
Dalam berinteraksi dengan orang di sekitar, kita tidak selalu menghadapi situasi yang baik. Tidak jarang harus menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan dalam kehidupan. Salah satunya adalah ketika dibully atau dirundung oleh orang lain.
Bullying biasanya berhasil dilakukan pada orang yang kurang percaya diri. Hal ini dilakukan oleh orang yang terkesan lebih kuat dan berkuasa, terhadap orang yang lebih lemah. Karena sudah tidak yakin dengan dirinya sendiri, maka korban menjadi semakin lemah dan mudah diintimidasi oleh pelaku.
Ditambah seringkali pelaku bullying akan menghina korbannya agar merasa lebih malu. Oleh sebab itu, jika ada orang yang membully, maka harus berani melawannya agar dia tahu bahwa kita tidak bisa ditindas begitu saja.
Kadang hal ini akan membuat terpuruk, malu, hingga kehilangan rasa percaya diri. Bahkan tidak sedikit orang yang mengakhiri hidupnya karena depresi akibat selalu dibully habis-habisan.
Dengan tidak mendengar ucapan para pelaku bully, maka kita bisa fokus pada diri kita sendiri. Jangan pikirkan ucapan yang merendahkan atau mengintimidasi. Dengan begitu, bisa fokus mengembangkan diri agar menjadi lebih baik dan tak kenal takut. Nanti orang yang membully akan lelah sendiri karena selalu tidak ditanggapi.
"Wah ... wah, siapa ini?" Ketua geng nampak maju ingin melawan.
Mereka langsung berdiri semua, dan mulai menghampiriku yang tengah berdiri dengan kedua tangan tersembunyikan disaku celana.
Semua orang dibuat tegang, ketika melihat kearahku yang tak kenal takut ingin menghadapi sendirian. Siswa yang kena perundungan sudah lari menghindar. Bagus juga ketika langsung ada tanggapan dari mereka, dan kekuatan ini siap untuk memberikan sedikit pelajaran.
"Sepertinya dia anak baru, Bos!" ucap salah satu anak buahnya.
"Wah, punya nyali cukup besar juga, ya!"
"Benar itu, Bos. Apa dia belum cukup tahu siapa kita sebenarnya, sehingga dia hanya ingin maju sendirian?"
"Iya sih. Mungkin dia orang bodoh yang tak kenal kita, makanya dia belagak sok jagoan disini, cuiiih!" Sang bos nampak angkuh dengan meludah dilantai.
"Habisi dia saja, Bos. Jangan beri ampun lagi. Hahaha, bias mampus dia! Siapa suruh berani ingin menantang kita," Lagak anak buah yang songong.
Tangan mengepal kuat. Muak rasanya melihat mereka yang sok paling kuat. Muka-muka sombong, angkuh, tapi bercahaya lemah ketika hanya bisa meminta uang sama orang lain.
"Labih baik kita pergi saja, Revan. Kamu jangan cari masalah sama mereka. Kamu tak kenal mereka," Cantika menghampiri yang berupaya mencegah.
Lengan tanganku dipegang kuat, agar secepatnya pergi mau menuruti ucapan dia.
"Suiiit ... suuit. Wah, siapa gadis cantik ini!" Sang Bos mulai tertarik, dengan mengedipkan mata pada Cantika.
"Dia dewi disekolahan kita, Bos. Sangat perfeck dan kayak bidadari 'kan?"
"Wah, betul ... Betul. Kalian memang dudul. Kenapa ada gadis secantik dia tidak kasih tahu bos kamu ini, 'kan kita bisa gasak dan pacari dia, hahaha!" Perkataan yang kurang ajar.
Tangan berhasil mengepal kuat. Emosi tertahan. Rasanya tidak terima, jika Cantika kayak ingin dibuat mainan. Ingin menyerang, tapi menunggu mereka duluan memulai pertempuran.
Takut jika Cantika diperlakukan tidak baik, maka tangan mengiringnya agar cepat bersembunyi dibelakang tubuhku.
"Kamu pergilah. Cukup bahaya disini!" bisik bersuara pelan.
"Tapi, Revan. Mereka terlalu berbahaya."
"Tenang saja. Yakin saja aku bisa mengatasi mereka."
"Tidak usah takut dan khawatir!" Tersenyum manis ke arahnya.
"Baiklah, kalau begitu hati-hati."
Memberikan anggukan pelan, sebagai tanda setuju dia ingin melengang pergi.
"Hey, cantik. Mau ke mana kamu?" Tangan sang bos terulur ingin memegang bahu Cantika.
Belum sempat menyentuh, tanganku dengan sigap menghalangi, kemudian memutar tangannya secara terbalik.
"Ahhh, lepaskan tangaku. Dasar si*lan!" umpatnya marah.
"Dasar b*jing*n tengik. Berani sekali kau melukai Bos kami," Anak buah mulai terpancing emosi juga.
Ada sekitar lima orang anak buah ingin maju menyerang.
Bhuggh, kaki menendang kuat bagian perut sang bos sehingga dia menabrak meja makan.
"Si*lan kamu. Punya nyali juga melawan kami."
Mereka maju semua siap untuk menyerang. Satu persatu kuhalau tinjuan mereka. Ada yang kutahan kepalan tangan dengan memutar balik, ada juga belum sempat memberikan bogeman sudah kutendang kuat pakai kaki.
Banyak yang tersungkur. Teriak-teriakkan para penonton semakin membuat seru perkelahian kami. Bahkan meja dan kursi jadi sasaran empuk kena tabrak. Piring dan mangkok tak luput rusak juga, akibat ditabrak para berandalan sekolah yang kalah tanding denganku.
Bhugh, satu tijuan tepat mengenai hidung, sehingga korban berteriak kerasa akibat kesakitan. Bahkan ada yang mulai mengeluarkan darah, serta wajah membiru.
Tidak satu dua kali kupukul bagian tubuh mereka. Tiap kali maju, tendangan dan pukulan terlayang bebas membuat mereka semua babak belur.
"Mulai sekarang jangan ganggu para murid lagi, atau aku akan membuat kalian menyesal seumur hidup lebih dari ini!" ancamku tak kenal takut.
"Iii-iy-ya, maafkan kami."
Semua terkapar tak berdaya. Banyak yang sudah merintih kesakitan
"Jangan iya ... iya saja. Awas saja kalau kulihat kalian memalak lagi sama yang lemah. Pasti tinjuanku ini akan membuat kalian kehilangan tuh muka," Ketegasan memberi peringatan.
"B-bbbaiklah."
"Lebih baik kalian cepat undur diri dari sini, sebelum kuhajar lebih parah lagi dari ini," suruh kasar.
"Iiy-yaa, maaf."
Ada yang sudah menghindar dengan berlari terbirit-birit. Yang bertahan mulai berjalan terpincang, dengan menutupi kesakitan itu menggunakan tangan. Semua anak kini berbalik berbisik kegirangan, beda sekali sama raut wajah yang tadi sempat pada ketakutan semua.