
Jika korban tidak sadar, tetapi masih bernapas, pastikan untuk menjaga saluran napas tetap terbuka dan tidak terhalang.
Saat korban tidak bernapas, lakukan pernapasan buatan atau resusitasi jantung paru (CPR) dengan tangan.
Perhatikan tanda-tanda vit*l korban (urat nadi) seperti detak jantung dan pergerakan napas pada dada.
Dampak yang perlu diperhatikan dari luka tembak, yaitu ketika terjadi penembakan senjata api bisa menyebabkan pengalaman traumatis bagi korban.
Jika merupakan korban luka tembak, mungkin akan merasa keselamatan diri selalu terancam, gelisah berlebihan, atau mengalami depresi pasca kejadian.
Semua ini adalah reaksi normal bagi seseorang yang baru saja mengalami kejadian yang hampir membahayakan nyawa, bukan tanda kelemahan.
Menekan pembuluh darah yang nampak pada kulit, maka aliran darah pada luka akan berjalan lebih lambat. Hal ini juga membantu memberikan tekanan langsung untuk menghentikan perdarahan.
Jaga agar temperatur tubuh korban tetap hangat. Kematian akibat hipotermia adalah risiko nyata.
Sumber Dari Google.
Ikutan berkeringat, ketika membantu jalannya pengambilan peluru dengan jalan operasi kecil. Jantung terus berdetak ketakutan, sebab korban tidak bergerak sama sekali.
Klutik, peluru ditaruh dibaskom besi. Peralatan sudah berlumuran darah. Beliau mulai memberikan beberapa kain perban untuk membalut lukanya. Sedangkan dibagian kepala belakang, ada sekitar tujuh jahitan. Kelihatan dari luka sepertinya terbentur benda keras.
"Alhamdulillah, semua terselamatkan dan berjalan dengan baik," ucap syukur Ayah.
"Hhh, iya, Ayah." Ikut merasakan lega juga.
"Kok bisa ya, korban berada dikebun kita? Sedangkan tempat kita agak jauh dari perumahan atau jalan raya. Apa dia ini orang jahat atau bukan, ya? Kok aneh sekali?" Mulai merasa curiga.
"Iya juga. Kalau orang jahat tapi kayaknya bukan, sebab dari wajahnya dia masih muda dan kelihatan seumuran denganku, tapi dari pakaian dan beberapa alat yang tertinggal ditubuh korban, kelihatannya dia adalah seorang perwira yang sedang berlatih atau apa itu," Bingung juga memikirkan.
"Kalau dari golongan pihak berwajib atau sedang latihan, kenapa dia bisa tertembak dan melarikan diri ke kebun kita?" Beliau menerka-nerka dengan rasa masih curiga.
"Apa mungkin dia beneran orang jahat, sehingga pingsan dikebun?" tebak dengan wajah tak percaya.
"Kita berdoa saja dia orang baik. Lihatlah, wajahnya begitu tampan dan manis, pasti dia anak baik," puji Ayah.
Kalau dipehatikan benar juga perkataan bsliau, tapi banyak kejanggalan yang kami lihat. Antara percaya dan tidak kalau dia orang baik, dari pakaian dan luka mencurigakan, tapi dalam hati kami entah mengapa percaya kalau dia mungkin orang tidak banyak berulah.
"Pasti dia pingsan, karena terlalu banyak buang energi contohnya berjalan. Jika orang sudah banyak mengeluarkan darah, seharusnya ketika sadar justru banyak minum, justru banyak berdiri akan merasa pusing, jadi berhati-hatilah ketika berdiri karena kamu mungkin akan pingsan. Hal itu dikarenakan kurang darah dan dehidrasi." Penjelasan beliau.
"Oke, sipp atas ilmunya!" Mengancungkan dua jempol ke arah beliau.
Walau masih pelajar, namun Ayah selalu mengajarkan tentang ilmu kedokteran kepadaku, yang katanya berjaga-jaga jika ketemu orang sakit dan butuh uluran tangan kita.
Hampir semalaman dia belum juga bangun. Mulutnya terus saja merancau, deman tinggi mulai datang juga, dan aku harus disibukkan dengan menjaga serta mengompres sepanjang hari. Ayah terlalu lelah atas pekerjaan, jadi tidak tega jika membiarkan beliau untuk mengurusnya juga.
"Wajahmu sangat tampan juga. Kalau dilihat -lihat kau punya lesung pipi, pasti itu akan kelihatan manis sekali," guman hati yang terus kagum saat menatapnya terus.
"Kenapa kau menatapku terus?" Suara khas prianya mengema, bikin kaget saja.
Penglihatannya masih setengah sadar, dia masih belum membuka mata sepenuhnya, tapi sudah bisa menebus pandangan kalau barusan tidak sengaja terpesona akan ketampanan wajahnya.
"Eeh, tidak apa-apa, cuma kasihan lihat lukamu saja. Apa kau baik-baik saja?"
Sepertinya dia mengacuhkan pertanyaanku, sebab dia mulai bangun dengan memegang belakang tekuk. Mungkin efek luka dibagian kepala, jadi ada rasa ngilu yang menyalur ke tekuk.
"Aku dimana ini? Kenapa kelihatan asing sekali?" Dia nampak kebingungan.
"Kamu ditempat yang aman, berada diklinik milik Ayahku. Apa kau baik-baik saja?"
Duh, menyebalkan sekali kalau kita menjelaskan, tapi tidak digubris atau didengar sama sekali. Malah dia melempar selimut yang berusaha menutupi tubuh yang sempat mengigil, dan demgan paksa mencabut jarum selang infus.
"Eeh, kamu mau kemana? Ini sudah larut malam. Luka kamu belum sembuh sepenuhnya, jadi jangan banyak bergerak."
"Aah, minggir kamu. Biarkan aku pergi sekarang!"
Dia terlalu memaksakan diri, sampai pada akhirnya tiba-tiba tubuh gagahnya terkulai lemah jatuh pingsan lagi.
"Ayah ... Ayah, tolong!" teriak meminta bantuan.
Badannya yang berat, membuatku kesusahan untuk sekedar membantu berdiri saja.
"Astagfirullah, ada apa ini?" Beliau yang barusan keluar kamar kaget.
"Dia tadi memaksakan diri mau pergi dari sini, tapi belum sempat keluar dia sudah pingsan duluan."
"Ya sudah, kamu bantu Ayah mengangkat, dengan cara memegang kakinya, tapi yang terluka jangan sampai kamu sentuh."
"Siap. Ayo, Ayah."
Akhirnya kami berdua lagi-lagi dibuat kesusahan, dengan cara mengotongnya ke tempat tidur. Klinik kami sepi, jadi takut kalau meninggalkan sendirian disana, malah membahayakan nyawanya.
Sebenarnya klinik itu milik desa, dan Ayah diamanati untuk menjaga sekaligus jadi dokternya. Untung kami punya tanah sendiri, untuk membangun rumah didekat situ.