Bad Boy'S Sweet Love

Bad Boy'S Sweet Love
Aksi Pengintaian Dimulai



Misi segera kujalankan. Ada satu teman sekaligus kepercayaan yang selalu bisa diandalkan ayah, namanya adalah Juno anak dari kaki kanan ayah. Dia hampir seumuran denganku juga, tapi lebih tua setahun dan demi menghormati maka harus memanggilnya kakak.


Mobil sudah berhenti agak jauh dari rumah yang menjadi target. Dari luar kelihatan sepi namun tidak tahu keadaan didalamnya, sebab ayah telah berpesan untuk selalu berhati-hati menghadapi musuh kali ini. Pasti penjagaan sangat ketat dan tidak bisa diremehkan.


"Gimana, Tiger? Apakah kita akan maju langsung atau gimana ini?" tanya Kak Juno saat diriku menatap seksama ke arah rumah mewah berlantaikan dua itu.


Ingin melihat-lihat keadaan rumah itu. Mata tajam ini selalu bisa menghadirkan tebakan benar, bagaikan peramal ulung. Sejak kecil punya mata dan firasat seperti indigo.


"Santai dulu saja, Kak. Aku akan coba lihat dan periksa keadaan rumah itu. Pesan ayah kayaknya sungguhan sebab ini orang penting, maka kita harus berhati-hati jika ingin menerobos masuk kedalam rumah itu," jawabku santai.


"Ok, 'lah. Aku disini hanya bisa mengawasi dan ikut sama arahanmu. Semoga saja kali ini kita akan berhasil seperti tugas-tugas sebelumnya."


"Emm, pasti itu. Jangan sampai kita mengecewakan, ayah. Kalau kita gagal pasti dia akan marah besar, sebab bayaranpun sudah diterima dan itu lima kali lipat dari tugas kita biasanya."


"Wah, benarkah? Aku kok baru tahu. Kenapa papa tidak memberitahuku. Kalau bayarannya segede itu, pasti tugas kali ini beneran sulit dan tantangan untuk kita."


"Emm, pasti itu. Tapi agak ketar-ketir juga kalau gagal, nyawa kita jadi taruhannya."


"Ya sudah, aku akan mencoba mendekati rumah itu dan memeriksa semuanya."


"Emm, hati-hati kalau begitu. Jangan sampai ketahuan."


"Sipp, 'lah. Pasti aman penyamaran kali ini. Tapi kalau gagalpun, kakak harus tancap gas membawa mobilnya, agar bisa membawamu segera kabur."


"Beres, Tiger. Kakak selalu siap siaga akan menolong dalam keadaan genting."


"Bagus, Kak."


Klik, sebuah sabuk pengaman telah kulepas.


Baju yang sedikit agak membuat wajah kece, kini kulepas untuk mengantinya dengan kusut, kumal dan terutama berlubang. Tak luput jua wajah sudah kucemong dengan riasan agar kotor. Rambut sudah kuacak-acak seperti orang tidak terawat. Topi bundar yang buruk dan lusuh, tak luput sebagai pengantar memata-matai. Hari masih siang, jadi bisa bebas melihat-lihat medan target.


Tak ingin membuang waktu, langsung saja turun dari mobil. Perlahan-lahan langkah mulai mendekati rumah sasaran. Dari luar nampak gerbang dikunci rapat.


Kali ini aku benar-benar persis seperti gembel. Karung dan besi pengait, juga ikut andil dalam aksi penyamaran. Dengan kepala tertunduk mencoba memulung barang-barang bekas, yang ada disekitaran rumah sasaran itu maupun tetangga. Tangan mencoba mengorek-gorek untuk mencari barang berharga dari tong sampah, seperti botol bekas dan kardus.


Sungguh penyamaran yang perfeck. Mungkin orang yang melihat aku ini, beneran pemulung yang tak diiginkan. Mata mencoba melirik kanan kiri, untuk melihat keadaan sekitar. Belum bisa melihat jelas, sebab lagi fokus pura-pura mulung barang bekas didepan rumah tetangga target.


Topi sedikit kuturunkan, agar bisa menutupi wajah dengan penuh. Kepala berusaha menunduk melihat terus ke tanah. Dengan sabar lagi-lagi harus rela berkecimpung dengan sampah yang bau dan kotor. Demi ayah, semua kulakukan asal dia bahagia.


Tujuan utama adalah melihat keadaan rumah incaran. Netra mencoba menatap seksama, tapi tidak bisa berlangsung lama. Sedikit menatap ke arah gerbang, tapi kembali lagi pura-pura tidak melihat.


Benar saja, ketat sekali penjagaan oleh beberapa bodyguard yang serba berseragam jas hitam. Kelihatannya mereka sangat dilengkapi oleh alat khusus agar tidak bisa kecolongan.


"Wah, bagaimana aku bisa masuk dengan mudah, sementara keadaan didalam sangat berbahaya untukku masuk?" guman hati kebingungan.


Diluaran saja ada sekitar sepuluh orang menjaga ketat. Mungkin didalamnya juga lebih banyak lagi jebakan, untuk menjaga sang sasaran.


Netra terus saja mengawasi semua gerak-gerik para pengawal, namun sepertinya tidak ada celah untukku masuk. Memulung segera kusudahi, untuk segera kembali ke mobil yang sedang menunggu agak kejauhan.


"Gimana, Tiger? Apakah semua disana aman atau malah mengkhawatirkan?" tanya teman.


"Aman gimana! Sedangkan penjagaan oleh pengawal begitu ketat sekali."


"Wah, gimana kita bisa menjalankan aksi jika tidak ada celah sama sekali."


"Nah, itu yang sedang aku pikirkan sekarang."


"Emm, gimana yah!" Pikiran mencoba mencari ide.


Tiba-tiba ada sebuah motor, berhenti tepat dirumah yang sedang jadi sasaran. Dari penampilan nampak seragam seperti pihak dari PLN.


"Ayo cepat ... cepat, kita hampiri orang yang didepan rumah itu," suruhku tidak sabar menepuk-nepuk tangan Kak juno.


"Oh, ok ... ok. Sipp, ayo!" jawab Kak Juno setuju.


Kak Juno yang memegang kemudi, jadinya aku berteriak untuk cepat bergerak mendekati.


Sheeet, dengan kilat mobil berhenti tepat dibelakang motor petugas itu, yang sedang sibuk mempersiapkan beberapa alat dalam kotak.


Tanpa membuang waktu langsung turun. Berlari secepat mungkin menghampiri beliau, sebab takut jika terlambat, dia akan secepatnya masuk ke dalam rumah itu.


Jari-jari yang ada selembar sapu tangan, segera ingin kubekapkan pada petugas itu. Untung keadaan jalanan sedang sepi. Tanpa ba bi bu, sapu tangan yang ada obat bius segera melekat diarea wajah petugas itu.


Ada sedikit perlawanan dan berontak dari tangannya, namun sekuat tenaga menahan agar diriku bisa menguasai keadaan dia. Tidak berselang lama petugas mulai lemas.


Kak Juno yang sedang memperhatikan disekitaran jalanan, segera membantuku untuk mengangkat tubuh orang yang pingsan ini.


Korban sudah dimasukkan ke dalam mobil kami. Kak Juno kusuruh untuk segera melepaskan pakaian petugas itu.


"Aku ingin memakainya sebagai penyamaran. Semoga berhasil."


"Nih, segera kamu pakai. Hati-hati jika masuk ke dalam nanti." Kak Juno berusaha memperingatkan.


"Siap, kak. Pasti akan aman!" ucapku dengan percaya dirinya.


"Semoga saja!" balasnya seperti tidak yakin.


"Hmm, kalau gitu aku akan ganti baju sekarang."


"Iya."


Baju yang sedikit longgar sudah melekat dibadan. Topi sebagai bahan pelengkap sudah terpakai, agar wajah tidak dikenali dan nampak mencolok jika ada yang melihat.


Aksi mulai kujalankan. Pintu gerbang yang ada belnya segera kutekan. Beberapa pengawal mulai menghampiri posisiku.


Gradak, pintu gerbang akhirmya telah terbuka. Rasanya nyaman sekali saat akan mulai memasuki, bagaikan seseorang yang selama ini terpenjara akhirnya terbebas. Alat untuk mendeteksi benda tajam, mulai dinaik turunkan disekitaran tubuh untuk memeriksa. Untung saja tadi hati-hati untuk tidak membawa alat apapun itu, kecuali kotak peralatan punya petugas PLN.