
Ketika melewati koridor sekolah banyak tatapan aneh para teman, seperti diriku ini artis yang lagi tenar, namun kelihatannya mereka menyorotkan netra dengan keheranan dan jijik saja.
"Hadeh, ada apa lagi ini? Kenapa mereka menatapku kayak mau menerkam saja," Kegelisahan hati.
Dari dulu ini sudah terbiasa, dan tidak langka lagi terjadi padaku. Semua nampak membenci dan tidak senang saja jika gadis sepertiku berada disekolahan.
"Hei, kawan. Lihat, jalan yang benar dong. Jangan melamun saja. Bisa nabrak tembok lho nanti," Ani mengejutkan dengan cara menepuk bahu.
"Hehe. Gimana mau lihat jalan, sedang langkahku selalu diperhatikan semua para siswa. Lihat! Mereka nampak tidak ingin ada diriku disini," tebak masih menatap para semua orang yang kulewati.
Ani adalah satu-satunya teman di kelas. Ketika tidak ada yang peduli, hanya dia yang selalu baik menemani hari lelah di sekolah. Kami sering jalan-jalan, belajar kelompok, bahkan ngrumpi bareng. Keakraban kami tidak bisa terpisahkan begitu saja, ketika sudah menganggap sebagai keluarga sendiri. Kami selalu berbagi cerita baik dikehidupan sehari-hari maupun tentang keluarga. Kehangatan dan kesederhanaan membuat sangat nyaman.
"Halah, jangan dipedulikan mereka. Semua iri sama kecantikan dan kepintaran kamu. Apa kamu tidak merasa, kalau semua pria lebih peduli serta ingin dekat sama kamu?"
"Masak sih? Tapi, sikap mereka membuatku semakin kesulitan yaitu pada membenciku."
"Tidak usah dipedulikan. Berarti kamu orang yang paling penting. Mereka hanya tidak ingin ada saingan saja."
"Emm, mungkin saja apa yang kamu katakan itu benar."
"Sudah, lebih baik kita happy saja. Gimana, kalau sepulang sekolah kita mampir ke warung sate, dekat perempatan pasar yang baru buka itu? Emm, nyam ... nyam, pasti enak banget disana," ajak Ani.
"Hmm, gimana yah! Aku sibuk sekarang dirumah."
Teringat kalau ada yang harus kuurus yaitu Revan.
"Duh, sok sibuk banget sekarang. Biasanya juga santai dan banyak waktu kamu untuk kita," Ani mulai cemberut.
Menolak, takut mengecewakan. Kalau dituruti, bagaimana pasien yang harus kujaga sesuai amanah ayah. Walau dia sudah hampir sembuh total, namun semua keperluan tetap harus terpenuhi serta terjaga, karena dia disana hanya orang asing yang sedang numpang, yang pastinya banyak kebutuhan disekitaran rumah belum benar-benar dia hafal dan mungkin sedikit sungkan.
"Jangan monyong begitu, kenapa? Kali ini saja ya, aku menolak. Dirumah benar-benar ada kerjaan, nih. Janji nanti kita akan puas jalan-jalan kalau waktuku senggang, gimana?" bujuk agar dia tidak marah lagi.
Kami sedang berjalan menuju ruang kelas. Langkahnya kuhadang dengan cara melompat mendadak didepannya.
"Hhh, iya dech kalau begitu. Tapi beneran janji, ya! Awas kalau ingkar, tabok nanti!" Akhirnya dia luluh juga.
"Iya ... iya, aku janji kok!" Jari kelikingnya tertautkan dengan kepunyaanku.
"Kamu memang teman the best pokoknya." Berpelukan untuk menunjukkan rasa kasih sayang kami.
Begitulah keakraban kami. Walau ada saja rintangan agar kami berpisah sebagai kawan, namun tidak begitu mudah terpengaruh sama omongan teman yang berusaha licik. Walau kadang Ani berprilaku sebagai gadis berlagak bodoh, namun keteguhan hati sebagai teman sejati tidak mudah diruntuhkan. Hanya syukur yang terpendam dihati ini, ketika Tuhan masih memberikan kebahagiaan teman yang selalu ada disampingku selama ini.
********
Jam istirahat mulai berdering suara belnya. Anak-anak mulai berhamburan keluar. Ada yang berlari ke kantin, tetap didalam kelas, ke perpustakaan, bahkan ada juga yang buru-buru ke toilet. Ani termasuk anak orang kaya, jadi kami jarang sekali makan siang bersama, karena aku selalu membawa bekal sendiri untuk menghemat pengeluaran. Diatap sekolah selalu menyendiri menyatap hidangan, yang kupersiapkam sendiri dari rumah.
"Alhamdulillah, atas semua rezekiMu hari ini ya Allah." Dalam hati bersyukur.
Phak, tiba-tiba ada yang menampik sendok, yang berisikan nasi saat ingin masuk ke dalam mulut.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya pada sekitar lima anak perempuan.
Netra menerawang sendu ke arah para gadis yang baru saja datang. Kenal sih dengan mereka. Sama-sama kelas tiga, namun kami beda ruangan. Mereka dijuluki sebagai geng terfavorit sebab royal. Ketuanya juga cantik dan pastinya banyak pria yang mengantri ingin jadi pacar.
"Halah, kamu jangan banyak tanya. Kamu pasti tahu maksud kedatangan kami. Jangan belagak jadi orang bodoh."
Lagi-lagi kena bully. Rambut dijambak kebelakang. Kedua tangan kanan kiri dipegang kuat oleh anak buahnya.
"Maaf, jika ada salah. Lepaskan aku dulu. Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik. Tapi tolong katakan dulu apa kesalahanku, sehingga kalian melakukan ini," Dengan polos berbicara dan mohon pengertian mereka.
Plak, secara kasar pipi ditampar. Rambut yang tergerai sebagian jatuh menutupi wajah. Rasanya pipi mulai panas dan sakit, efek dia begitu kuat menjatuhkan tamparan, untuk membekaskan mahakarya tangan itu.
"Tidak usah belagak bodoh didepan kami. Kamu tahu sendiri siapa aku, 'kan? Jadi jangan pernah menganggu kesenangan kami."
"Sungguh, aku tidak tahu apa kesalahanku dan kenapa kalian melakukan ini," rengek kesedihan.
Mereka semua bergelak ria begitu riang. Seperti tidak ada rasa bersalah, dan berdosa sehabis menampar tadi.
"Kamu memang ****** yang perlu diberi pelajaran. Muak melihat wajahmu yang sok paling digandrungi para cowok," Pipi dicengkram kuat.
"Lepaskan aku. Jangan begini," Memohon agar dilepaskan.
"Jangan harap. Jadi perempuan jangan sok kecentilan. Inilah akibatnya kalau kamu terlalu percaya diri akan kecantikanmu itu," Dia membuang mukaku ke kanan.
"Apa maksud kalian, aku sungguh tidak mengerti?" Mengelengkan kepala.
"Halah, jangan berpura-pura bodoh lagi kamu ini," simbat yang lain.
Sepertinya sang bos mulai memberi aba-aba, dan itu membuatku bergindik ngeri serta semakin ketakutan. Teman yang lain mulai maju kearahku.
Plak, tamparan kembali terlayangkan. Mereka memberi dorongan sedikit, hingga tubuh tak berdaya tergolek.
Tanpa diduga lagi, tiba-tiba kaki terlayang keperut, punggung, bahu. Mereka bertubi-tubi menendang secara bergantian. Aku hanya bisa merintih menahan kesakitan. Mulut kututup rapat, agar tidak berteriak keras akibat tak tahan atas kekasaran mereka.
Apa aku membalas? Tentu saja tidak. Perlakuan tidak wajar mereka hanya membuatku semakin melemah sebagai seorang gadis.
"Oh, Tuhan. Apa salah jika aku mempunyai wajah cantik? Kenapa semua orang membenciku? Dimana salahnya?"
"Andaikan kalau tahu begini, dan bisa terlahir kembali, lebih baik Engkau ubah wajahku ini agar mereka tidak semena-mena menganiaya diriku lagi," Kesedihan hati yang kian tak berdaya.
Sudut mata mulai mengembun. Ini adalah hal biasa yang kuperoleh disekolah, jadi mungkin sudah kebal rasa pedih itu, namun hati tidak bisa berbohong lagi atas rasa sakitnya.