
Malam kian pekat untuk mendatangkan harinya. Baju sudah kulengkapi dengan beberapa senjata. Badan telah terlapisi baju rompi anti peluru. Belati yang selama ini selalu membawa keberuntungan, tak luput terselip juga dibaju. Pakaian berseragam serba hitam, baik topi dan masker juga. Tangan telah terlapisi sarung tangan, agar nanti tidak akan meninggalkan jejak sidik jari.
Alat earphone bluetooth sudah ikut juga terpasang ditelinga, sebab itu alat utama agar diriku bisa terhubung dengan kak Juno, yang mengawasi diluar bersama anak buah lainnya. Tombol yang akan membantu memadamkan listrik tidak akan ketinggalan, sebab itu langkah awal membantu jalannya aksiku nanti.
Tidak lupa untuk segera meminta restu orangtua angkat. Ini adalah adat dan kebiasaan kelompok kami, sebelum menjalankan aksi yang menegangkan nanti.
"Aku akan pergi dulu, Ayah!" pamitku sudah memeluk beliau.
"Iya, Nak. Hati-hati, jangan sampai kamu terluka maupun gagal dalam misi kali ini," cakap beliau sudah menepuk pelan bahu.
Walau sering sedikit sakit hati, akibat beliau tidak pernah mendoakan agar aku selamat tapi malah selalu bilang jangan gagal, diriku selalu saja menganggap angin lalu saja dan tidak ambil pusing. Bakti pada beliau yang sudah membesarkan diriku sampai sehebat ini, makanya sering abaikan saja kata-kata itu, yang tak luput kadang-kadang bikin telinga panas juga.
Sebagai tradisi sebelum misi, kami semua berkumpul terutama para tetua, untuk memberikan restu pada para anak buah dan sedikit bekal nasehat agar kami tidak gagal melakukan misi. Satu persatu saling merangkul badan dengan tangan menepuk tos, tanda semangat kami yang harus lebih berkobar-kobar, bagaikan api siap membakar musuh yang jadi sasaran.
Ada sekitar enam orang yang akan melindungiku nanti dari luar. Delapan orang termasuk diriku dan kak Juno. Sudah terbiasa melakukan pekerjaan ini, makanya aku tidak merasa grogi maupun ketakutan.
Laju mobil terus berjalan menuju kediaman sasaran. Waktu sudah menunjukkan angka sepuluh. Agar tidak gagal kami harus berangkat awal-awal, selain menguasai medan, maka kami harus baca dulu situasi keadaan didalam nanti.
Sebelum pergi meninggalkan rumah sasaran tadi, beberapa kamera kecil sudah kusebar dibeberapa sudut rumah itu, jalannya aksi harus rapi makanya terpasang beberapa kamera agar tidak diketahui mereka.
"Gimana, apakah keadaan rumah musuh sudah aman?" tanyaku saat kami sudah sampai.
"Bentar kami lihat dulu, Kak!" Junior anak buah, sudah membuka laptop.
Dengan jari-jari lihainya mulai mengecek, untuk memperlihatkan beberapa gambar yang sudah tertera dilayar.
"Kelihatannya penjagaan ketat sekali hari ini," jawabnya masih fokus menatap layar.
"Sial!" umpatku kesal.
"Terus gimana ini, Tiger?" tanya Kak Juno mulai cemas juga.
"Kita tunggu saja mereka untuk sedikit lengah, agar diriku bisa masuk dengan mudah nanti."
"Baiklah. Kamu tetap harus hati-hati."
"Pasti itu."
Kami semua fokus menatap ke arah layar laptop untuk mengawasi keadaan. Mobil sudah jauh sekali dari kediaman, agar tidak ada orang yang curiga.
"Mungkin ini efek tadi aku berbohong pada mereka, maka penjagaan semakin diperketat didalam," Kekesalanku yang sudah meneguk habis minuman kaleng.
"Terus apa yang akan kita lakukan?" tanya Kak Juno lagi.
"Kita tunggu saja, kalau keadaan masih tidak memungkinkan kita tunda saja."
"Sipp 'lah kalau begitu."
Sekian jam telah berlalu, sampai pada akhirnya jam menunjukkan diangka dua. Mata kami terus terjaga dan ini biasa kami lakukan. Walau kadang mata sudah seperti panda dan bagaikan kalong selalu saja berkeluyuran malam dan tidak pernah tidur, tapi kami semua tidak mempermasalahkan itu asalkan kehidupan kami terjamin dengan segudang kemewahan.
Kelihatannya benar atas dugaan, jika para pengawal mulai lengah akibat mengantuk dari cara mereka sering menguap, bahkan ada yang tengah berdiri namun kepala terkulai. Maka aku perlu menyiapkan diri sekarang, supaya keberhasilan bisa diraih dengan mudah.
"Kita akan menjalankan misi sekarang, jadi kalian harus tetap terjaga dan awasi terus," pesanku.
"Baik, Kak!" jawab kompak semua orang.
"Baik, Tiger. Kamu hati-hati. Kasih kode dan aba-aba kalau kamu butuh bantuan kami," jawab kak Juno sudah menepuk bahuku pelan.
"Emm. Lambaian tangan sebagai kode nanti," anggukan kepala pelan sudah kuberikan.
"Baiklah, semoga aman semua."
Sreeggggh, pintu mobil sudah kubuka. Tangan langsung mengeser masker untuk dinaikkan keatas agar mulut tertutup rapat. Topi juga ikutan menutupi wajah agar tak dikenali. Semua teman dilengkapi pistol untuk berjaga-jaga, sedangkan aku hanya berbekal belati yang sudah menghilangkan banyak nyawa orang.
Dengan mengendap-endap berjalan, aku mencoba mengintip keadaan yang ada disekitaran perkarangan depan rumah. Hanya ada dua penjaga yang berdiri santai didekat pintu.
"Aku akan masuk sekarang. Siap-siap 'lah kalian. Jangan sampai penglihatan kalian teralihkan, sebab itu akan berbahaya sekali bagiku," ucapku menggunakan earphone yang terpasang telinga.
"Sipp, Kak. Semua beres dan aman."
Terasa aman, baik dijalanan yang sepi maupun sekitaran rumah sasaran, sekarang dari arah samping rumah aku mulai memanjat tembok. Para pengawal lengah menatap fokus ke arah depan dekat gerbang masuk, dan ini suatu keberuntunganku agar bisa masuk dengan mudah.
"Aku akan matikan listriknya sekarang, kalian siap-siap ketika kuberi aba-aba, agar melangkah kearah-arah mana saja nanti," ucapku pada anak buah sekaligus teman dan kak Juno.
"Ok."
Kamera sudah ada inframerahnya, jadi walau dalam keadaan gelap, nanti anak buah masih bisa melihat gerak-gerik semua orang didalam.
Klik, sekali menekan tombol, semua lampu dalam rumah sudah padam semua. Terlihat para pengawal yang berjaga didepan sudah panik memeriksa disekitaran halaman rumah. Cahaya rembulan agak terang dan tidak memungkinkan keadaanku untuk segera masuk.
"Gimana?" tanyaku.
"Kelihatannya semua orang didalam mulai panik saling berlarian. Kamu harus hati-hati," jawab suara orang diseberang sana tengah mengawasi.
"Baiklah. Tunggu aba-aba dariku, saat mulai masuk bebas ke rumah itu."
"Iya, Kak."
Sepertinya dua orang pengawal mulai bodoh masuk dalam rumah juga, dan lebih gila lagi pintu dibiarkan terbuka begitu saja.
"Yes, memang keberuntungan selalu berpihak padaku," guman hati gembira.
"Aku mulai masuk, lihat gerak-gerik semua orang didalam."
"Iya, Kak."
Dengan berlari secara gesit akhirnya aku dapat mencapai pintu utama. Berjalan mengendap-endap, dan jangan sampai mengeluarkan suara. Langkah mulai masuk rumah, yang terdengar sekarang beberapa orang sedang riuh berbicara, akibat keadaan benar-benar gelap gulita sekarang.
"Aku sekarang dibalik pintu," lirihku memberitahu secara berbisik.
"Kakak, merayap ke arah kiri. Berjalan perlahan-lahan mengikuti tembok, sebab sekarang ada tiga orang sedang didepan kakak."
"Hmm."
Apa yang dikatakan mereka aku turuti. Dengan mengendap-endap aku mulai berjalan, sambil tangan meraba-raba tembok terus, sebab netra juga tidak kelihatan sama sekali. Sekali bersuara maupun salah langkah pasti akan ketahuan.
Suara mereka semakin mengema ditinga, tanda aku dekat sekali dengan mereka, dgn perlahan-lahan terus berjalan sesuai arahan anak buah. Cukup menegangkan juga melewati mereka, namun sekarang akhirnya bisa bernafas lega.
Posisi ingin menuju ruang bermain kemarin. Posisi kamar korban belum diketahui, maka harus mengambil siasat lain agar bisa ditemukan.