Bad Boy'S Sweet Love

Bad Boy'S Sweet Love
Berhasil Menusuk Korban



Keadaan masih gelap pekat, namun aksi terus kujalankan. Earphone tidak boleh lepas dari telinga, sebab itu satu-satunya alat yang bisa menghubungkan dengan keadaan luar yang berusaha mengawasi medan rumah.


"Aku ingin naik atap. Arahkan dimana saja agar aku berpijak bisa aman, tanpa ada yang mengetahui," perintahku pada anak buah.


"Baik, Kak."


"Kamu tetap lurus saja, lalu belok kiri. Tidak jauh disitu ada meja, yang kami rasa kuat dan bisa kamu pijakki untuk manjat," suruh anak buah bersama kak Juno.


"Emm. Baiklah, awasi terus keadaan."


Aku turuti saja perkataan mereka, sambil tangan masih meraba-raba dinding sebagai alat agar aku tidak jatuh dan salah arah.


Tangan tidak boleh membunyikan suara sedikitpun biar tidak ketahuan. Telinga masih mendengar suara deru langkah para pengawal, yang sepertinya sedang kebingungan berlarian.


Sesuai arahan, kaki mulai memanjat meja yang dimaksud. Tangan mencoba meraba untuk menyusuri garis. Pisau sudah mengiris perlahan-lahan pinggiran atap dari bahan gipsum. Arah irisan juga tidak boleh sembarangan, yang mana masih sesuai arahan dari anak buah diluar. Atap gips sudah kugeser kesamping, agar bisa mudah masuk ke dalam.


Tangan mulai memegang kerangka atap, agar bisa menarik tubuhku dengan mudah. Untung saja jarak atap tidak jauh dari meja yang kupijak. Tapi sebelumnya ada papan yang terlekat dinding, sebagai bahan pijakan kaki kedua agar bisa melompat keatas untuk meraih kerangka tadi.


Klik, tombol listrik kembali kunyalakan. Agar tidak diketahui, maka gips kututup kembali. Peluh yang membasahi dahi sudah kusapu dengan tangan. Akhirnya ketegangan langkah awal telah selesai.


"Awasi terus keadaan dalam rumah. Aku akan menjalankan misi."


"Cari dimanakah posisi korban kita berada?" suruhku.


"Baik, Kak. Tetap waspada dan hati-hati."


"Hmm."


Posisi yang awalnya berjongkok, sekarang berdiri tegak sedikit menunduk. Kaki berusaha memijakki kerangka besi yang kuat. Untung saja tubuh kurus ini, tidak akan membuat kerangka akan patah maupun ambruk. Dari suara dibawah terdengar para pengawal terus saja kebingungan. Suara mereka begitu khawatir terhadap bos.


"Kak, kita dapat info bagus nih! Dimana korban berada sekarang!" Anak buah memberitahu.


"Kerja bagus!" jawabku sambil memijakki hati-hati agar tidak bisa mengeluarkan suara.


"Dari arah ruangan kakak tuju tadi, coba belok kekanan lalu ke kiri, disitu sepertinya kamar milik korban. Semoga arahan kami tepat sesuai dengan atap, soalnya masih samar-samar juga nih," Keraguan anak buah memberitahu.


"Baiklah, aku akan ikuti arahan kalian dulu. Semoga benar arahan kalian."


Dengan perlahan terus saja melangkahkan kaki. Sepertinya terdengar ada tiga orang sedang berjaga dan berbincang-bincang. Penjagaan kurasa dijaga ketat sekali.


Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Ujung pisau yang lancip mencoba melubangi gipsum yang sedikit agak empuk. Tubuh sudah tengkurep dengan posisi tiduran dipalangan kerangka, agar tidak salah berpijak dan mengeluarkan suara.


Bola mata sebelah berusaha mengintip apa yang sedang terjadi dibawah. Benar sekali atas dugaan, kalau ada tiga pengawal yang sedang berjaga. Ada perasaan sedikit ragu jika misi akan gagal, tapi disisi lain masih semangat ingin menjalankan sebab sasaran empuk ada didepan mata.


Korban sedang tiduran memejamkan mata. Wajahnya kelihatan berbangsawan dan orang terkaya. Tidak peduli jika dia orang terhormat maupun disegani oleh para masyarakat, yang jelas aku harus menjalankan aksi demi bayaran uang segunung.


Tangan mencoba melihat arah jarum jam ditangan, yang sekarang menunjukkan angka dijam 02.30 dini hari. Waktu yang bikin girang, sebab sebentar lagi pasti bakalan banyak yang lengah, akibat hawa ngantuk akan menyerang semua pengawal. Untung saja siap sama senter kecil, walau dalam keadaan gelap diatas atap masih bisa membantu memudahkan jalannya misi.


Netra kembali mengintip kebawah. Mencoba menyapu sekeliling area kamar korban. Disudut sebelah kanan sepertinya ada celah untukku berpijak, yaitu sebuah lemari berpintu dua dan sepertinya kuat kalau diinjak.


Badan mulai agak kelelahan, saat posisi masih sama yaitu tengkurep tidak berubah sama sekali. Anak panah jam terus berlanjut, namun belum juga ada kesempatan waktu segera menghabisi nyawa korban.


"Huuuwaah ... hwaaah, sepertinya bos kita sudah tertidur nyenyak," Terdengar suara salah satu pengawal, yang berjaga dalam kamar berbicara pada sesama teman.


"Iya, kayaknya. Sekarang keadaan sepertinya aman terkendali. Apa kita tinggal keluar sebentar saja, sebab ngantuk banget dari tadi kita belum tidur sama sekali."


"Emm, sepertinya ide kalian benar sekali. Mata sudah perih nahan ngantuk dari tadi."


"Ya sudah, kita keluar sekarang. Biarkan Bos kita tidur nyenyak."


"Benar itu."


"Yuk, kita keluar."


"Ayuk. Sudah ngak tahan banget sama ngantuknya."


Suara beberapa deru langkah terdengar mulai menjauhi kamar.


"Yes, akhirnya ada kesempatan juga untuk segera menjalankan aksi," guman hati yang gembira."


Posisi tubuh mulai bangkit. Dengan hati-hati mulai berpijak lagi dikerangka. Kini jumlah gips yang kutuju sudah kuhitung dalam hati. Kira-kira ada sekitar dua belas yang harus dilalui, agar bisa menuju dilemari itu.


Sampai tujuan belati yang berkilau dan tajam diujungnya, perlahan-lahan mengiris pinggiran sesuai aliran garis lagi.


Kres ... kres, suara belati yang terus mengiris. Tanpa butuh waktu lama akhirnya selesai juga. Kusingkirkan gips sebagai penghalang, dengan kaki mulai menjulur keluar ingin segera memijakkan lemari.


Semua sudah rapi, termasuk wajah yang memakai masker. Setelah berusaha sekian jam menunggu kesempatan, akhirmya dapat juga menginjakkan kamar korban.


Kelihatannya korban yang sekarang sedang tidur terlentang begitu nyenyaknya. Dengan bodoh lagi, semua pengawal membiarkan tuannya tanpa dikawal ketat.


Belati yang khusus untuk membunuh, sekarang sudah kukeluarkan dari slontongnya. Cahaya lampu yang terpantul, membuat belati kian menujukkan kesilauan betapa tajam dan bisa mengiris apapun yang ingin dia kehendaki. Sudah banyak korban yang menjadi makanannya. Belati adalah warisan dari bebuyut, sehingga tidak diragukan lagi kesaktian untuk menghilangkan nyawa orang.


Badan berjalan perlahan-lahan berusaha mendekati korban, dengan cara masih bersembunyi-sembunyi dibalik lemari maupun meja. Dirasa aman, mendekati tujuan.


"Kali ini mampuslah riwayatmu, sebab hari ini terakhir kau akan berada didunia ini!" guman hati yang gembira, saat berdiri tegak dekat sekali dengan korban.


Ujung belati yang lancip sudah kuarahkan kebawah, siap menusuk pemilik tubuh agak gendut, yang tanpa sadar menjadi santapan empuk.


"Aku tunggu ucapan terakhirmu, sebelum aku mencabut nyawamu. Siap-siaplah sekarang," tambah rancauan hati.


Ganggang belati sudah kugenggam kuat, yang siap diturunkan untuk menghunus.


Jleb, sekali ayunan belati berkasil tertancap tepat ditengah-tengah perut.


"Aaaaaaaaaah!" Teriak korban begitu kencangnya.


Klreeng ... klreakk, tidak menduga jika suara alarm peringatan telah berbunyi diseluruh ruangan rumah. Ternyata tangan korban telah berhasil mengapai tombol yang berada diatas nakas.


"Aaaah, b*ngs*t siapa kamu? Kenapa kau menusukku?" Korban bertanya sambil ingin merebut belati yang tertancap.


"Kau tidak perlu tahu. Yang pasti matilah kau sekarang."


"Aaaah ... hhhhh," Untuk yang kedua kali korban mendesah kesakitan, ketika belati sudah kucabut paksa.


"Tolong ... tolong!" Korban terus berteriak kencang, sambil memegang kuat bagian perutnya, untuk menahan darah yang mulai mengucur deras.


Akibat suara yang berdering nyaring, kini ada suara deru langkah yang mendekati posisiku , maka secepatnya harus berlari kearah jalan pertama masuk dari atap tadi. Korban terus meronta-ronta dan meminta tolong.


Tidak perduli keadaan korban, yang kini sudah jatuh bertelungkup dibawah lantai.


"Hei, siapa kamu! Berhenti!" teriak salah satu pengawal, saat tubuhku sudah sebagian masuk lewat atap.


"Berhenti kamu. Hei, jangan kabur kamu!" imbuh mereka.


Dooor ... buuup, sebuah tembakan terluncur dan tanpa diduga telah mengenai kaki sebelah kiriku.