
Sibuk membuat sarapan. Ibu sudah tiada, jadi sebagai anak perempuan satu-satunya melakukan tugas penganti beliau. Kadang-kadang kalau telat bangun, Ayah akan menyiapkan sarapan. Serba tidak enak, tapi beliau sangat memahami kalau aku masih sekolah dan kadang ada les tambahan, jadi pulangnya agak kesorean. Pasti lelah itu, sering membuat terlambat masak.
Kami hidup berdua sangat membahagiakan. Walau kadang ayah suka di jodoh-jodohkan sama perempuan satu kampung, namun enggan menanggapi serius. Cinta beliau tetap terjaga dan utuh untuk Ibu. Salut sih, sebab jarang orang yang mau setia hanya satu pasangan saja. Kadang dalam kesendirian tetap ingin cari penganti.
Krunting, suara gelas pecah. Kompor kumatikan. Menumis baru setengah matang. Takut jika ditinggal lama atau kelupaan malah gosong.
Segera bergegas ke tempat pria yang kami tolong. Setelah kejadian dia mau pergi tadi malam, dia masih belum juga sadarkan diri.
"Suara apa itu, Nak?" Ayah ternyata bergerak cepat juga ingin melihat.
"Tidak tahu, Ayah."
Menengadahkan kedua tangan ke atas. Dugaan sementara kami berdua dari dalam kamar pria itu, sebab kami sama-sama sedang diambamg pintu ingin melihatnya.
"Astagfirullah, apa yang terjadi?"
Ayah kaget melihat gelas berisakan air putih, telah berserakan dilantai berserta pecahan kepingan beling.
"Ssst, sakit sekali!" Dia mengeluh dibagian kepala.
Belakang kepala dia pegang, dengan mengkerut dan memejamkan mata.
"Kamu tiduran saja dulu, jahitannya takut terbuka lagi sebab belum kering total," Ayah mencoba membantu membaringkan dia lagi.
"Tapi aku haus."
"Sebentar, aku akan ambilkan yang baru."
Berlari cepat ke arah dapur, mengambil takaran sesuai gelas yang dia pecahkan tadi.
Kelihatannya dia memang sedang kehausan. Segelas air putih tandas dia habiskan. Ayah membantu mengangkat kepalanya sedikit, agar memudahkan masuk air ke tenggorokan.
Segera mengambil sapu untuk membersihkan bekas pecahan gelas tadi. Membuang dibelakang sebentar, kemudian balik lagi.
"Kamu harus banyak-banyak istirahat, agar semua luka kamu cepat sembuh," Ayah menasehati.
"Aku dimana ini, kok asing banget tempatnya?" Netranya menyapu seluruh sudut ruangan kamar.
"Kamu tenang saja. Disini aman."
"Aww ... ssst, apa yang terjadi dengan kakiku? Kenapa ini juga sakit sekali?"
Dia baru menyadari juga kalau kaki terluka. Perban ngecap kemerahan bekas darah.
"Ada timah panas yang melesat dikakimu."
"Maksudnya kena tembak gitu?"
"Iya. Maksudnya itu."
"Terus aku siapa? Kenapa bisa berada disini? Asing banget rumah ini, aku kayaknya tidak pernah tinggal ditempat ini?"
Aku dan Ayah saling menatap kebingungan. Kami saja tidak tahu identitas dia, malah dia balik bertanya pada kami.
"Apa jangan-jangan dia hilang ingatan, Ayah? Kok tanya siapa nama?" Berbisik pelan ditelinga beliau.
"Bisa jadi. Mungkin akibat benturan hebat dikepalanya kemarin, jadi dia sekarang tidak ingat apa-apa," Beliau berbalik menjawab sepelan mungkin.
"Ada apa? Kenapa kalian berbisik begitu? Apa ada yang salah denganku? Atau menyusahkan kalian?"
"Hehe, ngak ada, kok?" jawab cegegesan.
"Duh, Pak. Maaf, aku tidak ingat apapun, termasuk nama dan asal."
"Hmm, gimana, yah? Serius kamu tidak ingat sama sekali?" Beliau berpikir keras, sambil dagu dipegangi dan mata terbalik menatap langit-langit atap.
"Kalau memang dia tidak ingat sama sekali, lebih baik biarkan dia tinggal ditempat kita dulu saja, Ayah. Dia masih terluka dan belum sembuh beneran. Takutnya malah luka itu tambah parah."
"Benar juga katamu. Ya, sudahlah. Kamu untuk sementara tinggal bersama kami dulu saja. Kalau sudah ingat sesuatu baru kamu boleh meninggalkan tempat ini, gimana?"
"Terserah kalian, mana baiknya. Aku ngak pa-pa 'kan, numpang disini untuk sementara," Berbicara dengan polosnya.
"Iya ngak pa-pa. Kami dengan senang hati menerima kamu kok," jawabku santai.
"Terima kasih banget sama kalian, sudah menolongku."
"Iya, sama-sama," jawabku dan Ayah kompak.
Dia kembali istirahat. Selang infus masih belum terlepas, sebab badannya belum masuk makanan sama sekali. Kami berdua keluar kamarnya, supaya tidak menganggu.
"Gimana nih, Ayah. Dia ternyata tidak ingat sama sekali tentang dirinya. Terus kalau ada orang atau tetangga tanya mengenai dia, gimana nih?" tanya bingung.
"Kita bilang saja keponakan Ayah yang berada diluar kota. Dia datang kesini dengan alasan mau bantu-bantu kita, gimana?" Ide beliau.
"Wah, benar sekali ide kamu, Ayah."
Plok, kami berdua tos tangan, tanda setuju atas ide itu.
"Baguslah, kalau begitu kita bisa tenang."
"Terus kita beri dia nama apa?" Masih saja dilanda bingung.
"Revan saja gimana?"
"Emm, bagus juga. Sesuai dengan wajahnya yang tampan."
"Cie ... ileh, mulai tertarik ya sama dia?" Beliau mengoda.
"Eeeh, enggaklah kok."
"Suka ngak pa-pa, yang penting kalian bahagia, tapi harus hati-hati dulu sama dia kerena belum tahu identitasnya."
"Wah, akhirnya dapat restu, hehehe!"Balik mengoda.
Pletak, kening disentil memakai jari.
"Maunya."
"Enggak kok, Ayah. Bercanda saja tadi. Cinta Cantika hanya untuk Ayah seorang saja kok."
"Jangan begitu, Nak. Jodoh tidak mengenal waktu dan usia, kalau sudah datang jangan ditolak, takut malah jadi perawan tua nanti."
"Dih, doanya jelek banget sih."
"Bukan mendoakan, tapi memberitahu, paham!"
"Iya, beres pokoknya," Mengacungkan dua jempol tanda setuju.
Akhirnya kami berdua cepat-cepat sarapan, selain bakalan terlambat sekolah, beliau juga ada temu janji mau mengobati pasien yang butuh tangan ajaib untuk menyembuhkan.