek pasar." ujar Nindy, segera Keke pun membathin memanggil Cece.


"Hai, guyss lohh kenapa kalian kepasar sihh." celetuk Cece.


"Hahh pasar apaan loe kate." sahut Keke


"Yaiiyaaa pasar gaib begokk."


"Hehh, mulutnya kagak pernah disekolahin napa, Ecca sakit asal loe tau."


"Hahhhh kok bisaaa."


"Dieeem kenapa brisikkkk mulu." potong Nindy dan mereka pun melanjutkan menuju ruangan Ecca.