
Sebagian pria menyadari, bisa merasa tidak nyaman ketika berhadapan dengan tangisan. Situasi inipun terpaksa harus menahan keingintahuan yang kurasakan.
Perempuan memang berbeda dari laki-laki dalam hal menunjukkan emosi. Secara umum, perempuan lebih mudah mengekspresikan semua emosi yang dirasakan, salah satunya dengan menangis.
Faktanya, perempuan lebih sering menangis ketimbang laki-laki. Boleh dibilang, ekspresi emosi ini adalah ciri khas kaum wanita. Meski sebenarnya para laki-laki juga merasakan emosi yang sama dengan perempuan, hanya saja mereka tidak mengungkapkannya.
Perempuan lebih banyak menangis daripada pria, terutama karena kondisi sosial. Saat laki-laki tumbuh dewasa, mereka didorong untuk berprestasi dan menjadi kuat, untuk tidak pernah menunjukkan emosi mereka, menjadi tangguh, mandiri, menuntut, agresif, dan pemecah masalah.
"Aku harus memikirkan cara untuk menghiburnya, atau untuk sekedar menenangkan dan mendengarkan keluh kesahnya."
"Apa aku tadi mengucapkan hal yang salah, sehingga menyebabkan dia menangis?Mungkin dia butuh kehadiranku juga untuk mendengarkannya. Atau mungkin dia mau sendiri dulu? Namun yang pasti, dia harus tahu bahwa diriku ada untuknya."
"Hhhh, hati ini rasanya sakit sekali melihat dia yang seharusnya kujaga, kini merasa sedih sampai menangis tersedu-sedu begitu. Sebenarnya aku ingin melarikan diri, namun aku ingin dia tahu bahwa ada untuknya, peduli, dan akan melakukan apapun untuk mengurangi rasa sedih itu."
Saat melihat perempuan menangis, umumnya para pria akan merasa kebingungan dan canggung. Bahkan pikirannya akan terasa buntu ketika ia tak mampu memecahkan persoalan, atau mencarikan solusi agar tangisan tersebut segera mereda.
Kadang pria juga tak tahu harus berbuat apa, terhadap perempuan yang sedang banjir air mata. Harus berpikir keras untuk menenangkannya, lantaran takut hal yang ia lakukan justru membuat tangisan semakin kencang.
Wajah seorang gadis penuh air mata, sudah dianggap pemandangan yang menyayat hati. Terlebih saat sebuah tangisan lahir dari dalam hati, hal itu bisa membuat diriku ikut terenyuh dan merasakan kesedihan yang sama.
"Maafkan aku, jika pertanyaanku tadi membuatmu jadi kacau menangis begini," Berdiri tepat didepannya, ketika dia duduk tenang dikasur.
"Tidak apa-apa, Revan. Aku saja yang terlalu lebay telah menanggapi pertanyaan itu," Dia mengusap airmata yang masih tersisa dipipi.
"Hmm, ya sudah kita lupakan saja. Sekarang lebih baik obati luka kamu itu. Takutnya kalau dibiarkan lebam begitu akan ngilu. Sini, biar aku bantu. Gimana?" Menawarkan diri.
"Terserah kamulah. Mana baiknya."
"Baiklah, kalau begitu kamu tunggu disini. Akan kuambilkan kotak obatnya."
"Iya, terima kasih sudah dibantuin, serta sekarang malah bikin kamu repot."
"Santai saja. Mungkin ini adalah kewajibanku harus menolong kamu, sedangkan kalian menolongku belum ada yang kubayar."
"Tidak usah tak enak hati gitu. Kami tulus kok menolong kamu."
"Iya, aku tahu. Tapi ini sangat berlebihan sampai mau menampungku untuk tinggal disini. Ya sudah, aku ambil dulu ya obatnya."
"Hmm, hati-hati jalannya."
"Iya, beres."
Berjalan tertatih menuju ruangan kerja ayah Cantika. Satu persatu mulai membuka rak penyimpanan. Walau tidak tahu tepatnya dimana ditaruh, namun tidak pantang mundur untuk segera menemukan. Luka Cantika pasti tidak bisa dia tahan lagi, sebab mulai membiru maka aku harus segera mengoleskan obat, biar sedikit mengurangi rasa sakit itu.
"Nah, ini dia. Lama aku mencari-cari kamu," Akhirnya obat yang diinginkan ketemu.
Sedikit lambat sampai, karena masih pincang. Harus banyak bergerak agar otot bisa kendor dan luwes ketika digunakan berjalan. Luka luar sudah mengering, namun didalamnya masih menganga perihnya. Mungkin tidak lama lagi jika rutin minum pil yang diberikan akan cepat sembuh total.
"Sssttt, aww!" desisan Cantika menahan sakit.
Wajah kami begitu dekat. Netra terus fokus memberikan obat dengan katembat. Dia terpejam kuat, yang sepertinya sedang menahan rasa perih. Tidak tega melihat dia kesakitan, dengan keberanian penuh mencoba meniup-niup bagian luka itu.
Netranya membulat sempurna. Aku tidak memperdulikan tatapannya itu. Pura-pura tidak tahu saja. Yang terpenting adalah membantu. Ada perasaan yang aneh didalam hati, ketika Cantika tidak berkedip sama sekali memperhatikan wajah ini. Mulut tak bisa diam mengeluarkan angin, supaya dia tidak merasa pedih lagi.
"Eghem ... hemm. Yeeay, sudah selesai!" Mencoba membuyarkan tatapan anehnya.
"Eeh, iya, Revan. Makasih sudah dibantuin."
"Emm, sama-sama. Oh ya, apa aku boleh bertanya sesuatu?" Sebelumnya permisi dulu, takut dia akan mewek lagi.
"Hhh, tanyalah. Jika itu perlu dan kamu masih penasaran."
"Tapi kamu beneran akan baik-baik saja 'kan, jika aku mengajukan pertanyaan seperti tadi?"
"Iya, aku sekarang merasa lega habis meluapkanya dengan menangis."
"Baiklah kalau begitu. Pertanyaan awal sih masih sama, yaitu apa yang sebenarnya terjadi pada kamu? Kok bisa terluka parah begini, apa kamu gadis nakal sehingga habis selesai berkelahi?" tanya yang sempat tertunda.
"Eeh, bukan kok. Aku bukan gadis kayak gitu. Hhh, gimana yah aku harus memulainya. Bingung nih!" Mengaruk kepala yang tak gatal.
"Ya sudah, aku tidak memaksa. Jika kamu tidak ingin cerita ngak pa-pa, mungkin lain kali kamu akan terbuka mau menceritakan," Mencoba legowo.
"Bukan gitu sih, Revan. Hanya saja aku ceritakan tidak merubah semua keadaan."
"Maksudnya?" Bingung.
"Sebenarnya luka ini kudapat dari sekolah. Teman-teman tidak suka kalau aku cantik dan pintar. Banyak pria yang suka padaku, namun tidak pernah mau menerima mereka. Banyak kesalahpaham diantara para teman, sehingga mereka nekat membully, bahkan mengancam jika berhasil membuat cowok yang mereka incar beneran jadian denganku," Akhirnya bercerita juga.
"Was sadis dan keterlaluan banget mereka. Seharusnya jangan begitu 'lah. Iri boleh, tapi jangan sampai ada tindak kekerasan. Ini sudah melewati batas. Seharusnya mereka dihukum. Emang kamu sudah lapor guru?"
"Kemarin sudah, namun bukti kurang kuat, jadi ya gini dech aku jadi terluka. Lagian biarin ajalah, yang penting mereka tidak ganggu kehidupanku dirumah. Kalau sabatas luka begini sudah biasa. Dikasih obat juga cepat sembuh."
"Duh, jangan gitulah. Seharusnya mereka diberi pelajaran, agar tidak semena-mena lagi malukai kamu. Kalau begini terus, mereka malah akan menjadi-jadi!" Sudah geram rasanya mendengar ceritanya.
"Yah, mau gimana lagi. Aku wanita yang kelihatan tegar, namun jika melawan yang berurusan kayak mereka sangat lemah, bahkan tidak berani hanya sekedar membalas kelakuan mereka."
"Hhh, ya sudah. Kamu tenang saja. Aku akan mencari cara membalas semuanya."
"Eeh, jangan. Nanti malah membahayakan kamu."
"Tenang saja. Dijamin aman dan tidak berbahaya. Aku hanya ingin memberi pelajaran saja agar mereka kapok."
Cantika, sedang memicingkan mata, seperti penasaran dan bergindik ngeri atas apa yang kupikirkan sekarang.
Memang dalam otak sekarang bekerja ingin membalas semuanya, namun bingung caranya untuk berhadapan dengan mereka. Status masih orang asing, mungkin sangat sulit untuk ke sana, tapi bukan namanya Revan kalau jadi pria terlalu cemen dan menyerah duluan. Akan kubuktikan kalau bisa membalas mereka dengan keji.