Bad Boy'S Sweet Love

Bad Boy'S Sweet Love
Ingin Ikut Aksi Balapan



Malam kian gelap, namun netra masih saja terjaga. Lama kepala kepikiran masalah uang. Walau semua urusan sama sekolah sudah selesai, tapi dengan Cantika masih panjang sebab belum bisa mengantinya. Sedang kalut memikirkan cara, agar bisa mendapatkan lembaran alat tukar itu dengan cepat.


"Gimana ya cara mendapatkannya? Apa aku harus bekerja? Tapi mau kerja apa? Sedangkan diriku hanya penduduk pedatang disini?"


Tangan menyangga kepala, agar bisa puas menatap langit-langit atap. Genteng yang kusam nampak berjejer rapi. Disini tidak ada yang istimewa dengan kekayaan. Semua serba sederhana dan alat ala kadarnya terpakai.


Krucuk ... krucuk, tiba-tiba perut lapar.


"Isshh, memang tidak bisa diajak kompromi nih perut," Kekesalan hati, ketika semakin melilit saja.


"Hh, sekarang lebih baik aku makan saja. Daripada kelaparan dan ujung-ujungnya tidak bisa berpikir jernih lagi."


Kaki terjuntai ingin memakai sandal, ketika mau turun ranjang. Hari ini Cantika dan bapaknya menginap diklinik pribadi, sebab ada pasien yang harus dijaga ketika sedang sakit. Terpaksa kini harus mengolah makanan sendiri.


Menuju dapur untuk melihat apa yang bisa diolah. Satu persatu rak lemari kubuka. Yang ada hanya mie instan. Melihatnya saja bosan, sehingga tidak berselera makan.


"Duh, mau makan apa ya?"


Masih sibuk mencari sesuatu. Netra menatap dalam penanak nasi (mejicom). Kubuka dan langsung melihatnya.


"Wah, nasi masih banyak. Apa aku harus mengorengnya saja, ya!"


Ide bagus juga jika mengolahnya. Tak ada orang dirumah, maka nasi masih banyak harus segera dimasak. Mencari bumbu yang diperlukan, tetapi ketika mengecek semua kosong.


"Duh, ngak ada kecap sama bumbu cepat saji khusus untuk masak ini nih!" Kekecewaan.


"Hmm, lebih baik aku membelinya sekarang, daripada nasi ini mubazir tak termakan, yang akhirnya nanti akan basi saja."


Tak membuang waktu, langsung pergi ke kedai. Untung saja ada pegangan uang, sisa dari pemberian Cantika. Harga cukup murah, jadi yang ada dikantong tak sampai terkuras.


"Bu, beli bumbu nasi gorengnya dong," ucapku pada penjualnya.


"Tumben malam-malam begini baru beli. Bisa masak 'kah kamu? Emang kemana Cantika?" tanya pemilik warung dengan tubuh gendut serta berperut buncit.


"Oh, dia lagi sibuk ke klinik sama Bapak. Bisa dong, masalah kecil itu. Tinggal kasih bumbu sama kecap dan iris-iris bawangnya."


"Good. Jangan sampai gosong saja nanti!" Beliau memberi dua acungan jempol.


"Beres, Pak. pasti aku akan hati-hati. Nih uangnya."


"Hmm, ini kembaliannya."


Uang recehan kuterima. Langsung ingin meluncur pulang. Perut rasanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.


Brum ... brum, suara motor yang sedang digas, begitu mengema keras ditelinga.


Langkah yang awalnya tergesa-gesa kini berhenti mendadak untuk mendengarkan lebih jelas dimana posisis suara itu.


Semakin memperhatikan, seperti tidak jauh lokasi suara mesin roda dua itu. Suara begitu jelas dan mengema seperti sedang adu balapan.


Mencoba berjalan kaki lurus untuk memastikannya. Kantong jeresek hitam masih bertengger ditangan. Tidak ingin kelewatan, maka mempercepat langkah dengan berlarian kecil. Suara sorak sorai mulai mengalun riuh sekali.


"Wah, benar ada balapan nih!"


Wesss, saat tiba ditempat tujuan, laju kuda bermesin itu mulai menunjukkan aksi hebat mereka. Ada sekitar empat orang yang beradu kehebatan.


Banyak sekali kerumunan dipinggiran sisi jalan. Kelihatannya para pemuda tengah fokus menonton.


"Eeh, boleh tanya dong!" Menepuk bahu salah satu penonton.


"Iya, silahkan. Mau tanya apaan?"


"Ini balapan, semua orang boleh ikutkah?"


"Tentu saja boleh. Asalkan mereka hebat mengendarai."


"Terus, ada hadiah uangnya ngak nih?"


"Tentu saja. Kami semua pada taruhan. Wusss, siapa yang menang akan jadi juara terhebat disini, tapi sayangnya belum ada yang gesit, keren, dan kuat mengalahkan para berandalan jalanan," terang salah satu dari mereka.


"Wah, apa aku harus mencobanya, ya! Apa mungkin kesempatan ini bakalan bisa mengembalikan uang Cantika? Tapi, bagaimana kalau aku kalah? Aah, yang penting kucoba dulu. Kalah menang itu urusan belakangan. Yang utama sekarang ada jalan untuk mengembalikan uang itu," guman hati ragu.


Sebelum menawarkan diri mencoba mmeneliti, dan memgamati jalannya pertandingan. Entah mengapa firasat bisa melakukan ini. Tidak kenal takut,nmembuat keyakinan semakin kuat untuk ikut.


"Oh, ya. Apa aku boleh pinjam salah satu dari motor kalian?" Sebenarnya segan dan malu, tapi mau gimana lagi ketika tidak punya kendaraan sendiri.


"Mau buat apa?"


"Ikut balapan."


Mereka langsung terpana ke arahku. Dari mimik wajah mereka sepertinya tidak yakin atas keinginanku. Bahkan saling menyenggol teman untuk minta kepastian serta persetujuan.


"Duh, gimana ya?"


"Kalian tenang saja. Pasti aku akan menang, dan kalau bisa bantu aku sedikit uang kalian untuk dp taruhannya, gimana?" Mencoba meyakinkan mereka.


"Apa kamu yakin? Dari penampilan sih, kamu kurang meyakinkan?" Keraguan mereka.


Wajah memang biasa, dengan berpakaian kaos omblong dan celana pendek, seperti orang lemah dan tak mampu untuk mengikuti. Wajar saja kalau mereka tidak yakin.


"Tenang saja. Jika kalah, maka uang kalian akan kukembali seratus persen. Sebab tidak ada modal taruhan, maka aku pinjam dulu sama kalian. Kalau menangpun kita bagi dua hasilnya nanti, gimana?" tawarku lagi agar meyakinkan mereka.


"Eem, baiklah kalau begitu. Kam akan mendukung kamu agar menang!" Akhirnya mereka setuju dengan cara kamu menyenggolkan bahu tanda persahabatan.


Walau hilang ingatan, tapi aksi menjalankan motor sepertinya sudah terbiasa olehku. Pertandingan sesi pertama telah selesai, kini giliranku untuk tunjuk gigi. Akan menunjukkan bakat terpendam yang beberapa bulan ini telah lama terlupakan.