Beautiful Destiny

Beautiful Destiny
Nggak Lemah



Masih di Rooftop


"Udah Ecca gak apa kok kak." ucap Ecca sembari meletakkan telapak tangan di pipi bekas tamparan. Askala paham jika Ecca menginginkan dirinya meredakan emosi akhirnya luluh, dia mengusap pipi gadis itu. Jika luka akibat manusia tak dapat ia sembuhkan seketika itu juga, beda jika makhluk halus maka Askala jagonya.


Cupp..


Askala justru mencium pipi Ecca, bahkan membuat sang empunya terkejut.


"Kakk, ihh." Rajuk Ecca namun Dimata Askala justru nampak imut sekali.


"Dua kali Ca, kakak gagal melindungi mu."


"Baiklah, lalu Ecca harus apa supaya kakak gak marah lagi." tanya Ecca pada Askala yang belum juga tenang.


Greppp..


Askala menarik Ecca dalam pelukannya, Ecca pun membalasnya dengan memeluk semakin erat.


Sementara itu dikelas, Raisa tengah menjelaskan permasalahan tadi pada Nindy, karena Nindy yang tak tau duduk perkaranya sehingga membuat Ecca terluka.


"Sumpah ya, tuh Mak lampir pengen gue bejek mukanya." ucap Keke, gedek dengan tingkah laku Mutiara.


"Iyaah makanya itu pertama gue bisa nyegah, yang kedua gabisa nyelametin Ecca." ucap Rara merasa bersalah namun dengan aksinya yang mendorong Mutiara setelah sukses menampar Ecca pun diancungi jempol oleh Nindy dan Keke.


"Gapapa, entar ada balasannya sendiri."


"Yahh tuh enak aja main klaim kak Askala sapa dia coba." gerutu Keysa bahkan membuat Nindy dan Rara tergelak.


Braakkk...


"Mana tuh cewek kegatelan yang bikin Mutiara nangis."


"Nahh tuh gerombolannya."


Nindy, Raisa dan Keke yang melihat kedatangan para dayang-dayang Mutiara pun sudah menebak akan keberadaan mereka. Namun yang menjadi fokus mereka kini adalah ada sosok pendamping disekitar mereka dalam artian makhluk tak kasat mata.


"Njirrr, bawa pasukan mereka." gumam Nindy.


"Gabisa dibiarin."


"Jelek banget auranya." sahut Raisa.


"Ini mah Ecca yang bisa lihat itu makhluk." sela Nindy, Nindy pun segera membuat benteng untuk mereka bertiga, jaga-jaga jika pawang dari para dayang Mutiara bisa berbahaya untuknya.


"Hehhh, Loe kan yang dorong Muti tadi." ucap salah satu kakak kelas Ecca pada Raisa sembari mendorong bahu Rara. Sedangkan Raisa yang diperlakukan seperti itu hanya biasa saja, bagi Rara dan kedua sahabat Ecca lainnya hal seperti ini masih bisa dianggap receh karena mereka bahkan sudah terlatih beladiri.


"Gak tau malu banget sih." sahut Rara, karena mereka yang bikin onar mereka pula yang tak terima ketika mendapat perlawanan.


"Ehhh nyolot Loe."


"Kalian pikir sendiri kalau kalian gak bikin rusuh kita gak akan bales." sela Nindy.


"Emang dasar adik kelas gak tau diri yah."


"Situ ngaca." sahut Rara.


"Hehh apa maksud Loe."


"Situ gak punya kaca sehingga bisa katain orang seenak jidat hahh." jawab Raisa santai.


"Wahh ngajak berantem nihh orang."


"Ohhh ini yang katanya cewek Alvero,.. Cantik sih tapi gak kalah sama preman pasar."


"Gitu yahh, tapi gue bukan tukang biang onar seperti kalian." jawab Rara tak mau kalah bahkan menyulut emosi.


"Bangsat." ucap kakak kelas Ecca yang sudah melayangkan tangan ke udara namun belum sampai menyentuh pipi mulus Rara sebuah tangan kekar sudah menggapainya.


"Jangan usik kehidupan gue, berani kalian nyentuh dia kupastikan gak akan ada hari esok buat kalian." ucap Alvero dingin, tak lupa dia pun mencengkeram erat tangan gadis yang ingin menampar Rara hingga mengaduh kesakitan.


"Auchhh, tapi dia yang udah ngerebut Loe Al."


"Ngerebut dari siapa."


"Loe kan tau gue cinta sama Loe."


"Bulshittt, itu urusan Loe bukan gue."


"Tapi Al."


"Pergiii dari sini." teriak Alvero yang sudah menampakkan raut muka tak bersahabat, sehingga membuat para dayang Mutiara keder.


Ecca dan Askala bahkan para sahabat Askala pun tercengang melihat aura kemarahan dari Alvero, karena Alvero sosok yang bahkan tak bisa diprediksi.


Degg..


Ecca melihat kearah salah satu kakak kelas yang dekat dengan gadis yang telah menamparnya tadi.


"Pesugihan." gumam Ecca namun masih bisa didengar Askala.


"Apa Ca."


"Ca." panggil Nindy karena Ecca masih terlihat terdiam dibelakang Askala. Ecca tersenyum namun Ecca tak bisa menyembunyikan aura keterkejutan dari Raisa.


"Kita udah lihat Ca, tapi gak tau apa mereka itu perewangan atau bukan." kata Raisa, membuat Askala dan para sahabatnya seketika menoleh pada teman seangkatan yang baru saja meninggalkan kelas Ecca hanya untuk memastikan apa yang adik kelas gunjingkan.


"Iyuuuuhhh."


"Hoeekkk."


Respon Davina dan Fierly sangat membagongkan karena melihat sosok menjijikan di sekitar teman mereka.


"Makhluk apa itu Ca."


"Gilakkk jijik guweee."


"Loe bawa Fierly dan Davina cabut." titah Askala pada Daffa dan Revan.


"Bukan perewangan, tapi tumbal pesugihan."


"Hahhhh."


"Nanti aku jelaskan dirumah. Tapi."


"Tapi apa Ca."


Semua yang disana dilanda penasaran dengan ucapan Ecca, walaupun tak begitu paham namun mereka tahu yang dimaksud Ecca tentang pesugihan.


"Bener kan gue bilang cuma Ecca yang tahu hanya dengan melihat ajah." sahut Nindy.


Akhirnya mereka pun mengikuti pelajaran selanjutnya dan untuk sementara menjeda obrolan mereka.