
Beberapa minggu ini nampaknya semua aman, tapi aku tidak boleh lengah jika ada yang membully lagi.
"Hhh, kenapa aku jadi wanita terlalu lemah untuk menghadapi mereka?"
"Sifatku yang pendiam membuatku tidak berani membalas kelakuan mereka. Apa aku akan terus menerima penderitaan ini? Rasanya tidak tahan lagi berada disekolah ini, tapi jika minta pindah pasti akan membuat bapak kecewa dan memerlukan banyak biaya. Aah, nasibku memang kurang beruntung, namun aku harus tetap menjadi wanita kuat menerima kekejaman mereka. Semangat Cantika, kamu pasti bisa melalui ini semua. Jangan karena masalah kecil ini, kau menjadi menyusahkan bapak," Berbicara pada diri sendiri.
Karakter terbentuk karena kebiasaan, lingkungan, keturunan dan pengalaman hidup. Setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam berinteraksi. Ada yang memang pandai bergaul, namun ada juga yang cenderung pemalu dan terbatas dalam pergaulan. Bagi seseorang yang pandai bergaul, tentunya sangat mudah baginya untuk mendapatkan teman.
Mulai sekarang harus belajar menerima diri apa adanya. Bukankah setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, termasuk dalam diri sendiri? Jika terus fokus pada kekurangan-kekurangan yang ada, akibatnya akan dipenuhi perasaan negatif, misalnya minder, merasa kurang mampu, merasa tidak diterima, dan sebagainya.
Berangkat ke sekolah terlalu awal, sehingga menghabiskan waktu dengan membaca buku dibalkon. Kalau dalam kelaspun percuma, sebab banyak teman yang nampak jijik jika berteman denganku. Entah alasan apa, mereka semua memperlakukan diriku secara tidak adil, begitu.
"Wah, akhirnya ketemu juga, kamu disini. Apa ini caramu ngumpet pada kami?" Salah satu teman lain dari kelas lain, datang.
Mulai ketakutan lagi, jika bayangan dibully bisa jadi kenyataan. Terlihat dari tiga wanita dan dua pria tengah menatap nanar ke arahku. Para gadis itu seperti mau menerkamku saja, namun pria cool itu mencoba menghalangi.
"Sudah, hentikan. Ini tidak ada hubungan dengan Cantika. Lebih baik kita pergi saja dari sini. Jangan sampai kamu cari gara-gara, bisa brabe jika ketahuan pihak sekolah nanti."
"Diam kamu. Aku tidak peduli. Sebelum memberi pelajaran pada gadis kurang ajar itu, aku tidak akan tinggal diam," Gadis berambut lurus mencoba menerobos halangan tangan.
"Ada apa ini? Kenapa kalian ada urusan pribadi namun mau melibatkanku?" Kecurigaan.
"Jangan banyak b*cot kamu. Jadi wanita jangan sok kecentilan, berani merebut Bram pria yang aku sukai."
"Haist, diam kamu. Ini tidak hubungannya dengan dia." Bram nampak kesal
"Maaf ya, Cantika. Jika temanku telah berkata kasar dan menganggu kamu," Pria yang menghalangi, tersenyum malu serta manis ke arahku.
"Eeh, iya. Tidak apa-apa, kok."
"Dih, sok paling ganteng kau ini. Minggir kamu. Tidak usah ikut campur urusan cewek," gadis itu menampik halangan tangan, dan kini menuju kearahku.
"Aah, sangat mengesalkan sekali kamu ini," ucap pria itu.
Langkah mundur-mundur, ketika gadis itu terus maju dan ingin menantang. Bram berlari kecil mengejar gadis yang terus melangkahkan kakinya mendekatiku.
"Jangan begini. Perlakuan kamu tidak baik dan sangat tak beralasan. Kamu hanya salah paham," Lagi-lagi Bram mencoba menenangkan.
"Diam kamu. Aku hanya ada urusan sama dia. Apa kamu ngak tahu dia itu jal*ng yang sudah berani mengoda semua siswa disekolah ini. Mata kamu saja terlalu buta mau mencintai dia," Si gadis terus saja tidak mau menyerah ingin menganiayaku.
Dua teman cewek lain mencoba menghalangi satu teman pria, agar tidak maju untuk ikutan adegan kami.
"Kamu jangan sembarangan menuduh dia. Tidak ada bukti jika aku mencintainya."
"Hilih, aku ini bukan perempuan bodoh. Gelagat kamu itu sangat ketara, dengan seringnya mencuri pandang pada Cantika. Sudahlah, jangan berbohong. Akui saja kalau kamu lebih menyukainya dibandingkan diriku. Benarkan itu?"
"Duh, kok jadi runyam begini. Sekarang lepaskan dulu, Cantika. Kasihan dia kesakitan begitu akibat rambutnya kau jambak," Pria itu iba melihatku dan mulai gelisah ketika ditebak atas perasaannya.
"Jangan harap. Sebelum kamu mengakuinya, maka tanganku tidak akan melepaskan jambakkan ini."
"Hais, penawaran yang membingungkan. Kalau aku jujur yang sebenarnya, kamu pasti akan lebih menyakiti Cantika, 'kan?"
"Tergantung sama jawaban kamu sih. Kalau menyakitkan maka aku akan tambah menyakiti dia, kalau enggak dan terutama kau mau jadian sama diriku, maka akan mentoleransi serta berpikir lagi, mau kuapakan wanita ini sebab telah berani mengoda."
"Ahh, sial. Kenapa kau terus memojokkanku, hah! Padahal kau tahu sendiri perasaanku, jadi tolong lepaskan Cantika dulu."
Terus bernegosiasi. Rambut dipegang kuat, namun tak sampai terlalu kesakitan.
"Tidak usah berbelit-belit. Aku mau kamu jujur dari mulut kamu sendiri. Tidak perlu diriku menebak, jadi simpang siur semuanya, paham!"
"Isssh, entahlah!" Pria cool itu nampak mulai frustasi.
Suasana semakin tegang, dan bikin si cowok tidak mau menyerah untuk membujuk agar tak lebih parah menyakitiku. Perdebatan diantara mereka terus terjadi.
"Ya Tuhan, dimanakah salahku? Kenapa terulang terus kejadian ini? Kenapa aku selalu dijadikan peran utama sebagai perebut pacar mereka, yang padahal tak tahu menahu si pria menaruh hati padaku. Tunjukkan jalan dan kebenarannya. Andaikan saja ada bala bantuan, pasti rasa syukur ini tidak akan pernah berhenti akan kupanjatkan pada Engkau," Dalam hati sudah menangis.
Plok ... plok, sebuah tepukan tangan begitu keras mengema ditelinga. Wajah kami semua menoleh ke arah sumber suara itu. Ingin tahu siapakah orang yang mengetahui perselisihan dan pertengkaran kami ini.