Bad Boy'S Sweet Love

Bad Boy'S Sweet Love
Menaruh Curiga Dia Terluka



Walau tidak menggunakan tongkat lagi, namun kaki yang sakit masih terpincang-pincang untuk berjalan. Keadaan rumah sangat sepi. Kewajiban membersihkan rumah tetap kujalankan. Tidak boleh merepotkan, ketika masih jadi beban mereka dengan menumpang.


Nyapu, mengelap meja dan kaca yang berdebu, ngepel adalah aktifitas yang rutin kujalankan. Badan harus tetap beraktifitas, agar tidak kaku dan terus melemah. Kalau hanya termenung saja tidak enak pada ayah Cantika. Beliau sudah baik menolong, maka harus bantu-bantu sedikit pekerjaan rumah.


Tadi bangun agak kesiangan. Efek minum obat jadi terlambat membuka mata, dan sayangnya tidak ada yang berusaha membangunkan, jadi kini proses bersih-bersih diujung terik matahari. Peluh mulai bercucuran membasahi kening. Panas akibat kelelahan membersihkan, membuat keringat terus mengucur dibadan.


"Hhh, kenapa hari ini panas banget. Gerah banget dah!"


"Tenggorokan haus banget nih! Enaknya ambil air es dicampur teh. Beerrrr, pasti seger banget," Membayangkan saja, tak sabar segera ingin meminumnya.


Kaki ketika diluruskan ada sedikit rasa ngilu, jadi harus banyak berhati-hati ketika berjalan. Entah sudah berapa minggu disini, yang jelas waktu terus berjalan dengan cepat, sampai tidak tahu bulan berapa ini? Pikiran masih saja kena amnesia. Tidak ada satupun jejak ingatan, untuk mengetahui siapa diri ini.


Kompor kunyalakan, mulai ambil gula dan teh celup. Cangkir siap diisi oleh semua bahan dan air mendidih dulu. Gelas jumbo kupakai, biar ketika dimasukkan es batu akan muat.


Sedikit demi sedikit mulai kuseruput teh buatan sendiri, sambil duduk santai menikmati hidup.


"Assalamualaikum," Suara khas Cantika memberi salam.


Merdu dan anak yang cantik. Tak jemu jika terus memandang wajah ayunya. Namun, dia sebagai gadis sangat malu-malu serta tidak banyak bicara.


"Waalaikumsalam," Menyambut hangat salamnya.


Mata menatap heran dengan tingkah dia, ketika melewatiku. Kepala tertunduk dan berjalan tergesa-gesa, kayak berusaha menghindar.


"Kalau tidak salah lihat, matanya tadi merah dan sembab? Kayak sehabis menangis saja, Ada apa dengan dia?" guman hati menaruh curiga.


Cangkir kutaruh dimeja. Menghampiri dia ketika berjalan menuju kamarnya.


"Tunggu, Cantika." Berusaha menghentikan langkahnya.


Rasa penasaranku ini begitu mengebu, sebab merasa aneh dalam diri gadis itu. Harus mencari informasi kebenarannya, sebab didalam hati ini cukup tidak tenang.


"Ada apa, Revan?" Akhirnya dia berhenti juga.


Suara terdengar parau serak-serak basah.


"Seharusnya yang bertanya ada apa itu aku."


"Ada apa dengan wajah kamu? Dan kenapa kau terburu-buru seperti menghindar gitu?" Meluapkan rasa penasaran.


"Tidak ada apa-apa, kok. Kamu saja yang mungkin salah lihat."


"Mana ada salah lihat. Mataku masih belum buta. Balikkan badanmu ke sini!" paksa dengan memegang bahu dia.


"Akhhhh, sakit!" teriaknya.


Lama-lama tidak tahan lagi, atas apa yang berusaha dia sembunyikan. Langkah berputar ingin berdiri tepat didepannya. Netra kecurigaan menatap seksama wajahnya, namun dia pandai memalingkan muka dengan melengos ke samping.


"Angkat wajahmu kesini, tunjukkan. Kenapa ini?" paksa ingin mengetahui.


"Jangan, Revan." Mulai terdengar isak tangisnya.


"Hey, aku bukan ingin menyakiti kamu, cuma penasaran apa yang terjadi dengan wajahmu itu. Jadi perlihatkan padaku sekarang."


"Tapi-?" Dia mengeleng-gelengkan kepala.


"Jangan takut. Ada aku disini, yang siap membantu kamu."


Dengan pelan-pelan dia mau nurut juga, atas bujukkan yang terus memaksa.


"Astaga, kenapa sama wajah kamu? Siapa yang melakukan ini?" Memegang dagu sambil mengerak-gerakkan wajahnya.


Siapa yang tidak kaget, jika pipi memerah dan sudut bibir sedikit pecah, ditambah lagi bahu tadi dipegang terdengar kesakitan.


Kenapa ini semua bisa terjadi pada Cantika, yang dominannya anak pendiam. Kalau nakal tidak mungkin, karena dia anak baik dan tidak pernah macam-macam melakukan hal kenakalan. Kasus yang tidak wajar, dan aku ingin dia terus jujur agar bisa membantu menyelesaikannya.


"Pasti ada orang yang begitu jahat pada gadis ini. Siapa itu? Kenapa dia begitu tega melukai wajah dan sekujur tubuhnya? Motif apa yang membuat pelaku tega dan tidak kenal ampun memberikan bekas luka seperti pukulan?" rancau hati masih dibuat penasaran.


Tangisan gadis manis itu pecah, dan aku tidak tega lagi jika mengajukan banyak pertanyaan lagi. Karena dia terlihat kacau, maka kugendeng untuk memasuki kamarnya. Mungkin dia butuh waktu untuk mengungkapkan semuanya.


Sepertinya dia menjalani hari-hari yang berat, maka aku harus terus bersabar, menanti jawaban atas kejadian yang menimpanya barusan, siapa tahu ada yang bisa dibantu. Walau kemungkinan akan susah menolong sebab status masih orang asing dikampung ini, tapi demi orang yang pernah menolong apapun caranya tetap akan kutrabas agar bisa menyelesaikan masalah dia.